Panas, panas sekali hingga Luna ingin melepas semua bajunya. Setelah Zero pergi meninggalkan kamarnya, gadis itu tak lagi ragu untuk melucuti semua yang ia pakai, lalu berdiri di depan AC.
Rasa dingin menerpa kulit, tetapi panas itu tak kunjung reda. Luna tidak mengerti perasaan apa ini, karena secara perlahan ia kehilangan kewarasannya. Bahkan, Luna merasa semakin terbakar saat membayangkan Zero dan tubuhnya yang indah itu.
Gadis itu sudah benar-benar telanjang saat ia mendengar suara pintu terbuka kembali. Kepalanya berputar, tetapi ia tidak berlari atau panik saat seseorang masuk di saat ia tidak memakai sehelai benang pun di tubuhnya. Sepertinya Luna sudah kehilangan kendali akan dirinya sendiri.
"Pemandangan yang cukup indah." Zero bergumam. Lelaki itu memasuki kamar Luna setelah dia mandi selama beberapa menit, dengan hanya menggunakan handuk yang melindungi bagian bawah tubuhnya, Zero mengekspos otot dadanya yang berbentuk kotak-kotak di depan Luna.
Gadis itu menelan salivanya saat melihat Zero shirtless. Otaknya tidak bekerja dengan baik, dan Luna tidak bisa berpikir dengan jernih. Obat itu benar-benar berefek besar, membuat Luna kehilangan akal sehatnya.
Dengan gerakan cepat, Luna berlari dan melompat ke arah Zero. Mencium lelaki itu secara buas, meski ia tidak tahu bagaimana caranya.
Yang ada di pikiran Luna hanya satu, dia harus melepaskan semua rasa panas ini, dan entah kenapa ketika melihat Zero yang datang dengan pose seksi seperti itu membuat Luna menjadi semakin liar.
Zero tidak membalas ciuman Luna, bahkan bisa dibilang lelaki itu memblokir akses menuju bagian dalam mulutnya, membuat Luna mengernyit dan melakukan berbagai macam cara agar Zero luluh.
Lelaki bermata abu itu membawa Luna ke atas ranjang dan membaringkannya di sana, membuat ciuman mereka terlepas secara paksa.
"Please ...." Luna merintih di atas ranjang putih bersih itu. Tubuhnya yang benar-benar indah membuat Zero mau tak mau harus menegak salivanya kasar. Menyadari kalau permainan ini dirancang untuk membuat Luna menderita, tidak seharusnya Zero ikut-ikutan.
Apalagi, hell, bagaimana bisa suara rintihan dari seorang gadis kecil yang usianya belum genap 20 tahun bisa membuat Zero 'terbangun'?
Hal itu terlalu sepele, mengingat Zero adalah pemain yang hebat saat dia bersama wanita lain.
"Please ... Mr. Zero. I want you." Luna melengkungkan tubuhnya, lalu menatap Zero dengan tatapan memohon. Berkali-kali gadis itu mengigit bibir bawahnya, memberikan kesan seksi yang tak terbantahkan.
Zero menggelengkan kepala. Dia sudah berjanji untuk tidak menyentuh Luna, dan membuat gadis itu menderita.
Akan tetapi, rasa tegang di bagian miliknya membuat Zero mulai berpikir kalau permainan ini justru membuat dirinya sendiri terjebak, dan keputusannya kembali masuk ke kamar Luna adalah hal yang salah.
Alasan kenapa ia kembali ke kamar Luna setelah mandi adalah karena Zero ingin membuat Luna semakin menderita dengan cara membuat gadis itu mendambakan tubuhnya.
Ia tidak pernah berpikir kalau obat itu akan bekerja dengan sangat baik, hingga gadis yang tadinya menatap mata Zero nyalang dan menampar pipinya saat ini bisa berubah menjadi gadis yang ingin disentuh seperti ini.
"Kau ingin disentuh?" tanya Zero sembari berjalan di samping ranjang, jari-jarinya menyentuh kulit Luna secara lembut, mulai dari ujung kaki hingga ke pinggang, membuat Luna memejamkan matanya dan mengerang. Merasakan sensasi geli karena sentuhan Zero.
"Jawab aku, Laluna." Zero membingkai wajah Luna dengan tangan kekar miliknya saat lelaki itu duduk di samping ranjang, dengan jarak yang semakin tipis, Zero bisa mendengar deruan napas Luna yang memburu.
Luna mendongak, matanya kembali bertemu dengan mata Zero. Kewarasan sudah seratus persen hilang, dan obat ini mengendalikan tubuhnya.
Gadis itu menatap lekat ke arah Zero untuk waktu yang lama, lalu mengangguk. "Yes, yes. Please. I want you so bad."
Zero menarik senyumannya, hingga wajah lelaki itu tampak begitu manis. Membuat Luna semakin ingin menerkamnya di tempat.
Zero memeluk Luna, hangat, hingga membuat Luna tanpa sadar mengeluarkan kata-kata yang aneh ketika tubuh mereka saling bersentuhan. Akan tetapi, hal itu tak berlaku sama bagi Zero, karena lelaki itu justru berbisik di telinga Luna dan berkata, "Then, kau bisa mengakui kalau dirimu adalah w************n?"
Zero bisa merasakan tubuh Luna yang menegang saat kata 'w************n' kembali keluar dari mulut Zero. Sepertinya, Luna sungguh membenci kalimat itu.
Well, siapa yang tidak?
"Aku ...." Luna bergunam, kesadarannya sedikit terusik saat hinaan kasar itu kembali keluar dari bibir manis milik Zero. Akan tetapi, hal itu hanya berlangsung sementara, karena setelahnya sensasi dari obat itu kembali membius Luna, membuatnya kembali hilang kendali. "Yes, i am a slut, or whatever i dont f*****g care. So, please, please do that!"
"Good girl." Setelah puas mendengar pengakuan dari Luna, akhirnya Zero memutuskan untuk melanggar janji yang ia buat sendiri. Jalang kecil ini sungguh membuat miliknya ikut bereaksi hingga terasa sempit di dalam sana. Akan tetapi, sedaritadi Zero menahannya karena ingin mendengar Luna menghina dirinya sendiri.
Zero menjambak rambut Luna hingga kepala gadis itu mendongak ke arahnya, lalu menyerangnya dengan ciuman pada leher bertubi-tubi. Luna yang sudah kehabisan akal tidak bisa berkata apa-apa saat sensasi asing sekaligus nikmat itu menggerogoti tubuhnya.
Ia membalas ciuman Zero, entah dengan cara yang benar atau salah. Tangannya mencengkram sprei dengan kuat, sedangkan kedua kakinya melingkari bagian atas tubuh Zero.
Zero tersenyum penuh kemenangan saat Luna benar-benar luluh lantak karena obat tadi. Gadis itu besok mungkin akan sangat malu ketika mengingat kalau dialah yang memohon pada Zero untuk melakukan hubungan ini, dan Zero akan memanfaatkan momen itu untuk menyiksa Luna.
"Seorang p*****r, harus diperlakukan sebagaimana seharusnya, bukan?" Zero bertanya pada Luna di puncak permainan mereka.
Luna tampak bingung, dia menghentikan kegiatannya saat mendengar ucapan Zero.
"A-apa maksudnya?" tanya Luna.
"Apa kau tahu soal b**m, Luna?" Zero mendorong tubuh Luna hingga gadis itu terlempar di atas ranjang, lalu Zero naik ke atas tubuhnya dan tersenyum. "Ah, p*****r baru sepertimu mana tahu tentang hal itu bukan? Aku selalu ingin mencobanya, tetapi partner-ku sebelumnya tidak pernah mau."
Zero semakin mendekatkan diri pada Luna dan meletakkan kepalanya di atas perut Luna. "Karena itu, aku mau mencobanya padamu. Ingat, Laluna, di dalam permainan ini ... aku tak menggunakan cinta. Jadi, jangan berharap aku akan bersikap baik, meski aku tahu ini adalah ... kali pertamamu."