“Masih ada waktu satu jam sebelum aku berangkat ke kantor. Apa itu cukup untuk menjelaskan semuanya?” Cuitan burung yang kebetulan hinggap di pagar balkon seolah menjadi saksi bagaimana romantisme sarapan hangat di atas ranjang itu perlahan berubah menjadi sedikit menegangkan. Kunyahan di dalam rongga mulut Aurel melambat untuk beberapa saat, seiring dengan susah payahnya sang wanita menelan roti panggang selai kacang yang Gara buatkan untuk menu sarapan mereka hari ini. “A-apa, harus sekarang, Tuan?” Mata Aurel melirik takut-takut, antara belum siap untuk bercerita atau memang berniat untuk mendistorsi hal tersebut dari pikiran Gara. “B-bagaimana kalau nanti malam saja?” “Seingatku, sudah lebih dari empat malam terlewati sejak aku menemukanmu dalam keadaan kacau yang mana membuatmu har

