Tidak ada yang lebih menyebalkan dibandingkan diusir dari kelas ketika terlambat. Rasa malu dan kesal campur aduk di dalam diri Baskara. Bagaimana tidak? Di depan semua orang pak Daru menyuruhnya menutup pintu dari luar, padahal meskipun terlambat 30 menit, Baskara sudah berusaha berlari-larian ke kelas untuk menyusul. Sial, sial, sial!
Jadi, sekarang, Baskara terduduk di kantin sembari menunggu semangkok bakso yang sudah ia pesan datang. Meskipun uangnya cukup untuk pergi ke restoran manapun di kota ini, namun ia tak tertarik pada tempat mahal. Buang-buang bensin, buang waktu, buang pula uangnya lebih banyak. Jika ada semangkok bakso yang bisa tersaji di kantin, yang murah, yang enak, dan dekat, kenapa harus makan di tempat mahal? Begitu pikir Baskara. Toh, sembari di kantin, ia bisa memilih mana target selanjutnya.
Ya, ‘target’ yang harus jatuh pada pesona Baskara.
Bagi pria itu, wanita sama seperti makanan yang ia santap. Kalau ada yang cantik, manis, seksi, dan berada di lingkungan kampus, kenapa ia harus repot-repot mencari di luar?
Mata coklat terangnya nyalang kemana-mana. Beberapa wanita yang maniknya bersibobrok dengan Baskara tersipu malu, merasa ia diperhatikan. Tentu, tak lupa Baskara tersenyum manis pada tiap-tiap mata yang bertemu dengan matanya. Ah, kenapa mudah sekali wanita-wanita ini jatuh hati padanya?
Mengerjap, tiba-tiba pandangannya tertuju pada seorang gadis berbaju kuning di pojok kantin. Baru beberapa saat ia bertemu, kini ia sudah dihadapkan lagi dengan gadis tersebut. Siapa namanya tadi? Baskara mencoba mengingat-ingat nama gadis mungil tersebut.
“Babaass!” seru seseorang dari jauh. Wanita cantik dengan tinggi semampai melambaikan tangannya pada pria itu. Pikiran Baskara buyar, ia menatap manusia yang memanggilnya. Siluet tersebut… bagaimana ia bisa tidak kenal, wanita itu yang bertahun-tahun menjadi sahabat karibnya, orang yang sudah ia anggap sebagai adik sendiri. Renata.
Baskara ganti melambai tangan santai sembari memperhatikan Renata berjalan menuju meja. Renata yang cantik, renata yang seksi, siapa mata yang tidak tergoda melihat Renata. Ia dianugerahi semua hal yang diinginkan tiap wanita: kecantikan, kekayaan, dan kecerdasan. Wajahnya yang penuh riasan namun tetap terlihat natural terasa menyihir tiap orang untuk memperhatikan, alis yang tebal namun teratur, bibir merah menggoda, dan rambut bergelombang yang rapi. Tentu, ia sangat cocok bila disandingkan dengan Baskara dibanding siapapun, namun tidak. Ia dan Bas tidak memiliki hubungan apapun selain pertemanan, setidaknya itulah yang dipikirkan Baskara.
Baskar berkali-kali secara spontan memikirkan kemungkinan Renata menjadi pacarnya, namun ternyata setelah membayangkan, ia merasa geli sendiri. bagaimana mungkin ia memacari Renata? Wanita itu sudah ia anggap sebagai adiknya yang harus ia jaga dan ia sayangi selayaknya saudara kandung, jadi mana mungkin ia berani menghancurkan Renata dan menjadikan wanita itu ‘mainan’nya?
“Hai Ren, udah kelar?” mempersilahkan duduk, baskara menatap Renata menyelidik. Setahu Baskara, hari ini Renata memiliki jadwal kuliah yang sama dengannya. Tidak mungkin pak Daru memulangkan mahasiswa lebih awal.
“Aku bolos, hehe.” Renata tersenyum lebar. Pipinya merona setelah terkena sinar matahari membuatnya tampak lebih cantik. Gadis itu menyampirkan rambut ke belakang, menampilkan leher jenjang yang mulus dan anting kecil tergantung di telinganya.
