bc

It Was You

book_age16+
309
IKUTI
1.3K
BACA
comedy
sweet
humorous
lighthearted
like
intro-logo
Uraian

“ Kalau seandainya aku tidak bertemu Baskara, apakah hidupku akan baik-baik saja?”

Kanya merupakan gadis yang biasa saja di kampusnya, ia tidak sepintar Lintang atau banyak teman seperti Sandy, sahabat-sahabatnya. Namun, entah bagaimana, Baskara, pria paling populer di fakultas bahkan kampus, mengejar-ngejar Kanya. Ia tidak mengerti apa yang Baskara cari dari dirinya, apalagi ia sudah memiliki pacar, Banyu.

Gara-gara Baskara, hubungannya dengan Banyu merenggang. Gara-gara Baskara, satu kampus melihatnya dengan aneh. Gara-gara Baskara, ia jadi dibenci Renata dan gengnya, wanita-wanita yang juga populer di kampus. Ini semua karena Baskara!

Tapi… Kanya tidak menampik bahwa Baskara memang tampan, ia juga kaya, dan meskipun nakal, nilai mata kuliahnya tidak ada yang di bawah B.

Arggghhh, kenapa jadi Baskara terus, sih? Apa jangan-jangan, ia sudah mulai menyukai pria itu? Lalu, bagaimana dengan Banyu? Kepada siapakah hatinya harus tertambat?

chap-preview
Pratinjau gratis
Gadis itu Bernama Kanya
Matahari menunjukkan posisi hampir di tengah, lalu lalang kendaraan dengan asapnya masing-masing menghiasi depan rumah gadis tersebut. Ini hampir pukul sepuluh, namun apa yang ditunggunya tak juga datang. Matanya yang coklat mencari-cari ke jalan raya, berharap mobil Brio yang ia kenal akan segera datang. Gadis dengan mata lebar itu memainkan tali tasnya yang sudah kusut karena terlalu banyak diplintir. Berkali-kali ia menghela nafas mencoba bersabar dan tetap tenang, ‘mungkin masih di jalan’ pikirnya. Roti yang sedari tadi disiapkan sang ibu tak juga disentuh, sudah dingin dan hanya menyisakan kelembaban yang membuatnya semakin terlihat menyebalkan, makanan itu seolah menjadi penanda bahwa ia sudah duduk terlalu lama. Mana mungkin ada nafsu makan kalau begini? Terlebih, ia terlanjur kesal karena lagi-lagi ia sepertinya akan kena amarah salah satu dosen di kampus. Sudah beberapa kali ia terlambat, bahkan dosen tersebut sudah menghafal wajahnya, matilah ia kalau terlambat lagi. Kembali, ia merapikan rambut yang sudah dikuncir kuda, mengecek lagi dandanan yang sudah hampir setengah jam digunakan. Suasana terik dan tidak bersahabat membuat Kanya semakin tidak bersemangat. Ya, namanya Kanya. Gadis pendek itu sedang menunggu dua teman karibnya menjemput. Tapi sungguh, meskipun bersahabat, kadang Kanya ingin sekali mengajak kedua temannya berkelahi, seperti saat ini. saat di mana ia harus menunggu dan nantinya terpaksa terlambat lagi masuk ke kelas. ‘TIN TIINN’ Klakson mobil berwarna merah mengangetkannya. Akhirnya datang juga mereka, pikir Kanya.  “ Bunda, Kanya berangkat dulu ya!” teriak Kanya dari luar rumah. Ia buru-buru memakai sepatu. Di luar pagar kedua sahabatnya, Sandy dan Lintang sudah menunggu dengan tidak sabar, mereka memang sudah terlambat banyak masuk kelas pak Aryo, si dosen galak dan pelit nilai. “ Loh? Sarapannya nggak dimakan?” tanya bunda. Ia tergopoh-gopoh menuju teras. Beliau sedari tadi telah memperhatikan putri semata wayangnya menekuk wajah dari dapur, pasti ia terlambat lagi.  “ Ini sudah aku bawa.” Kanya melambaikan roti panggang dingin yang ia genggam pada bunda yang masih di ruang tamu. Tentu ia tidak akan memakannya, baginya makanan dingin itu kurang sedap. Namun dibanding harus melihat wajah sedih bunda yang terlanjur memasakkannya roti, ia memilih membawa si roti. Mungkin nanti Sendy atau Lintang mau memakannya meski Kanya sendiri ragu. ‘TINN TIIINNN’ “ Kanya, ayo cepetan!” teriak Sandy dari kursi sopir. Lelaki itu sudah kesal menunggu Kanya di depan kemudi, pasalnya minggu kemarin ia juga terlambat masuk ke kelas Pak Aryo. Bagaimana tidak terlambat seperti Kanya, mereka bertiga kan selalu berangkat bersama, satu telat, semua telat. Beruntunglah Lintang karena sering memenangkan kompetisi dan merupakan anak emas di kampus, ia tidak perlu takut dikeluarkan dari kelas atau mendapatkan nilai jelek. Tapi Sendy dan Kanya, keduanya berbeda, terlebih Sendy. Kepribadian Sendy yang lebih feminin dari lelaki biasanya membuatnya menonjol, setidaknya di mata pak Aryo. Oleh karenanya  ia tidak ingin terlambat dan kembali membuat nama buruk di depan dosen galak tersebut. Kanya berlari dan menutup pagar. “ Yuk, gas!” seru Kanya saat sampai di bangku belakang. “ Lama bangeeetttt,” ujar Sendy kesal. “ Jangan ada remahan loh ya, baru kemaren nih aku cuci mobil.” “ Iya manis,” balas Kanya. Sambil membunyikan klakson dan melambaikan tangan ke bunda, Sendy melajukan mobil dengan kecepatan sedang. “ Lin, aku pinjem tugas hari ini dong. Mau nyocokin, hehe.” Kanya menepuk pundak Lintang yang dari tadi sibuk membuat poster di handphone, entah poster apa. Mungkin poster yang akan ia masukkan untuk lomba, tapi entah juga lomba apa, Kanya tak tahu. Lintang melirik Kanya tanpa melepaskan handphone dari depan wajah. “ Ambil aja di tas, paling depan ya. ” Lintang kembali fokus pada posternya, sementara Kanya mencocokkan jawaban Lintang dan jawabannya. Kanya bukanlah gadis bodoh yang setiap ada tugas, ia harus melihat milik Lintang terlebih dahulu. Ia hanya memiliki self esteem alias kepercayaan diri yang rendah, ini menyebabkannya terus khawatir kalau ada kesalahan pada apa yang ia kerjakan. Ia tidak pereksionis, ia hanya takut kalau nilainya jelek dan membuat satu-satunya orang tuanya yang tersisa bersedih hati. Ia tidak mau. Tentunya sebagai sahabat, Lintang memaklumi kebiasaan Kanya ini, Sendypun begitu. " Tolong tanya Selvi dong, Pak Aryo dah sampe kelas atau belum," sahut Sendy yang panik. Ia menghembuskan nafas panjang sambil harap-harap cemas bahwa kelas belum dimulai. Tidak ada yang menyahut Sendy, Kanya masih sibuk mengkoreksi, Lintang juga masih berjibaku dengan poster onlinenya. " Guuuuyyyssss... " Sendy berusaha mengalihkan perhatian keduanya dari aktifitas masing-masing. " Iya-iya, sebentar." Lintang membuka w******p dan mulai menanyakan pada Selvi, salah satu teman sekelas mereka perihal kedatangan Pak Aryo. Beruntung Selvi membalas cepat dan mengatakan beliau belum tiba. Jalanan lengang sehingga Sendy bisa melajukan kendaraan dengan kecepatan di atas rata-rata. Jarak rumah Kanya dan kampus memang dekat, hanya 1 kilometer. Kanya sebenarnya bisa saja berjalan kaki sedari tadi jika tidak menunggu Sendy yang asyik berdandan ria. Tapi karena memang sejak semester pertama dan sejak mereka bertiga mulai bersahabat, Kanya, Lintang, dan Sendy selalu datang ke kampus bersama-sama, Kanya tidak bisa begitu saja pergi ke kampus tanpa memberi tahu keduanya terlebih dahulu. Dan tentu mereka selalu berangkat menggunakan mobil Sendy. Mereka bertiga masuk pada kampus swasta yang sama, kampus terbaik di kota tersebut. Bangunan-bangunan tinggi menyambut saat memasuki gerbang. Fakultas mereka berada pada pojok timur dari wilayah universitas, bangunannya tidak terlalu megah dibanding bangunan depan ketika memasuki gerbang bahkan cenderung jadul, namun itulah yang membuat suasana fakultas Kanya terlihat lebih nyaman dan santai. Saat sampai ditujuan, ketiganya bergegas turun dan berlari ke kelas. Mereka satu fakultas: hukum dan satu kelas pula. Dengan langkah cepat mereka menaiki lift menuju lantai dua, tak henti-henti gerutuan Sendy terdengar karena rambutnya yang necis sudah tersapu debu-debu saat berlari. Beruntung hingga mereka tiba, Pak Aryo belum memunculkan batang hidungnya sehingga ketiganya dapat tenang dan mengatur nafas meskipun mendapatkan bangku paling depan. Baru sebentar mereka duduk, salah satu teman mereka berseru, " Eh, Pak Aryo nggak bisa datang!" Seketika riuhlah kelas karena rasa senang mahasiswa.  Semua orang kembali memasukkan bawaan mereka ke tas dan bergegas keluar. " Ih, tau gitu aku tadi nggak lari!" Sendy merengut. Pria satu ini memang senang memperhatikan penampilan, dan baginya, ketika berlari, itu sama saja merusak dandanan dan kerapihannya yang sudah di tata sejak di rumah. " Makanya jangan dandan kelamaan!" Seru Lintang menoyor kepala Sendy. Ia dan Kanya tertawa. Pertemanan mereka memang aneh, meskipun berbeda: Kanya yang tidak pede-an, Lintang yang tegas, dan Sendy yang (agak) melambai, mereka merasa saling cocok satu sama lain. Kanya merasa beruntung bisa dekat dengan keduanya karena ia merasa ia tidak cukup baik, tidak cukup oke, tidak cukup keren untuk dapat berteman dengan anak populer di fakultas seperti Lintang dan Sendy. Lintang, seperti yang sudah diketahui, merupakan mahasiswi berprestasi. Ada banyak lomba yang telah ia ikuti, mulai dari debat, desain, karya tulis, dan lain sebagainya. Ia juga sudah berkali-kali mewakili kampus ke luar negeri untuk entah apalah itu. Sedangkan Sendy memiliki sifat humble dan humoris, ia memiliki banyak kenalan mulai dari ujung timur kampus hingga ujung barat. Kadang Kanya merasa minder dengan keduanya karena dibandingkan mereka, ia terlihat seperti remahan rengginang yang tertinggal di dalam toples, putih, kecil, tidak berguna, ya… sisa-sisa. Tapi toh, ternyata mereka berdua dengan senang hati bersahabat dengan Kanya dan ia sangat bersyukur karena hal tersebut. " Eh, aku mau ke lantai 3 dulu ya. Kalo mau duluan juga nggak papa." Senyum Kanya merekah lebar saat ia menyebutkan lantai 3, tempat di mana pria yang setahun terakhir telah menemaninya berada. " Ihh, pasti mau ketemu mas Banyu deh," goda Sendy. " Mau ikuuutt." Lintang segera menjewer Sendy yang sudah memonyongkan bibir. Lintang mengerti bagaimana Banyu, kekasih Kanya, agak kurang nyaman berada di dekat dirinya maupun Sendy. Meskipun teman satu jurusan, Banyu bukanlah orang yang mudah didekati. Makanya ia bingung bagaimana Kanya bisa berpacaran dengan pria dingin tersebut. " Gak. Kamu ikut aku ke Perpus!" kata Lintang. " Hati-hati ya Kan. Titip salam buat Banyu." Kanya tertawa kecil sambil melambaikan tangan pada Lintang yang berjalan sambil menjewer sendy yang mengaduh kesakitan. Segera, Kanya menaiki lift. Sembari menunggu pintu tertutup otomatis, pikiran mengenai makan siang apa yang kiranya mau ia konsumsi menghampiri. Banyu memang agak pilih-pilih soal makanan, maka dari itu Kanya harus selalu memikirkan duluan makanan apa yang akan mereka santap bersama. Kalau tidak, akan memakan waktu lama menunggu Banyu memutuskan. " Eh tunggu!" Tepat sebelum lift tertutup, suara terenggah-enggah terdengar. Tangan besar tiba-tiba mencengram pintu lift yang hampir tertutup. Buru-buru Kanya memencet tombol untuk membuka lift kembali. " Thanks." sahut pria itu. Ah, ternyata Baskara. Baskara Adi Raharja. Siapa yang tidak tahu Baskara Adi Raharja? Keluarganya merupakan pemilik Emico Enterprise, sebuah perusahaan multi nasional yang bergerak dibidang impor barang. Keluarga mereka jugalah salah satu pendonor dana hibah terbesar di kampus. Intinya, Baskara sangatlah kaya. Namun bukan hanya itu yang membuatnya populer, Baskara memiliki ketampanan ala timur tengah. Rahang yang tegas, alis tebal, dan hidung mancungnya membuat wanita manapun menoleh dua kali jika berpapasan. Dan tentu Baskara tidak bodoh, ketampanan itu ia manfaatkan sebaik mungkin. Tidak terhitung banyaknya wanita yang sudah jatuh ke jerat pesonanya.  " Iya, sama-sama, " Kanya menjawab pelan dan kikuk. Ia baru pertama kali bicara dengan pria populer itu. Berbeda dengan Sandy atau Lintang, meskipun sama-sama terkenal, aura populer dan eksklusif Baskara memang terasa kuat. Kanya harus menetralkan ekspresinya atau Baskara akan melihat betapa tololnya Kanya karena termenung terkagum-kagum pada pria tersebut. Lift terasa sesak karena kehadiran pria besar tersebut. " Kelas ya?" Tanya Baskara memulai obrolan. Kanya yang kaget cepat menguasai kondisi. "Eh, engga kok. Mau ke atas aja," jawab Kanya. " Ngapain?" " Umm… Jemput pacar." Baskara tertawa kecil. " Biasanya sih cowok yang jemput. Tapi ini..." Baskara melihatnya sambil menyungingkan senyum. " Aku Baskara." Tangan Baskara terulur, dengan ragu Kanya menyambut. Tangan itu begitu besar jika dibandingkan dengan tangannya yang mungil. Ia merasa semakin mengecil dihadapan pria tersebut. " Kanya." " Nama kamu bagus," senyum Baskara. " Sayang udah punya pacar." HAH? APA KATANYA? Kanya terdiam canggung. Alarm di kepalanya berbunyi, seolah ia merasa terancam oleh kata-kata Baskara barusan. Apa-apaan itu tadi? Buru-buru tangannya ia lepas. Beruntung lift terbuka. 'Lantai tiga' Kanya membatin lega, buru buru ia berlari keluar lift seolah dikejar setan. Baskara tidak turun karena kelas yang ia ambil berada di lantai keempat. Dengan senyum iseng ia berteriak, " See you, Kanya!" Tidak ada balasan dari Kanya. Tentu saja Kanya mendengarnya, memang ia tuli? Tapi Kanya tak mau membalas. Ia tau reputasi Baskara tidak terlalu baik soal wanita. Ia harus menjauhi Baskara. Alarm di kepalanya masih berbunyi kencang, bahkan saat ia sudah jauh dari Baskara. 'Kenapa? Kenapa?' Tanya Kanya. Ia tidak tahu kenapa ia merasa sepanik ini, mungkin karena ia tak mau dekat-dekat dengan playboy cap badak tersebut. atau mungkin karena aura Baskara yang terasa menyesakkan. Tapi ada sesuatu yang lebih parah mengganggu pikirannya sejak di lift, yaitu… Dadanya tak berhenti berdetak kencang. Pipinya makin memerah. Ia tak mengerti dengan reaksi tubuhnya sendiri. Ia panik. " Aku harus cepat bertemu Banyu!"

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
201.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
194.0K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
6.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.4K
bc

Kali kedua

read
222.0K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.2K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook