bc

Salam Untuk Syam

book_age16+
644
IKUTI
1.9K
BACA
family
mate
submissive
goodgirl
drama
mystery
male lead
city
first love
sacrifice
like
intro-logo
Uraian

5 tahun sudah Syam dan Hana menjalin hubungan, hampir tidak pernah ada rumor yang tak mengenakan dihubungan yang mereka jalani. Sampai suatu hari, mereka menjalani LDR karena Syam diterima di sebuah perusahaan di Singapura. Hampir 3 tahun menjalani LDR, datang kabar burung bahwa Syam pergi ke Singapura bukan untuk bekerja melainkan untuk menikahi wanita pilihan orang tuanya. Dan terdengar kabar bahwa ia juga sudah memiliki anak. Apakah kabar ini benar adanya? Lalu Bagaimana dengan Hana? Bagaimana dengan cinta mereka?

chap-preview
Pratinjau gratis
Syam yang Manis
"Yah, aku pulang telat ya, soalnya Syam lagi sakit," terdengar suara Hana sedang menelpon Ayahnya.  "PULANG!" ucap Ayahnya dengan suara lantang.  Mendengar hal itu, Syam yang sedang terbaring lemas di atas kasur pun terbangun.  "Sayang," suara Syam terdengar serak.  "Eh kamu nggak boleh banyak gerak yang,"  "SAYANG, SAYANG, PULANG CEPAT! NGAPAIN KAMU NGURUSIN HIDUP DIA, PULANG GAK!" teriak Ayahnya setelah mendengar Hana yang menyuruh Syam untuk tidak banyak gerak.  Mendengar perkataan itu lagi, Syam mengkode Hana untuk segera menuruti perintah Ayahnya.  "Sayang pulang aja, aku nggak apa-apa," ujar Syam sedikit berbisik kepada Hana.  Wajah Syam terlihat sangat pucat, ia memang sudah demam sejak 3 hari yang lalu, namun ia menyembunyikannya dari Hana, ia tidak ingin Hana sibuk untuk mengurusinya karena ia tahu bahwa Hana juga sangat sibuk dengan perkuliahannya.  Tapi pagi tadi ia benar-benar tidak tahan, tubuhnya sangat lemas dan panas, ia pun segera menelpon Hana.  "Ayah apaan sih, Syam lagi sakit yah, aku nggak bisa ninggalin dia sendiri disini," jawab Hana kepada Ayahnya.  "Eh sayang huust," Lagi-lagi ia mengkode Hana agar tidak melawan perintah Ayahnya.  "Ta-tapi yang,"  "Nggak apa-apa," ucapnya pelan sembari mengangguk dan tersenyum kepada Hana.  Tanpa berpanjang kalam ia menutup telepon Ayahnya.  "Aku nggak mau tahu, aku harus disini nemenin kamu," "Jangan gitulah yang, kamu pulang aja, jangan buat Ayah marah lagi," Sejak awal menjalin hubungan, keluarga Hana memang tidak pernah menyukai Syam, terutama Ayahnya. Entah alasan apa yang membuat dia sebenci itu pada Syam, ia tidak pernah mengungkapkan alasannya tidak menyukai Syam, padahal Syam adalah pria yang sangat menjaga attitudenya, terlebih kepada orang tua.  "Jadi aku pulang nih?" ucapnya sembari menggenggam tangan prianya.  "Sayang," jawab Syam pelan, suaranya terdengar syahdu dibarengi dengan senyuman manis yang ia berikan kepada Hana.  "Jangan khawatir, aku udah biasa sendiri," lanjutnya.  "Aku tahu kamu udah biasa sendiri, tapi sekarang kondisinya beda sayang!" Hana sangat mengkhawatirkan kondisi Syam, di apartemen ia hanya tinggal sendiri sedangkan keluarganya berada jauh di luar daerah sana.  "Dengerin aku! Kamu pulang ya, Ayah pasti khawatir sama kamu, pulang gih!" "Kok kamu jadi ngusir aku sih," "Nggak gitu sayang,"  Syam tertawa tipis mendengar perkataan wanitanya itu.  "Iya deh aku pulang nih?" tanyanya meyakinkan Syam.  "Iya," jawabnya dengan senyuman manis.  "Nanti kalau kenapa-kenapa aku tinggal hubungin Jeje," lanjutnya.  "Jeje? yang jadi pacar kamu Jeje atau aku sih?" tanya Hana dengan nada sinis.  "Hahaha, sayang, sayang, udah deh kamu jangan buat aku ketawa,"  Dengan suara yang lemah, Syam tertawa ringan mendengar ocehan pacarnya itu. Bagaimana tidak, Hana bahkan cemburu kepada seorang Jeje, laki-laki yang tubuhnya dipenuh dengan otot itu. Jeje merupakan sahabat Syam, mereka teman kelas saat SMA sampai kuliah mereka sering menghabiskan waktu bersama.  "Lagian kamu, apa-apa ke Jeje aku kan jadi curiga," sambung Hana.  "Walau Jeje sering meluk aku, tapi aku nggak baper kok sayang, syukurnya aku masih normal," jawabnya sambil tertawa.  "Ya udah aku pergi ya," sembari mengelus manja pipi Syam.  "Hati-hati sayang," sahut Syam dengan manis dan tak lupa ia membalas elusan itu.  *** POV Syam Aku menutup mata dengan harapan bisa tertidur walau hanya 10 menit, aku cukup khawatir dengan keadaanku saat ini, sudah 3 hari aku tidak pernah merasakan tidur.  Hana yang duduk di samping kasurku tiba-tiba berdiri dan pergi ke sofa untuk menjawab telepon. Aku tetap pada posisiku, hanya saja tangan Hana yang tadinya ada di genggamanku kini sudah terlepas.  "PULANG!" Suara itu terdengar hingga ke telingaku, sekeras itu teriakan Ayah Hana hingga aku yang hampir tertidur tiba-tiba terkejut. Kutatap wajah Hana, ia terlihat santai, karena memang ia sudah sangat biasa dengan hal itu.  Lalu pelan-pelan aku duduk, walau badanku rasanya seperti akan remuk. Benar saja, Hana memarahiku yang tiba-tiba bangun begitu saja, dia sangat mengerti keadaanku, aku merasa sangat beruntung memilikinya.  "SAYANG, SAYANG, PULANG CEPAT! NGAPAIN KAMU NGURUSIN HIDUP DIA, PULANG GAK!" Jujur, rasanya sakit mendengar kata-kata itu, tapi aku berusaha untuk tetap tersenyum di hadapan Hana. Langsung saja, aku mengkodenya agar segara menuruti perintah Ayahnya. Tapi apa boleh buat, sejak awal aku mengenalnya, ia memang sangat keras kepala. Bukan menuruti perkataan Ayahnya, ia justru semakin melawan perintah Ayahnya.  Walau hampir 5 tahun kita menjalani hubungan, tapi tetap saja aku merasa tak enak hati kepadanya, ia terlalu memprioritaskan aku sebagai pacarnya, daripada Ayahnya sendiri. Dia memang sering menceritakan bagaimana perlakuan Ayahnya yang terkadang kasar kepadanya. Tapi menurutku tetap saja, ia tidak boleh melakukan hal itu. Aku terus membujuk dan meyakinkannya agar ia segera pulang menuruti perkataan Ayahnya.  Lagi pula, ia baru saja pulang dari kampus dan langsung mampir ke apartemenku, aku tahu dia pasti sangat lelah dan butuh istirahat. Tapi begitulah, selain keras kepala ia juga sering tak memperdulikan kesehatannya sendiri.  Sekarang Hana sudah pulang. Jujur aku sedikit sedih saat ia pulang meninggalkanku. Terkesan berlebihan, tapi aku merasa mungkin ini efek samping dari obat yang aku minum tadi. Bisa-bisanya aku berpikir seperti itu, tapi aku benar-benar merasa kesepian sekarang, padahal sebelumnya aku memang sering sendiri, hidup sendiri dan jauh dari keluarga sudah hampir 5 tahun aku jalani.  Ya betul, persis seperti hubunganku dengan Hana. 3 bulan pertama aku menginjak kota ini, kita sudah langsung dipertemukan. Kadang aku berpikir, sebaik itu Tuhan hingga aku dipertemukan dengannya. Entah dia juga merasa seberuntung aku atau tidak, aku tidak terlalu memperdulikan hal itu, yang aku tahu aku sangat mencintainya dan akan selalu mencintainya sampai nafas terakhirku.  Aku ingin sekali mengatakan hal itu kepadanya walau sekali seumur hidupku. Tapi kadang kala aku merasa hal itu tidak perlu diungkapkan dengan kata-kata, cukup aku membuktikannya dengan sebuah tindakan maka dia pasti akan mengerti bagaimana perasaanku kepadanya.  Bisa dibilang aku ini tidak terampil dalam merangkai kata, Hana sudah tahu dengan hal itu, aku sangat kaku di awal. Tapi sejak mengenalnya aku sudah tidak kenal lagi dengan kata kaku atau dingin, yang biasa wanita sering katakan kepadaku.  Tampan, iya aku menyadari bahwa aku tampan, mayoritas wanita mengatakan seperti itu. Tapi aku seringkali bingung, Hana sering mengatakan aku ini manis dan menggemaskan, aku ingin sekali menanyakan kepadanya "tingkah manisku itu seperti apa? tingkah menggemaskanku itu seperti apa? "  Aku masih bingung dengan definisi manis dan menggemaskan yang sering ia katakan. Apa saat aku menggenggam tangannya? Apa saat aku mencium keningnya? Apa saat aku memeluknya? Apa saat aku tiba-tiba mencubit pipinya? Mengelus pipinya? Atau apa?!  Tolong beritahu aku, agar aku bisa terus melakukan hal itu setiap sedang bersamamu. 

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Tentang Cinta Kita

read
231.4K
bc

Suamiku Bocah SMA

read
2.6M
bc

Satu Atap Tanpa Cinta

read
28.8K
bc

Keyra, Gadis Kecil Kesayangan Om Dirga

read
213.7K
bc

Pernikahan Rahasia sang CEO: Menyerah pada Cinta yang Menggila

read
1.0K
bc

Sentuh Aku, Daddy!

read
175.6K
bc

Demo Dulu, Jatuh Cinta Kemudian

read
12.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook