#40

1072 Kata

Hujan turun lagi. Belakangan ini, sepertinya kota Jakarta sedang galau merindu, karena itu ia terus-terusan menangis, membasahi setiap umat yang keluar tanpa pelindung seperti payung dan jas hujan, tanpa kenal ampun. Luna menatap lesu, dia bosan. Sedaritadi yang ia lakukan hanyalah duduk di teras, memandang hujan, memegang novel yang sampai sekarang tak bisa ia pahami maknanya, dan menyeruput teh melati hangat yang terasa manis di lidah. "Memandang hujan?" Jeremy membuka suara kala hening di antara mereka sudah berlangsung terlalu lama. Sedaritadi, ia hanya menemani Luna di sini sambil memerhatikan gadis itu dari samping. Setelah pertanyaan yang Jeremy ajukan soal apakah Luna meragukan cinta Zero, gadis itu sama sekali tak berbicara lagi. "Bukan, lagi nahan ee." Luna membalas asal kala

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN