#8

1078 Kata
Menaklukan Zero bukan hal yang mudah. Itu yang terlintas di benak Luna saat lelaki itu dengan mudahnya menyetujui permintaan Luna yang dengan susah payah ia buat seseksi mungkin agar Zero bereaksi. Masalahnya, bukannya terpancing karena Luna, Zero malah membuat Luna merasa malu sendiri karena lelaki itu memintanya untuk berdiri di atas ranjang agar ia bisa memasang gaun itu dengan baik ... di saat Luna tidak memakai apa pun. Meski sudah berusaha menghilangkan seluruh rasa malu dan harga dirinya, tak urung Luna masih sangat-sangat merasa aneh saat Zero menatap tubuhnya yang tak terbalut sehelai benang pun itu dengan tatapan tak terbaca. "Aku membeli beberapa pakaian dalam untukmu." Zero menaikki ranjang dan memakaikan bra pada tubuh Luna dengan gerakan perlahan, dari perutnya. Lalu secara lembut, lelaki itu mengaitkannya dengan cara memeluk Luna. "Ukurannya pasti pas, karena aku bisa menebak dari permainan kita kemarin," bisik Zero lirih di telinga Luna. Luna tidak bisa berkutik, dia merasa kalah di permainan yang ia ciptakan sendiri, dan sialnya ... entah mengapa tubuhnya terasa aneh setiap kali kulit mereka bergesekkan. Ada sensasi menggelitik yang nikmat, sebuah perasaan asing yang Luna sendiri tidak bisa jelaskan. Mungkin sebenarnya Luna memiliki sisi lain yang tidak pernah ia kenal sebelumnya, sisi jalang ... yang selama ini tersembunyi dalam. "Angkat kakimu." Zero memerintah dengan tangan yang tengah memegang celana dalam. Mendengarnya, Luna refleks mengangkat kaki, entah sejak kapan lelaki itu sudah turun dari ranjang, Luna sendiri tak sadar. Dia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. "Kau punya kaki yang indah." Zero berkata demikian saat celana dalam itu nyaris sampai di bagian intinya. Akan tetapi, sebelum hal itu terjadi, Zero justru menghentikan gerakannya. "Nanti malam ... aku akan datang, siapkan dirimu," sambungnya tanpa mengalihkan pandangan dari bagian inti Luna. Luna merasa pipinya memanas. Dengan cepat, dia menarik CD itu tanpa bantuan Zero, menutupi pusat tubuhnya, lalu dia mengangguk. "Baiklah." Dia tidak punya pilihan lain selain menyetujui perkataan Zero. Yang hanya bisa Luna lakukan adalah berharap kalau Zero tidak akan kasar padanya, karena bagaimanapun ... demi rencananya, Luna tidak bisa melawan. Dia harus menjadi anak yang penurut agar Zero merasa puas. Setelah bertemu Jeremy kemarin, Luna jadi sadar kalau ia tidak bisa menyerah begitu saja. Bunuh diri bukan jalan, dan Luna berjanji pada dirinya sendiri untuk membalas segala perbuatan Zero padanya dengan cara membuat lelaki itu takluk. Kala masa itu terjadi, Luna akan membuat Zero menyesal pernah menyakitinya. "Kau tampak sedikit berbeda hari ini, eh? Apa karena kau sudah tak lagi suci?" Zero menaikkan alisnya, merasa tidak terbiasa. "Well, terserah. Aku tidak peduli. Pakai saja gaun itu sendiri, aku harus pergi." Luna mengangguk setuju tanpa berkata apa-apa. Dia memakai gaun itu dengan cepat, dengan tatapan Zero yang tak lepas dari tubuhnya. Setelahnya, Luna menatap ke arah lelaki bermata abu itu heran karena ia tidak bergerak satu inci pun sejak Luna selesai memakai pakaiannya. Seolah tengah mematung di tempat. "Tidak pergi?" tanya Luna. Zero sedikit tersentak, lalu lelaki itu berdehem dan membalikan badan. Meninggalkan Luna tanpa sepatah kata pun. Saat pintu sudah tertutup, Zero terdiam di depan pintu dan mengusap wajahnya kasar. Dengan kesal, dia bergumam, "Sial, sepertinya aku harus mandi air dingin." *** Luna merasa bosan. Dia tidak diberi akses internet, seperti hape ataupun komputer karena Zero tidak mengizinkan. Mungkin lelaki itu takut Luna memposting hal yang aneh-aneh di internet tentang apa yang Zero lakukan padanya, atau mencari pertolongan lewat dunia maya. Well, dia tidak bisa melakukan apa pun. Karena itu, Luna memutuskan untuk turun dan berjalan-jalan mengelilingi rumah. Zero tidak ada, sebenarnya hal itu merupakan kelegaan untuk Luna. Karena berada di dekat lelaki itu membuat napasnya terasa sesak. Dia mengintari dapur dan mengamati para pelayan yang sedang sibuk di sana. Tadi, Luna makan sendirian di meja makan yang besar. Untuk pertama kalinya dia diberi hidangan sarapan yang setara dengan jamuan hajatan. Terlalu berlebihan, karena Luna tidak serakus itu untuk menghabiskan semuanya. Acara mengelilingi istana Zero-nya terganggu saat Luna mendengar suara terikan perempuan yang sangat melengking dari luar. Penasaran, gadis itu hendak berjalan ke sumber suara dengan tangan yang menutupi telinga. Merasa kasihan dengan indra pendengarannya. Belum sempat bergerak jauh, Luna melihat nyaris seluruh pelayan yang tadinya sibuk dengan pekerjaannya sendiri berbondong-bodong berlari ke arah pintu. Untungnya, Luna sempat mencegat salah satu untuk bertanya. "Bi, memangnya perumahan Zero bisa dimasuki orang gila, ya?" tanya Luna dengan wajah polosnya. Dia bingung bagaimana orang itu bisa sampai ke sini, kalau dari pagar depan saja jaraknya sangat jauh untuk masuk. "Kok bisa?" "Hah? Yang berteriak itu bukan orang gila, Nyonya, tapi Ms. Joanna." Luna mengerutkan dahi. Dia tidak kenal siapa Joanna, well, dia saja baru tinggal di sini satu hari, bagaimana mungkin ia kenal? "Siapa itu, Bi?" tanya Luna bingung. "Ms. Joanna adalah tunangan Mr. Zero sebelum Mr. Zero memutuskan untuk mempersunting Nyonya." Pelayan itu menjawab. "Ms. Joanna bukan orang yang baik, sebaiknya Nyonya menjauh darinya. Kami semua akan berusaha untuk menahannya agar tidak menyakiti Nyonya." Luna mengangguk patuh kala pelayan itu meninggalkannya. Di tempat, dia termenung karena bingung. Ternyata Zero pernah bertunangan dengan seseorang, dan orang itu sama anehnya dengan lelaki itu. Lantas, kenapa hubungan mereka berakhir? Bukankah mereka akan menjadi pasangan yang paling serasi di dunia? Well, orang gila dengan orang sinting. Sungguh perpaduan yang sempurna. Lamunan Luna kembali dibuyarkan saat ia mendengar teriakan itu semakin melengking. Akan tetapi, kali ini namanya ikut disebut. "DI MANA LALUNA LAVIORA? BAWA DIA KELUAR?!" Merasa keadaannya serius, Luna hanya bisa bersembunyi. Ia berjalan dengan mengendap, mengintip situasi yang tengah terjadi di balik pilar. Dari sini, ia bisa melihat seorang wanita muda dengan wajah yang tergolong dewasa tengah ditahan oleh penjaga dan pelayan.    Sepertinya, tebakkan Luna salah. Wanita itu bukan orang gila, melihat pakaiannya yang bermerek dan wajahnya yang tampak cantik karena make up.  Dia hanya perempuan waras yang bertingkah seperti orang gila. Luna ingin keluar dan bertanya apa yang sedang terjadi, dan kenapa wanita itu mencarinya. Akan tetapi, dia tidak ingin memperkeruh keadaan. Toh, pelayan tadi memintanya untuk tidak mendekat. Well, sudah cukup satu orang saja yang membuat Luna merasa terancam, Zero. Ia tidak harus menambah masalah, bukan? Situasi semakin ricuh saat si Joanna mulai mengamuk, membuat beberapa orang di sana kewalahan menahannya. Sepertinya dia memiliki kedudukan yang penting, menurut prediksi Luna. Karena para penjaga tidak ada yang berani menyakitinya. Padahal itu jalan yang tepat untuk mengakhiri keributan ini. Luna nyaris saja keluar karena keadaan yang semakin tak terkontrol, saat Zero tiba-tiba saja datang dan menahan tangan Joanna dari belakang. Dengan tatapan yang sedingin es, lelaki itu berkata, "Kau pikir, apa yang sedang kaulakukan di sini, Joanne?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN