3. Suara Di Balik Pintu

1399 Kata
“Dasar buaya rawa! Kuda nil m***m! Babi air!” Dengan perasaan dongkol Aurel mengumpat sejadinya. Mengutuk suara dengungan mesin penyedot debu yang sama sekali tidak membantu menyelamatkan indra pendengarannya dari suara-suara aneh di balik pintu kamar itu. “Mentang-mentang dia yang punya rumah, apakah etis mengeluarkan suara desahan sekeras itu di saat ada seorang yang tengah bekerja membersihkan debu-debu kotor yang berterbangan?” Lagi-lagi Aurel menggerutu seorang diri. Kembali ingin menyalahkan takdir yang bergulir begitu kejam. Hah! Andai saja seluruh warga kota mau membuang sampah pada tempatnya, pasti tidak akan pernah ada banjir yang menerjang rumah kontrakannya setinggi tiga meter. Juga, tentu saja tidak akan ada tatapan mengejek Gara yang datang menjemputnya bersama beberapa tim sar kala itu. “Ubur-ubur harusnya bisa berenang, kan? Jadi untuk apa duduk di atas genteng seperti itu? Kau mau berubah menjadi titisan monyet?” Begitulah kira-kira kalimat satir yang terlontar dari mulut pedas sang pria kala itu. Mengejek Aurel kelewat sadis meski pada akhirnya entah dengan berat hati atau apa, Aurel yang telah kehilangan tempat tinggal diberikan sebuah kehormatan untuk menempati salah satu kamar kosong yang ada di luasan apartement mewah milik Gara. Katanya sih supaya Aurel tidak lagi bisa memakai banjir sebagai alasan tidak masuk kerja. Yang tentu saja Aurel yakini jika itu pasti hanya akal-akalannya Gara untuk menjeratnya semakin kuat Pria itu jelas memanfaatkan ketidakberdayaan Aurel dengan menjadikan sang wanita sebagai pelayan pribadi di rumahnya. Ya, meskipun ia akui jika selain bersih-bersih dan juga memasak, Gara hampir tidak pernah meminta Aurel melakukan hal lainnya. Kecuali menemaninya bekerja sampai larut malam dan juga mendengar desahan-desahan erotisnya bersama banyak wanita. Seperti yang tengah Aurel lakukan hari ini. Dasar! Terkutuklah wahai kau tuan lautan emas yang sudah karatan! Tega-teganya ia meminta Aurel untuk bekerja di saat dirinya tengah sibuk meniduri teman kencannya. Kalau memang ingin membuat suara aneh seperti itu, bukankah ada baiknya jika Gara mengusir Aurel saja? Atau paling tidak lakukanlah dengan suara yang sedikit pelan, bukan malah membuat suara seperti tiupan terompet sangka kala yang siap menghancurkan seluruh alam semesta. Tapi hal seperti itu jelas tidak akan pernah terjadi jika bersama dengan Sagara Kencana. Pria itu akan lebih senang menyiksa telinga Aurel dengan desahan-desahan menjijikan dari balik pintu. Terdengar cukup gila bukan? Ya, tentu saja gila. Apakah ada orang lain yang mau aktivitas vulgarnya didengar oleh orang lain? Aurel rasa tidak ada. Orang-orang akan memilih untuk menjauh jika itu sudah menyangkut ranah privasi. Tapi sepertinya itu tidak akan berlaku untuk pria otak kotor sekelas Gara. Sang produser film dengan tingkat kepercayaan diri yang melebihi tinggi menara Burj Khalifa. “Ayo Aurel, semangat! Kau pasti bisa melewati cobaan dari dunia yang kejam ini!” ujarnya sembari mengepalkan tangan ke udara. Berusaha menyemangati diri sendiri. Berkali-kali Aurel menarik nafas dalam-dalam. Mencoba untuk meredam gejolak kekesalannya yang hampir mencapai titik didih. Sekilas kedua mata bulatnya memeta setiap sudut luasan apartemen mewah dengan akses lift pribadi itu. Masih ada beberapa ruangan yang harus ia bersihkan, termasuk satu kamar yang Gara khususkan untuk aktivitas membuang benih unggulnya bersama si Tania. Eh! Mania? Atau Sonia? Ah, entahlah! Yang jelas Aurel tidak mau ambil pusing siapa wanita yang tengah bersama sang bos di dalam sana. Ia lebih baik fokus pada segala pekerjaannya daripada mengurusi hal-hal tidak penting seperti itu. Maka, dengan semangat kemerdekaan yang membumbung tinggi, Aurel kembali menggerakkan alat penyedot debu itu. Meluncur ke sana kemari dengan tanpa memedulikan keributan di sekitarnya. Akan tetapi belum ada sepuluh menit berlalu, Aurel dengan kasar kembali membanting alat kebersihannya, sebab merasa jika dirinya sudah tidak tahan lagi. Oke! Cukup sudah! “Hei, bisakah kalian pelankan sedikit suara menjijikan itu?! Ingatlah di sini masih ada seorang perawan yang merasa begitu terganggu mendengarnya!” Setelah menimang dengan cukup yakin, Aurel berteriak keras guna mengeluarkan segala isi kepalanya. Persetan dengan tanggapan dua sejoli itu, sungguh Aurel tidak peduli. Yang lebih penting sekarang adalah bagaimana menyelamatkan telinganya dari desahan-desahan sialan itu. Hening! Sepertinya ucapan Aurel membuat kegiatan mereka terhenti. Mendadak suasana berubah menjadi sunyi senyap. Bahkan decakan suara jarum jam yang menempel di dinding terdengar begitu jelas. Sebelum kemudian disusul dengan suara cekikikan dari dalam sana. Suara tertawa yang sengaja ditahan. Sialan! Dasar pasangan gila! Bisa-bisanya mereka menertawakanku! Aurel yakin seratus persen pasti saat ini mereka berdua tengah menertawakannya. Tapi tidak apalah.Toh setidaknya ia merasa lega sebab suara-suara aneh itu tidak akan menghancurkan gendang telinganya lebih parah lagi. Maka dengan begitu dirinya akan bisa bekerja tanpa adanya gangguan, bukan? *** Satu jam berlalu, Aurel tengah duduk santai di ruang tengah tatkala ia merasa pintu kamar itu perlahan terbuka. Menampilkan Gara dengan sesosok wanita yang ternyata adalah si Marina. Bukan si Tania, Mania ataupun Sonia. Entah sudah berapa banyak wanita yang pernah bosnya bawa ke kamar itu, Aurel bahkan sampai lupa beberapa nama dari mereka. “Hai, Aurel si wanita paling tidak modis di dunia, bagaimana pendapatmu tentang desahanku tadi? Apa sudah cukup bisa membuatmu terangsang?” tanya Marina seraya menyampirkan tas mewahnya ke atas pundak. “Kasihan sekali karena kau harus mendengarkannya seorang diri. Lain kali ajaklah seorang pria agar kau bisa ikut mendesah juga.” Marina tertawa puas. Melihat bagaimana Aurel berusaha untuk mengacuhkannya dengan tetap fokus menonton siaran televisi. “Oh sayang, lihatlah bagaimana kelakuan dari asisten serbagunamu itu? Ia bahkan sudah bisa merajuk sekarang. Lebih baik aku segera pergi daripada harus melihat wajah kusutnya yang aneh itu.” Gara hanya mengangkat sudut bibirnya kala mendengar ucapan Marina sembari sedikit melirik Aurel yang terlihat tetap menjatuhkan pandangan ke arah layar persegi panjang itu. “Bye, Honey.” Marina mengecup sudut bibir Gara sebelum kakinya melenggang pergi meninggalkan ke duanya di sana. “Rel, aku lapar. Tolong buatkan aku satu porsi nasi goreng.” Gara duduk di samping Aurel, menatap sang wanita yang terang-terangan menghembuskan nafas kesalnya. “Wow, ku pikir b******a dengan suara menjijikan itu sudah bisa membuat perutmu kenyang. Ternyata masih lapar juga,” sindir Aurel. Alis Gara mengkerut kala mendengar ucapan Aurel yang kelewat ketus. “Kau kenapa?” tanyanya merasa heran. “Kalau cemburu, bilang saja.” “Apa! Cemburu katamu?” Kali ini Aurel yang tidak terima dengan penghakiman sepihak dari Gara. “Enak saja, mana mungkin aku cemburu dengan hal seperti itu.” “Yakin tidak cemburu?” Tatapan mata Gara menyipit, seakan tengah menelisik jejak kebohongan di wajah Aurel. Aurel berdecak kesal. “Sudah ku bilang tidak, Tuan. Aku sama sekali tidak cemburu.” Mata bulat dengan kaca mata tebal itu mengerjap lucu. “Sungguh?” “Sungguh!” Aurel memasang tanda V pada tangannya. Wajah polos tanpa dosa itu terlihat sekuat tenaga meyakinkan Gara akan ucapannya. Yang mana justru membuat sang pria tertawa puas. “Kenapa kau tertawa?” tanya Aurel penuh selidik. “Tidak, aku tidak tertawa. Memangnya kapan aku tertawa?” Gara mengelak. Kembali memasang tampang datar seperti biasa. “Tadi jelas-jelas aku melihatmu tertawa, kenapa masih tidak mau mengaku juga?” “Oh, ya?” Gara melihat bibirnya ke dalam, berusaha untuk tidak menyemburkan tawanya keluar. Ia masih ingin melihat ekspresi lugu bin polos yang menjadi ciri khas dari asistennya itu. “Memangnya tadi bagaimana aku tertawa? Bisa kau contohkan?” Aurel yang pada dasarnya adalah wanita polos dengan tingkat i***t akut, dengan sukarelanya dia mau memperagakan bagaimana cara Gara tertawa. Caranya melengkungkan senyum dan caranya melebarkan kedua kelopak matanya, membuat ia terlihat seperti boneka Annabelle dalam film The Conjuring. Hal itu sontak membuat tawa Gara kembali meledak. “Hahaha!” Gara tertawa sembari memegang perutnya. Tidak kuat melihat wajah Aurel yang menyerupai meme lucu yang bertebaran di media sosial. Andai saja tadi Gara sempat mengabadikannya, sudah pasti ia akan menjadikannya sebuah GIF dan mengunggahnya ke dalam group chat. “Nah, itu sekarang kau tertawa. Berarti tadi aku benar, kan? Hahaha!” Aurel yang tidak menyadari dirinya ditertawakan malah ikut-ikutan tertawa. “Astaga, Rel.” Gara mengusap air yang menggenang di sudut matanya. “Kau ini benar-benar, ya!” Lantas dengan gemas mengacak puncak kepala Aurel. Sungguh ia benar-benar tidak habis pikir, kenapa ada orang sepolos dan sebodoh wanita itu. Kenapa coba dia malah ikut-ikutan tertawa? “Sudah, ah! Cepat sana buatkan aku nasi goreng. Jangan lupa dengan jus jeruk dan juga salad buahnya. Aku tunggu kau di ruangan home theater.” Tanpa menunggu jawaban Aurel, Gara bangkit berdiri dan berjalan menuju ruangan home theater yang tersedia di dalam apartement mewah itu. Meninggalkan Aurel yang masih termangu dengan mulut yang mulai mengomel tidak jelas. “Dasar tukang perintah!” TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN