Franklin berjalan tergesa-gesa begitu memasuki salah satu gedung yang letaknya tepat di belakang gedung perpustakaan universitas tempat ia menuntut ilmu. Beberapa kali ia bertanya pada mahasiswa yang ia temui. Setelah dua puluh menit ia mencari sambil bertanya sana-sini, akhirnya ia berada di tempat yang ditunjukkan oleh salah satu mahasiswi yang merupakan teman sekelas Rebecca. "Ke mana dia?" gumam Franklin dengan napas terengah-engah karena harus menaiki anak tangga hingga ke lantai lima hanya untuk mencari kekasihnya. Sampai akhirnya secara samar ia mendengar suara mencurigakan. Franklin pun memejamkan mata untuk sekadar menajamkan pendengarannya sambil terus berjalan dengan langkah tanpa suara. Saat ia berhenti di depan toilet khusus wanita yang terletak di ujung kiri lantai lima ge

