~Bukan lautan s**u dalam kutang, kalau dipegang empuk tak bertulang, kata orang buat anak itu gampang, masuk kamar buka baju enjot-enjotan~
Sayup-sayup alunan nada dari suara baritone itu mulai terdengar menyapa rungu, bersamaan dengan derap langkah kaki seirama yang menghentak tanah. Dari kejauhan para lelaki bertelanjang d**a nampak berbaris rapi seraya terus melantunkan yel-yel penyemangat untuk latihan fisik yang tengah mereka jalani. Otot-otot tubuh terbentuk sempurna serta peluh yang mengkilat diterpa sinar matahari berhasil membangkitkan gairah seorang wanita muda yang sedari tadi tidak melepas pandang pada pria-pria anggota tentara tersebut.
Mata sang wanita sedikit menyipit guna menelisik lebih jauh, menantang pongah terik matahari yang menyengat di atas sana. Dengan santai berdiri di sudut lapangan seraya menumpu dagu pada pagar pembatas. Kepalanya sibuk ia gerakkan mengikuti irama yel-yel yang justru membuat ekspresinya terlihat lucu namun aneh secara bersamaan. Terlebih paduan antara kaca mata tebal dan juga poni berantakan seakan mendramatisir bagaimana kepolosan itu tercetak jelas membingkai wajahnya.
"Astaga! Bukankah mereka benar-benar sangat gagah." Setumpuk pujian tak henti-hentinya Aurel gaungkan. Mulutnya menganga lebar hampir meneteskan air liur, pertanda ia begitu terkagum dengan anggota tentara muda yang tengah berlatih. Bahkan tangan yang seharusnya digunakan untuk bekerja kini malah sibuk mencengkram pagar pembatas guna berusaha memanjat agar bisa melihat buntalan otot-otot kekar itu lebih dekat.
"Bisakah kau hentikan tingkah konyolmu itu! Sekali lagi kau melakukannya, ku lempar kau ke kandang buaya sekarang juga." Suara seorang pria berhasil menginterupsi Aurel dari tingkah konyolnya. Dengan perasaan kesal mata bulatnya menghunuskan tatapan tajam ke arah sumber suara di mana sang bos tengah menatapnya dengan smirk tajam yang menurut Aurel begitu menyebalkan.
Orang ini kenapa, sih?! Hobi sekali menghancurkan kebahagiaan orang!? Aurel menggerutu dalam hati sembari mengukir beberapa rangkaian kata makian yang sekiranya patut ia sematkan pada serpihan serbuk racun berbentuk manusia itu.
"Kenapa?" Si serbuk beracun kembali bersuara, terang-terangan menatap Aurel yang masih menunjukkan wajah masam. "Jika sudah bosan bekerja, bilang saja. Aku tidak keberatan untuk memecatmu sekarang juga."
Oh Tuhan! Andaikan membunuh seseorang bukanlah sebuah dosa, sudah pasti sang bos adalah orang pertama yang akan Aurel basmi dari muka bumi ini.
Aurel terdiam untuk beberapa saat, agaknya ia perlu menghirup nafas dalam-dalam untuk memenuhi rongga dadanya dengan udara segar sebelum kepalanya menggeleng pelan. "Tidak, Tuan," ujarnya dalam kepasrahan.
"Ya, sudah. Kalau memang tidak, cepat pegang payungnya yang benar. Atau kau mau aku benar-benar melempar—"
"Baik Tuan Gara, siap laksanakan." Aurel menyela bahkan ketika Gara belum sempat menyelesaikan ucapannya. Lantas mengambil ancang-ancang untuk meraih kembali payung warna pelangi yang tadi sempat ia abaikan. Sang surya nampak bersinar cukup terik tatkala Aurel masih harus menjalankan tugas untuk melindungi tubuh Gara dari sengatan sinar sadisnya. Berjalan mengekori sang bos menuju lokasi syuting yang memang berada di kawasan pangkalan militer.
Hari ini, tepat hari terakhir syuting ketika Gara yang merupakan seorang produser menyempatkan diri untuk memantau langsung ke lokasi. Sebuah proyek film bertema action romance tengah menjadi fokusnya belakangan ini, dan sudah menjadi kewajibannya agar memastikan tidak ada kesalahan apapun selama proses produksi.
Sebab besar harapan Gara jika film garapannya kali ini diharapkan bisa merajai seluruh box office tanah air. Maka dari itu, tidak heran jika si pemilik wajah tampan dengan alis tebal ini rela bermandikan keringat hanya untuk terjun langsung ke lokasi.
"Tuan, bisa pelan sedikit tidak?! Kau membuat kakiku hampir patah karena mengikuti langkah lebarmu." Aurel mengeluh disisa kekuatannya. Ia tersengal nyaris kehilangan nafas. Ini sungguh menguras seluruh tenaga sebab kaki pendek yang Aurel miliki tidak sebanding dengan kaki panjang milik Gara. Jelas ia kewalahan menyamai langkah pria itu.
"Cih, siapa kau berani mengaturku?" Bukannya prihatin dengan rona kepiting rebus yang tercetak jelas di pipi Aurel, Gara justru menganggap remeh dengan mendecih secara terang-terangan. "Perlu ku ingatkan jika aku adalah bosmu, Aurel. Jadi kau tidak berhak mengatur apapun tentang diriku. Apalagi tentang cara berjalanku."
"Ya, tapi ...."
Tidak ada kesempatan bagi Aurel untuk beradu argumen apalagi membuang segala lelah yang bersarang dalam raga, sebab tanpa perlu berpikir lebih lanjut Gara telah lebih dulu melangkahkan kakinya, menapak satu demi satu anak tangga yang menuntun tubuh tegapnya menuju sekumpulan kru film di kejauhan sana. Meninggalkan Aurel dengan segala sumpah serapah yang bertaburan di atas kepala.
Dasar bos kurang ajar! Bos kejam! Bos laknat! Si tengik gila!
Sungguh, demi para buaya yang tengah kelaparan, sejujurnya Aurel sedari tadi sangat ingin menikam punggung Gara dengan pisau belati, merobek kulit mulusnya lalu tertawa jahat ala-ala seorang psikopat dalam film. Persetan jika punggung tegap itu adalah sebuah mahakarya Tuhan yang begitu indah. Sungguh Aurel tidak peduli. Meski tidak menampik jika penampilan Gara hari ini nampak sangat tampan dengan balutan kemeja putih yang lengannya tergulung sampai ke siku. Semakin terlihat seksi ketika butiran keringat dengan tidak sopan menjelajahi rahang tegasnya.
"Rel, haus! Ambilkan aku minum."
Astaga, apalagi sih! Tidak bisakah sehari saja bos tengik itu tidak menyiksanya?
"Ya, sebentar!" sahut Aurel dengan nada yang sudah terdengar tidak bersahabat. Tergopoh-gopoh berjalan menyusul Gara masih dengan payung pelangi di tangan serta sebuah tas ransel besar yang menggantung di kedua pundak.
"Nih, airnya!" Dengan sangat tidak sopan Aurel begitu saja mengacungkan sebotol air tepat di depan wajah Gara. Mulutnya bergerak tipis seakan sedang menyumpahi sosok yang tengah menatapnya dengan pikiran yang sulit diartikan.
"Apa kau memang terbiasa bersikap tidak sopan seperti ini?" Gara membuang wajahnya ke samping. Menoleh ke arah para kru film di kejauhan yang nampak sudah menyadari kehadiran keduanya sebelum kembali berkata, "Tidak heran jika kau terlahir dengan wajah buruk rupa, itu pasti buah dari karma buruk di kehidupanmu sebelumnya yang suka bertingkah tidak sopan."
"Apa!" Untuk sesaat ingin rasanya Aurel memukul kepala Gara dengan botol air yang ada di tangannya. Sorot wajah lelahnya seketika berubah menjadi amarah tatkala mendengar ujaran kalimat yang baru saja pria itu katakan.
Apa-apaan dia! Apa coba hubungannya ketidaksopanan dengan terlahir kembali menjadi buruk rupa? Memangnya dia siapa? Apa dia pakar reinkarnasi yang tahu segala macam karma buruk seseorang di masa lalu?
Berusaha mengendalikan kobaran api di dalam perutnya, Aurel kembali harus menekan ego dengan spontan mengigit bibir bagian bawah guna bisa mengontrol mulut bocornya untuk tidak mengumpat lebih jauh. Akan tetapi respon tidak terduga justru terlontar begitu saja dari mulut Gara ketika pria itu dengan sadar berujar, "Jangan berpikir untuk menggodaku dengan menggigit bibir bawahmu seperti itu, sama sekali tidak terlihat seksi."
Ya Tuhan! Dosa apa yang telah Aurel perbuat di masa lalu? Kenapa ia harus bekerja dengan bos tengik dan menyebalkan seperti ini?!
"Kau sebenarnya seorang produser film atau tukang sales panci, sih?!" Ok, cukup sudah. Kesabaran yang telah Aurel bangun susah payah akhirnya runtuh juga. Seperti seluruh usus perut mulai membelit sisi kewarasannya. Bola mata yang terbingkai kaca mata itu menatap Gara sengit seolah sedang menantangnya untuk memulai sebuah perang besar. "Kenapa bicaramu banyak sekali dari tadi?"
Gara yang merasa tertantang jelas tidak mau kalah. Balas menatap Aurel dengan sebuah seringaian licik yang terpatri di wajah, berdiri tegap menawan dengan kedua tangan bersembunyi di balik saku celana. "Lalu kau sendiri bagaimana? Kau sebenarnya seorang asisten atau seorang perempuan penggoda?"
"Apa katamu?!" Aurel menggeram kesal. "Perempuan penggoda!? Siapa yang kau sebut dengan julukan seperti itu?! Siapa hah?!"
"Ya, kaulah! Memangnya siapa lagi? Bukannya bekerja, sedari tadi kau malah asyik tebar pesona dengan para tentara, dan tadi kau bahkan berani-beraninya mencoba untuk menggodaku! Sudah bosan hidup, ya!?”
“Astaga Tuan! Kapan aku pernah mencoba menggodamu?!” Aurel menggeleng tidak menyangka. “Jangankan menggodamu, berpikir untuk menyukaimu saja tidak pernah. Memangnya siapa kau?! Hanya seorang bos menyebalkan yang suka menyiksa karyawannya, sekali lagi ku garis bawahi me.nye.bal.kan! Paham!” Aurel meluapkan segala kekesalannya seakan ia lupa jika orang yang sedang ia omeli adalah bosnya sendiri.
“Eum, begitu?” ucap Gara teramat tenang. “Jadi kau benar-benar tidak pernah menyukaiku?” lanjutnya seraya perlahan mendekat berusaha mengikis jarak di antara keduanya. “Berarti yang dulu itu bagaimana? Bukankah dulu kau pernah bilang setengah mati menyukaiku?”
Aish! Kenapa dia harus membahas yang dulu-dulu, sih!
“I-itu, itu kan dulu. K-kalau sekarang—“ Aurel merasa terpojok, bukan hanya tentang ucapan Gara tapi juga tentang bagaimana pria itu berhasil membuat tubuhnya refleks mundur hingga tanpa sadar kakinya sudah berada di pinggiran anak tangga.
Hampir saja tubuh Aurel terjengkang ke belakang kalau saja Gara tidak dengan cepat meraih salah satu tangannya dan menolong Aurel hingga wanita itu tidak perlu menggelinding seperti botol air mineral yang telah lebih dulu mencapai ujung tangga di bawah sana.
Maka, seperti sebuah adegan slow motion dalam drama, Aurel mendadak merasakan jika waktu tiba-tiba saja bergerak dengan tempo lambat. Daun-daun yang berguguran serta rumput yang menari tertiup angin, mendadak semuanya berubah kaku, dan saat itulah Aurel dengan jelas merasakan bagaimana hangatnya tangan besar Gara tampak begitu gagah ketika membalut tangan mungilnya yang kala itu masih menggenggam gagang payung.
Untuk sesaat Aurel bisa membayangkan jika dirinya tengah berada dalam sebuah adegan romantis di mana sepasang kekasih tengah berada di antara rintik hujan dengan satu payung yang sama dan saling berpegangan tangan. Kalau dibayangkan mungkin saja bisa membuat ginjal Aurel meloncat-loncat kegirangan.
Akan tetapi semua itu hanyalah sebuah adegan drama dalam ilusi sesaatnya, sebab di saat Aurel kembali pada kenyataan, ia sadar jika tidak ada adegan seperti itu dalam dunia nyata. Tidak ada hujan hari ini dan tidak ada namanya saling berpegangan tangan secara romantis. Yang ada justru sapaan ‘krik krik’ suara jangkrik serta tatapan meremehkan dari pemilik bola mata legam dengan smirk tajam andalannya.
“Kalau sekarang bagaimana, Rel?” Aurel mengerjap dalam sisa khayalannya dan di saat ia telah sepenuhnya kembali, dirinya justru mendapati Gara dengan enteng melepas genggaman tangannya begitu saja dan membiarkan tubuh Aurel merosot jatuh. Seketika rasa sakit itu datang tepat saat bokongnya mendarat cantik pada salah satu anak tangga yang terbuat dari beton. Sialan!
Sirna sudah segala khayalan romantisnya, tergantikan oleh sebuah kekesalan akan bosnya yang menyebalkan itu. Menahan segala rasa sakit pada bagian belakang tubuhnya, Aurel dengan cepat berdiri dan tanpa pikir panjang melempar begitu saja payung pelangi yang tadi sempat menjadi properti dalam ilusi indahnya. Persetan jika payung itu kini tergulung oleh angin yang berhembus, sungguh Aurel tidak peduli. Yang ia inginkan saat ini hanyalah meluapkan seluruh emosi yang sudah ia pendam kurang lebih tiga tahun lamanya.
“Kalau sekarang sudah jelas tidak lagi! Memangnya orang waras mana yang mau menyukai seseorang yang telah membuatnya menderita!” Tatapan mata Aurel berubah sengit. “Setiap hari kau memaksaku bekerja keras bagai kuda, kau menyuruhku melakukan apapun yang kau perintahkan, belum lagi harus mengikutimu kemana-mana, kau pikir dengan segala siksaan yang kau berikan aku masih sudi untuk menyukaimu? Huh! Jangan harap, ya!”
“Lagipula, bekerja denganmu saja sudah membuatku muak! Kalau saja dulu kita tidak bertemu, kalau saja kau tidak membebaniku dengan hutang sebanyak itu, aku pasti tidak akan menderita seperti ini. Aku pasti sudah bahagia di luar sana. Itu semua terjadi gara-gara kau Sagara Kencana! GARA-GARA KAU!”
Aurel berteriak kencang, membuat semua orang yang berada di sekitarnya refleks menoleh ke arah mereka. Para kru yang melihat hanya menggeleng pelan, seolah pertengkaran keduanya merupakan hal yang wajar terjadi.
“Mereka bertengkar lagi?” Seorang sutradara bernama Raymon nampak bertanya pada salah satu kru yang berdiri di sampingnya.
“Ya, seperti biasa. Tom and Jerry,” jawab salah seorang kru yang langsung mendapat gelengan pelan dari sang penanya.
“Sebenarnya mereka itu partner kerja atau pasangan suami-istri, sih?” Raymon bergumam. “Tiada hari tanpa bertengkar, tidak heran jika suatu hari nanti aku bisa membuat film yang terinspirasi dari kisah mereka,” lanjutnya lantas kembali menyibukkan diri dengan segala pekerjaan. Mengabaikan dua orang yang masih saling berargumen tanpa ada salah satu yang mau mengalah.
“Oh, jadi sekarang kau menyalahkanku atas segala nasib yang menimpamu?” Gara akhirnya berujar setelah sedari tadi ia hanya diam mendengar Aurel berbicara panjang lebar.
“Ya! Tentu saja! Kau yang membuatku jadi seperti ini, kau yang menjebakku dengan hutang sialan itu!” balas Aurel tak mau kalah.
“Cih, wanita gila!” Gara mendengkus. “Sebelum memilih untuk menyalahkan orang lain, harusnya kau tanyakan dulu pada dirimu sendiri apa yang membuatmu bisa terjebak di sini bersamaku. Bukankah begitu, Aurelia Aurita?”
Mendengar penuturan Gara, sontak membuat Aurel terdiam membisu. Seakan ada sesuatu yang menariknya untuk kembali menoleh ke masa lalu, masa di mana semua kesialan ini bermula. Sementara Gara, pria itu hanya menikmati detik perubahan raut wajah yang ditunjukkan oleh Aurel sebelum kemudian dengan jailnya memiringkan wajah dan berbisik tepat di samping telinga sang wanita.
“Bagaimana? Sudah ingat? Atau kalau belum, apa perlu aku memukul kepalamu dulu agar kau kembali mengingatnya?”
TBC