“Lah, kenapa?” tanya Bas kaget.
“Kan mau makan sama kamu,” Renata menggoda Baskara. Keduanya tertawa bersama.
Setelah memesan semangkok bakso yang sama dengan Baskara, Renata duduk di sebelah. Sembari menyeruput es teh, ia menatap Baskara dengan maniknya yang berwarna coklat muda.
“Mikirin apa?” tanya Rena. ia melihat dahi baskara berkerut sambil menatap pojok kantin. Matanya mengikuti kemana mata Baskara tertuju, seorang gadis yang sedang duduk bersama seorang pria. Ia menyipit, sepertinya ia kenal keduanya.
“Tadi aku sempat kenalan, tapi lupa namanya.” Baskara menunjuk gadis itu menggunakan dagu.
“Itu bukannya yang sering jalan sama Sendy? Siapa sih namanya?” Renata kembali mengingat. “ Kalau ga salah ada Nya-Nya gitu.”
“Ah! Kanya!” Baskara berseru kecil. Ia ingat nama gadis yang seperti kucing habis dimandikan ketika tadi bertemu di lift. Ia tidak mengingat jelas detail wajah Kanya, namun matanya coklat mirip seperti miliknya. Ia memang tidak secantik Renata, namun kepolosan gadis itu manarik perhatiannya. Baskara menyunggingkan senyum.
“Bas, jangan dia deh.” Renata seolah tahu apa yang sedang dipikirkan pria di sebelahnya. Ia menatap mata Baskara yang fokus pada Kanya. Ia tahu bahwa Baskara sedang mengincar Kanya untuk dijadikan mangsa selanjutnya. Tentu tidak masalah, kebiasaan Baskara bergonta-ganti pasangan bukan hal mengejutkan bagi Rena, namun entah mengapa perasaannya hari ini seolah berkata lain.
“Kenapa?”
“Setauku dia udah punya pacar,” sahut Rena. “ Tuh, yang di sebelah.”
Baskara menatap pria jangkung dengan baju biru di sebelah Kanya. Sedari tadi ia tak memperhatikan pria tersebut karena ia terlalu fokus menatap punggung dan gerak-gerik Kanya. Ah, sepertinya Baskara tahu siapa pria tersebut.
“Oh, maksud kamu Banyu?” tanya Baskara. Tubuh jangkung itu memang terlihat familiar, ia langsung mengenali pria di sebelah Kanya ketika pria itu menampakkan samping wajahnya. Bas dan Banyu memang pernah satu sekolah saat SMP, bahkan mereka pernah dekat karena ikut eskul yang sama. Seingat Bas, Banyu yang ia kenal di SMP bukanlah orang yang bisa dekat dengan wanita, terutama karena sifatnya yang dingin pada hampir setiap orang, Baskara tidak menyangka akhirnya Banyu mendapatkan kekasih.
“ Itu Banyu? Yang pendiam itu?” tanya Renata. Ia menatap pria dengan rambut cepak di sebelah Kanya. Sekelebat ia ingat tentang Banyu, teman satu eskul Baskara sekaligus teman satu sekolahnya. Banyu yang ia ingat memanglah jangkung, namun ia ingat bahwa pria itu juga agak kesulitan berteman selama menengah pertama.
“Dunia sempit ya,” Baskara menatap Rena dengan alis tertarik ke atas. Kali ini Renata sudah merasa pasti bahwa Baskara sudah menentukan target selanjutnya, Kanya.
“Bas…” Rena menatap tak percaya, maniknya hampir terihat seperti memohon. Ia tak tahu kenapa khawatir, namun ada sesuatu tentang Kanya yang ia tak sukai. Bukan hanya soal Kanya yang sudah memiliki pasangan atau karena pasangan Kanya adalah orang Baskara kenal dan bisa saja menimbulkan konflik, masalah ketidak sukaannya lebih berusat pada firasat. Ia tidak bisa menjelaskan campuran dari, sebal, khawatir, marah, putus asa, dan lainnya yang ia rasakan ketika melihat punggung gadis tersebut. Ia tak ingin pria yang ia suka mengejar Kanya. Ya… pria yang sudah 10 tahun ia cintai.
Baskara, Baskara Adi Raharja.
Baskara mungkin tidak menyadari perasaan Renata dan mungkin hanya menganggap ungkapan sayang dan cinta Rena hanya main main saja, namun semua itu sungguh-sungguh. Genap 10 tahun sudah Renata menyukai Baskara, ia selalu mengikuti pria itu kemanapun pergi. Satu sekolah, satu universitas. Ia mengenal keluarga Raharja seperti keluarganya sendiri. ia tahu kebiasaan Baskara dari hal besar seperti ia tak suka pada namanya yang kelihatan seperti orang tua atau rasa aneh wortel yang menjijikkan, sampai hal terkecil seperti bagaimana mata Baskara seolah bicara ketika sudah menemukan ‘mangsa’ selanjutnya.
Rena tak pernah mempermasalahkan siapapun yang Baskara pacari, ia tahu Baskara tak pernah serius pada semua gadis-gadis tersebut. Ia tahu bahwa Baskara hanya main-main. Ia tak cemburu dan tidak merasa marah tiap Baskara menggandeng wanita yang berbeda beda tiap minggunya. Alasannya: 1, ia sudah terbiasa dan 2. Ia lah pelabuhan terakhir Baskara.
Baskara pernah menjanjikan bahwa pria akan berhenti bermain wanita suatu saat nanti dan pada akhirnya, ia akan kembali pada Renata. Tentu saja gadis itu mempercayai Baskara, ia tahu kapan Baskara serius dan kapan Baskara main-main. Mata Baskara yang serius dan senyumnya yang tulus saat itu membuat Renata terus menunggu hingga kini. Meskipun berkali-kali anak kolega ayahnya berusaha melamar atau teman kampusnya yang berusaha mengambil kesempatan untuk mendekat, Renata tak pernah menggubris mereka. Hatinya sudah milik Baskara, tidak bersisa untuk pria lainnya.
“Aku nggak yakin kamu bisa ndapetin dia. Kayaknya sih setia,” Renata berusa menutupi perasaannya. Setidak suka apapun ia dengan mangsa Baskara, ia tidak ingin terlihat seperti wanita gelap mata yang posesif.
“Bukannya malah lebih menantang kalau sudah punya pacar?” Baskara tersenyum pada Renata. “Aku kan udah biasa Ren.”
Kali ini Renata tak bisa menyembunyikan ekspresi gusarnya, ia tak tahu kenapa perasaannya sejelek ini. ia tahu Baskara berkali-kali merebut wanita yang sudah memiliki kekasih, namun ini lain. Selain kenyataan bahwa Banyu pernah menjadi teman Baskara, Renata baru kali ini –setelah sekian lama, merasa… cemburu?
Dengan layu Renata mengangguk. Bakso yang ia pesan sudah datang tanpa ia sadari. Bola-bola besar kecil tidak teratur itu memang tidak pernah menarik di mata Rena, namun ia selalu menyantapnya dengan semangat. Baru kali ini, ia merasa gamang menyuapi mulutnya dengan makanan tersebut. Meski begitu, ia tetap memaksakan. Dengan lemas ia menyendok bakso tersebut. Kalau bukan karena Baskara, ia tidak akan makan di kantin. Ia lebih memilih untuk makan di restaurant korea di depan kampus, atau kafe di sebelahnya. Tempat ini terlalu ramai dan kumuh untuk Renata, namun demi Baskara ia mengesampingkan hal tersebut. Dan karena Bas-nyalah, ia dengan semangat memamah makanan itu tiap harinya… tapi tidak hari ini.
Sekali lagi wanita itu menatap punggung Kanya lalu beralih menatap Baskara yang fokus memperhatikan gadis tersebut.
‘Tidak apa-apa Rena, Baskara hanya milikmu. Hanya milikmu.’