Di tengah ritme kehidupan yang telah Gara jalani selama ini, pagi merupakan salah satu bagian terfavorit di dalam kepingan semesta kehidupannya. Sebab, selain karena terpukau oleh kilau dirusan cahaya yang membias memenuhi cakrawala, inspirasi adalah alasan utama Gara menyukai waktu pagi. Dengan ditemani secangkir kopi panas tanpa gula, biasanya catatan kecil yang selalu setia bertengger di tangan Gara sudah penuh berisi rangkaian ide-ide cermelang untuk ia realisasikan di atas meja kerja. Memberinya setitik asa hingga terhenti ketika Aurel selesai menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Namun teruntuk pagi ini, agaknya Gara tanpa sadar telah melewati waktu emas itu. Nyaris terjaga hingga waktu fajar menjelang, membuat Gara pada akhirnya menyerah ketika jarum jam perlahan mulai menapaki

