Zero datang seperti hantu, entah bagaimana lelaki itu bisa sampai dengan begitu cepat seolah ia bisa teleportasi. Di belakang Zero, ada Jeremy. Matanya dengan mata Luna sempat beradu pandang untuk sesaat, sampai ia mengalihkan lirikannya duluan. Mungkin ia takut ketahuan.
Situasi yang awalnya kacau tak terkendali hanya karena seorang wanita langsung berubah 180 derajat sejak kehadiran si dingin, Zero.
Tangannya mencengkram pergelangan Joanna dengan keras, entah bagaimana Luna bisa merasakan nyerinya.
Tatapan mata Zero sedingin es, bahkan dia tidak sebeku itu saat berbicara dengan Luna kemarin.
Apa ini? Bukankah mereka pernah menjalin hubungan? Itu artinya mereka pernah saling mencintai, bukan?
Akan tetapi, kenapa situasi di sini sangat mencekam? Hingga Luna ingin berlari menjauh karenanya.
"Ikut aku." Zero menghempaskan tangan Joanna dengan kasar, lalu berjalan cepat. Para pelayan yang awalnya berkerumun membuka jalan bagi Zero untuk lewat.
Sedangkan Jeremy, dia memberi Luna sebuah kode isyarat untuk segera pergi dari tempatnya. Menyadari itu, Luna cepat-cepat menaiki tangga dan kembali ke kamar.
Sebelum ia masuk ke dalam, ia sempat melihat Joanna berjalan dengan langkah yang di hentak-hentakkan, mengikuti Zero.
Oh sial, Luna penasaran dengan kejadian selanjutnya. Akan tetapi, dia tidak bisa berbuat apa-apa.
***
"Apa masalahmu, Honey? Kau tidak punya hak untuk memutuskan hubungan denganku secara sepihak. Hell! Kita sudah bertunangan, bahkan banyak yang berharap kita menikah. Akan tetapi, sekarang kau datang dengan ide 'menikahi seorang gadis miskin bernama Laluna dan meninggalkan Joanna?' Kau gila?!"
Rentetan kalimat panjang lebar itu keluar dari mulut Joanna Helizabeth. Dia adalah anak tunggal dari salah satu perusahaan besar yang bekerja sama dengan perusahaan milik Zero.
Mereka menjalin hubungan tanpa ada embel-embel perjodohan. Zero jatuh cinta terlebih dahulu dengannya tanpa tahu soal latar belakang keluarga Joanna.
Zero memang membangun usahanya sendiri dari nol. Dia sangat tidak tertarik untuk melanjutkan usaha Ayahnya yang b******n itu, dan memilih untuk berjuang sendirian.
Semua Zero bangun dari awal tanpa bantuan sedikit pun, dan di usianya yang masih terbilang sangat muda, Zero sudah meraih segala yang ia inginkan.
Yah, tidak segalanya. Ada beberapa hal yang masih harus ia selesaikan. Seperti gadis cilik yang ia kurung di lantai dua, Laluna Laviora.
"Kau ... tidak mencintaiku." Zero mengambil kopinya dan menghirup aroma itu dalam-dalam. Tanpa menatap mata Joanna, dia mengatakan hal yang menusuk hati. "Sejak awal, kau hanya diminta oleh Papaku untuk mendekatiku, Joanne."
"Apa?" Joanna tampak terhenyak. "Apa maksudmu? Kau mendengar hal itu dari ma—"
"Jangan membohongiku!" Zero meletakkan cangkir kopinya kasar, lalu menatap mantan tunangannya dengan lirikan dingin. Mengintimidasi, dan membunuh di saat yang bersamaan. "Aku tahu segalanya. Si b******n itu yang memintamu untuk mendekatiku hingga aku jatuh cinta padamu. Sejak awal, tidak ada kata cinta di antara kita. Semuanya palsu! Termasuk perasaanmu padaku."
"Tidak ... Zero ...." Joanna merasa matanya memanas. Hampir semua yang Zero katakan benar, hanya saja lelaki itu terlalu tertutup dendam dengan Papanya, hingga menarik keputusan sendiri. "Kau salah paham ... aku mencintaimu, tanpa suruhan Papamu pun, aku tetap tertarik pad—"
"Lupakan semuanya, Joanne. Hubungan kita sudah berakhir." Zero berdiri dari tempatnya, mengabaikan air mata Joanna yang sudah turun dengan deras. Di dalam hatinya, ada sensasi tercubit. Ini tidak mudah, sama sekali tidak mudah.
Zero pernah mencintai Joanna apa adanya, sampai dia merasa dikhianati karena Joanna ternyata hanya mendekatinya karena perintah Papanya.
Sejak awal, hubungan Zero dan Papanya sama sekali tidak baik. Mengetahui Joanna hanya melaksanakan tugas membuat Zero berpikir kalau Joanna hanya berpura-pura mencintainya.
Hal itu membuat Zero sakit hati, hingga dia memutuskan hubungannya dengan Joanna secara sepihak, tanpa memedulikan bahwa mereka sudah bertunangan.
Setelahnya, Zero membawa Luna masuk ke dalam rumah dengan tujuan membalas dendam. Dia ingin melakukan strategi bagus, di mana sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau bisa terlampaui.
Joanna berlari memeluk Zero dari belakang saat Zero sudah berjalan membelakanginya. Punggung lelaki itu terasa sangat dingin, hingga nyaris tak tersentuh.
Tangis Joanna pecah saat Zero hanya diam di tempat dan mengabaikan isakkannya. Tidak, Joanna bukan gadis yang bertingkah laku seperti orang gila.
Dia mengamuk mencari Laluna tadi hanya sebagai bentuk rasa sakit hatinya pada Zero karena meninggalkan gadis itu di saat Joanna sudah jatuh cinta terlalu dalam.
Dia tidak bisa melepaskan Zero demi wanita yang bernama Laluna itu, apalagi kalau sampai mereka menikah.
Tidak ... Joanna tidak bisa merelakannya.
Jika Zero tidak lagi mau bersamanya, maka Joanna akan berusaha dengan cara apa pun untuk mendapatkan lelaki itu kembali. Sekalipun jika dia harus melukai gadis kecil yang bernama Laluna itu.
"Aku mencintaimu. Sangat. Jangan pergi. Jangan tinggalkan aku. Aku mohon."
Perkataan itu terdengar lirih dan menyakitkan, membuat siapa saja yang mendengarnya akan merasa iba dan terenyuh.
Akan tetapi, hal itu tidak berlaku sama untuk Zero. Mendengar permohonan Joanna yang menyedihkan itu membawa kenangan buruknya kembali.
Pikiran dan memori yang terlupakan secara perlahan dari otaknya mulai mengambang lagi. Rasa sakit itu tidak pernah pudar, sekalipun waktu terus berjalan tanpa kenal henti.
"Ma ... jangan tinggalin Zero, Ma."
"Mama, buka mata, Ma! Zero enggak mau sendirian!"
"Mama, Zero sayang Mama. Zero mohon jangan pergi. Jangan tinggalin Zero sendiri."
"Ma! Buka mata Mama!"
Kilasan balik memori itu membuat setitik air mata jatuh dari indra penglihat Zero tanpa sadar. Lelaki itu memejamkan mata dan meredam seluruh rasa sakitnya dalam-dalam, berusaha mengabaikan seluruh perih yang terasa nyata di dalam diri.
Ia melepaskan pelukan Joanna secara lembut, lalu menghapus air matanya cepat. Zero berbalik dan menemukan kalau netra milik wanita yang pernah ia cintai itu sudah banjir dengan cairan bening.
"Pulanglah sekarang, Joanna. Kita bisa membicarakan hal ini nanti." Zero merasa tubuhnya melemah karena memori itu. Dia ingin segera istirahat. Berdebat dengan Joanna yang keras kepala hanya akan memperburuk situasi.
Joanna tampak termenung, dan saat Zero tengah melamun dan lengah, gadis itu menarik Zero ke dalam pelukannya, lalu mencium bibirnya lembut.
Kejadian itu berlangsung begitu cepat. Mereka berdua serasa memiliki dunianya sendiri. Sayangnya, ada satu orang lagi yang menyaksikan peristiwa bak drama itu.
Gadis yang sedaritadi nekad menguping karena terlalu penasaran dengan apa yang terjadi.
Benar, di balik pegangan tangga yang dingin, ada seorang gadis yang bersembunyi di sana.
Ia, Laluna Laviora, menyaksikan segalanya.