Bab 3

1035 Kata
Pagi harinya Sherry tak bersemangat seperti hari pertama bekerja. Rasanya ia sangat malas untuk pergi ke kantor, tapi dia harus bekerja. "Sher... Kamu udah bangun? Di luar udah ada Raga tu, katanya mau jemput kamu. Cepatan keluar kamu." Ujar Fatim, Ibu dari Sherry. Huh... Sherry mendengus lelah, sambil bercermin ia menatap balik pintu mendengar suara Ibu Fatim dari luar sana. "Iya, Bu. Sebentar." Sahutnya. Sherry mengambil tasnya, lalu keluar menemui Raga. Dia melihat Raga sudah duduk di vespa kesayangan laki-laki itu. "Cepatan lo! Katanya bos lo galak kayak macan, berani lo telat masuk kerja." Raga melontarkan kalimatnya sambil menepuk bangku belakangnya. "Ngapain lo jemput gue. Gak ada kerjaan lo." "Cepatan naik." Sherry melirik jam tangan melilit di tangan mungilnya, ia langsung naik motor Raga. Raga tau suasana hati Sherry sangat buruk, mungkin karena bos yang ia ceritakan di telpon kemarin. Raga menjadi penasaran sosok bos Sherry, sepertinya dia ingin sekali melihatnya. "Sher... Lo diam aja! Gak semangat lo kerja." Sherry yang duduk di belakang bonceng motor Raga, melirik sahabatnya dengan raut muka masam. "Gue masih sebal dengan perlakuan bos gue. Masa gue disuruh-suruh. Sebal gue." Rungut Sherry yang hanya membuat Raga terkekeh geli. "Udahlah, jangan lo pikirkan. Mungkin karena lo baru pertama kerja." Ujar laki-laki itu. "Lo udah sarapan?" "Enggak nafsu gue sarapan. Cepatan, Ga. Gue bisa telat." "Untung gue jemput. Kalau enggak bisa habis lo." Sherry mendengus saat baru sampai tepat di depan lobby, ia melihat Arka baru juga datang keluar dari mobil. Sial... Sial... Sial... Sherry mengumpat kesal terus menerus memandang bos dari kejauhan, dengan tergesa ia melepaskan helm memberikan pada Raga. "Ga, gue duluan ya. Sebelum bos gue sampai di ruangannya. Thanks ya." Ucap Sherry lalu lari berburu masuk kantornya. Oh My God Arka sudah masuk dalam lift, sangat terpaksa Sherry harus menaiki tangga menuju lantai enam tepat dimana lantai Arka berada. "Mati gue! Gue harus sampai duluan sebelum bos tak punya perasaan sampai lebih dulu." Gerutu Sherry cepat menaiki tangga. Arka seperti sangat marah pagi ini. Ia selalu didesak untuk menikah dengan Maminya. Dia harus cepat mencari wanita untuk dinikahinya. Walau hanya sebatas kontrak. Tak perduli bentuk wanita itu seperti apa? Yang penting pantas untuk dia nikahi. Dengan napas tersenggal, Sherry sampai di meja kerjanya, sebelum duduk ia mengintip sela ruangan Arka yang masih kosong. Ia mengelus dadanya. "Selamat gue hari ini." Tampak semua karyawan berdiri memberi hormat pada Arka yang selayak sultan. Sherry juga ikut berdiri ketika itu. "Pagi, Pak." "Panggil Diaz untuk ke ruangan saya." Ucapnya sebelum membuka kenop ruangannya. "Sekarang, Pak?" Tanyanya, langsung Arka meraut muka galaknya pada Sherry. "Tahun depan! Saya suruh kamu sekarang. Ya sekarang kamu panggilnya." Suara Arka seakan membuat gendang telinganya pecah. "Iya, Pak. Maaf." Ujar Sherry lalu lari berburu mencari Diaz. Sherry merasa kesal, belum juga ia menghilangkan lelahnya karena menaiki tangga hingga lantai enam, sekarang justru harus mencari Diaz. Syukurnya orang yang dicarinya ada di ruang meeting. "Maaf, Pak Diaz saya mengganggu. Pak Arka minta keruangannya sekarang." Ucap Sherry yang menimbulkan kepalanya saja. "Baik, saya akan segera kesana. Kamu bisa tolong siapkan untuk meeting jam 10 ini." "Bisa,Pak." Setelah kepergian Diaz, Sherry mempersiapkan berkas untuk meeting. Untung dia tak menggedumel saat Diaz meminta tolong padanya. Kalau saja Arka yang mintanya, pasti perempuan itu sudah menggumpat semaunya. Arka meminta Diaz untuk mencari perempuan yang tepat untuk bisa ia nikahi sirih secepat mungkin. Arka tidak butuh istri sah, karena dia memang tidak berniat untuk menikah. Perempuan itu akan dia kenalkan pada ibunya langsung sebagai istri. So.. dia tak perlu susah payah untuk menjadi suami idaman untuk siapa pun. "Saya mau kamu cari perempuan. Dia harus cantik itu penting. Saya bayar berapapun asal dia mau jadi istri sirih untuk jangka waktu enam bulan. Satu lagi, pastikan dia tidak akan jatuh cinta pada saya." Perintah Arka tegas pada Diaz yang duduk menghadapnya. Sesekali Diaz melirik meja Sherry yang baru terisi oleh perempuan itu. Entah kenapa terpintas pikirannya untuk Sherry menjadi istri sirih Arka. Apalagi melihat mereka tidak akur. "Pak, maaf. Kenapa tidak Sherry aja." Ucap Diaz enteng membuat Arka menatapnya intimidasi. Hal itu bertolak belakang dengan kemauannya. Bagaimana jika Sherry menolaknya? Lalu dia seorang Ceo meminta tolong pada sekretarisnya. Sepertinya ia sulit untuk mempertimbangannya. "Jangan gila kamu! Kamu tahu saya sama Sherry tidak bisa menyatu." "Justru itu, Pak. Dia maupun Pak Arka tidak mungkin saling jatuh cinta. Kalau Bapak setuju saya akan cari waktu untuk Pak Arka bicara dengan Sherry." "Akan saya pikirkan." Arka memijit pelipisnya, membayangkannya saja tidak untuk hidup bersama Sherry walau hanya enam bulan. Tapi ucapan Dino ada benarnya. Sherry tidak akan pernah jatuh cinta padanya. Hanya waktu enam bulan. Sepertinya tidak ada salahnya ia mencoba. Setelah kepergian Diaz, laki-laki itu menekan telpon di mejanya yang otomatis tersambung pada meja kerja Sherry. "Keruangan saya sekarang!" Sherry menghentakkan kakinya kesal. Kenapa dia harus menghadapi bos seperti Arka. Sherry bangkit mengetuk pintu ruangan Arka. "Permisi, Pak. Boleh saya masuk." Ucap Sherry setelah mengetuk pintu. "Cepat masuk dan tutup pintunya." Perintah Arka dengan tegas. "Duduk." Lanjut Arka setelah melihat Sherry yang sudah menutup pintu. Sherry sudah menggedumel sendiri dalam batinnya. 'Mau apa lagi dia?' Ia merasa Arka lagi-lagi memperlakukannya seperti office girl. Belum lagi, pria itu saat tengah menatap intimidasi dirinya. "Pak Arka memanggil saya ada perlu apa?" "Kamu udah menikah?" Kalimat itu langsung keluar begitu saja membuat mata Sherry membulat bingung. "Kenapa Bapak tanya seperti itu?" Tanya Sherry. "Jawab saja!" Arka menekan suara. "Belum, Pak." Arka tersenyum tipis, ia langsung mendekati Sherry. Sherry memicingkan matanya curiga pada Arka. Entah kenapa ia merasa bos menyebalkannya ini merencanakan suatu yang buruk. "Kalau begitu menikah dengan saya." Arka bukan orang yang bisa berbasa-basi, ia akan mengatakan apa yang ia pikirkan. Tidak perduli menyakiti atau tidak. "APA!" Sherry terjunggit kaget, ia sedikit shock dengan kalimat Arka yang terdengar santai. "Jangan berteriak diruangan saya. Paham! Kamu jangan ge'er! Saya hanya minta menikah sirih selama enam bulan. Setelah itu saya akan menceraikan kamu. Imbalannya saya akan memberikan uang seratus juta." Jelas Arka. "Tidak perlu jawab sekarang. Saya tunggu jawaban kamu besok." Sherry terdiam kaku, baru kali ini ada pria mengajak menikah dengan cara seperti ini. Sebenarnya tawaran Arka sangat berguna untuk Raga, uang itu cukup untuk membantu Raga. Tapi dia harus menikah sirih dengan satu-satu orang yang ia benci saat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN