"Mrs. Hewkinz?" Panggilan itu sudah tiga kali, menyebut nama yang sama. Suster yang berada di sana celangak-celinguk, mencari seseorang yang mendaftar dengan penggalan kata tersebut. Namun, sama sekali tidak ada yang bereaksi. Pasien lain yang menunggu di ruang tunggu saling menatap satu sama lain, seolah bertanya, apa kau Mrs. Hewkinz? "Kayaknya yang namanya Hewkinz rada congek deh," gumam Luna berbisik di telinga Jeremy, agar suaranya tidak ke mana-mana. Bukannya apa, ia hanya sedikit kesal karena di sini sudah ada banyak orang yang menunggu. Namun, orang itu justru menghilang di saat yang tidak tepat. Jeremy awalnya sedang sibuk bermain ponsel, tetapi ucapan Luna barusan membuat lelaki itu menaikkan alisnya sebelah. "Siapa?" "Mrs. Hewkinz, yang dipanggil suster daritadi," gumam Luna

