Bab 2

1105 Kata
Hari ini adalah hari pertama kali Sherry masuk kerja, ia sudah cantik berada di kantor. Dia senang sekali bisa di beri kesempatan menjadi sekretaris Ceo Alzahri Makmur. Apalagi gajinya juga lumayan besar, dia juga sangat membutuhkan uang untuk membantu Raga sahabatnya. "Sherry, Kamu sekretaris baru Pak Arka. Saya akan tunjukan meja kamu." Ucap Diaz kepercayaan Arka yang menghandle pekerjaan saat Arka tidak di tempat. Diaz juga yang telah menerima Sherry sebagai sekretaris Arka. Sherry mengekori Dino berjalan ke lantai 6. "Pak, terima kasih sudah berikan kepercayaan pada saya untuk bekerja disini." "Sama-sama." "Ini meja kamu bekerja. Dan Pak Arka ada didalam sana. Mari saya kenalkan, dia pemilik perusahaan ini." Ujar Diaz, lalu ia beralih ke arah ruangan Arka tepat di depan meja Sherry. Arka berdiri menghadap jendela di ruangannya. Dia mendengar suara ketukan. "Masuk." "Selamat pagi, Pak. Saya mau memperkenalkan sekretaris baru untuk Pak Arka." Ucap Diaz yang sangat hormat pada Arka. Sherry memajukan langkahnya. "Selamat pagi, Pak. Saya Sherry, semoga saya bisa bekerja dengan baik di perusahaan Pak Arka." Arka berbalik, ia tersenyum remeh dengan Sherry. Cukup terkejut sedikit, karena sekretarisnya adalah wanita yang menyebalkan untuknya. "Kamu!" Oh tidak! Sherry tercenggang tak percaya, kali ini dia terjebak. Ternyata orang yang ia caci dan membuatnya jengkel adalah bosnya sendiri. Dan sekarang bagaimana? "Jadi... Anda ini bos di perusahaan ini." Sherry seperti mendapatkan serangan bom yang akan bisa meledak kapan saja. "Ya.. Kenapa kaget? Terpesona? Kalau iya saya gak butuh itu, perempuan sejenis kamu banyak di kantor ini. Dan saya gak butuh stok lagi. Paham kamu!" Kalimat Arka telah berhasil membuat Sherry merengut kesal karena sikap dinginnya. "Saya---" Sherry berusaha bertutur dengan lembut. Lagi-lagi ucapan di cela oleh bosnya itu. "Kembali ke meja kamu, kerjakan tugas kamu dengan baik. Kalau ada kesalahan saya pastikan hari ini terakhir kamu kerja." Ucap Arka dengan tegas, lalu meminta Sherry meninggalkan ruangan segera. Dada Sherry sudah menggebu menahan amarah. Sungguh sial! Kalau bukan karena Raga membutuhkan uang cukup banyak, ia sudah meninggalkan kantor detik ini juga. Dia tidak pernah sebenci ini pada seseorang tapi Arka mampu membuat darahnya mendidih membara. Suara deringan ponsel dari tas jinjing kecilnya semakin membuatnya kesal dalam waktu bersamaan. "Halo, Raga! Lo ngapain telpon gue." Sahut Sherry dengen kesal mengangkat telpon. "Ish... Sewot banget lo. Gue mau ngucapin selamat bekerja, hari ini kan pertama kali lo kerja. Bos lo galak ya." "Iya.. kayak singa lebih dari itu malah." "Bukannya lo saudaraan dengan singa." Sherry kesal mendengar ejekan dari sahabatnya, ia membanting menutup telponnya. Tanpa disadarinya Arka memperhatikan kelakuan Sherry yang luar biasa untuk seorang Arka. "Dasar perempuan aneh!" Arka tidak pernah tertarik pada perempuan mana pun. Semua perempuan menurutnya matre, selalu memandang segi materi. Ya... Diakui dia memiliki segalanya tapi dia tidak butuh perempuan seperti itu untuk dijadikan istri. Arka termasuk orang yang selektif dalam memilih untuk pasangannya. Padahal orang tuanya sendiri sering mencoba menjodohkannya dengan anak sahabat mereka, tapi tetap saja tidak di gubris oleh Arka. Sherry merasa Arka mengerjainya, seharian ia malah di suruh membuatkan bosnya itu kopilah, membelikan makan siang lah, membersihkan ruangannya lah. Seperti sekarang dia malah di minta untuk membersihkan kaca jendela ruangan Arka. 'Nyebelin banget nih orang. Dia pikir gue Office Girl disini. Gue sekretaris, masa disuruh ginian sih.' Rungut Sherry dalan hatinya. "Cepat kerjakan! Kalau kerja itu senyum, jangan cemberut, gak makan siang kamu tadi." Ucap Arka dengan nada menyebalkan untuk Sherry. "Maaf, Pak." Sherry bahkan terpaksa harus meminta maaf. "Oh... Ternyata kamu cepat sadar juga ya." Desis Arka sambil tersenyum kecil. Senyuman Arka mampu melelehkan sekujur tubuh. Benar-benar meresahkan kaum hawa. "Hmmm..." Tapi tidak untuk Sherry yang terlihat biasa saja. "Yang sopan kalau ngomong sama bos." "Pak Arka maunya apa sih? Saya kan sudah minta maaf tadi. Sekarang malah minta sopan, saya tahu ya bapak bos besar disini. Tapi jangan seenaknya gitu dong." Gerutu Sherry membuat Arka terdiam sejenak. Satu-satunya karyawan berani dengannya, bahkan menantangnya terang-terang. Arka tak percaya mendapatkan sekretaris tak tau diri seperti Sherry. 'Dari mana Diaz temui perempuan ini. Aku akan minta Diaz untuk mengecek kembali Cv Sherry.' Batin Arka. *** Sepulangnya dari kantor, Sherry merasa tubuhnya pegal, rasanya semua tulang remuk berkeping-keping. Karena lelah Sherry langsung pulang ke rumah, tidak ke rumah sakit seperti biasa. Sherry terlahir dari keluarga biasa saja, dia tinggal bersama ibu dan adiknya. Sejak ayahnya menikah dengan perempuan lain, Sherry dan Ibunya berjuang sendiri. Dan untungnya sekarang dia sudah tumbuh besar, adiknya juga sudah masuk kuliah semester tiga. Menatap bosan karena Raga sudah berada di rumahnya. "Raga, ngapain lo sini." "Yaelah lo, masuk tu assalamualaikum." Raga tahu betul Sherry sepertinya tengah kesal pada seseorang, yang dia tahu biasa juga wajah Sherrry sedih karena pulang jenguk Nathan di rumah sakit tapi sekarang... "Assalamualaikum." Sherry berucap dengan muka di tekuk. "Udah! Puas lo." "Haha... Lo kenapa? Lo gak ke rumah sakit." Raga tertawa semakin membuat Sherry kesal. "Enggak, gue capek. Lo tahu gak, Gue kesal banget tau. Bos gue ternyata orang yang sangat menjengkelkan. Masa gue di perlakukan kayak Office Girl. Dia pikir gue kuliah untuk itu." Cerocos Sherry tanpa menjeda kalimatnya. "Ya Allah... Kasian banget hidup lo!" Raga mengelus rambut Sherry. "Oh ya lo ngapain ke sini." Kali ini suara Sheery sudah terdengar lebih tenang. "Tadi gue gak sengaja ketemu Luna di jalan, ya gue antar pulanglah." "Baik banget lo anterin adik gue. Suka ya lo sama Luna." "Apaan sih lo!" Sanggah Raga. Sherry tau sekali, diam-diam Luna sering memperhatikan Raga, Walau tidak pernah bilang ia tertarik padanya, tapi Sherry bisa melihat dari mata Luna. Dan Sherry setuju sekali jika Raga bersama Luna. "Lo jangan bohong deh. Udah lama kan lo suka sama Luna, gue bilang ibu ya. I--" Raga berhasil mendekap mulut Sherry. "Lo tu ya udah bawel! Sok tau lagi! Untung rahasia gue pegang sendiri." "Hhhhhhhmmmmmhhhhmppttt..." "Gue lepas tapi janji jangan teriak." Dengan cepat Sherry mengangguk. "Bego lo! Lagian gue kan cuma bercanda. Kalau suka bilang jangan diam! Ntar di ambil orang baru tau lo." Sherry selalu berpikir jika Raga menyukai Luna tanpa tau kenyataannya seperti apa. Sherry hanya memperhatikan Raga dari sisi lain, tapi dia tak tahu Raga menyimpan luka karena dari sejak jaman mereka sekolah dia telah jatuh cinta pada Nathan. Raga, Nathan, dan Sherry bersahabat sejak kecil. Selalu satu sekolah bahkan satu kampus. Mungkin Raga kalah cepat dari Nathan, hingga dia mengubur mimpinya yang tak mungkin terwujud itu. Sampai kapan pun Sherry hanya melihat dia sebagai sahabat tidak lebih. "Udah di ambil orang." Lirih Raga pelan. "Apa lo bilang!" "Enggak. Yaudah gue balik ya. Lo besok kerja masuk jam berapa? Gue antar ya." "Enggak ah! Ntar repot lagi." Tapi Raga selalu memastikan jika Sherry dalam keadaan baik-baik. Walau Sherry menolak dia akan tetap mengantar Sherry. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN