Bab 4

1401 Kata
Sepulang kantor, Sherry terus berpikir tentang tawaran Arka dan dia harus menjawabnya besok. Bagaimana ini, Sherry kebingungan ia seperti dihantam batu besar atas kepalanya. Tapi uangnya cukup besar nominalnya. Dengan uang itu dia bisa membantu Raga. Jadi apa keputusannya? Sherry kembali mengacak getiran hatinya. Tapi apa harus dia memgkhianati Nathan! Bagaimana jika tiba-tiba Nathan sadar dari komanya. Bisa mati dia! Dasar bos kampreet! Sherry mengumpat dalam hatinya berulang kali, ia merutuki isi otaknya sendiri. Apa dia harus sebodoh ini? Saat keluar dari parkiran tiba-tiba sebuah mobil berhenti hadapannya membuat mata Sherry melebar, dia tentu tidak lupa dengan mobil milik siapa? Siapa lagi kalau bukan Arka bos tidak perasaannya. "Pak." Kikuk Sherry sopan. Arka melirik dari dalam mobil tanpa menatapnya membuat Sherry tak dihargai. "Masuk." Perintah Arka tanpa menatap wanita itu. Sherry tak percaya ada pria sejenisnya. Udah galak! Nyebelin! Semaunya pula! "Tap--" "Masuk!" Kali ini Arka menekan suaranya menatap Sherry seperti iblis. Sherry terteguk, tenggorokannya seperti ada kerikil memenuhi didalamnya, ia pun pasrah menailki mobil Arka bahkan duduk disamping pria itu. Keadaan dalam mobil menjadi canggung, Sherry merasa tak suka berada di dekat. Untuk menatap wajah dinginnya sangat membuat Sherry malas. "Kamu mau kemana?" Tanya Arka galak membuat Sherry mendengus sebal merasa dongkol pada Arka. Mau kantor atau dimanapun tetap galak. "Rumah sakit, Pak? Sebenarnya saya bisa pergi sendiri. Nggak perlu bapak antar." Beo Sherry nan kaku. Arka memiringkan senyumnya, pria itu tak tertarik dengan ucapan manis Sherry. "Yang bilang saya akan mengantar kamu siapa?" Sherry melebarkan bola matanya. Kalau tidak mau antar lalu yang diinginkanmya apa?!? "Jadi ba--bapak mau ba--bawa sa-sa--saya kemana?" Gelagapan Sherry yang seketika dirinya diterpa panik. Dia jadi takut sendiri pada Arka yang baru-baru ini terlalu dia benci namun pria itu bosnya sendiri. "Kenapa kamu takut? Saya pikir kamu seberani saat kita pertama kali kita bertemu. Ingat rooftop." Komentar Arka membuat Sherry membungkam dengan pikiran yang telah melintas diotaknya. 'Astaga! Dia masih ingat! Sekarang terjebak lu, Sher..' gumam Sherry dalam hatinya. Lalu tersadar menatal menatap menantang Arka dengan berani. "APA MAU PAK ARKA!" Jerit Sherry membuat supir Arka fokus menyetir mengeluskan d**a mendengar suara jeritan lantang Sherry. "Saya ingin kamu temani saya meeting dan mengaku sebagai istri saya." Ucap santai Arka berhasil membuat hati Sherry mendidih. Sungguh tidak bisa Sherry terima, memang dia pikir Sherry mau disuruhnya semaunya. Dan ini bukan jam kerjanya lagi. "Maaf, Pak. Ini bukan jam kerja saya lagi. Harusnya Pak Arka tau itu." Protes Sherry tidak membuat Arka perduli. Dia akan melakukan sesuka hatinya. Sebenarnya juga Arka tidak ada meeting itu hanya alasannya. Dia meminta Sherry menemaninya ke pesta salah satu rekan bisnisnya dan disana Arka ada wanita yang dijodohkan maminya, jika dia pergi sendiri wanita gila itu bisa menguntit. Daripada harus bersama wanita itu, lebih baik dia bersama Sherry yang bisa menurutinya. "Anggap saja lembur." Lembur? Mana bisa begitu! Hari ini Sherry harus kerumah sakit, dia kemarin sudah tidak menemui Nathan apalagi kekasihnya itu tengah berulang tahun. Pasti Raga sudah menunggunya di rumah sakit. "Tapi, Pak. Saya tidak bisa." "Menurut atau segera buat surat pengunduran diri kamu dengan bayar finaltinya." Hardik Arka. Sherry tak percaya harus menghadapi pria menyebalkan sepertinya. "So.. kamu mau pilih yang mana." Napas Sherry seakaan terhimpit menahan amarah berkecamuk didadanya. "Auh ah! Terserah Pak Arka saja!" Jawab Sherry dengan bibirnya memanyun membuat Arka terkekeh puas, wanita seperti Sherry bisa juga menjadi hiburannya. "Kalau begitu kamu harus make over, jangan malu-maluin saya." Sherry melebarkan mulutnya kesal. Memangnya dia sejelek itu harus make over segala, penampilan Sherry juga sama sekali tidak malu-maluin. Bos crazy! Sherry merasa hidup tersiksa semenjak pertemuannya dengan Arka. Dunia semulanya normal, sekarang kacau karena Arka. Menyebalkan!! Dasar manusia tak beradap! Wanita itu lebih memilih diam dengan memalingkan mukanya, daripada harus bicara dengan bos tak berperasaan seperti Arka, sedangkan Arka sendiri memegang berkas untuk meeting besok paginya. Tak beberapa menit mereka sampai di sebuah gedung besar dan tinggi membuat Sherry menelan salivanya di tempat itu. Ya Tuhan.. 'Mau dibawa kemana aku? Jangan-jangam dia ingin..' secepat kilat Sherry membuang pikira bodohnya. Kalau Arka berani melakukan tindakan yang tidak senonoh, Sherry pastikan akan membuat Arka menyesal selamanya. "Pak, kok kesini." Tanya Sherry saat keluar dari mobil Mewah Arka. Pria itu memandang Sherry dari ujung kaki hingga kepalanya membuat Sherry seketika bergidik ngeri sendiri. "Penthouse! Ikut saya, dan jangan banyak tanya." Arka merengkuh Sherry masuk gedung apartment namun bukan menuju apartment, Arka tidak memilik apartment disini, ia memiliki penthouse pribadinya di gedung paling atas. "Pak, jangan macam-macam, saya bukan wanita yang bapak pikirkan. Lepaskan! Saya mau pulang." Sherry memukul lengan Arka berulang kali, namun pria itu tak perduli dengan kalimat yang keluar dari mulut Sherry. Dia tetap menyeret Sherry masuk di penthouse miliknya. "Pak, saya bersumpah kalau bapak berani menyentuh saya, pak Arka akan menyesal." Oceh Sherry lagi tetap tak membuat Arka peduli. Saat masuk dalam penthouse, Sherry terpelongo mulutnya seketika berhenti mengoceh. Ada Diaz dan ada beberapa wanita didalam sana tengah memandanginya. Astaga! Habislah sekarang hidup lu Sherry..!! Ternyata Arka tidak seperti hidung belang ada yang diotak Sherry. Tadi dia pikir Arka ingin melakukan suatu padanya. Sherry mengigit bibir bawahnya sambil menatap Arka, dia jadi merasa bersalah sudah berprasangka buruk pada Arka. "Saya bukan laki-laki buaya darat! Buang jauh pikiran kamu tentang itu!" Ucap datar Arka menyentil dahi wanita itu membuat Sherry tertunduk. Sherry mendekati Arka sambil menjijitkan kakinya sedikit. "Maafkan saya, Pak." Bisik Sherry membuat Arka besar kepala dan merasa bebas akan apa yang dia lakukan sekarang kepada wanita dihadapannya ini. "Diaz, saya mau dia seperfect mungkin. Lakukan tugas kamu dengan baik." Perintah Arka. Dino mengangguk mengerti lalu meminta para make over melakukan tugasnya pada Sherry. *** Tempat lain Raga sudah berada di rumah sakit menunggu Sherry, seperti tahun sebelumnya mereka ingin merayakan ulang tahun Nathan bersama. Tapi sudah hampir dua jam Sherry belum juga muncul. Padahal biasanya wanita itu tepat waktu, Raga juga menghubungi ponselnya namun tidak aktif. "Sherry kemana lagi? Ini udah malam kok belum juga sampai ya." Sungut Raga sendiri di dalam ruangan Nathan. Raga pun mencoba hubungi Luna adik Sherry, ia meraih kembali ponsel di saku celananya. Dan syukur Luna mengangkatnya. "Halo, Luna. Kamu lagi dimana?" Tanya pria itu saat Luna sudah mengangkat telponnya. "Luna lagi dirumah Kak Raga. Kenapa?" Jawab adik dari Sherry dari seberang sana. "Apa Sherry udah pulang? Hari ini ulang tahun Nathan, tapi dia belum datang juga." Luna jadi heran tidak mungkin kakak sampai tidak datang dihari penting orang yang dicinyainya. Sampai sekarang juga belum pulang kerumah. "Belum, kak. Tadi sore Kak Sherry kabari Luna jika dia telat pulang. Tapi nggak kasih tau alasannya kenapa. Aduh.. Kak Sherry kemana ya." Mendengar penjelasan Luna, Raga langsung mengacak rambutnya frustasi, seketika pria itu khawatir pada Sherry yang tidak tahu dimana sekarang. "Kamu jangan khawatir, biar Kak Raga cari Sherry." Ucap Raga agar Luna tidak cemas dengan menghilangnya Sherry. Setelah menutup ponselnya, ia beralih menatap Nathan yang masih berbaring lemah. "Nat, gua minta maaf sepertinya kita nggak bisa ngerayain ulang tahun elo sama-sama. Gua harus cari belahan jiwa lu, dia nggak ada kabar. Gua yakin lu nggak keberatan." Ucapnya pada Nathan lalu pergi meninggalkan ruangan itu. Raga berburu mencari keberadaan Sherry, tujuan pertamanya adalah kantor tempat dimana Sherry bekerja. Pria itu pergi dengan menggunakan motornya, berharap bisa menemukan Sherry. Raga dari dulu memang tidak bisa berhenti khawatir tentang bagaimana keadaan Sherry. Dulu saja Sherry pernah seperti ini, dia juga melakukan yang sama padahal ada Nathan yang bisa menjaga Sherry, tapi hati kecil selalu tak bisa percaya dengan Nathan sahabatnya sendiri. Kadang karena perbuatannya itu, Sherry selalu mengatain Raga selalu berlebihan. "Sher, lu kemana sih? Harusnya lu bisa kabari gua." Cemas pria itu berlalu lalang mencari keberadaan Sherry. Raga sampai di kantor Sherry yang sudah sepi, ia bingung sekarang harus bertanya. Tak lama ada seorang security keluar dari kantor itu, ia turun dari motornya menghampirinya. "Maaf, Pak. Saya mau bertanya apakah semua karyawan sudah pulang." Ujar Raga yang tak sabar menunggu jawaban security itu. "Semua karyawan sudah pulang, hari ini tidak ada yang lembur." Raga semakin frustasi mendengar hal itu, sekarang kemana lagi dia harus mencari Sherry. Tapi Raga tidak pernah putus asa, dia menunjukan foto Sherry di ponselnya. Namun security menggeleng tidak mengetahui keberadaan Sherry. Raga kembali mencari Sherry di tempat biasa wanita itu kunjungi, tapi hasilnya nihil dia tidak bisa menemukan Sherry sama sekali. Kemana Sherry pergi sampai semua tempat tidak dapat menemukannya. Pria itu coba kembali menghubungi Sherry namun ponsel masih sama tidak bisa dihubungi, ia berharap keadaan Sherry baik-baik aja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN