Pulang bekerja, Bu Euis mampir ke sebuah mall. Dia mau membeli berbagai keperluan di kamar mandi, dapur dan keperluan untuk Aqila. Sesampai di swalayan dia membawa troli belanja dan meletakkan Aqila agar bisa duduk di atas troli. Satu persatu barang kebutuhannya dia simpan di troli itu. Aqila terlihat asyik memegangi dan memainkan berbagai barang yang ada di dalam troli itu.
Empat puluh lima menit kemudian, Bu Euis sudah menjinjing barang itu dalam kantong plastik putih. Dia kembali menggendong Aqila.
Saat di gerbang swalayan, tubuhnya bertubrukan dengan seorang konsumen perempuan. Belanjaan Bu Euis terjatuh.
"Maaf," ucap perempuan itu. Kemudian perempuan dengan cekatan mengambil barang Bu Euis yang terjatuh. Dia memasukkan deterjen, gula pasir, sabun yang berceceran di lantai. Sementara Bu Euis menilik-nilik perempuan itu dengan penuh perhatian.
"Ini Bu," ucap perempuan itu sambil menyerahkan plastik belanjaan yang sudah dirapikannya. Perempuan itu menatap Bu Euis dengan tersenyum.
Bu Euis tak membalas senyumannya. Dia langsung menarik plastik tas belanjaannya dengan wajah yang ketus.
"Kamu Viona?" tanya Bu Euis penuh selidik.
"Betul, kok Ibu bisa tahu?" Viona memicingkan matanya. Dia merasa penasaran ibu yang belum dikenalnya itu mengetahui namanya.
"Ya jelas saja, fotomu kan terpampang jelas halaman pertama koran-koran, wanita j*l*ng! Kamu jadi selebritis dadakan." Bu Euis tidak bisa menahan amarahnya.Volumenya suaranya meninggi. Dan dia merasa puas telah berkata seperti itu.
Konsumen lain memandangi mereka berdua. Petuga swalayan pun demikian. Securiti sudah bersiap-siap kuatir terjadi keributan. Mereka dapat mendengar dengan jelas amarah Bu Euis.
"Sudahlah, aku tidak perlu meladeni. Kamu tidak ada urusan denganku," balas Viona. Sekuat tenaga dia menahan diri agar tidak terpancing. "Kamu tidak berhak menghakimi saya."
Bu Euis tertawa miris.
"Kenapa kamu tidak ikut di bina saja di penjara sana biar kamu belajar etika dan tatakrama?" serang Bu Euis.
"Kamu tidak usah ikut campur urusanku. Aparat yang berwenang hanya menjadikanku sebagai saksi untuk dimintai keterangan. Tolong camkan itu, Bu," Viona tidak kalah sengitnya.
"Asal kamu tahu. Seharusnya sebagai sesama wanita kamu bisa memahami bagaimana rasanya dikhianati?"
"Maksudmu?" Viona tidak memahami apa yang diucapkan Bu Euis.
"Kamu pura-pura tidak paham atau memang IQ-mu tidak mampu memahami. Aku adalah istri dari lelaki yang sekamar denganmu di hotel."
Viona diam. Dia tak mampu menyembunyikan keterkejutannya.
"Baiklah, aku klarifikasi saat ini juga. Aku mohon maaf. Mungkin ada media gosip yang ibu baca telah melebih-lebihkan dan menambah-nambah kejadian di hotel malam itu. Jujur kukatakan, aku dan suami ibu tidak melakukan apa-apa di hotel itu."
"Omong kosong! Bagaimana mungkin lelaki dan perempuan dewasa berduaan sekamar di hotel tidak melakukan apa-apa? Jangan-jangan kamu lesbi?" Bu Euis menyindir lebih tajam lagi.
Ucapan Bu Euis sungguh menohok hati Viona. Dia sangat geram.
"Terserah, percaya atau tidak aku sudah katakana kebenarannya. Kami tidak melakukan hubungan badan. Tuhan yang jadi saksinya."
Bu Euis masih sangsi dengan ucapan perempuan yang ada di hadapannya. Dia menertawakannya.
"Apa yang kamu katakana boleh jadi benar, tapi bisa juga bohong. Kalau pun benar, mungkin kalian tidak melakukannya karena keburu tertangkap. Seandainya kondisi saat itu tidak ada petugas, mungkin kalian masih bisa bersenang-senang."
"Terserah... " Viona mengangkat bahu. "Permisi aku masih banyak urusan," Viona meninggalkan Bu Euis. Sejatinya Viona ingin berbelanja di swalayan itu. Namun dia sudah tak berminat lagi. Dia segera meninggalkan tempat itu.
Ledakan kemarahan Bu Euis nyaris tak kuasa dia pendam. Ingin sekali dia menyerang perempuan itu. Namun akalnya masih bisa berpikir, karena mereka berdua berada di tempat umum. Bu Euis memandangi punggung Viona sekilas. Dia pun segera menaiki angkot yang berhenti di depan mall.
*
Bu Euis
Di kantor, aku akrab dengan beberapa rekan kerja baik dokter laki-laki maupun perempuan. Selain Pak Bayu, aku bersahabat baik dengan Pak Daniel, Pak Alan dan Pak Yoga. Mereka semua sudah berumah tangga. Sedangkan rekan dokter perempuan ada Bu Ana dan Bu Indah.
Mereka sudah mengetahui masalah yang menimpa suamiku. Dengan rekan-rekan dokter perempuan, aku sering kali curhat hal-hal yang sangat privat. Mereka juga sangat care. Aku pun curhat kepada Bu Ana dan Bu Indah mengenai perselingkuhan suami dan nasibku setelah suamiku mendekam di sel penjara. Mereka tetap mendukung dan memberikan masukan-masukan agar kuat dan mampu bertahan.
Aku masih mengingat kata-kata Bu Ana dan Bu Indah.
"Tidak ada yang dirugikan jika kita memaafkan. Memaafkan adalah obat buat diri kita sendiri. Kita akan makin tambah hancur jika selalu merawat kecewa dan sakit hati," saran Bu Indah.
Aku mencatat baik-baik ucapan ini. Semoga itu menjadi penguat untukku menjadi orang yang mudah memaafkan kesalahan.
"Hidup itu perjalanan. Dan perjalanan itu harus terus kita tempuh sekalipun ada kerikil, lumpur, kotoran, dan bahaya menerjang. Namun tak selamanya perjalanan itu menyakitkan, akan kita temukan pula hal-hal yang menyenangkan. Maka nikmatilah suka dan duka perjalanan hidup kita."
Kurekam baik-baik ucapan Bu Ana. Sangat enak di dengar dan menambah kuat kaki ini untuk tetap melangkah menghadapi ujian hidup.
Sementara dengan rekan dokter laki-laki aku hanya berkomunikasi dengan mereka untuk urusan koordinasi masalah pekerjaan saja. Selain dari itu, tidak pernah ada. Lagi pula rasanya tidak perlu curhat kepada kaum laki-laki bukan, jika laki-laki itu bukan saudara atau suami kita?
Meskipun tidak pernah curhat, toh mereka tahu juga kondisi aku dan keluargaku. Mereka ikut bersimpati dan menyemangatiku. Aku sangat menghargai dukungan mereka.
"Sabar Bu, Ibu akan naik kelas. Setelah kesulitan akan ada kemudahan," ucap Pak Bayu suatu hari.
Pada hari yang lain Pak Alan berkata, "Sering saya lihat wanita jauh lebih kuat dibanding laki-laki. Tanpa kehadiran seorang suami, mereka mampu mendidik anak sendiri. Dan kulihat Ibu termasuk salah seorang dari mereka."
Aku cukup terhibur dengan ucapannya. Padahal siapa yang tahu, jiwaku terkadang rapuh dan merasa sudah tak kuasa menanggung ujian ini.
Namanya juga kehidupan dunia. Selain orang-orang baik yang memotivasi dengan kata-kata yang baik, ada juga sebaliknya.
"Hidup berpisah dengan suami memang tak enak. Apalagi jika suami terkena kasus pidana. Selain harus menanggung malu, juga ditelantarkan. Apakah ibu tidak berpikir untuk mencari laki-laki lain saja?" ungkap Pak Yoga suatu hari.
Ucapannya menurutku sangat melecehkan. Aku tak pernah meladeninya. Aku tak pernah sudi bersahabat dengan orang yang kata-katanya sering menyinggung.
*
Akhir-akhir ini aku sering mendapatkan pesan di aplikasi messengger. Katanya-katanya sangat manis. Dia sering mengutip ungkapan beberapa penyair. Aku tidak pernah membalasnya. Aku pikir orang ini sangat iseng dan tidak punya kerjaan. Dia mengirim pesan itu dengan rutin. Selama hampir seminggu aku kumpulkan pesan singkatnya hampir mencapai 30 pesan. Tak semu pesannya sempat k****a.
Ketika lelaki dan wanita menjadi satu, Engkaulah Yang Satu
Ketika bagian-bagian musnah, Engkaulah kesatuan itu
Engkau ciptakan 'aku' dan 'kita' supaya memainkan puji-pujian bersama diri-Mu
Hingga seluruh 'aku' dan 'engkau' dapat menjadi satu jiwa serta akhirnya lebur dalam Sang Kekasih
-Rumi
Aku mencoba membaca kiriman pesan lainnya.
Adalah ketika kamu menitikkan air mata dan masih peduli terhadapnya
Adalah ketika dia memedulikanku dan masih menunggunya dengan setia
Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu masih bisa tersenyum sembari berkata, "Aku turut berbahagia untukmu."
Apabila cinta tak berhasil, bebaskanlah dirimu
Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya dan terbang ke alam bebas lagi
Ingatlah kamu mungkin menemukan cinta dan kehilangannya
Tapi ketika cinta itu mati, kamu tidak perlu mati bersamanya
Orang terkuat bukanlah mereka yang selalu menang
Melainkan mereka yang tetap tegar saat mereka terjatuh
-Kahlil Gibran
Kutulis surat ini kala langit menangis...
Kaki-kaki hujan yang runcing menyentuhkan ujungnya di bumi,
Kaki-kaki cinta yang tegas bagai logam berat gemerlapan menempuh ke muka dan tak kunjung diundurkan.
Selusin malaikat telah turun di kala hujan gerimis
Di muka kaca jendela
Mereka berkaca untuk mencuci rambutnya untuk ke pesta
-W.S. Rendra
Hapeku berderit lagi. Aku buka pesan. Lagi-lagi dari orang yang sama. Aku tak tahu itu nomor siapa. Ini hari ke delapan dia mengirimkan pesan.
Cinta itu abadi
Dan ke dalam keabadian dia pergi
Jika hari pembalasan tiba
Orang berduyun ingin jadi pemburu cinta
Sebab tanpa cinta
Dia akan terhina
-Muhammad Iqbal
Aku jadi penasaran, siapa orangnya. Meskipun tak pernah kurespon dia terlihat sangat serius. Kali ini kucoba kirimkan pesan. Aku mengetik kalimat tanya.
Maaf siapa ya?
Aku pengagum setiamu..
Maaf saya sudah berkeluarga
Tidak masalah. Aku juga sudah berkeluarga.
Jadi kamu siapa?
Aku mengenalmu dan kamu juga mengenalku.
Nama?
Kamu juga sudah tahu namaku..
Huuh menyebalkan. Aku malas meladeninya. Aku malas bertanya lagi.
Suatu saat kita bisa berjumpa dalam momen special. Salam sayang untukmu.
Gombal. Aku malas meresponnya. Kusimpan hapeku di dekat lampu tidur di samping ranjang.
*
Bersambung