Plak!
Luna melayangkan tangan cantiknya ke pipi Zero tanpa sadar, saat lelaki itu terang-terangan menyebutnya sebagai w************n tepat di depan wajah Luna.
"Jaga mulutmu, Mr. Zero. Aku tidak seperti itu." Luna menjawab dengan berani, emosi telah menguasainya. Seumur-umur dia hidup, baru kali ini dia direndahkan seperti ini.
"Oh, begitu?" Di luar ekspetasi, Zero justru menjawab dengan begitu santai hingga membuat gadis itu bingung. Zero memegangi pipinya yang memerah karena tamparan Luna dan terkekeh sejenak. "Kita lihat saja nanti."
Luna mengembuskan napas lega saat Zero berbalik dan berjalan meninggalkannya, masuk ke dalam kamar Luna. Gadis itu tahu dia harus mengikuti Zero karena sepertinya ada yang harus mereka bicarakan.
Luna lagi-lagi terpana karena dekorasi ruangan ini. Tempat yang katanya kamarnya tampak begitu indah dengan nuansa putih, meski tidak semewah ruang tamu, tetapi Luna sudah sangat-sangat puas.
"Duduk."
Luna mengikuti perintah Zero tanpa mengeluarkan satu patah kata pun. Gadis itu duduk berhadapan dengan Zero, dan kali ini dia berani menatap mata Zero tanpa merasa terintimidasi.
"Kau ... sudah dengar dari nenek itu bukan, kalau kau akan kupersunting?"
"Maksudmu, Bu Fahmi?" tanya Luna dengan dahi berkerut.
"Ya, Fahmi, atau siapa pun itu." Zero menjawab dengan malas. "Aku tidak mengadopsimu dari sana, tetapi aku membelimu, apa kau paham?"
"Apa maksudnya?" Luna tidak mengerti. Selama ini dia hanya tahu istilah adopsi dan menyumbang di panti asuhan. Dia tidak tahu kalau ada sebutan lain.
"Aku membelimu seharga satu miliyar kepada Nenek itu. Dia menjualmu." Zero berkata lagi, wajahnya tampak sangat serius.
Luna menggeleng. Tidak percaya. Selama ini Bu Fahmi selalu menyayanginya dan merawat Luna seperti anak sendiri. Dia bahkan tidak mengizinkan Luna untuk diadopsi dulu.
Akan tetapi, sekarang ... apa maksudnya dengan semua ini?
"Tidak, kau pasti bohong ... Bu Fahmi bilang aku diadopsi, tetapi karena kau terlalu muda untuk mengadopsiku, maka kau memutuskan untuk menikahiku."
"Kau bodoh, ya?" Zero menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Nenek itu hanya merasa bersalah padamu. Adopsi itu ada syaratnya, dan tidak bisa sembarangan. Aku hanya ingin membelimu dari sana, karena itu aku membayarnya dengan nominal yang tidak bisa dikatakan kecil untuk rakyat sepertinya, dan dia berlindung dari kata 'adopsi' agar kau tidak curiga."
"Tidak ...." Luna menggeleng lagi, semuanya terasa sulit untuk dia percaya. Akan tetapi, Zero menunjukkan semua bukti kalau Bu Fahmi benar-benar menjual Luna padanya, dan hal itu membuat Luna kembali menangis.
"Mulai hari ini, kau akan hidup di bawah peraturanku. Pernikahan akan dilangsungkan secara rahasia. Aku membutuhkan status menikah agar tidak ada berita buruk menyangkut tentangku, dan kau ... jangan pernah berharap aku akan mencintaimu."
Luna tidak menjawab. Otaknya masih sibuk memikirkan tentang Bu Fahmi, hingga ia tak fokus pada ucapan Zero.
"Mulai besok, kau tak perlu sekolah lagi." Mengabaikan Luna yang terus menangis, Zero malah melanjutkan perkataannya seolah tak ada sesuatu yang terjadi.
"A-apa?" Luna bergumam dengan suara serak karena tangisnya. "Apa maksudmu?"
"Aku tidak mengulang perkataanku." Zero menarik napas dan menyenderkan tubuhnya pada sandaran kursi. "Aku akan menyewa guru untukmu. Mulai sekarang, kau tidak akan bisa keluar dari rumah ini, kecuali kau bersamaku."
"Tapi itu tidak adil, aku—"
Zero menggebrak meja kaca yang berada di antara mereka keras, hingga Luna terlonjak karenanya. "Bukankah sudah kubilang aku tak suka dibantah, Laluna?"
Luna tidak bisa berkata-kata lagi. Dia merasa seluruh kehidupannya telah hancur, dan sekarang dia harus terjebak bersama lelaki kardus dengan emosi yang mengerikan seperti Zero.
"Ah, satu lagi, aku membakar seluruh bajumu."
Luna nyaris kehilangan kendali saat mendengar perkataan itu keluar dengan entengnya dari mulut Zero. Gadis itu sontak berdiri dan menatap Zero marah.
"APA?! KAU MEMBAKAR BAJUKU?!" Luna tidak bisa menahan diri lagi. Zero begitu seenaknya dengan hidup Luna, meski sesungguhnya Luna tak bisa berbuat apa-apa lagi karena Zero telah resmi memilikinya alias membelinya.
"Kenapa? Semua baju itu terlalu usang. Jangan membuat rumahku tercemar hanya karena barang-barang bulukmu."
Zero berdiri, tidak menanggapi emosi Luna yang meledak-ledak. Lelaki itu mengambil air mineral yang berada di ujung kamar dan mengisi gelas bening di sampingnya.
Luna tidak bisa berpikir lagi, dia ingin pergi dari sini. Entah bagaimana caranya, dia ingin melarikan diri.
Zero sungguh tidak waras, dia menganggap Luna sebagai bonekanya, dan Luna yakin dia tidak bisa hidup dengan hal-hal yang terus diatur oleh Zero.
"Minum dulu," kata Zero menyerahkan satu gelas air putih yang tampak menggiurkan bagi Luna. Sedaritadi dia belum sempat minum, padahal ia sudah menangis berkali-kali.
Tanpa pikir panjang, Luna mengambil gelas itu dan menegaknya rakus. Lalu, ia meletakkan gelasnya di atas meja dengan kasar.
"Aku ingin keluar dari rumah ini." Luna berkata dengan wajah yang penuh tekad. "Biarkan aku pergi, dan aku berjanji akan membayarmu lagi atas harga yang kaubeli ada Bu Fahmi. Aku akan mencicilnya sedikit demi sedikit, hingga lunas."
Mendengar perkataan Luna, Zero terbahak hingga wajahnya memerah. Tawanya jelas mengisyaratkan pada Luna kalau Luna tidak akan mampu membayarnya atas nominal itu.
"Kau mau membayarku?" tanya Zero dengan tawanya yang tak kunjung surut. "Tapi bagaimana, ya? Jika kau mau membayarku kembali, maka kau harus membayar bunganya juga. 60 persen dari jumlah yang dibayarkan. Apa kau sanggup?"
Luna ingin menangis sekarang juga. Satu miliyar mungkin bukan jumlah yang besar bagi Zero, tetapi untuk Luna, dia ... bahkan belum pernah memegang uang satu juta rupiah.
Bagaimana bisa dia mengumpulkan satu miliyar?
"A-aku ... akan membayarnya." Luna berkata dengan ragu. Udara tiba-tiba terasa sangat panas setelahnya. "Aku yakin ... aku bisa membayarnya."
"Oh, kau yakin?" Zero menaikkan alisnya tertarik. "Tapi, bagaimana, ya? Uangku sudah sangat banyak lagi, sampai-sampai aku tak mau menerima uang darimu."
Luna menggepalkan tangannya kala mendengar perkataan Zero. Benar, lelaki itu sejak awal hanya mempermainkannya. Sepertinya Zero tidak ada niatan untuk melepaskan Luna, entah kenapa.
Luna ingin bertanya, kenapa harus ia yang Zero pilih. Akan tetapi, tubuhnya tiba-tiba terasa aneh. Semuanya terasa sangat panas, dan entah kenapa Luna justru ingin menyentuh tubuh Zero sekarang.
"Panas?" Zero mengamati gerak-gerik Luna yang tampak kepanasan dengan napas yang memburu. Lelaki itu menyeringai saat melihat Luna mengangguk.
"Panas ... panas sekali." Luna mengipasi tubuhnya. Rasanya tubuhnya terbakar. Dia ingin melepas semua bajunya, tetapi ia menahan diri karena ada Zero di sini.
Zero berdiri dari tempatnya dan mendekati Luna. Tangan lelaki itu bergerak ke arah d**a Luna dan hendak melepas kancing seragam milik gadis itu satu per satu sampai Luna menahannya.
"Kau ... mau apa?" tanya Luna lemah.
Zero menarik tangannya kembali karena Luna menahannya tadi. Dia mendekati telinga Luna dan berbisik lembut. Perkataan yang membuat Luna mematung di tempat.
"Kau tahu? Aku memasukan obat perangsang ke dalam minumanmu tadi. Setelah ini, kau akan merasa panas, panas, dan semakin panas. Kau akan menginginkan sentuhan pada tubuhmu, seperti wanita jalang yang murahan, kau akan mendambakan tubuhku.
"Akan tetapi, apa kau tahu?" Luna mendongak saat Zero melanjutkan kata-katanya. Sepertinya lelaki itu berkata sejujurnya, karena rasa panas itu semakin menjadi-jadi, dan sekarang Luna ingin melahap bibir merah milik Zero dengan rakus, hingga tak bersisa.
"Aku tidak akan menyentuhmu satu inci pun. Tidak untuk malam ini. Karena aku ingin kau merasakan panas itu sendirian. Maka dari itu, nikmatilah penderitaanmu, Laluna. Karena semuanya ... baru saja dimulai."