“Tidak, terima kasih. Kau bisa sarapan sendiri.” Jika saat ini Alice masih hidup dengan rasa malu yang menjadi salah satu sifat dominan manusia, harusnya pribadi itu cukup mengerti dengan jawaban formal yang Gara berikan padanya. Sebuah penolakan halus yang seakan mengejeknya, oh … mohon maaf, rayuanmu sama sekali tidak mempan, Nona. Namun, bukan Alice namanya kalau dia tidak bisa menahan pergerakan Gara lebih lama lagi dengan kembali berujar, “Ehm, kau yakin?” Jemari lentiknya bergerak menggoda, dengan sengaja menyelipkan helaian rambut cokelat terangnya di balik telinga. “Tapi ada baiknya kau ikut sarapan denganku, Ga. Bekerja tidak bisa disamakan dengan waktu sekolah, kau tidak bisa terus-terusan mempertahankan kebiasaanmu yang tidak pernah sara—“ “Oh … mungkin kau salah mengartikan

