Pembicaraan heart to heart kemarin membuat Kanya merasa jauh lebih baik ketika hari ini bangun dari kasurnya. Selain itu ada beberapa hal lain yang membuat gadis itu riang dan bangun tanpa wajah masam.
Satu, Lintang hari ini pulang. Kanya dan Sendy berniat menjemput, menyambut sahabat yang beberapa hari ini tak jumpa muka. Ah, rasanya beberapa hari –yang terasa seperti beberapa minggu ini tak lengkap tanpa hadirnya gadis bermulut tajam tersebut. Betapa rindunya Kanya dengan sang sahabat.
Lintang pada pukul satu siang nanti dijadwalkan akan sampai di bandara. Dan seperti yang sudah-sudah, Kanya dan Sendy mempersiapkan kejutan untuk Lintang. Sebuah kue selamat datang bewarna biru rasa blueberry favorit yang harus dibeli di pusat kota. Memang bukan lagi kejutan karena setiap Lintang pulang lomba dari luar negeri, kue itu yang jadi hadiahnya. Tapi bagaimanapun juga, tradisi itu selalu mereka jaga. Kata ‘kejutan’ cuma sebagai pemanis, yang paling penting bagi ketiganya adalah esensi dari hadiah itu sendiri.
Kedua, hal yang membuat Kanya senang juga, meskipun tak sesenang dengar kabar kepulangan Lintang adalah… Renata akan masuk ke kampus kembali. Baskara kemarin memberi tahu lewat chat kalau Renata ingin kembali ngampus. Gadis cantik itu tak tahan terus diam di kamarny setelah beberapa hari keluar dari rumah sakit. Baskara bilang kalau pria itu sudah melarang Renata, tapi yah, mau bagaimana? Orang tua Renata saja tak dapat melarang anak gadis mereka, apalagi Baskara yang hanya sahabat.
Meskipun masih menaruh curiga, Kanya tetap senang. Ia mengesampingkan pikiran buruk dan berbahagia melihat kesembuhan kawan baru. Kanya sudah memutuskan untuk meminggirkan masalah kemarin dan fokus memberikan dukungan pada Renata.
Hal ketiga adalah, Banyu telah membalas pesannya. Meskipun singkat dan hanya memberi waktu Kanya beberapa detik untuk membaca, gadis itu tetap bahagia. Senang karena pada akhirnya, chat yang ia kirimkan tak teronggok sia-sia.
…
Iya, Nya. Tapi aku belum bisa ketemu kamu, kita masih dalam tahap ‘jeda’. Kalau kita berdua udah bisa menata perasaan masing-masing, kita baru bisa ketemu.
Banyu
…
Meskipun Kanya tak mengerti apa yang dimaksud Banyu dengan ‘menata perasaan masing-masing’, namun ia akan menurut. Perasaan Kanya cukup jelas, ia ingin kembali bersama Banyu. Tapi Banyu merasa belum siap dengan alasan apapun, Kanya tak akan memaksa. Gadis itu ingin prianya bahagia, ia ingin kekasihnya kembali percaya pada Kanya. Tak masalah harus menunggu berlama-lama. Gadis itu meyakini hatinya tak akan berubah, apapun yang terjadi, ia akan bertahan sekuat mungkin.
Melamun, Kanya bangun dan keluar kamar. Untuk pertama kali setelah sekian hari, ia bergabung dengan bunda di meja makan. Memasang senyum cerah yang membuat sang ibu lega.
Kanya menarik kursi, duduk manis, dan menatap gerak-gerik bunda yang bergumul dengan telur dadar belum siap disaji. Rasanya sudah lama ia tak duduk seperti ini, padahal baru sekitar dua hari ia tak sarapan bersama. Bunda menatap putri semata wayang lembut, tak mengatakan apa-apa, namun ekspresinya jelas mengatakan betapa leganya wanita tersebut.
“Bunda masak apa?” tanya Kanya memecah keheningan. Gadis itu tahu jelas ibunya memasak telur dan sayur sop bening, tapi agar memecah es yang ada, Kanya basa-basi bertanya.
“Telur. Kamu suka kan?” tanya bunda. Kanya mengangguk. “Bunda nggak masak yang special, padahal hari ini kayaknya kamu lagi senang ya? Cie…”
Godaan sang ibu membuat Kanya agak malu. Gadis itu menyadari kalau saat ini bunda sedang bertingkah seperti tak terjadi apa-apa. Ia merasa kelakuannya beberapa hari terakhir sangat kekanakan. Langsung masuk tanpa mengucap salam, tak memberi tahu apa-apa, mengunci diri di kamar, melalaikan kewajiban sebagai mahasiswa, dan lainnya. Meskipun Kanya tahu bunda pasti mengerti kalau dia sedang bersedih, bagaimanapun juga ia sudah membiarkan sisi tak dewasa menguasai, membuat sang ibu khawatir, sedih, dan bingung. Padahal beliau tidak ada sangkut pautnya.
“Maaf ya bun,” ucap Kanya pelan. Kata itu didengar bunda cukup jelas, namun wanita itu pura-pura tak mendengar. Ia ingin sang anak membereskan dahulu masalah hatinya sendirian, ia tak ingin menambah beban Kanya yang sedang bersedih dengan apapun itu. Maka itu, bunda akan berpura-pura kalau kemarin dan kemarinnya lagi, tak ada yang terjadi.
Segera, sajian dihidangkan di meja makan. Kanya menatap tiga dadaran telur di atas piring, membuatnya bertanya-tanya untuk siapa. ‘Ah, mungkin bunda bikin satu lagi supaya aku makan banyak,’ batin Kanya tersenyum.
Menyendok telur kedua, sendok Kanya berdenting nyaring karena sendok bunda dipukulkan. Wanita paruh baya di depannya seperti mencegah agar tangan Kanya tak mengambil tambahan lauk. Tapi, kalau bukan untuk Kanya, untuk siapa lagi? Apa bunda selapar itu hingga memasak dua telur untuk dirinya sendiri?
“Ini bukan buat kamu tau…” jawab bunda menyingkirkan sendok Kanya kembali ke piring gadis itu sendiri. Merengut tersemat di wajah Kanya, namun sekaligus matanya bertanya-tanya. “Buat Baskara.”
Jawaban bunda membuat Kanya menaikkan alis sebelah.
‘Memangnya pria itu mau sarapan lagi di sini?’
Pucuk dicinta, ulampun tiba, suara motor khas yang menggembor-gembor hadir di halaman. Sesosok pengendara, tepatnya pemilik, yang Kanya kenali membuat gadis itu mengnganga.
“Pagi semua!” Baskara masuk ke dapur kemudian menyalami bunda, membuat Kanya mengrinyitkan dahi heran. Kenapa pria itu jadi sering sekali ke rumahnya? Memang rumahnya basecamp? Segera, p****t didaratkan Baskara ke kursi kayu sebelah Kanya, tempat Baskara biasa duduk kemarin-kemarin. Tangan pria itu lincah menari-nari mengambil telur dan sop bening beserta nasi.
“Ngapain di sini?” tanya Kanya agak keras, membuat Baskara menghentikan kegiatan menyuap dan bunda terkikik kecil melihat keduanya.
“Sarapan. Kenapa?” tak menghiraukan Kanya, Baskara melanjut makan. Ia memamah sambil menatap Kanya seolah mengejek. ‘Menyebalkan,’ pikir Kanya.
“Kan ini udah seminggu Bas. Kamu katanya cuma seminggu?” Kanya naik satu oktaf, masih tak mengerti pria itu dengan santai makan telur yang Kanya kira disiapkan bunda untuknya.
“No, no!” Baskara menggerakkan telunjuk kanan-kiri di hadapan wajah Kanya. Ditepis tangan besar itu segera saking kesal Kanya. “Bunda bilang aku boleh mampir kapan aja.”
Baskara menatap sang bunda yang mengedikkan bahu. Beliau tersenyum simpul tak ambil pusing dengan wajah putrinya yang dongkol.
Sebenarnya tak masalah jika Baskara ikut sarapan, hanya saja kalau setiap hari, Kanya agak keberatan. Ia memang dekat dengan Baskara saat ini –sebagai teman, tapi memikirkan Banyu yang belum pernah sekalipun sarapan bersama Kanya dan bunda, membuat gadis itu kesal juga. Belum lagi sepertinya bunda begitu menyukai Baskara dibanding Banyu. Dan paling parah adalah… barusan telurnya diambil! Kanya jengkel bukan main ketika eskpektasi makan telur tambahan hancur berkeping-keping. Pokoknya hari ini, ia mau ngambek!
Selesai sarapan dan membereskan meja makan, bunda pamit pergi. Tinggal Kanya dan Baskara sendiri, keduanya duduk di ruang tamu. Kanya yang masih cemberut tentu saja menangkap perhatian Baskara. Memang tak enak jika terus-menerus Baskara ikut sarapan bersama. Tapi bagaimana ya? Pria itu terlanjur nyaman dengan suasana makan di rumah Kanya dan tak ada niat baginya untuk berhenti. Belum lagi bubur Mang Emon belum buka. Pria kenalannya itu berkabar melalui sms kalau ia memutuskan untuk tinggal lebih lama di kampung halaman selama dua minggu.
Baskara tentu tak keberatan. Ia sudah menemukan tempat yang lebih nyaman dari bubur kaki lima Mang Emon, lebih enak dari soto dekat kompleks yang tutup permanen, dan jelas lebih ramai dibanding makan berdua saja di rumah Renata.
“Kok ngambek sih?” tanya Baskara memecah hening. Pria itu menatap gadis di sebelahnya pura-pura memelas, mengeluarkan puppy eyes yang meskipun gagal, meluluhkan juga hati Kanya.
“Ada banyak hal yang bikin aku sebal.” Kanya menatap sengit. “Satu, kamu sering banget dateng ke sini loh. Ya nggak papa sih, tapi ya ampun, kamu sampe punya kunci cadangan rumahku.”
Baskara menghadapkan tubuhnya pada Kanya yang mengoceh dengan nada tinggi.
