#11

1159 Kata
Luna tidak sadarkan diri setelah permainan panjang yang dikuasai oleh Zero. Suhu tubuhnya benar-benar panas, sedangkan Zero yang menyadari hal itu malah bersikap acuh tak acuh, seolah tak peduli sama sekali. Zero kembali ke dalam kamarnya setelah puas melakukan apa yang ia mau, dan meninggalkan Luna sendiri dalam kondisi yang tidak sadar. Ia berjalan perlahan menuju ranjang dan membaringkan diri di sana. Kepalanya terasa pening karena seminggu belakangan ini ia terus mengkonsumsi alkohol. Zero nyaris saja terlelap di dalam tidurnya, saat suara ponsel yang bergetar membuat lelaki itu terusik. Malas mengangkat, awalnya Zero memutuskan untuk mengabaikannya. Demi Tuhan, ini baru jam enam pagi, masih ada beberapa waktu sampai ia harus pergi ke kantor. Akan tetapi, dering yang tak kunjung berhenti membuat Zero mengerang kesal dan terpaksa bangkit dari posisi nyamannya. Dia baru saja mau mematikan ponsel saat ia melihat nama 'Joanna' sebagai penelepon. Bingung, Zero mengernyitkan dahi dan menyandarkan kepalanya. Menimbang-nimbang untuk mengangkatnya atau tidak. Percayalah, Zero juga masih punya hati seperti manusia lain. Oleh karena itu, dia bisa terombang-ambing di arus patah hati karena cintanya masih ada, bahkan setelah segala penderitaan yang ia alami di masa kecil. Hanya saja, untuk Luna agak berbeda. Zero menyimpan dendam untuknya. Rasa benci yang ia tumbuhkan sejak dulu membuat Zero memperlakukan Luna secara kasar. Meski ia sendiri sadar kalau Luna tidak pantas diperlakukan demikian. Sejak awal Zero memang mengincar Luna untuk dijadikan miliknya, tetapi keinginannya terhalang oleh nenek Fahmi sialan, si pemilik panti asuhan itu. Dia menolak Zero mentah-mentah dan mengusirnya pergi. Untung saja, anakya si Ibu panti sedang sakit parah dan membutuhkan biaya lebih. Jadinya Zero bisa membeli Luna karena Bu Fahmi terpaksa menjual gadis itu, demi uang. Benar, Zero memang berbahagia di atas penderitaan yang lain. Katanya, orang jahat terlahir dari orang baik yang tersakiti, dan sepertinya pepatah itu seratus persen akurat. Zero benar-benar anak yang baik sampai musibah itu datang dan menghancurkan segalanya. Merebut segala kebahagiaan yang ia miliki, dan meninggalkannya sendirian dengan rasa takut. Zero menarik napasnya dalam-dalam saat melihat benda pipih hitam miliknya masih berdering. Masalahnya dengan Joanna memang masih jauh dari kata selesai, gadis itu memperumit segalanya. Akan tetapi, untuk saat ini dia harus beralih dan menata perasaannya terlebih dahulu. Pendinginan akan jauh lebih baik, daripada memaksakan diri untuk menghadapi segalanya sekarang. Oleh karena itu, ia mematikan ponselnya dan kembali berbaring. Tidur adalah jalan terbaik untuk melepaskan segala beban yang menimpanya, meski hanya sejenak. *** Cahaya yang menembus celah-celah gorden Zero membuat lelaki itu menggeliat. Merasa terganggu, dia perlahan membuka mata dan bangun dari tidur singkatnya. Tidak peduli seberapa berantakan pun penampilannya, Zero tetap terlihat menawan. Dia mewarisi gen yang luar biasa. Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sebenarnya ia sudah terlambat untuk berangkat ke kantor. Akan tetapi, tidak akan ada orang yang berani protes meski dia tidak hadir sekalipun, oleh karena itu Zero tidak terburu-buru dan melaksanakan kegiatan rutinnya setiap pagi dengan santai. Ia keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk, menampilkan bentuk otot yang sempurna. Selama ini, olahraga selalu menjadi teman Zero. Dengan mengeluarkan keringat, entah kenapa ada bagian dari dalam dirinya yang merasa lega. Dari sekian banyak alat gym yang ada di ruangan khusus di rumahnya, Zero paling menyukai ... olahraga keluar masuk dengan Luna. Oke, katakanlah dia gila karena menyukai melakukan hal itu dengan gadis yang ia benci seperti Luna. Namun, entah bagaimana ada sesuatu di dalam diri Luna yang membangkitkan gairah Zero lebih daripada yang wanita lain lakukan. Zero tidak bisa menahan dirinya, seperti semalam contohnya. Sesungguhnya, Zero memiliki harga diri yang tinggi. Dia sangat benci ketika ada seseorang yang menolaknya. Akan tetapi, pesona tubuh Luna menghancurkan segala ego itu. Rasanya begitu luar biasa ketika mereka bersatu, perasaan yang tidak akan bisa dijelaskan dengan kata-kata. "Ngomong-ngomong, apa dia benar-benar sakit?" Pemikiran itu tiba-tiba menelusup di benak Zero saat ia memakai kemejanya dengan gerakan seksi di depan kaca. Suhu tubuh Luna panas, tetapi semalam Zero tidak bisa berpikir dengan baik karena pengaruh alkohol. Karena itu dia hanya memedulikan diri sendiri, dan mengabaikan perkataan Luna. Tidak, dia bukannya khawatir akan kondisi si jalang kecil itu. Akan tetapi, Zero tidak suka orang di sekitarnya sakit, karena hal itu merepotkan. Lagipula, kenapa dia tiba-tiba sakit seperti itu? Apa dia rindu dengan sentuhan Zero, karena mereka sudah tidak bertemu satu minggu? Pasti demikian. Zero menyelesaikan acara pakai bajunya dan berjalan ke arah kamar Luna yang hanya berjarak beberapa langkah. Dari atas, dia mengamati orang-orangnya yang sedang bekerja dengan pandangan tak tertarik, lalu mengalihkan perhatian saat ia sudah sampai di depan pintu kamar Luna. Zero berdiri di ujung pintu, mengamati Luna masih tertidur dengan kondisi yang tidak berbusana sama sekali, sepertinya gadis itu belum terbangun bahkan sejak permaianan mereka kemarin. "Oy, jalang. Bangun." Zero memanggil dengan sebutan kasar, bermaksud membangunkan. Tentu saja dia tidak sembarang memberikan panggilan untuk orang lain. Ada alasan di balik setiap tindakannya, Zero bukan orang yang gegabah. "Apa kau mau tidur sampai matahari berada di atas kepala?" Tidak ada respons dari Luna. Bahkan gadis itu tidak tampak terusik sama sekali karena perkataannya. Merasa diabaikan, Zero berjalan masuk dan mendekati Luna setelah menutup pintu kamar. Berusaha untuk tidak kembali melakukan hal menyedihkan seperti memaksa Luna melakukan hubungan seksual di saat gadis itu dalam kondisi lemah, Zero lebih memilih untuk memalingkan wajahnya. Tubuh Luna yang hanya terbalut selimut putih itu berbahaya bagi Zero. Sungguh berbahaya. Zero berjongkok di samping ranjang dan mengamati gadis itu dari dekat. Wajah Luna tampak memerah, dengan bibir yang bergumam pelan seolah bergetar. Dipikir-pikir, selama satu minggu sejak ia membawanya kemari, Zero tidak pernah memperhatikan Luna sedekat ini. Gadis itu memiliki bulu mata yang lentik, hidung yang mungil, dan bibir yang merona. Wajahnya tampak sangat tenang ketika ia tertidur, seolah tidak ada beban yang harus ia tanggung. "Jangan ... tolong jangan lakukan itu ...." Luna yang tiba-tiba saja bersuara membuat Zero tersentak di tempatnya. Butuh beberapa waktu bagi Zero untuk mengamati Luna dan menyadari kalau gadis itu masih terlelap di sana. Ia sedang bermimpi buruk? Sepertinya begitu. Dilihat dari dahinya yang mengernyit beberapa kali, meski matanya masih tertutup rapat. Zero kembali mendekatkan diri pada Luna dan mengulurkan tangannya secara perlahan, memeriksa suhu tubuh gadis itu. Ia sempat membelalak saat merasakan sensasi panas di telapak tangannya, dahi Luna terbakar! Keterkejutan Zero tidak sampai di sana, lelaki itu semakin terhenyak saat tangannya tiba-tiba saja dipegang oleh Luna yang panas kulitnya terasa seperti api. Perlahan, ia mengalihkan pandangan ke wajah Luna dan mendapati kalau gadis itu sudah membuka mata yang saat ini tengah melihat ke arahnya. Terlihat sendu dan menyedihkan, entah kenapa Zero bisa merasakan hal itu dari tatapan Luna. Ada sesuatu di dalam diri Zero yang merasa terusik ketika mendapati gadis itu menatapinya dengan cara demikian. Sesuatu yang hancur, karena menyadari Zero juga pernah memandangi orang lain dengan lirikan itu. Tatapan memohon yang menyedihkan. Bibir Luna yang masih bergetar perlahan berusaha mengeluarkan kata, suaranya kecil, tetapi Zero masih bisa menangkap maksudnya.  Meski ... apa yang Zero dengar, terasa mustahil untuk diucapkan oleh seseorang yang berani menamparnya seperti Laluna. "Tolong ... jangan tinggalkan aku."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN