“Halo?”
“Halo Nya, kamu di mana sih?” suara teriakan dari ujung sambungan, memekakan telinga Kanya. gadis itu mengrinyit sambil menjauhkan ponsel dari telinganya sejenak.
Beberapa kali sudah ia menghubungi Banyu, namun pria itu tak mengangkat ponselnya. Statusnya berdering, namun tidak di jawab. Seperti sengaja. Tapi pikiran positif Kanya mengatakan kalau pria itu berada di jalan, berkendara, hingga tak bisa memegang ponsel. Jadi ia mengganti tujuan dan menelpon Lintang. Dalam dua deringan, Kanya bisa mendengar Lintang memekik kesal, sebuah nada suara yang jarang sekali Lintang gunakan karena gadis itu selalu terlihat tenang.
“Aku… aku… habis,” Ucap Kanya terbata dan tidak selesai. Ia sendiri bingung harus beralasan apa karena dirinya sudah berjanji pada Renata untuk tak memberitahu Kondisi Renata pada orang-orang. Membongkar di mana ia tadi, sama saja Kanya harus menjelaskan runtut banyak hal: ‘Renata sakit apa? pergi dengan siapa? Gimana caranya kamu jadi temennya Renata dan Baskara?’ Pertanyaan itu mungkin akan memberondong Kanya dan membuatnya keceplosan. Renata sudah menganggapnya teman, ia tak bisa mengecewakan teman barunya tersebut.
“Please nggak usah cari alasan Kanya,” nada Lintang terdengar marah. “Dari tadi kami semua nyari kamu!”
“Kamu bilang kamu mau pulang sendiri, tapi kamu minta Banyu jemput. Begitu Banyu jemput, kamu dah nggak ada. Kamu tau nggak? Banyu khawatir tau. Dia jauh-jauh dari rumahnya, satu jam cuma buat bolak-balik kampus-rumah. Dia nanya semua orang di kampus, nanya aku dan Sendy. Kami semua ke rumahmu dan kamu juga nggak ada di sana.”
Kanya hanya diam mendengarkan Lintang yang terus mengoceh tanpa henti. Ia tahu dirinya salah, salah besar karena menyebabkan Banyu dan kawan lainnya mencari, mengira Kanya hilang. Kanya menyalahkan diri karena harusnya ia memberitahu Banyu kalau ia sudah ikut pulang bersama Baskara.
Ah Banyu, apa pria itu tak ingin menerima teleponnya karena hal ini?
Mata Kanya sudah berkaca-kaca. Ia tak tahu kalau Banyu mau menjemputnya, biasanya Banyu akan berkata “ogah” jika ia sudah berada di rumah. Kanya tak berekspektasi kalau Banyu mau jauh-jauh ke kampus betulan untuk membawanya pulang. Pesan “jemput aku”-pun tidak ditulis Kanya dengan sungguh-sungguh karena Banyu biasanya tak menganggapnya terlalu penting.
“Maaf Tang, aku… tadi habis pergi.” Suara Kanya tercekat. Ia ingin membendung lelehan air mata, tapi tak bisa. Amarah Lintang dan pikirannya yang berkelana karena Banyu yang mungkin terluka karena kelakuannya, menyebabkan pipi tiba-tiba sudah basah.
“Ya pergi ke mana?” Lintang naik satu oktaf. Terdengar tak suka, Lintang menekan tiap kata agar Kanya tak bertele-tele. Diam jadi jawaban, Kanya tak merespon. Kemudian terdengar suara berisik yang membuat Kanya heran. Apa sinyal Lintang sedang tak bagus?
“Halo Nya? Kamu di mana sekarang, biar kami jemput ya.” Sendy tiba-tiba bicara. Pria itu menggunakan nada lembut bicara dengan Kanya. “Soal mau cerita atau engga, itu nanti aja. Kamu di mana sekarang?”
Kanya diam, ia belum memutuskan akan bicara soal keberadaannya atau tidak. Ia takut pada Lintang yang emosi, sekarang saja gadis itu sudah berang dan terdengar omelannya pada Sendy yang sepertiny merebut ponsel.
Dengan memberi tahu Keberadaan dirinya ada di mana pada Lintang, Kanya hanya akan membuat Lintang semakin marah karena saat ini ia sedang berada bersama Baskara. Temannya itu sangat anti terhadap pria yang mengajaknya makan saat ini, maka itu. Bombardir pertanyaan yang akan ia dapatkan akan membuat Kanya semakin pusing. Ia ingin pulang, ingin segera bertemu Banyu, menjelaskan semuanya. Ia hanya ingin bertemu kekasihnya, tak ingin diinterogasi Lintang. Saat ini saja ia sudah tak bisa mengontrol air mata, bagaimana nanti?
“KAMU DI MANA?” kali ini ponsel lagi-lagi dipegang Lintang. Kanya terkaget dan terbata. Ia tak bisa mengeluarkan suara, hanya sunyi yang menghinggapi bibirnya.
“Kanya lagi sama aku.”
Sebuah tangan besar merampas ponsel yang sedang Kanya genggam. Gadis itu tak sempat bereaksi dan hanya terdiam menatap pria di sebelahnya yang sudah berdiri menanggapi pembicara di sambungannya. Baskara yang jauh lebih tinggi membuat Kanya mendongak dan sejenak bertanya-tanya sejak kapan ia telah berdiri dan memperhatikan dari di samping.
Kanya tak mendengar pembicaraan apapun lagi, ia hanya membeku di tempatnya semula begitu pula pemikirannya. Gadis itu diam sambil terus memperhatikan gerakan dan ekspresi Baskara yang kurang lebih hanya mengrinyit, menjauhkan ponsel dari telinga, mendekatkan lagi, dan kemudian mengrinyit lagi.
“Nanti aku pulangin. Sekarang biarin dia makan dengan tenang.” Baskara berujar. “Iya, nanti aku minta dia ngomong sama Banyu.”
Sesaat kemudian Kanya tersadar. Gadis itu berusaha menggapai ponselnya. Tanpa harus direbut kembali, Baskara langsung mengembalikan dengan keadaan panggilan yang sudah putus. Kanya tentu saja berterima kasih pada pria itu karena telah membantu mengatasi panggilan ‘menyeramkan’ dari Lintang dan Sendy. Masalahnya ia tak tahu apa yang mereka bertiga bicarakan, matanya seolah berkabut dan pendengarannya mendengung, menjadikan Kanya tak fokus pada apa-apa saja yang Baskara katakan pada dua sahabatnya itu.
Ia takut nanti atau besok Lintang akan memarahinya lagi atau lebih parah, Lintang tak mau bicara padanya. Kanya tahu Sendy tak sekeras itu saat ia sedang emosi, ia akan memperhatikan bagaimana lawan bicaranya bereaksi, baru Sendy akan menyesuaikan diri. Sendy yang lemah lembut, meskipun kesal pada Kanya, tak akan mengamuk bak singa kelaparan layaknya Lintang.
“Kamu tenang aja, aku dah ngomong ke mereka.” Baskara menatap Kanya langsung di mata, ia mengusap air mata Kanya yang berada di ujung-ujung pelupuk. Gadis itu bisa merasakan tangan Baskara yang besar, jari-jarinya yang panjang, namun begitu lembut saat menyentuh pipi. Pria itu berhati-hati memperlakukan Kanya hingga tanpa sadar, degup jantung Kanya mulai berontak lagi. Namun kali ini berbeda, tak ada rasa panik. Hanya debaran yang membuat perutnya serasa dipenuhi kupu-kupu.
“Nanti soal Banyu, aku yang ngomong.”
Sesaat kemudian Kanya sadar ketika nama Banyu disebut. Rasa sedih campur panik menghampirinya, ‘bagaimana kalau Banyu marah dan tak ingin menemuinya?’
“Kamu tenang aja, nggak usah panik. Ada aku, oke?”
Kanya bisa merasakan lega saat Baskara memastikan akan menghubungi Banyu. Gadis itu mengangguk pelan, matanya tetap disematkan pada Baskara. Meskipun begitu di belakang pikirannya, berkecamuk sebuah konflik. Ia bertanya-tanya reaksi tubuhnya tadi, berdegup hingga rasanya perutnya geli.
‘Aku… kenapa?’