#6

1059 Kata
Luna membuka mata sedikit, merasakan bahwa tubuhnya sedang menimpa sesuatu yang empuk layaknya daging, bukannya yang keras seperti lantai. Suara milik seseorang sempat terdengar, tetapi Luna terlalu takut untuk mengindahkan. Dia nyaris mati, bahkan Luna masih bisa merasakan debaran jantungnya yang menggila. Seandainya saja tidak ada yang menariknya, apa sekarang Luna sudah mati? "Ada yang sakit?" Suara itu terdengar lagi, dan kali ini Luna mengenalinya dengan jelas. Itu bukan suara Zero, dia menghela napas lega kala menyadarinya. Tidak tahu apa yang akan terjadi kalau si berengsek itulah yang menangkap Luna. Pelukan masih terasa sangat nyata dari belakang tubuhnya, seolah tengah melindungi Luna. Akhirnya setelah beberapa menit berada di posisi canggung, Luna membuka mata dan menggeser posisi tubuhnya. Gadis itu hendak berdiri dan menjelaskan situasi saat matanya terbelalak kala menyadari siapa yang menolongnya. Dia .... "Kau sungguh tidak apa-apa?" tanya pria itu. Warna matanya sungguh indah, membuat Luna terbius. "Ada yang terluka?" "Tidak ... aku tidak apa-apa." Luna berusaha menarik senyuman. Tidak menyangka kalau seseorang seperti dia bisa menolong Luna, bahkan bisa berbicara dengan santai. Padahal awalnya gadis itu kesal, karena orang ini mengabaikannya di kali pertama mereka bertemu. Betul, yang menolongnya adalah .... "Namaku Jeremy." Pria itu akhirnya menyebutkan namanya, dia yang menjemput Luna dari panti asuhan dan mengabaikan setiap perkataannya kemarin sore. "Kau mengingatku?" Luna mengangguk. "Bukannya kau ... terus memanggilku Nyonya kemarin?" "Jadi kau mau dipanggil Nyonya?" Luna menggeleng cepat. "Tidak! Maksudku, kau yang mengabaikanku untuk tidak memanggil Nyonya. Sekarang, kenapa kau bisa berbicara dengan begitu informal?" "Karena di lantai tiga tidak ada CCTV." Jeremy menghela napas. "Kau sungguh tidak apa-apa? Apa yang sebenarnya kau lakukan? Mencoba bunuh diri? Sungguh, hal itu tidak berguna." Luna tidak menjawab, dia hanya diam dan menatap Jeremy bingung. "Lihat, kakimu terluka. Zero bisa curiga kalau melihat luka ini." Jeremy menunjuk lutut Luna lalu bertanya, "Mau kuobati?" Luna termenung. Rumah ini sungguh aneh, ada banyak orang yang berubah dengan cepat. Mulai dari Zero yang pertama kali Luna kira baik, tetapi ternyata semuanya hanya ilusi karena lelaki itu berengsek. Lalu yang kedua, ada Jeremy yang mengabaikan Luna kemarin, sekarang bisa berbicara dengan lancar dan nyaman pada Luna seolah mereka adalah teman. "Kau punya obat?" tanya Luna tertarik. Dia melirik ke arah satu-satunya pintu yang terletak di lantai tiga dan bertanya, "Itu ruanganmu? Sebenarnya kau bekerja sebagai apa? Kenapa di sini tidak ada CCTV?" "Kecilkan suaramu kalau kau tidak mau membangunkan semua orang." Jeremy memperingati Luna, raut wajahnya tampak sangat serius. Lalu, tanpa peringatan ia menarik tangan Luna secara lembut dan Luna tidak melawan. Mengikuti langkah Jeremy sebenarnya cukup berbahaya. Akan tetapi, Luna tidak punya pilihan. Dia memang harus mengobati luka di kakinya agar Zero tak curiga. *** "Ahh ... sakit." Luna tidak bisa menahan erangannya saat obat itu menyentuh lukanya. "Apa kau juga mendesah seperti itu saat bersama dengan Zero?" Jeremy menaikan alisnya. Dia tidak menatap mata Luna, lelaki itu fokus mengoleskan obat merah ke kaki Luna yang tergores. "Jangan kurang ajar." Luna melotot mendengar perkataan Jeremy. Sebenarnya dia malu, karena pertanyaan Jeremy terasa begitu intim untuk seseorang yang baru melakukan hubungan seksual sepertinya. "Aku bisa memecatmu." "Kau mana punya hak." Jeremy tersenyum geli saat mendengar perkataan Luna. "Aku sudah bekerja dengan Zero sejak dia berusia 21 tahun. Dia orang yang ambisius dan pemilih, tetapi entah kenapa dia malah mau menikahi seseorang yang ceroboh sepertimu." "Kau mengejekku?" Luna mengerutkan dahinya. Meski sedikit sebal, tetapi di saat yang bersamaan, entah bagaimana dia merasa nyaman. Rasanya dia menemukan sosok teman yang pengertian, tetapi menyebalkan. "Aku hanya membicarakan fakta." Jeremy selesai mengobati luka Luna, dan menghela napas. "Nah, sudah selesai. Aku harap kau tidak mencoba melakukan hal yang bodoh lagi, karena Zero bukan orang yang akan berbaik hati padamu." "Kau tahu alasan dia sangat membenciku?" Jeremy menggelengkan kepala. "Tidak, dia bukan orang yang mau bercerita padaku soal masalah pribadinya. Dia sosok yang tertutup, meski aku menganggapnya sebagai seorang teman, tetapi aku yakin dia tidak menganggapku sama." "Akan tetapi, kau diberi akses untuk tinggal di sini, bahkan tanpa CCTV. Itu berarti kau adalah orang yang dia percayai. Bukan begitu?" "Itu karena aku pernah menyelamatkan nyawanya." Jeremy membereskan barang-barang yang ia gunakan tadi, dan duduk di samping Luna. "Sebuah cerita yang tidak bisa kuberitahu padamu. Akan tetapi, ingat ini Luna, dia sungguh bukan orang yang baik. Karena itu, kalau kau punya kesempatan, larilah dari sini." "Kenapa kau sangat baik padaku?" Luna memiringkan kepalanya. "Padahal kemarin kau terasa begitu dingin." "Itu karena kita diawasi. Jangan pernah mengajakku berbicara saat kamera dan Zero sedang memantau kita. Karena itu artinya akhir dari segalanya. Aku tidak masalah mati, setelah segala sesuatu yang telah aku alami, aku tidak punya apa pun untuk diperjuangkan lagi. Akan tetapi, kau ... kau masih sangat muda. Perjalananmu seharusnya masih panjang, dan kau mengingatkanku pada seseorang yang kucintai." "Seorang wanita?" Luna bertanya penasaran. Hari ini, dia belajar banyak. Kalau ternyata bukan hanya dia yang memendam luka. Akan tetapi, banyak orang mengalami hal serupa. Bedanya, setiap orang punya caranya masing-masing untuk menutupi lobang yang menganga itu. Jeremy melakukannya dengan cara bekerja setiap hari, tanpa kenal letih. Zero melakukannya dengan cara menjadi kejam, agar sisi lemahnya tak terlihat. Sedangkan Luna melakukannya dengan menjadi ceria. Berusaha bertingkah seolah semuanya baik-baik saja, sampai di satu titik dia lelah dengan segala keadaan yang ada. "Adikku." Jeremy tersenyum. Pertama kalinya Luna melihat lengkungan itu. "Dia tidak sempat tumbuh besar sepertimu karena dia telah meninggal ... belasan tahun yang lalu." "I'm sorry." Luna mengatakannya sebagai bentuk rasa prihatin akan apa yang terjadi pada adik Jeremy. "Aku tidak bermaksud mengingatkanmu padanya." "Tidak apa." Jeremy kembali menarik napas. Wajahnya tampak begitu lelah. "Nah, sekarang pulanglah ke kamarmu dan lakukan apa yang Zero perintahkan. Jangan mencoba bunuh diri lagi, karena itu sia-sia. Jadilah anak yang penurut dan buat dia luluh. Ada dua cara yang bisa kau lakukan untuk lari dari sini." "Apa itu?" Luna membulatkan matanya tertarik. Jeremy sudah pasti dekat dengan Zero mengingat mereka berhubungan untuk jangka waktu yang lama. "Yang pertama, kabur dari sini tanpa ketahuan oleh Zero dan seluruh penjaga. Well, aku tahu ini tidak mungkin mengingat Zero menyewa banyak sekali orang untuk menjaga rumah ini. "Lalu yang kedua ... cara ini cukup simpel, tetapi membutuhkan pengorbanan. Mungkin kau harus merelakan semua rasa malu dan harga dirimu." "Bagaimana caranya?" desak Luna tak sabar. "Jadilah penurut dan buat dia jatuh cinta padamu. Jika kau menaklukan hatinya, maka kau ... mungkin saja bisa pergi dari neraka ini."  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN