2. Ubur-Ubur dan Lautan Emas

2188 Kata
“Bagaimana? Sudah ingat? Atau kalau belum, apa perlu aku memukul kepalamu dulu agar kau kembali mengingatnya?” Berbicara mengenai masa lalu, seberapa pentingkah kau menganggap masa yang telah terlewati patut untuk dikenang ataupun diabaikan? Bagi Aurel, menurutnya masa lalu bukanlah sesuatu yang patut ia sesali sebab dirinya selalu berprinsip jika masa lalu tidaklah lebih dari sekumpulan takdir kehidupan yang jalan ceritanya tidak dapat kita ubah. Layaknya sebuah penggalan lirik lagu dangdut yang sering Aurel dengar kala menaiki bus kota, seperti itulah sekiranya pemahaman Aurel tentang masa lalu yang ia terapkan selama dua puluh lima tahun kehidupannya. Namun kali ini, agaknya Aurel tengah melanggar prinsip yang ia buat sendiri sebab bukannya mengabaikan, ia justru makin tenggelam dalam sebuah kilasan memori lama yang tidak bisa diabaikan. Bagaikan sebuah mesin proyektor yang memutar film usang, bayangan kejadian itu seakan silih berganti hadir, berusaha untuk mengingatkan akan sebuah hukum sebab akibat yang menjadi penentu nasib sialnya di masa depan. Maka, dengan merangkai kata ‘pada suatu hari yang cerah’ Aurel dengan jelas bisa mengingat kejadian hari itu, hari di mana dirinya yang baru saja memulai peruntungan di ibu kota sebagai seorang driver ojek online. Masih segar di ingatan Aurel kala untuk pertama kalinya notifikasi keramat itu berbunyi nyaring. Sebuah orderan masuk yang mewajibkannya mengantar penumpang ke suatu tempat. Aurel mungkin sedikit bodoh sebab mengabaikan insting liarnya yang sejenak meragu saat melihat nama akun yang mengingatkannya pada seseorang. Dirinya terlampau senang dan tanpa berpikir lebih jauh, dengan semangat mengemudikan skuter matiknya menuju titik jemput. Berharap jika ini adalah awal yang baik untuk kelangsungan hidupnya di ibu kota. Namun siapa yang pernah menyangka jika setelah dirinya sampai di lokasi penjemputan, betapa terkejutnya Aurel ketika tahu kalau orang yang telah memesan jasanya adalah makhluk tampan nan rupawan yang bernama Sagara Kencana. Seorang produser film terkenal, pemilik rumah produksi—SK Production—yang juga merupakan cinta pertama Aurel ketika masih berada di bangku sekolah menengah atas. Astaga! Ini benar-benar di luar dugaan! Demi celana dalam Patrick yang dipinjam oleh Spongebob, Aurel tidak pernah menyangka jika dari tujuh milyar manusia penghuni bumi, kenapa takdir justru mempertemukannya dengan pria itu? Dalam hati Aurel berdoa, semoga saja Gara tidak mengenal dirinya. Ya, tentu saja tidak kenal. Memangnya Aurel siapa? Hanya seorang gadis cupu yang pernah nekat menyerahkan surat cintanya kepada Gara di depan banyak orang. Benar-benar kenangan yang memalukan! “Selamat pagi, kak. Benar atas nama Sagara Kencana?” Berusaha bersikap senormal mungkin, Aurel dengan ramah menyapa Gara yang tengah bersandar pada mobil sport mewahnya. Menduga jika mobil sport mewah itu pasti tengah mogok, kalau tidak mana mungkin orang kaya sekelas Gara mau memesan ojek online. Mendengar ada suara yang menyapa rungunya, Gara melirik sekilas pada sekitar hingga matanya menangkap siluet seorang wanita berjaket hijau tengah berdiri di hadapannya. Keheningan terjadi untuk beberapa saat. Sayup-sayup suara kendaraan yang lewat terdengar mengisi ketenangan keduanya. Bahkan siulan angin berhasil menyibak helaian rambut Gara sebelum tangannya bergerak untuk memasukkan ponsel mewahnya ke dalam saku celana. Gara mengangguk singkat sembari menerima helm yang diserahkan Aurel kepadanya. Tidak banyak bicara, Gara terlihat begitu saja duduk di jok penumpang dengan Aurel sebagai pengemudi yang duduk tepat di depannya. Aurel bersumpah, ia merasa sebuah remasan hebat terjadi pada organ jantungnya ketika Gara secara spontan meletakkan kedua tangan di pinggang kecil miliknya. Tidak sampai memeluk, hanya berpegangan seadanya namun berhasil membuat rona merah muncul di kedua pipi Aurel. Wanita itu hanya bisa berdoa semoga saja ia tidak mati hari ini hanya karena Gara yang memegang pinggangnya. “Agak cepat, ya. Saya sedang buru-buru.” “I-iya, iya kak.” Ingin rasanya Aurel mengubur dirinya hidup-hidup. Bisa-bisanya suara baritone dengan hembusan nafas beraroma mint itu secara lancang berhasil memabukkan logika berpikirnya. Tenangkan dirimu, Aurel. Maka, dengan mencoba untuk tidak kehilangan fokus, Aurel berusaha mengemudi sebaik mungkin agar dapat mengantarkan penumpang pertamanya selamat sampai tujuan. Beruntung jika jalanan hari itu cukup lengang, hingga Aurel bisa memacu skuter matiknya melaju lebih kencang sesuai permintaan Gara. Sekali-kali, di tengah perjalanan Aurel masih sempat-sempatnya curi pandang ke belakang guna melihat wajah Gara yang tetap terlihat tampan walau helm warna hijau itu berhasil menutupi rambut hitam klimisnya. Lirikan pertama aman dan Aurel seakan berteriak dalam hati sebab dapat mengagumi wajah tampan itu dari dekat. Lantas ia mencoba peruntungan pada lirikan kedua, ternyata juga aman. Makin bahagialah dia. Namun naas ketika lirikan ketiga, Aurel justru terkaget ketika mendapati Gara juga tengah melihat ke arah spion. Untuk beberapa detik tatapan tajam Gara nampak bersibobrok dengan netra cokelat milik Aurel sebelum secara gelagapan Aurel melempar pandangannya kembali ke arah jalan. Dalam hati ia merutuki tingkah bodohnya, namun setelah selang beberapa saat, ia justru kembali memberanikan diri melirik spion. Sekadar ingin memastikan jika Gara sudah tidak memerhatikannya lagi. Tapi lagi-lagi Aurel ketiban sial. Ternyata Gara masih mengunci tatapannya di sana, bahkan kini Aurel bisa melihat dengan jelas bagaimana pria itu menarik salah satu sudut bibirnya, membentuk sebuah seringan tajam yang seketika membuat Aurel bergidik ngeri. Ya Tuhan! Ku mohon selamatkanlah aku dari makhluk ciptaanmu yang menawan ini. “A-ada, ada apa kak? A-apa laju motornya kurang kencang?” Aurel berujar mencoba mencairkan suasana, akan tetapi Gara tetap diam hingga beberapa saat kemudian malah memajukan wajahnya dan membisikkan sesuatu yang membuat tubuh Aurel menegang seketika. “Aurelia Aurita, ini benar kau, bukan?” tanya Gara masih dengan seringaian mengerikan yang menghiasi wajahnya dan Aurel yakin jika laju motornya sedikit oleng akibat tangan yang mendadak lemas mendengar perkataan pria itu. Dia mengingatnya! Ya tuhan, dia mengingatnya! Pria itu bahkan mengingat nama lengkapnya. Astaga! Bagaimana ini? Aurel tercekat, ia tidak tahu harus menanggapi apa pertanyaan pria itu. Sedangkan Gara sendiri sepertinya tidak memerlukan jawaban apapun. Hanya dengan melihat reaksi tegang yang Aurel perlihatkan sudah cukup membuat ia yakin jika orang yang sedang memboncengnya ini adalah gadis cupu yang dulu pernah menyatakan cinta padanya. Gadis cupu yang dengan pongahnya menyerahkan surat di depan ratusan siswa yang kala itu tengah menonton pertandingan basket. Tadinya, saat Gara melihat nama Aurelia Aurita tertera pada aplikasi ojek onlinenya, ia mengira itu hanya sebuah kebetulan yang sama. Akan tetapi ketika melihatnya secara langsung, Gara akhirnya yakin jika nama Aurelia Aurita adalah nama seseorang yang pernah ia ketahui. Ya, tentu saja sama. Orang lain akan berpikir dua kali sebelum menggunakan nama itu sebagai nama anak mereka. “Aurelia Aurita, eumm ….” Gara kembali menyebut nama Aurel sebelum decihan singkat yang diiringi kekehan ringan meluncur tipis dari bibirnya. Merasa lucu sebab semesta sepertinya begitu iseng untuk mempertemukan mereka kembali “Bagaimana kabarmu, Rel?” tanya Gara pada akhirnya. “Lama tidak bertemu, tapi kenapa penampilanmu tetap saja aneh seperti dulu?” lanjutnya yang berhasil membuyarkan konsentrasi Aurel. Aurel nampak mulai menahan kesal, buku-buku jarinya mulai memutih akibat cengkraman kuat pada kedua stang motornya. Sedangkan Gara terlihat begitu menikmati perubahan raut wajah yang Aurel perlihatkan. Membuatnya seakan bersemangat untuk berujar lebih lanjut. “Setelah sekian lama ku pikir kau akan merubah penampilan jelekmu, tidak ku sangka ternyata kau masih mempertahankannya. Oh, bagaimana kabar poni bulu dombamu? Apa masih kau pelihara? Aku penasaran sudah sekusut apa rambut anehmu saat ini.” “Ma-maaf kak, kakak sedang bicara apa, ya? Saya tidak mengerti.” Kembali berusaha mengabaikan, Aurel berpura-pura tidak mengenal Gara, akan tetapi pria itu tentu menyadari kebohongan yang nyata ditunjukkan lewat raut wajah panik dari sang wanita. “Hei, berhentilah berpura-pura. Kau pikir aku tidak tahu jika kau sedang berbohong?” Aurel terdiam tidak bisa menjawab. Ingin rasanya melempar Gara ke luar angkasa agar ia tidak harus bersusah payah meladeni sang pria yang memesona ini. “Kata orang kalau bohong itu dosa, lho. Apa kau tidak takut jika nanti di—“ “STOP!” Aurel memekik membuat Gara spontan melipat bibirnya, menahan agar tawanya tidak memuncah. “Kenapa kau berisik sekali dari tadi! Memangnya kenapa kalau aku memang Aurelia Aurita!? Memangnya kenapa kalau penampilanku masih terlihat jelek!? Kenapa! Kenapa, hah!” “Apa kau berniat untuk mempermalukan aku lagi!? Apa kau berniat untuk menyiramku dengan air lagi!? Atau apa kau berniat untuk mengajakku berkencan lalu memutuskanku di depan umum lagi!?” Nafas Aurel nampak memburu dan tangannya semakin erat mencengkram kedua stang motornya. Sepertinya ia begitu tersinggung dengan ucapan Gara sehingga membuatnya berbicara panjang. Mengungkit kembali kenangan usang yang telah lama ia lupakan. “Astaga, Rel. Aku bahkan belum selesai bicara, tapi kenapa kau langsung marah-marah seperti itu. Kau membuatku merasa seperti seorang penjahat saja.” Memasang tampang sok tanpa dosa, Gara memegang d**a kirinya seolah ia begitu sakit hati dengan penghakiman Aurel. Aurel terdiam sesaat seraya menggigit bibir bawahnya. Sepertinya ia tengah menyumpahi mulut bocornya yang kalau sudah berbicara seperti kereta kuda yang kehilangan kendali. Mendadak ia merasa bersalah telah mengucapkan kalimat yang mungkin saja membuat Gara sakit hati karenanya. “I-itu—“ ucapnya tak bisa melanjutkan. Melihat Aurel yang kembali bungkam, membuat senyum tipis tercipta dari bibir manis Gara. Dengan spontan kembali merapatkan tubuhnya lantas menjatuhkan dagu pada pundak wanita itu sebelum berkata, “Padahal tadi aku ingin bilang, walaupun penampilan jelekmu tidak berubah, tapi ku akui ada satu hal yang telah berubah drastis dari dirimu, Rel. Kau mau tahu apa itu?” Aurel tetap bungkam. Namun alam bawah sadarnya seakan menuntun wanita itu untuk memiringkan kepalanya sebab dalam hati agaknya ia tengah menunggu lanjutan kalimat yang akan Gara ucapkan. Berharap jika ia bisa mendengar sedikit saja kalimat pujian dari mulut pria itu. Akan tetapi hal yang selanjutnya diucapkan Gara justru membuat ia ingin membunuh pria itu sekarang juga. “Kau tahu, Rel. Satu-satunya hal yang berubah darimu hanya bagian dadamu yang terlihat semakin besar. Kira-kira ukurannya berapa, ya? Rasanya cukup untuk ukuran tanganku yang besar.” Aurel tidak tahu kapan tangan Gara yang tadinya berada di pinggangnya, kini perlahan merayap ke depan menuju arah dadanya. Hal itu spontan membuatnya terkejut lantas secara kasar menepis tangan sang pria. “KAU!” Aurel berteriak marah, bahkan lupa jika saat ini dirinya tengah berada di atas sepeda motor yang melaju cukup kencang. Tanpa sadar melepas kedua tangannya dan berbalik ingin menghajar Gara yang justru terlihat panik karena motor yang mereka kendarai mulai oleng ke kanan dan ke kiri. “MOTORNYA BODOH!!” teriakan Gara sepertinya terlambat. Karena ketika Aurel sadar akan situasinya, suara besi berbenturan serta suara berisik ayam telah lebih dulu memenuhi indera pendengarannya. Kecelakaan pun tidak bisa terhindarkan tepat ketika kepala sepeda motor milik Aurel menabrak bagian belakang sebuah truk pengangkut ayam potong. Aurel dengan jelas bisa merasakan bagaimana tubuhnya terlempar ke sisi jalan hingga berakhir dirinya yang masuk selokan penuh lumpur kotor. Sementara Gara, pria itu bahkan memiliki nasib lebih naas sebab kepalanya tersangkut pada sela-sela kandang ayam. Ia bersumpah kala itu melihat jelas bagaimana lubang p****t ayam nampak mengembang dan mengempis begitu cepat. Ayam-ayam itu pasti kaget juga. Akibat kejadian naas itu, Gara mengalami kerugian yang cukup besar. Selain rugi karena wajah tampannya yang lecet di beberapa bagian, ia juga merugi karena harus kehilangan kontrak dengan sponsor akibat dirinya yang terlambat datang dalam cara meeting yang awalnya ingin ia hadiri. Berbekal segala perhitungan dan kalkulasinya, Gara dengan tega melempar semua tanggung jawab pada Aurel dan meminta wanita itu untuk melunasi segala kerugian yang diakibatkan oleh kecelakaan tersebut. Maka, dengan segala kemalangan yang Aurel miliki, mau tidak mau akhirnya secara pasrah ia menyetujui kesepakatan tersebut. Bertahun-tahun menjadi b***k setia seorang Gara Kencana. Terkurung dalam kuasa pria itu dan mungkin saja akan berlanjut sampai maut datang menjemputnya. “Bagaimana, Aurel? Sudah ingat?” Semilir angin tengah bersiul lembut tepat ketika Gara kembali melontarkan kalimat tanya pada Aurel yang sedari tadi diam mematung. Sejenak wanita itu tampak termenung sebelum kemudian kedua matanya mengerjap. Sepertinya ia tengah berusaha kembali dari kilasan kenangan masa lalu yang baru saja melintas di pikirannya. Aurel mengangguk pelan, lalu dengan lesu ia berkata, “Maafkan aku, Tuan.” Gara mengangguk. “Ya, dan lain kali tolong ingat batasanmu. Jangan sampai aku marah dan berujung melaporkanmu ke kantor polisi. Mengerti!” Gara menepuk pelan pundak Aurel lantas bergegas menjauhi Aurel yang masih diam tak bergeming, berjalan menuju sekumpulan kru yang sudah membungkuk hormat kepadanya. Untuk sesaat Aurel bisa merasakan ketentraman dalam batinnya sampai sebuah teriakan berhasil mengacaukan segalanya. “Hei, ubur-ubur! Apa kau masih tetap mau berdiri di situ sampai malaikat pencabut nyawa datang menjemputmu!? Ayo cepat kemari dan bekerjalah dengan giat agar hutangmu cepat lunas.” Ya Tuhan! Baru saja Aurel berbisik pada hatinya supaya mau berdamai dengan Gara, tapi bos laknat itu justru kembali membuatnya kesal. Oh, dan apa katanya tadi? Ubur-ubur! Sialan! Berani-beraninya dia mengejeknya seperti itu! Untuk kali ini ingin rasanya Aurel mengutuk kedua orang tuanya yang telah meninggal dunia. Sebab dari sekian juta nama yang ada di muka bumi ini, kenapa mereka harus memberinya nama Aurelia Aurita—nama ilmiah dari ubur-ubur bulan. Tidakkah orang tuanya sadar jika arti nama itu buruk sekali? Ubur-ubur, astaga! Apalagi jika disandingkan dengan nama bosnya Sagara Kencana yang berarti lautan emas, sudah jelas nama Aurel akan berada dalam kasta terendah arti nama paling buruk sejagat raya. Dan lagi, kenapa dirinya harus terjebak dalam kuasa pria itu?! Apakah ini yang namanya takdir? Apakah si ubur-ubur yang malang memang ditakdirkan untuk berada dalam kuasa si lautan emas? Entahlah! Hanya semesta yang tahu bagaimana Tuhan bekerja menggariskan takdir setiap umatnya. TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN