Seorang pria tampan memasuki sebuah gedung rumah sakit swasta. Dengan kemeja merah marun yang lengannya ia gulung sampai siku. Sesekali pria itu membalas sapaan para pegawai rumah sakit dengan seulas senyuman ramah. Kaum hawa tentu saja terpukau dengan senyuman itu, akan tetapi mereka harus menerima kenyataan pahit bahwa sosok tampan itu telah memiliki calon istri. Langkahnya berhenti di sebuah ruangan yang pintunya terbuka lebar. Alih-alih langsung masuk, ia memilih duduk di depan ruangan itu tanpa memutuskan pandangannya dari sosok wanita yang sedang melayani satu per satu pasiennya yang didominasi oleh bayi dan anak-anak. Senyuman pria itu tak luntur sedikit pun, seolah ia sedang menatap sosok bidadari bermata bening. Setengah jam ia menunggu hingga tibalah wanita itu melayani pasien t

