“Jadi… gimana?”
Kendaraan lalu lalang menjadi saksi dua makhluk hidup yang duduk di pinggir trotoar dan menyeruput seplastik the srisri dari sedotan. Mta Kanya menatap kosong ke depan, otaknya tak bisa memikirkan apa-apa karena buntu yang terus ia temui. Satu-satunya pergerakan berarti adalah mulutnya yang sesekali menyedot air cokelat manis tersebut masuk ke tubuh.
“Kanya…”
“Nggak tahu.”
Kali ini gadis itu menjawab dengan malas. Sedotan masih menempel di pinggir bibir, kembali ia segera memasukkannya dan lagi-lagi menghabiskan minuman tersebut meskipun sedikit-sedikit.
Pria di sampingnya sedari tadi juga ikut memikirkan apa langkah selanjutnya. Sama dengan Kanya, Sendypun mengalami kebuntuan. Wajahnya tertertekuk karena kebingungan harus melakukan apa agar sahabatnya ini merasa tenang. Selain itu, Sendy juga sebenarnya agak risih menemani Kanya duduk di pinggir jalan panas yang jelas akan membuat kulitnya menghitam. Tapi bagaimanapun juga, sebagai teman yang baik, ia merasa berkewajiban untuk melindungi Kanya di manapun, termasuk kalau harus berada pada posisi tidak mengenakan seperti sekarang ini.
“Nya… maaf ya,” Sendy bersuara pelan.
Kanya langsung menoleh reflex. Ia melepaskan sedotan dari bibirnya dan menatap sahabatnya tersebut dengan heran.
“Maaf kenapa?”
“Karena aku nggak bisa ngasih kamu saran atau ngasih pemecahan.” Sendy mengedikkan bahu. Ia menatap Kanya dengan penyesalan. Sendy tahu ia tak sepandai Lintang. meskipun kemampuannya berkomunikasi sangatlah baik, namun ia menyadari kalau ia tak pandai dalam memecahkan masalah. Apalagi masalah pribadi seseorang. Dan kini Sendy merasa gagal karena dirinya Cuma bisa menyaksikan sahabatnya terpecah belah dan bahkan salah satunya mendapatkan masalah.
“Apa-apaan sih Sen!” Kanya setengah berteriak. Namun suara itu pech karena kamudian Kanya mengucurkan air mata lagi.
“Kanya…” Sendy juga ikut berkaca-kaca.
“Kamu tau sendiri kalau aku bersyukur banget kita bisa temenan. Kamu tahu aku selalu berterima kasih sama kehadiran kamu. Bahkan sekarang kalau nggak ada kamu, aku nggak tau mau lari ke mana!” suara parau yang diselingi isakan membuat Sendy akhirnya menangis kembali.
“Jangan pernah bilang gitu! Jangan minta maaf karena kamu nggak bisa bantu aku! Kamu di sini aja tuh dah bantu aku!” teriak Kanya sambil tersedu. Sendy pun makin deras menangis dan menutupi wajahnya dengan tangan agar tak terlihat manusia yang berlalu lalang.
Kanya memeluk Sendy dengan erat. “Sendy jangan gitu. Aku emang lagi sedih dan keadaanku buntu banget. Tapi kamu di deket aku ngebantu banget.”
“Iya, Nya. Maaf ya… aku akan selalu di samping kamu.”
Keduanya berpelukan. Tak lagi peduli di tempat atau posisi apa mereka sekarang. Tak peduli sudah berapa kali mereka menangis bersama ataupun berpelukan saling menguatkan.
“Kalau ada yang harus minta maaf, itu harusny aku Sen.”
“No, no, no, Kanya.”
“Itu bener,” ujar Kanya sambil melepas tangan Sendy. “Aku yang bikin masalah, aku yang juga ketimpa masalah, dan harusnya aku bisa ngatasin ini sendiri. Tapi aku malah bawa-bawa kamu.”
“Kanya, no… aku beneran peduli sama kamu dan kamu nggak perlu minta maaf soal keadaan ini.” Sendy menghapus air matanya. “Nya, whatever your problem is, aku akan selalu bantu semampu aku ya.”
Kanya mengangguk, tak lagi membalas. Meskipun hatinya masih sakit dan kepalanya pening karena masalah foto dan panas mentari, namun percakapan hati ke hati dengan Sendy membuat gadis itu merasa menemukan oase di tengah gurun.
“Kita ke rumahku aja yuk Sen. Kalo mau ngelamun ataupun mau nangis, kita nggak akan malu.”
Sendy mengedarkan pandangan ke sekitar. Ia terkikik kecil menyadari beberapa orang curi-curi melihatnya dan Kanya yang habis menangis. Kanya ikut terkikik karena sama malunya. keduanya berpandangan sebentar lalu tersenyum.
“Ayo kita balik.”
“Yuk”
***
Rumah Kanya sepi. Tentu bunda belum pulang dari tempat kerjanya.
“Kamu mau teh?” tawar Kanya
“Enggak ah, aku maunya kopi.”
Jawaban Sendy tentu mendapat jitakan dari Kanya. Sendy tahu betul tak ada yang mengkonsumsi kopi di rumah ini, jadi memang tak ada produk tersebut di rak dapur.
“Mau teh apa air putih?”
“Mau sup buah.” Jawaban Sendy membuat Kanya melengos. Kembali ke rumah memang membuat gadis itu merasa lebih berenergi. Ia bisa berfungsi dengan baik meskipun di belakang pikirannya masalah foto tersebut masih bercokol.
“Aku bawain air aja ya. Nanti kalau kamu mau kopi pesen aja sendiri.” Dengan cemberut Kanya masuk ke dalam rumah. Menaruh tasnya di meja tamu dan menuju dapur.
Ia membuat satu teko teh kamelia untuk dirinya sendiri dan juga untuk Sendy –kalau dia mau. Ia juga membawakan segelas air putih dan beberapa snack yang ia taruh dinampan. Langkah kecilnya gesit membawa tumpukan barang tersebut ke hadapan Sendy.
“Repot amat sih.” Ujar Sendy langsung mencomot wafer dari toplesnya. “Kok nggak ada buahnya?”
“Yee! Dasar kurang ajar!” keduanya tertawa.
“Nya, kayaknya si Baskara marah-marah deh di grup angkatan. Kamu dah liat?” tanya Sendy berhati-hati. Saat Kanya menyiapkan minuman tadi, Sendy sengaja membuka chat grup angkatan dan melihat bagaimana respon orang-orang terhadap foto tersebut. Tentu kebanyakan mengomentari hal-hal yang tidak baik.
Karena Sendy sering bergaul dan memiliki banyak kenalan, Sendy tahu kalau sekalinya sebuah gossip keluar, maka itu akan tersebar dari mulut ke mulut dengan cepat. Apalagi soal Baskara. Pria itu merupakan topic yang begitu panas dan selalu dibicarakn. Terutama topic “dengan siapa saat ini Baskara memiliki kedekatan”. Anak-anak kampusnya suka sekali gossip dan Sendy tahu beberapa minggu belakangan Baskara sama sekali tak melancarkan gerakan-gerakan layaknya playboy seperti biasa. Dan hari ini, pecah sudah telurnya. Perihal besar seperti ini mana bisa tak dibicarakan, yang ada ceritanya akan merambat segera selayaknya kebakaran hutan di musim kemarau. Kanya, sahabatnya, kini terjebak di tengah kobaran api tersebut.
“Nggak mau liat ah.” Kanya menghempaskan pantatnya ke sofa. “Aku takut liat komen-komennya.”
Keduanya sama-sama diam dengan pikirannya masing-masing.
Sendy menatapi ponselnya yang menampilkan pesan Baskara di grup chat angkatan.
…
Brengsek! Siapa yang bikin tuh foto?
…
Sebuah pesan yang membungkam semua orang yang tadinya turut berkomentar macam-macam di grup. Sendy merasa lega karena akhirnya obrolan tak penting tersebut bisa berhenti.
Tiba-tiba Sendy mendapatkan ide.
Pria itu mulai mengecek kembali siapa yang mengirimi foto tersebut di grup angkatan.
“Ananta Nanda.”
“Apa Sen?” tanya Kanya. sendy tiba-tiba menyebutkan nama teman seangkatan mereka yang tak pernah Kanya akrabi.
“Ini loh, yang pertama kali ngirim di grup angkatan si Nanda,” ujar Sendy memicingkan mata. “Kamu ada masalah sama dia?”
Kanya menggeleng segera. Gadis itu tak merasa memiliki musuh apalagi seorang laki-laki yang Kanya tak pernah peduli eksistensinya. “Dia ngirim fotonya formatnya gimana? Format asli kyak gitu? Tau dia fotoin yang di madding?”
Sendy menggaruk kepalanya. “Yang di madiing sih…”
Kanya mengangguk paham.
“Kayaknya bukan dia.” Gadis itu menghela nafas pasrah. “Oh ya Sen, Banyu ada komentar?”
Kali ini giliran Sendy yang menggeleng, pria itu tak melihat ada nama Banyu mengomentari foto tersebut meskipun beberapa orang dengan kurang ajar meng-tag nama Banyu di grup.
“Nya… kayaknya lebih baik telpon Banyu sekarang sih.” Sendy berujar tiba-tiba. Ia menghadapkan wajahnya kepada Kanya, membuat ekpresi serius dapat dilihat jelas gadis tersebut.
“Takut Sen…” balas Kanya dengan lirih. Ia masih tak ingin memikirkan masalah ini dan reaksi Banyu ketika nanti Kanya ajak bicara. Belum lagi saat ini mereka dalam kondisi break.
“Kalau enggak sekarang, bisa-bisa masalahnya makin runyam. Mending kamu jelasin sekarang ke dia supaya dia ngerti posisi kamu dna kebenarannya.”
“Kalau dia nggak percaya?” potong Kanya. sendy menggelengkan kepala pelan.
“Dicoba dulu.”
Kanya diam sambil memegang secangkir tehnya yang kian mendingin. Matanya menatap lantai sambil bungkam. Ia terus begitu hingga akhirnya menganggukkan kepala.
“Oke.”
Sendy tersenyum. Segera, Kanya mengambil tasnya kembali. Mencari ponsel dari dalam sana, dan membukanya. Gadis itu berhenti bergerak ketika nomor yang ia kenal masuk. Ia menatap Sendy.
“Baskara nelpon Sen…”