“Dua, kamu tuh… ih sebel deh aku!” Kanya memukul Baskara yang barusan meniru gaya bicaranya. Baskara tertawa kecil. “Ini loh, aku tuh sama Banyu lagi break. Aku mau yakinin dia kalau aku setia dan engga ada apa-apa sama kamu. Tapi gimana bisa kalau kamu nempel terus?”
Kali ini Baskara manggut-manggut, tanda mengerti dan mempertimbangkan. Tapi Kanya tahu jelas itu hanya acting. Pria itu mungkin tak peduli dengan ketidak nyamanan Kanya.
“Tapi Nya,” sebelum sempat melanjutkan, Baskara menginterupsi. “Kenapa nggak anggep aja aku bagian dari keluargamu? Kayak… kamu kan udah sering break down di depanku, jadi anggep aja aku saudara?”
Kanya mengnganga, memang betul kalau Baskara sudah seperti saudara, tapi tetap saja bukan? Orang lain tidak tahu hubungan mereka yang seperti kakak beradik.
“Ish, gak mau! Enak aja!” Kanya menolak tegas sambil melempar bantal sofa ke Baskara, pria itu dengan mudah menghindar.
“Lah terus mau nganggep aku calon suamimu?”
“BASKARA!” Kanya berteriak memukuli pria itu dengan tangan kecilnya. Tak sempat menghindar, Baskara melindungi kepalanya dari pukulan yang sebenarnya tak sakit itu.
“Aduh, Nya, stop.” Pekik Baskara. “Kena luka yang kemaren nih.”
Seketika, Kanya menghentikan kegiatan. Ia meraba-raba Baskara dengan khawatir, takut kalau menghadirkan sakit kembali pada tubuh pria di hadapannya.
“Mana Bas yang sakit?” tanya gadis itu khawatir. Baskara tersenyum kecil menatap gadis itu dan berbisik,
“Tapi bohong.”
Lagi-lagi Kanya berteriak kesal. Lari, Baskara menghindari Kanya yang mengejar di belakang. Keduanya seperti anak kecil yang sedang bermain-main. Bedanya, Kanya serius ingin memukul pria tersebut, sedangkan Baskara main-main, mengejek Kanya yang mudah sekali tertipu.
Setelah lima belas menit tanpa hasil, Kanya berhenti mengatur nafas. Mereka kini berada di luar rumah dan saling berhadapan dengan motor Baskara sebagai penghalang. Baskara dengan stamina primanya tak merasa lelah sedikitpun. Hanya rasa senang menghinggapi, membuat senyum terus terukir di wajahnya.
“Dah capek?”
“BELUM!” Seru Kanya terengah-engah. Gadis itu menolak untuk kalah setelah dibodoh-bodohi kesekian kalinya. Pokoknya, ia harus membalas pria mengesalkan tersebut. Matanya awas mencari-cari cara memberikan pelajaran kepada Baskara, sementara pria itu dengan masih menantang malah bersiul-siul menghadap ke atas seolah sedang memanggil burung.
Masih tak memperhatikan, Baskara malah asyik menaik turunkan alis, menggoda Kanya kembali mengejar. Pria itu tak tahu, Kanya sudah mendapatkan senjata untuk membalas.
‘Dalam hitungan ketiga, ambil!’ seru Kanya dalam pikirnya dan tertawa karena sebentar lagi balas dendamnya tercapai.
‘Satu…
Dua…
Tiga!’
Cepat, tangan Kanya meraih selang yang sudah terhubung ke keran air, gadis itu memutarnya dan menyemprot Baskara yang masih dalam mode santai plus mengejek.
Baskara berteriak kencang.
“Woy! Aku nggak bawa baju ganti!”
Kanya tak peduli, ia tersenyum menatap Baskara yang berusaha menghindari semprotan. Tawanya membahana kala Baskara berusaha sembunyi di balik ducati. Tentu tak guna, motor besar itu dengan mudah dilewati air yang deras menyembur.
Setelah beberapa detik bersembunyi, Baskara tiba-tiba berdiri. Serangan air yang diberikan Kanya bukan membuat pria itu menjauh seperti awal, namun mendekat dan makin dekat. Pada akhirnya kedua orang itu berebut selang, saling menarik hingga layaknya orang bermesraan dan sedang saling flirty menggoda.
“Kalian lagi ngapain?”
Kanya membeku, sementara Baskara menengokkan wajah.
Lintang dan Sendy berada di depan pagar memperhatikan kedua manusia yang berdempetan tersebut kebasahan. Menurunkan kacamata hitam, Lintang menatap tak percaya. Posisi Kanya seperti sedang dipeluk Baskara dari belakang. Tangan keduanya menindih, memegang satu-satunya selang air. Sementara itu semua busana beserta rambut basah kuyup tak karuan. Jika harus membandingkan, ini seperti adegan mencuci motor bersama kekasih dengan mesra.
“Eh… hai.” Baskara menyapa kikuk. Ia mengangkat tangan satu, tanda melambai.
Lintang mengganga, sementara Sendy di sebelahnya membeku dengan mata memincing.
Dalam beberapa detik, wajah keduanya makin sama, menampilkan ekspresi yang mengatakan, “Ew, jijik.”