Pagi itu, Luna muntah-muntah. Si perempuan dengan rambut cokelat tak bisa menahan gejolak mual di perutnya, hingga ia terus mengeluarkan suara aneh. Ia mengikat rambut dan membungkukan badan di depan wastafel, dan setelahnya Luna memutar keran, berkumur dengan air bersih, serta membilas wajahnya yang tampak lusuh. Luna menatap bibir pucat dan wajahnya yang tampak sayu di depan kaca, lama. Belakangan ini, ia merasa ada sesuatu berbeda pada dirinya. Entahlah ... ia merasakan berbagai gejala yang tak biasa, mulai dari mual, cepat lelah, lalu yang paling menganggu adalah indra penciuman yang jadi lebih sensitif. Gadis itu terpaku di tempat kala sebesit pemikiran asing menelusup ke dalam benaknya. Membuat Luna tanpa sadar mengigit bibir kuat, sembari bergumam, "Mungkinkah ... aku ...."

