Wanda Kegirangan

1464 Kata
pucuk di cinta ulamapun tiba begitulah kira-kira hal yang terjadi saat ini. Juan memberikan sebuket bunga Tulip kepada Wanda telah menitipkannya kepada Nabila Syekh selaku asisten pribadi Wanda. To:Juan [Terimakaaih kiriman bungannya aku sangat suka] To:Wanda [Tentunya tidak masalah,sayang. Bagaimana jika kita makan siang bersama hari ini?] To:Juan [Aku ada sedikit urusan dengan Client baru kami dia mengingingkan Batu bara cukup banyak untuk diimport keluar negeri mencapai 50 miliar. Mungkin sore ini bagaimana??] To:wanda [Tentu sajah tidak masalah. Kita makan sore bersama. Lagipula kau hebat dapat harga fantastis apakah calon istriku seorang wanita super??] To:Juan [Aku hanyalah wanita biasa Juan namun, untuk berbisnis aku mempunyai cara kerja sendiri?] To:Wanda [sepertinya aku tidak salah memilihmu menjadi istri, hahaha. Kau cekatan dan pintar, aku memujimu tulus sayang] To:Juan [Terimaksih pujiannya wahai pujangga wanita, aku harus menyelesaikan pekerjaanku??] Selepas ngengirim w* terakhir Wanda mengfokuskan diri pada pekerjaannya biar bagaimanapun proyek ini harus berjalan lancar. Wanda sangat bersemangat terlebih nominal dihasilkan membuatnya bisa segera melepaskan hutang-hutang ayahnya. Tiba-tiba Baskara menelepon Wanda. " Kakak, aku mulai curiga drngan Bi Jum seprtinya da yang tidak beres dengannya," ujar Baskara dengan nanda khawatir. "Apa yang kau cemaskan? Bukankah Bi Jum sangat baik hingga menanmpung kita di kediamannya bahkan kita seprti raja dan ratu disana? mengaoa kau curiga dengannya?"ujar Wanda dengan heran. "Menurutku akhir-akhir ini Bi Jum nampak sedih. Kelihatannya dia menemui seseorang kemarin. Pulang-pulang hampir menangis. Aku menanyakan hal itu Bi Jum tetap diam seolah dia menyembunyikan sesuatu," seloroh Baskara tak mau kalah karena sangat kepo dengan masalah Bi Jum. "Kau tahu,Bas. Terkadang kita tidak boleh mencampuri privasi orang lain jika dia tidak mau bercerita.Tunggu sampai dia mau bercerita lalu tanyakan,"ujar Wanda dengan penuh perhatian. "Baiklah,kakak.Sepertinya idemu sangatlah bagus,"seloroh Baskara berusaha menenangkan dirinya sendiri. Wanda meneruskan pekerjaannya, kemudian dia melirik kearah jam diruangannya sudah menunjukkan waktu makan siang. Wanda kemudian memesankan makanan untuk dirinya dan Nabila dan beberapa rekan kantornya. *************************************** Setelah menelepon kakaknya Baskara sibuk dengan beberapa tugas mata kuliahnya sedang daring. Baskara sedang melihat bebeapa file dokumen yang terdapat dalam aplikasi di handphonenya. Menuju ruangan membaca di sana dia melihat sesuatu yang aneh. Ada sebuah lukisan keluarga Bi Jum berada difoto itu dan ada 2 anaknya yang 1 perempuan berusia sekitar 4 tahun dan yang satu berusia 2tahun laki-laki. Baskara tidak menduga bahwa Bi Jum mempunyai anak perempuan dia tidak bertemu dengannya. Baskara semakin penasaran dengan masa lalu pembantunya sendari kecil itu dan mengapa sepertinya Bi Jum menyembunyikannya. Baskara kemaudian meletakkan Foto keluarga itu seperti semula. "Aden,sedang apa?"seloroh Bi Jum yang merasa agak janggal dengan tingkah Baskara. "Tidak,Aku tidak sengaja menjatuhkan sesuatu tadi,Bi."ujar Baskara berbohong dan cepat-cepat mengambil bolpein baru dia jatuhkan sebelum bi Jum melihatnya. "Owalah,Kirian aden.mencari apa ngomong-ngomong diurangan ini terdapat barang peninggalan Suami dan Anak saya namun lebih banyak buku anak laki-laki saya karena dia suka sekali membaca."Ujar Bibi Jum dengan tersenyum seraya menjelaskan ruangan Baca tersebut. "Owh, Bagaimana dengan Suami bibi, aku tidak pernah melihatnya?"ujar Baskara heran dan bingung. "Suami saya sudah lama meninggal,den. Makanya saya hanya tinggal berdua dengan Laki-laki saya itu."ujar Bibi Jum dengan tatapan sendu. "Maaf,bi. aku tidak bermaksud menyinggung masa lalu bibi."seloroh Baskara dengan tampang paniknya. "Tidak apa-apa,bibi sudah biasa. Lagipula memang benar Suami saya sudah meninggal,"ujar Bi Jum dengan sedih. "Kalau begitu saya minta maaf yah, Saya mau pergi sebentar yah,bi. membeli sesuatu disupermarket."ujar Baskara pamit kepasa Bi Jum. "Baiklah,den.Hati-hati dijalan,"ujar Bi Jum dan merapihkan ruangan membaca itu dengan tatapan pias. Bi Jum menangis tanpa sadar ketika menatap Lukisan Figura keluarga itu. Hatinya perih bagai ditusuk seribu jarum mengingat Aretha anak sulungnya itu mengangapnya tidak ada. Dia sangat membenci mantan suaminya karena ulahnya dia harus mengalami semua ini. Namun kini mantan suaminya sudah tiada apalagi dia harapkan. untuk.membalas semua sakit hati dan dendamnya. Baskara Kembali muncul setelah membeli es cream rasa cokelat yang ada disupermarket dan bermaksud makan berdua dengan Bi Jum. Tiba-tiba Baskara menemukan Bi Jum pingsan didepan kamarnya. Baskara kemudian menelepon kakanya untuk cepat pulang. "Kak, Bi Jum pingsan seprtinya dia mengalami hal berat sekali,"seloroh Baskara Khawatir dengan Bi Jum. "Akh,Kakak akan segera kesana kakak sedang ada sedikit urusan dengan Calon kakak ipar rese ini,"ujar Wanda dengan nada kesal karena Juan mengusap p*** Wanda secara terus-terusan. Lalu menutup telepon Baskara dan meletakkannya dimeja kerjanya. Baskara merasa heran mengapa kakalnya seprti orang yang sedang mendesah. Namun dia mengelengkan kepalanya sekali dan memngusap kepala Bi Jum dengan minyak.kayu putih agar cepat sadar. ******************* Di Ruang kerja Wanda sedang menatap kesal kepada Juan yang datang tiba-tiba tadi siang. Sehabis jam makan siang langsung menghampiri Wanda padahal akan bertemu disore hari. Wanda sedang merapihkan meja kerjanya tadi sehabis makan bersama Nabila,sekertarisnya makan sushi bersama memang menyenangkan. Juan membuat heboh karena memaksa masuk ruangan kerja Wanda saat Nabila dan Wanda sedang mengobrol. Juan tampak tersenyum senang bisa membuat heboh seisi kantor Calon istrinya itu. Bahkan Juan memesan Teh s**u kesukaan Wanda dan membawa setruk Teh s**u. Juan memang sangat memuja kekasihnya. "Kau mengapa bisa berada disini?"ujar Wanda terkaget dengan kelakuan Juan. "Owh ayolah sayang, aku hanya mengunjugi calon istriku,apakah aku salah?"seloroh Juan dengan tatapan senang. "Baiklah, aku tidak mempermasalahkan itu. Tapi kamu membawa setruk Teh s**u? itu hal yang paling gila yang pernah terjadi padaku,astaga untuk semua karyawanku?"seloroh Wanda antar kaget dan takjub dengan kelakuan calon suaminya menurutnya aneh bin ajaib. "Yah, tapi kau tidak gila, sayang. Kau segelanya bagaiku. Jangankan Teh s**u 1departemen store akan kubelikan untukmu,sayang,"Ujar Juan dengan nada bucinnya. "Owh yah? sungguh aku seperti cinderella menikahi pangeran miliyuner,"seloroh Wanda dengan tatapan kagum dan bertepuk tangan. "As you my princess in my heart, whatever you say." seloroh Juan dan memeluk Wanda tiba-tiba. Wanda merasa kaget dan malu atas kelakuan Juan ditonton semua orang termasuk Nabila,berusaha melepaskan diri. Juan masih sajah enggan melepaskan pelukannya,membuat Wanda sangat geram dan menginjak kaki kanan Juan. Juan mengaduh kesakitan saat kakinya di injak. "Sakit sayang,"seloroh Juan dan melepaskan pelukannya kepada Wanda. "Makanya lepaskan. Nabila kamu boleh keluar ruangan saya. Karena saya mau memberikan pelajaran pada sesorang terlebih dahulu,"ujar Wanda menatap Juan dengan sedikit kesal karena ulah bucinnya. Nabila hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan calon suami Wanda dan mendesah dan berdoa berharap bisa mendapatkan laki-laki seperti Juan. Nabila ingin mendapatkan laki-lakinya cintanya sama besar dengan dirinya jadi tidak ada timpang tindih. Sepeninggal Nabila Juan malah mendekatkan diri kepada Wanda. Wanda tidak siap pada akhirnya jatuh menimpa Juan. Tanpa aba-aba Bibir Wanda dan Juan bertemu,dengan sengaja Juan malah memperdalam Ciumannya membuat Wanda hampir terlarut. Wanda tidak sadar Juan mulai meremas d*d* Wanda membuatnya meremang dan tangan satu lagi mengankat sedikit rik Wanda mengusap p*** Wanda putih seputih kertas. Wanda tampak terkejut saat hpnya bergetar berusaha meraih hpnya berada dinakas. Wanda berhasil menggapai hpnya san mengangkat teleponnya. Tangan Juan sudah memasuki c**** dalamnya membuat Wanda sedikit mendesah karena ulahnya. Wanda yang tahu ulah Juan dia segera menutup panggilan Baskara setelah mengetahui apa ya g terjadi. "Sayang,akh...akh... lepaskan aku,"ujar Wanda marah karena celana dikenakannya nampak melorot dan membuat suara desahannha menjadi Juan sedang mengobok-ngobok area sensitivenya. "Akhh seleti itu sayang,mendesahlah terus. Kau sangat seksi sekali,"ujar Juan dengan semangat. "Ish, akh.... akh... gerus disitu tusuk lebih dalam juan enak sekali.... atau kau masukkan sajah batang beruratmu,"ujar Wanda dengan tatapan sayu. "akh... akh... itu ide bagus.... sebentar,"seloroh Juan dengan nafas memburu. "akh.. lebih cepat.... sayang....akh...."ujar Wanda senang. "Rasakan hentakanku sekali lagi karena sekarang batang berurat sudah keluar kita main 3x bagaimana?"Tawar Juan dengan senang. "Sebaiknya cepat aku akan ada rapat ,setelah rapat aku akan kembali kerumah mengurus Bi Jum"seloroh Wanda tidak sabar. "Baiklah..... Rasakan ini sayangnya aku ... akh...akh... terus,"kata Juan dengan b*******h terhadap Wanda. "Keluar bersama yah sayang .......akh....."seloroh Wanda sengan sedikit memejamkan matanya. Setelah itu Wanda dan Juan segera melepaskan diri dan membersihkan diri masing-masing. Wanda memiliki kamar rahasia biasa di gunakan untuk tidur. atau menggunakannya untuk sekedar menggangi pakian kerja,lagipula kamar rahasianya sangat efektif terbukti sekarang lebih berguna. "Jika kau hamil aku lebih senang lagi sayang,"ujar Juan dengan jujur dan memeluk Wanda penuh kegembiraan. "Kalau begitu kau sudah siapkan mentalmu menjadi ayah?"seloroh Wanda dengan kesal. "Tentu sajah sayang lahipula dia darah dagingku, apalagi kau melakukannya denganku terus-menurus lagipula memang sengaja tidak menggunakan k****,"seloroh Juan jujur dan membuat wajah Wanda memerah. Kemudian setelah percakapan kecil mereka Wanda menyuruh Juan pergi dia akan ada meeting. Client kali ini sangat sedikit merepotkan karena ada bebebrapa bagian yang harus direvisi sesuai dengan keinginan client membuat Wanda cukup menahan rasa kesalnya. Baskara sudah mengirimkan pedan bahwa Bi Jun sudah sadar saat dibawa kerumah sakit hanya perlu istirahat sajah. ********************************** Baskara sedikit lega karena Bi Jum sudah tersadar setelah dia membawa kerumah sakit Harapan berada tidak jauh dari rumahnya. "Bas,den terimakasih yah,"ujar Bi Jum sangat senang. "Sudah tidak usah dipikirkan,bi."seloroh Baskara dengan wajah tenang. "Den, maaf merepitkan yah. seharusnya bibi menjaga kesehatan bukan menyusahkan aden."ujar Bibi Jum dengan nanda khawatir. Kemudian Wanda yang setelah sibuk dengan pwkerjaannya menghampiri Bi Jum.Wanda memegang tangannya dengan khawatir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN