Bu Euis
Pulang dari rumah sakit, aku istirahat sebentar. Kutidurkan Aqila yang sepanjang perjalanan tertidur dengan pulas. Kurebahkan tubuhku di samping Aqila.
Aku sudah memasuki babak baru hidupku. Hidup baru tanpa fasilitas seperti dulu. Membiasakan diri dengan gaya hidup sederhana menyesuaikan dengan penghasilan dan kebutuhanku. Kini aku menjadi tulang punggung keluarga.
Aku mencoba membawa Aqila ke tempat kerja. Beberapa hari kucoba asuh sendiri, namun ternyata lumayan tidak konsen saat bertugas. Akhirnya kutitipkan saja dia di daycare yang lokasinya tak begitu jauh dari rumah sakit. Cukup lima menit jalan kaki. Letaknya ada di seberang rumah sakit.
Kedua mataku terasa lelah. Entahlah aku tertidur berapa lama. Aku terbangun saat hapeku berdering.
"Iya lagi di rumah, Dok."
"Boleh, ke sini aja. Saya nggak lagi senggang kok."
Pak Bayu mau mampir. Dia katakan kebetulan lagi ada keperluan ke lokasi yang tidak jauh dari rumah. Dia bersama istrinya. Mungkin akan nyampe dalam waktu setengah jam lagi.
Aku segera membersihkan diri. Kulihat Aqila masih belum bangun. Aku tak tega membangunkannya. Nanti saja kumandikan. Aku waktu kurang lebih sepuluh menit. Saat kembali ke kamar, Aqil sudah duduk. Dia senyam-senyum.
"Eh, anak mama sudah bangun."
Sepertinya masih ada waktu. Setelah mengenakan pakaian rapi, aku segera memandikan Aqila. Aku taburi badan mungkil itu dengan minyak telon dan lehernya kutaburi bedak supaya tidak lecet.
Tepat sekali. Baru saja selesai mendandani Aqila, pintu diketuk diiring salam. Suara yang sudah akrab di telingaku, suaranya Pak Bayu.
Sebelum membuka pintu aku melangkah ke kamar Icha. Dari luar kamar aku memanggil Icha agak pelan.
"Teteh, lagi sibuk nggak?"
Icha membuka pintu kamar.
"Ada apa, Ma?"
"Mama boleh minta bantuan, sayang. Ada sahabat mama bertamu. Bisa minta tolong pegangin dulu Aqila?"
"Sini, Qila cantik!" Icha meraih adiknya dari pangkuanku.
Aqila meronta-ronta. Tak lama dia menangis.
"Wah, Qila cantik lagi nggak mau sama Teteh," kata Icha.
"Iya nih, tumben-tumbenan. Ayo dong Qila sayang," bujukku pada anak itu.
Icha mencoba lagi merangkul Aqila, namun anak itu tetap tidak mau.
"Udah gini aja, Ma. Mama buka pintu aja, kasihan tamu mama nunggu di luar," kata Icha. "Mama nggak apa-apa bawa Aqila. Biar aku yang menyuguhkan air buat tamu-tamu Mama."
"Yes. Ide bagus Teteh."
"Air putih atau teh manis hangat, Ma?"
"Teh manis aja. Oh iya. Di dapur ada kue kering dalam toples. Sekalian aja nanti disuguhkan ya."
Icha mengiyakan dengan mengangkat jempol kanannya. Putriku segera menuju dapur. Sementara aku melenggang ke depan untuk membukakan pintu. Begitu pintu dibuka aku menjawab salam sambil memohon maaf membuat mereka menunggu di luar. Sore itu Pak Bayu dengan istrinya tampak sangat serasi. Istrinya hampir seusia denganku. Mereka berdua mengenakan seragam batik couple yang tampak elegan. Rambut istrinya tergerai lurus, seperti habis direbonding.
"Kelihatannya Dokter sama ibu habis dari kondangan ya?"
Pak Bayu tertawa renyah. "Pasti karena kami pakai batik ya? Batik identik dengan kondangan hehehe... "
"Bukan kondangan nikahan sih. Ada hajatan kerabat yang putranya dikhitan. Ternyata rumahnya deket ya dari sini," ucap istri dokter itu ramah.
Pak Bayu dan istrinya sekilas matanya melihat-lihat suasana rumah.
"Gimana Bu, betah tinggal di sini?" tanya Pak Bayu.
"Alhamdulillah. Bersyukur sekali masih punya tempat berteduh meski sederhana," ucapku dengan diiringi gelak tawa.
Saat obrolan berlangsung, putriku muncul membawa menyuguhkan teh manis dan kue nastar di dalam dua toples. Icha membuka penutup kedua toples itu.
"Silakan, Om, Tante," ucap putriku ramah.
"Wah makasih banyak nih. Yang nyuguhinnya manis, pasti yang disuguhkan juga manis," goda Pak Bayu sambil menyeruput pelan teh manis yang disuguhkan. Seruputannya terdengar sangat jelas.
"Ah, benar kan manis," ucapnya sambil tertawa lagi, "Untung Tehnya masih panas, jadi diminum dikit-dikit, kalau nggak panas pasti sudah aku habiskan langsung karena saking manisnya."
Istri Pak Bayu menyikut suaminya, "Ah, Papa, malu-maluin tahu. Jangan lebay, Pap."
Aku dan Icha tertawa.
"Saya pengen coba kue nastarnya ya," ucap istri dokter sambi mengambinya dari toples.
"Iya silakan, Tante," ucap Icha yang masih berdiri.
"Silakan ... silakan dinikmati ala kadarnya," ucapku.
"Ah, beneran Papa bilang, kuenya manis, semanis penyuguhnya."
Ruangan itu kembali hangat dengan gelak tawa.
Icha tersipu. Kemudian dia berkata, "Om dan Tante makasih atas pujiannya meski agak berlebihan hehe. Toh kalau pun Mama yang menyuguhkan teh manis dan kuenya, rasanya akan tetap manis hehe."
"Teh Icha seumuran kayaknya dengan anak Tante, Najwa. Berapa Teh usianya?"
Aku menoleh ke arah putriku, "Ayo jawab, Teh. Teteh duduk sini ngobrol-ngobrol aja, sama Om dan Tante. Mereka orangnya baik kok nggak ngebosenin hehe."
Putriku menurut. Dia duduk bersebelahan di sampingku, mengapit Aqila.
Sambil membetulkan posisi duduknya, Icha menjawab, "Dua puluh empat, Tante."
"Tuh kan, bener Pap. Najwa juga segitu. Tahun kemarin dia menikah. Nah ini gimana nih, masa cantik-cantik belum ada yang ngelirik?" goda istri Pak Bayu.
"Ayo lho jawab, Teh," aku menoleh ke putriku.
"Om nggak yakin gadis secantik Icha nggak ada yang naksir. Pasti di kampusnya jadi rebutan hehe."
Icha senyam-senyum. Pipinya semu merah.
Aku bantu dia menjawab, "Hehe.. banyak yang ngajak pacaran sama Teteh, tapi dia nggak pernah mau. Pacaran katanya haram bukan? Betul nggak sih, Teh?"
"Hehe, Iya. Itu pendirian yang Icha pegang. Icha hanya mau dilamar dan langsung dinikahi, tanpa ada pacaran," jawab Icha tegas.
"Wah, Om salut sekali. Jarang lho anak mudah zaman sekarang punya prinsip seperti itu. Apalagi zaman sekarang anak muda pergaulannya makin kebablasan," ucap Dokter sambil mengacungkan jempolnya.
"Hmmm... seandainya kita punya anak cowok ya, Pap. Kita jodohin aja sama Icha," ucap Istri Dokter.
"Iya ... ya, beruntung sekali punya mantu, udah cantik, kerudungan, dan pasti agamanya kuat."
"Aduuh.. Aduuuh... alhamdulillah nih, Om dan Tante," jawab Icha, "Hidung Icha jadi kembang-kembis karena disanjung mulu. Alhamdulillah mohon doanya, mudah-mudahan aku bisa pensiun menjomblo dan dapet suami yang saleh. Amin."
"Amin... Amin..." dokter dan istrinya terdengar kompak.
Aku ikut tersenyum. Ikut mengaminkan dalam hati untuk kebaikan putrid sulungku.
"Ini satu orang lagi, gadis kecil, Aqila," goda Pak Bayu, "Gimana Bu, Aqila betah di daycare?"
"Alhamdulillah... Di sana dia punya teman-teman baru. Asyik bisa berantem dan berebut mainan ya, sayang," ucapku sambil melirik Aqila yang duduk di pangkuanku.
"Ini pasti akan jadi gadis secantik kakaknya lagi," ucap istri dokter.
Aku tersenyum melirik putri sulungku dan menatap lekat-lekat putri bungsuku. Memang ada beberapa kemiripan.
"Ngomong-ngomong, jagoan cowoknya lagi kemana nih?" tanya Pak Bayu.
Dari tadi aku mewanti-wanti gimana kalau ditanya tentang Afdan. Ah benar dugaanku. Aku agak kikuk. Apa yang harus kukatakan. Aku terbata-bata, berkata sejujurnya.
"Ah itu... Afdan.. lagi sedikit bermasalah. Semenjak ayahnya tersandung kasus, dia mulai berubah. Mungkin dia malu. Hingga akhirnya setelah sidang dilangsungkan dan vonis dijatuhkan. Dia menghilang. Entah kemana. Kami pun bingung mencarinya. Nomor hapenya tidak pernah aktif."
Pak Bayu dan istrinya diam.
"Semoga Afdan di luar sana tetap baik-baik saja. Saya yakin dia pasti kembali ke rumah. Kelak dia akan merindukan mamanya, teteh dan adiknya," ucap Istri dokter sambil menggenggam tanganku. Genggamannya itu terasa menularkan energi semangat, optimis, dan energi positif.
"Ya, perasaanku pun merasakan begitu," ujarku.
Pak Bayu mengangkat wajahnya melihat jam dinding di ruangan.
"Sepertinya kami harus pamit. Kapan-kapan kami akan main-main lagi ke sini."
"Iya, jangan kapok ya, sering-sering main ke sini, Om, Tante," kata Icha.
Aku dan Icha bergantian memeluk istri dokter, mencium pipi kanan dan pipi kiri.
"Oh iya, ini tolong diterima buat jajan Aqila," ujar Istri dokter, menyerahkan sebuah amplop putih yang terlipat padaku. Amplop itu dikeluarkan dari saku bajunya.
"Bu, Pak.. jangan merepotkan," aku berusaha menolak.
"Mohon diterima ya," istri Pak Bayu memasukkan amplop itu ke tangan Aqila. Aqila memegangnya, tap tak lama kemudian dia menjatuhkannya. Istri Pak Bayu mengambilnya lagi dan menyerahkan kembali ke tangan Aqila. Aqila pun memegangnya kembali.
Istri Pak Bayu mencubit dengan gemas pipi Aqila. "Cepat gede ya, sayang."
Di goda seperti itu, Aqila senyam-senyum.
"Wah terima kasih banyak ya," ucapku.
"Iya, jazakillah, Tante," Icha ikut menimpali.
"Teh, tolong kue nastarnya dibungkus, biar dibawa aja sama Tante," pintaku.
Dengan sigap Icha mengambil plastik keresek ke dapur. Tak lama dia kembali membawa plastik hitam. Lalu dia masukan dua toples kue nastar. Kemudian dia serahkan kepada Tante.
"Hanya ini yang bisa kami haturkan. Mohon diterima," ucapku.
"Wah, padahal tidak usah, kami sudah makan di sini juga."
"Tadi kan yang dimakan baru dikit, Tante. Kayaknya kalau dibawa ke rumah Om dan Tante, rasanya bakal tambah manis hehe.."
Pak Bayu dan istrinya tertawa dengan lepas.
"Boleh... boleh kami bawa ya, terima kasih Teh Icha. Semoga lekas dapat jodoh," godanya lagi.
"Aamiin, Om," seru Icha sambil tersenyum.
Mereka pun pamit. Kami mengantar sampai depan rumah. Ketika mereka melampaikan tangan dari dalam mobil sedan warna biru yang mereka parkir di luar halaman rumah, kami masuk dan segera menutup pintu. Azan berkumandang saling bersahutan dari masjid satu ke masjid lain.
*
Bersambung