#12

1229 Kata
Luna merasa kepalanya pening, sangat. Bahkan wajah Zero terlihat kabur dari sini, tetapi meskipun demikian, gadis itu sadar betul kalau saat ini ia tengah memeluk tangan Zero yang terasa dingin. Ia melakukan semua ini karena dipicu oleh mimpi buruk samarnya. Bunga tidur yang selalu membuat d**a Luna terasa sesak. Luna benci ditinggalkan. Dia tidak mengingat bagaimana orang tuanya meninggal, tetapi entah bagaimana rasa sakit itu masih membekas nyata, meski pikiran telah melupakan kejadiannya. Ia merasa jauh lebih sensitif daripada sebelumnya, mungkin karena pengaruh tubuhnya yang sedang tidak fit. Luna ingin bersama orang lain untuk sesaat, ia mau menggengam seseorang agar ia tidak merasa sendiri lagi. Biar pun ia terlihat bahagia dan betah di panti asuhan bersama Bu Fahmi, tetapi tak urung sering kali pertanyaan menyakitkan menghampiri benak Luna, membuatnya ingin menangis kala menyadari ia tidak memiliki keluarga kandung lagi di sisinya. "Apa yang kaulakukan?" Zero mengernyit kala menyadari kelakuan aneh Luna, tetapi ia tidak langsung menarik tangannya menjauh. "Kau gila?" "Sebentar saja." Luna berucap lirih, memejamkan matanya yang terasa panas. Mimpi samar tentang masa kecilnya yang ... menyedihkan selalu terulang di benak Luna, entah kenapa. Setiap kali ia hadir, gadis itu merasa tidak bisa bernapas dengan baik. "Kumohon ... sebentar saja." Luna menarik napasnya, berusaha melepaskan segala rasa takut dan gelisahnya. Menenangkan diri kalau segalanya akan baik-baik saja, apalagi saat ini dia tidak lagi sendiri melainkan bersama orang lain yang saat ini tangannya sedang ia genggam. Meski orang itu ... bukan manusia baik. "Merepotkan." Zero menarik napas, lelaki itu tak menarik tangannya menjauh meski ia merasa risih akan suhu tubuh Luna yang lebih panas daripada normalnya. Ia menarik kursi di dekat meja dan duduk di samping ranjang Luna. Membiarkan gadis itu terlelap di sana. Suasana hening. Zero mengamati Luna yang sepertinya hendak terlelap dengan tatapan tak terbaca. Tidak ada yang bisa mengira apa yang sedang lelaki itu pikirkan di kepala cantiknya. "Kenapa kau membenciku?" tanya Luna memecah keheningan yang sempat terjadi sesaat, meski matanya terpejam, gadis itu tak bisa kembali terlelap. Ia sudah terlalu banyak tidur, rasa kantuk itu sudah menghilang meski kepalanya masih terasa pening. Zero tidak menjawab. Dia tidak pernah menyangka Luna akan mengajukan pertanyaan seperti itu. Selama ini, ia selalu berpikir hubungannya dengan Luna hanya akan ada di atas ranjang. Tidak lebih daripada itu. Akan tetapi, hari ini Zero sadar ia telah mengingkari segalanya. Karena sekarang, ia terduduk di samping gadis yang ia benci, dengan tangannya yang tengah dipeluk erat. Rasa benci itu memang masih terasa kental, tetapi tidak cukup kuat dibandingkan rasa terusik Zero dengan tatapan Luna kepadanya tadi. Ia tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Ia tidak mengerti alasan ia harus terganggu dan membiarkan Luna tetap di posisi seperti ini. Sejujurnya sejak dulu ... Zero tidak pernah mengerti dirinya sendiri. Jika seandainya saja ... dia dan Luna tidak pernah bertemu dulu. Seandainya saja ... Luna bukan berasal dari rahim jalang yang menyakiti Ibu Zero. Akankah ... semuanya berbeda? Di antara mereka berdua? "Apa kau punya kenangan tentang masa kecilmu?" Alih-alih menjawab pertanyaan Luna, Zero malah melayangkan pertanyaan baru. "Masa kecil?" Luna mengerutkan dahi. Berpikir. Dia baru saja bermimpi tentang hal samar yang membuat dadanya terasa sesak, tetapi bunga tidur itu tidak menjelaskan apa pun. Luna tidak ingat kejadian apa-apa, sebelum dia dibawa ke panti asuhan Matahari. "Tidak ada." "Sedikit pun?" tanya Zero lagi. Wajahnya yang tampak serius itu membuat Luna heran. "Iya, aku tidak ingat apa-apa. Kenapa?" tanya Luna. "Tidak. Lupakan." Zero membalas dengan dingin, lalu menarik tangannya dari pelukan Luna. Ia berdiri lalu berjalan ke arah lemari, mengambil pakaian dari sana. "Kau sedang apa?" tanya Luna, dia tidak bisa mengamati apa yang Zero lakukan karena pandangannya yang kabur. "Mengambil apa?" "Pakaian." Zero menjawab acuh tak acuh tanpa menatap mata Luna. Dia mengamati beberapa pakaian dalam secara saksama. "Pakaian?" gumam Luna bertanya, heran. "Ya, pakaian. Atau kau mau tetap telanjang sampai dokter datang?" Luna mengangkat sedikit selimutnya dan memejamkan mata pasrah kala menyadari dia tidak memakai baju sehelai pun. "Oh," jawabnya pasrah. Zero tidak berkata apa-apa lagi, setelah selesai memilih, ia berjalan mendekat kembali ke arah ranjang dan langsung menarik selimut Luna secara kasar. Membuat tubuh gadis itu terekspos sempurna. Luna membelalakan matanya, terkejut. Akan tetapi, dia tidak mempunyai tenaga untuk berteriak, apalagi melawan. Ia hanya bisa pasrah dengan segala tindakan Zero. Toh, lelaki itu sudah melihat semua lekuk tubuhnya. Zero menundukkan tubuhnya dan mengangkat tangan Luna, memasukan bra dari sana dan membuat tubuh Luna sedikit naik kala mengaitkan pakaian dalam itu. Luna sebenarnya sedikit tidak nyaman di posisi ini. Pasalnya, tidak ada seorang pun yang pernah memakaikannya baju di dalam kondisi telanjang bulat seperti ini selain Zero. Degupan jantungnya terasa begitu nyata, saat Zero berada dekat di antara kakinya. Lelaki itu memasangkan celana dalam dengan mudah, seolah dia sama sekali tak terangsang dengan tubuh Luna yang terbuka. Luna tidak sadar kalau Zero memakaikan pakaiannya tanpa menatap tubuhnya secara fokus. Ada rasa sesak yang nyata di balik celana lelaki itu kala melakukan hal ini. Sedangkan Luna merasa ada sensasi aneh di dalam dirinya setiap kali kulitnya dan kulit Zero bergesekkan. Setiap gerakan yang Zero lakukan di atas tubuhnya membuatnya merasakan perasaan asing. Asing, tetapi mulai terasa familier. Semalam dia sempat tak sadarkan diri setelah Zero melakukannya padahal Luna tidak sedang dalam kondisi yang baik, tetapi jujur saja, di balik kondisi sakit itu, masih ada kenikmatan yang terselip di antaranya. Kenikmatan yang mampu membuat Luna mengerang nikmat di sela-sela rasa sakitnya. "Kau terangsang, Laluna?" Zero mengerutkan dahi dan bertanya kala ia memperhatikan gadisnya tengah memejamkan mata saat ia menyentuh kulit putih mulus itu. Pertanyaannya membuat Luna tersentak dan refleks menoleh. Melirik Zero dengan tatapan horor. "Apa? Mana mungkin!" seru Luna agak cepat dengan suara yang serak, membuat kepalanya berdenyut lebih parah setelahnya. "Kau membenciku." Zero mendekatkan diri dan memasangkan kancing kemeja di tubuh Luna, lelaki itu memang memilih kemeja agar nantinya mudah dilepaskan dari tubuh Luna yang mudah berkeringat. "Akan tetapi, tubuhmu mencintaiku." Luna serasa mau mati saja saat mendengar Zero mengatakan hal itu. Ia ingin membantah dan menolak tuduhan itu keras-keras, tetapi entah kenapa lidahnya terasa kelu. Bahkan untuk berkelit saja Luna tidak mampu. "Bukankah aku memberimu nama yang tepat? Jalang kecil yang merepotkan," kata Zero santai sambil menekan jarinya pada satu titik pusat milik gadis itu. Luna dengan tubuhnya yang sedang sakit nyaris menjerit saat Zero menyentuh bagian sensitif miliknya yang tidak seharusnya ia sentuh. "Hentikan ...." Luna mengerang dengan tubuh yang menggelinjang. Kepalanya semakin pening karena ada sensasi sakit dan nikmat di saat yang bersamaan. Dia tidak terbiasa dengan hal ini. Dua kali berhubungan dengan Zero dan selama itu Luna tidak bisa dikatakan berada di dalam kondisi siap. Yang pertama dia dicekoki obat, dan yang kedua dia tengah terkapar sakit. Akan tetapi, dari semua itu, kenapa dia ... justru merasa menyukai sentuhan Zero dan menginginkannya lagi? Luna tidak mengerti, sungguh ia tidak bisa memahami dirinya sendiri. Sepertinya tebakkan Luna benar. Dia memiliki sisi jalang ... yang tidak terelakkan di dalam dirinya. Sisi yang baru muncul setelah ia bertemu dengan Zero. Si iblis m***m yang membuat perasaannya campur aduk. Lelaki bermata abu itu menarik senyumannya saat melihat Luna mengatupkan mulut. Tidak bisa berkelit meski reaksi tubuhnya atas sentuhan sudah menjawab dengan lantang. "Mulutmu yang di atas mungkin bungkam ...." Zero semakin sengaja menekan jarinya pada daerah yang tak seharusnya ia sentuh, menikmati ekspresi Luna yang tampak tersiksa sekaligus menikmati. "Namun, mulut bawahmu ini bersuara dengan sangat nyaring, Laluna. Dia menginginkanku di dalamnya. Bukan begitu?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN