“Tenang, Aurel! Tenang! Ayo, tenangkan dirimu!” Sambil berjalan terhuyung, Aurel terus-terusan menepuk kedua pipinya yang terasa panas. Berusaha menyadarkan diri untuk tidak terlalu larut dalam suasana canggung yang sempat ia ciptakan tadi. “Oh, ayolah! Dia hanya mengatakan hal yang seharusnya dia katakan, lalu kenapa kau bertingkah memalukan seperti ini?! Bukankah tadi kau yang lebih dulu memancingnya?” Sesekali pandangan Aurel menoleh ke belakang, menatap Gara yang terlihat tetap berdiri di depan pusara makam ibunya. Agaknya Gara mengerti akan tingkah malu-malu Aurel, sehingga pria itu memilih untuk tidak mengejar sang wanita dan tetap melanjutkan obrolan satu arahnya dengan sang ibu. “Hah! Syukurlah dia tidak mengikutiku!” Aurel menghembuskan nafas lega. Beruntung sebab Gara seper

