Kotor.
Hina.
Bodoh.
Itulah yang terlintas di pikiran Luna di kali pertama dia membuka mata. Gadis itu mengingat semuanya. Dia tahu hal gila yang ia lakukan semalam bersama pria berengsek yang saat ini masih terlelap di sampingnya, Zero.
Suasana kamarnya masih sangat gelap, menandakan matahari masih belum muncul. Luna membayangkan semua perbuatannya, hingga kedua netra itu terasa panas.
Air mata berkumpul di kelopak matanya, dan perlahan merembes turun ke pipi halus milik gadis itu. Ada sesuatu yang remuk di dalam dirinya, saat membayangkan kalau ia sendiri yang menyerahkan tubuhnya secara murah kepada pria yang paling berengsek yang pernah ia temui ... Zero.
Semestinya, meski dipengaruhi obat sekalipun, Luna seharusnya tidak menyerah. Ia harusnya mempertahankan satu-satunya harta yang ia punya, bukannya menyerahkannya dengan sukarela.
Sekarang, apalagi yang dia punya?
Zero sudah merampas segalanya dari Luna. Mulai dari keluarga, hidup, bahkan sekarang ... kesucian. Lelaki itu benar-benar ingin menjadikan Luna sebagai w************n sesuai perkataannya. Meski Luna tidak tahu apa alasannya.
Luna memejamkan mata saat rasa sakit hati dan malu itu menjalar ke hatinya. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan orang tuanya yang berada di surga sana saat melihat kelakuan Luna yang sudah seperti jalang.
Tangisan tanpa suara itu bahkan bertambah parah saat ia merasakan sakit yang amat ngilu di antara kedua pahanya. Ingin rasanya Luna berteriak dan mengumpati Zero karena telah membuat seluruh hidupnya hancur. Akan tetapi, Luna tahu memancing emosi Zero tidak akan membuatnya mendapat keuntungan. Yang ada Luna yang rugi.
Apa pun yang Luna lakukan, tidak akan membuat Zero jera dan menyerah atas penyiksaannya, dan memikirkan Luna akan hidup begini seumur hidupnya membuat sekujur tubuh gadis itu merinding.
Ia tidak mau menjadi b***k Zero.
Lebih baik Luna mati dengan mengenaskan, daripada dia harus merasakan siksaan bak neraka seperti ini.
Zero bukan manusia. Dia iblis. Iblis gila yang bahkan nekad menggunakan obat perangsang pada anak yang usianya belum genap 20 tahun.
Memilih hidup dengannya, sama saja dengan Luna berpikir untuk membunuh dirinya sendiri secara perlahan-lahan.
Satu-satunya jalan untuk lepas dari segalanya adalah kematian.
Dan untuk pertama kalinya di dalam hidup, Luna ingin mengakhiri segalanya.
Gadis itu menghapus tangisnya dengan kedua tangan, lalu berusaha melepaskan diri secara perlahan dari pelukan Zero yang terasa sangat hangat.
Luna bahkan harus mengigit bibir bawahnya kuat-kuat saat rasa ngilu di bagian bawah tubuhnya semakin menjadi-jadi saat ia berusaha bergerak.
Saat pelukan itu berhasil terlepas, ia sempat menoleh ke arah Zero sejenak dan menatap sinis ke arah lelaki itu. Dia tampak terlelap dengan sangat tenang, wajahnya yang tertidur terlihat manis dan imut. Berbanding terbalik dengan saat netra abu itu menyalang.
"Bastard." Luna berkata tanpa suara, menghina Zero tepat di depan wajahnya. Ia sempat memandangi paras Zero sejenak dan membayangkan ... bagaimana kalau seandainya lelaki itu tidak jahat?
Luna menggelengkan kepala saat sadar ia masih berpikiran gila. Apa mungkin obat itu masih memiliki pengaruh, meski sedikit?
Luna melanjutkan aksinya setelah merutuki diri sendiri. Dia berhasil berdiri, meski rasa ngilu itu terus menyerangnya, tetapi Luna berusaha mengabaikan segalanya.
Dia mengambil bajunya yang sempat ia lucuti semalam dan memakai seadanya. Menengok ke arah Zero kembali, memastikan bahwa lelaki itu tak terbangun.
"Jangan pergi."
Perkataan itu membuat Luna membeku saat ia baru saja hendak keluar dari kamar. Dengan takut, dia menoleh ke arah Zero dan menemukan kalau lelaki itu masih tertidur.
"Jangan pergi, Ma. Jangan pergi."
Suaranya terdengar sangat memelas, seolah ia putus asa. Sangat berbeda dengan cara ia berbicara dengan Luna.
Zero sedang mimpi buruk, dan sepertinya seseorang yang ia mimpikan adalah ... Mamanya?
"Jangan, aku mohon, jangan ...."
Perkataan itu menusuk hati Luna, entah kenapa. Zero yang kemarin terlihat sangat keras dan kasar, juga bisa menjadi lembut ternyata, dan untuk beberapa alasan Luna ingin memeluknya dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja.
Akan tetapi, semua itu tentu saja hanya ada di dalam anggan Luna. Karena dia tahu, menenangkan dan memeluk Zero saat dia tengah tertidur lelap seperti itu sama saja menggali lubang kematian Luna sendiri.
Apalagi Zero adalah penyebab semua penderitaan yang Luna alami. Kenapa pula dia harus peduli dengan si berengsek yang telah menghancurkan kehidupan Luna?
Gadis itu memutuskan untuk mengabaikan racauan Zero yang masih terdengar jelas dan berusaha keluar dari kamar.
Tidak sulit, Zero tidak mengunci pintunya dan Luna bisa keluar dengan mudah. Setelah menutup kembali pintu kamar, ia berjalan pelan dengan tubuh yang menunduk. Ia berada di koridor lantai dua dan mengendap-endap dari atas sana.
Luna tahu Zero punya banyak pegawai, tetapi sepertinya daerah lantai dua dan tiga bukanlah daerah yang bisa disentuh oleh sembarang orang. Mengingat dari kemarin Luna tidak melihat siapa pun. Well, itu hanya perkiraan Luna.
Jantung gadis itu nyaris saja meledak saat mendengar dua orang satpam di bagian depan pintu tiba-tiba tertawa. Membuat tubuh Luna melemas seketika karena terkejut.
Bagian pintu keluar rumah ini dijaga dengan sangat ketat, jadi tidak mungkin Luna bisa keluar semudah perkiraannya tanpa bantuan. Jadi, melarikan diri sama sekalin tidak akan masuk ke dalam rencananya.
Ia melihat ke arah kanan dan kiri, lalu menaiki tangga menuju lantai tiga secara perlahan. Luna menganga saat menyadari kalau di lantai tiga sama sekali tidak ada perabotan, ruangannya kosong melompong. Hanya ada satu pintu kamar yang terletak di bagian ujung, entah milik siapa.
"Apa ada seseorang yang tinggal di sini?" tanya Luna pada dirinya sendiri dengan sangat pelan.
Luna memutuskan untuk mengabaikan pintu itu, mengingat mau ada atau tidak pun orang di sana, ia pasti sudah terlelap dan tidak akan bisa menggangu rencana Luna.
Yah ... rencana Luna yang sebentar lagi akan terealisasikan. Rencana ... bunuh diri.
Gadis itu tidak bisa menemukan apa pun yang bisa ia manfaatkan untuk mengakhiri hidupnya, misal seperti gunting, pisau, atau tali. Ia tidak mungkin pergi ke dapur karena ada yang berjaga di sana.
Masuk ke kamar Zero ... mungkin akan terlalu berisiko untuk Luna. Ia bahkan tidak tahu apa yang ada di dalam sana. Sama halnya dengan masuk ke dalam kamar di pojok itu, berbahaya.
Satu-satunya cara adalah ... melompat dari lantai tiga ini, dan membiarkan tubuhnya menabrak tanah secara kasar.
Akan tetapi, bisakah hal itu berhasil?
Bagaimana kalau nantinya Luna tidak mati?
"Setidaknya aku harus mencoba." Luna bergumam. Dia sungguh frustrasi saat ia kembali menyadari tidak ada apa pun yang bisa ia gunakan.
Gadis itu menarik napasnya dalam-dalam, lalu mulai menaiki bagian pegangan tangga. Jantungnya berdetak seribu kali lebih kencang saat ia melihat ke bawah.
Menyeramkan, sungguh menyeramkan. Dia pasti akan mendarat di atas lantai keramik indah milik Zero jika jatuh, dan well, setidaknya jika Luna mati, dia akan menghantui rumah si berengsek yang menghancurkan hidupnya, bukan?
"Maafkan aku, Tuhan." Luna bergumam. Dia sungguh tak ingin mati sekarang. Akan tetapi, membayangkan kalau ia akan terus berhubungan dengan Zero membuat Luna merasa mulas. Kematian mungkin akan jauh lebih baik. "Aku berharap bertemu dengan orang tuaku, aku berharap kau mengampuni dosaku. Aku harap aku tidak masuk neraka Tuhan, kalaupun aku masuk ke dalam api itu ... tolong pastikan Zero juga menyusulku."
Luna memejamkan matanya, siap untuk melompat. Dia baru saja hendak merentangkan tangan dan menjatuhkan diri saat tubuhnya tiba-tiba saja ditarik hingga terjengkang ke belakang.
Luna jatuh bersama seseorang ke atas lantai dengan kasar. Dia bisa mendengar suara benturan itu terdengar keras, tetapi gadis itu masih belum berani membuka mata.
Dia terlalu takut ... karena dia baru saja berpikir kalau ia akan mati saat itu juga.
"Apa kau ... tidak apa-apa?"