Sebenarnya Jeza cukup suka beberapa olahraga seperti bola kaki, basket, voli, bahkan figure skating. Ia bahkan mengidolakan beberapa atlet dari keempat olahraga tersebut. Ia tahu di sekolahnya ada klub voli, basket. Tapi, ia tidak pernah sekalipun datang karena tidak ada teman. Ya, duduk sendirian menonton tidak enak, bukan? Mau mengajak Jeriko, sayangnya Jeriko tidak minat dengan ekstrakulikuler apapun yang ada di sekolah.
Dan mengetahui jika Jerome yang-katanya-tidak-berprestasi itu ternyata salah satu pemain basket dan memegang posisi setter, membuat Jeza tercengang, dan juga kagum tentunya. Main di posisi setter itu tidak mudah. Menurut Jeza, hanya orang-orang terpilih yang bisa berada di posisi itu.
"Jadi gimana?"
Jeza lagi-lagi melamun dan baru sadar ketika Jerome bertanya padanya.
"Eh yang mana tadi?" tanyanya tersenyum tidak enak.
"Di sini." Jerome menunjuk ke sembarang arah. Karena tujuan sebenarnya ia datang kesana bukan karena benar-benar ingin belajar, melainkan lebih dekat dengan Jerome.
Bukan menyepelekan, tapi Jerome punya alasan tersendiri untuk tidak pintar.
"Okey. Jadi poin pentingnya. Lo harus paham persamaan dasarnya. Coba deh hapalin di rumah. Yang mana masuk aktiva, mana yang passiva. Mana yang masuk debit, mana yang masuk kredit." Jeza menjelaskan dengan singkat. "Gimana? Paham?"
Jerome menggeleng. "Belum."
Jeza tersenyum. Mungkin ini akan sedikit sulit baginya. "Coba kerjain aja dulu tugasnya. Kalau lo nggak tau, lo bisa tanya gue."
"Tapi gue belum ngerti, gimana mau kerjain?"
Jeza melipat bibirnya. "Gue emang payah buat ngajarin, Jer. Makanya kan gue nolak jadi mentor. Kenapa lo nggak ke Disa aja tadi? Ke gue yaa gini lah jadinya."
Jerome terdiam melihat Jeza yang frustrasi. Padahal Jerome baru bilang enggak paham sekali, bagaimana jika berkali-kali? Mungkin Jeza akan emosi padanya. Tapi selain itu, baru kali ini rasanya Jerome melihat sisi Jeza yang ini. Biasanya ia tenang dan terlihat sanggup melakukan apapun.
Jeza mendesah. "Yauda lo kerjain aja. Nanti kalau nggak paham, gue ajarin lagi. Intinya lo ikutin aja rulesnya gimana. Pasti bisa." Jeza meyakinkannya. "Gue tau lo pasti bisa, Jer. Lo nggak bisa cuma karena malas. Kalau lo rajin, pasti lo bisa semuanya. Dan setelahnya, nggak ada lagi orang yang bakal ngeremehin lo."
Jerome menatap Jeza lekat. Senyum kecilnya terbit. "Gue nggak peduli sama orang-orang yang ngeremehin gue." Jerome menunduk. "Gue cuma peduli sama orang yang gue sayang."
Jeza mengernyit, merasa tidak paham dengan apa yang diucapkan Jerome. Apa hubungan antara dua kalimat itu?
"Bukannya kalau lo peduli sama orang yang lo sayang, lo jadi harus rajin belajar? Orang-orang kan ngeremehin karena lo dianggap nggak pintar."
"Bukan itu." Jerome menghela nafas. "Udah nggak usah dibahas. Gue mau ngerjain tugas nih."
"Oh yauda."
Jeza bangkit berdiri, melangkah ke arah rak bukunya, entah mencari apa. Sedangkan Jerome, ia tersenyum senang karena sekarang ia sudah merasa lebih dekat dengan Jeza. Bahkan Jeza sudah berbicara dengan santai dengannya, tidak seperti kali pertama mereka bertemu, Jeza sangat dingin padanya.
"Gue cowok pertama yang datang ke kamar lo?" Entah kenapa, Jerome penasaran dengan hal itu.
"Enggak." Dan senyumnya lenyap seketika. "Lo yang kedua."
"Siapa yang pertama?" Jerome berbalik dan menatap punggung Jeza intens.
"Jeriko."
Diam-diam Jerome mendengus. Ia kalah selangkah dengan cowok itu.
"Lo temenan sama dia?"
Jeza berbalik dan menatap Jerome dengan kernyitan samar di dahinya. "Iya, temenan. Kenapa memangnya?"
Jerome mengangkat kedua alisnya dan mengedikkan bahunya. "Nggak papa." Tapi didalam hatinya ia senang. Tatapan Jeza juga mengartikan tidak apa-apa antara dirinya dan Jeriko.
"Em btw." Jeza kembali duduk di sisi Jerome. "Gue ...." Jeza menjeda ucapannya dan menarik nafas panjang. "Sori buat yang tadi sore. Gue ... nggak maksud marah-marah ke lo. Gue keselnya ke orang sebelum lo, balapan kan ada jalannya sendiri, lagian mereka balapannya ilegal, itu kan ngelanggar aturan."
Jerome menatap Jeza intens. Sangat intens. Membuat Jeza tidak berani menatapnya, sebisa mungkin melempar tatapannya ke arah lain.
"Yah." Jerome memutuskan tatapannya. "Memang ngelanggar aturan. Dan gue secara nggak langsung ngelanggar aturan juga."
Jeza dengan cepat menoleh pada Jerome. "Bukan itu maksud gue." Dia takut Jerome tersinggung karena ucapannya. Astaga, Jeza tidak bisa membuat kesalahan kedua kalinya.
"Kalo gue tanya ke lo." Jerome kembali memandang Jeza, dan kali ini Jeza merasa lehernya kaku untuk menghindari tatapan itu. "Gue lebih baik tetep kayak tadi, ngejer pembalap, atau gue stop?"
"Yang malam-malam itu lo, yang motor lo di bawa, itu ada hubungannya sama ini, ya?" tanya Jeza dan Jerome mengangguk membenarkan. "Kalau gitu mending lo stop. Tapi ya itu tergantung lo juga sih, kalo lo--"
"Gue berhenti kalo gitu." Jerome memotong ucapannya, ia tersenyum. "Gue bakal berhenti sesuai yang lo bilang."
Jeza ternganga. "Ta-tapi kan lo cuma minta saran. Bukan berarti lo ikutin saran gue, kan?"
"Gue ikutin." Jerome menjawab tak acuh dan mengangkat buku tugasnya, mulai mengerjakan tugasnya.
Sementara itu, kepala Jeza masih terasa me-loading karena ucapan enteng Jerome. Semudah itu ia mengiyakan? Seandainya ia bilang tidak, apa Jerome juga tidak berhenti?
Jeza menggelengkan kepalanya, ia juga mengambil buku tugasnya dan mulai mengerjakan. Ia duduk bersandar pada ranjang. Sedangkan Jerome berbaring telungkup. Tugas kali ini masih tergolong mudah, jadi mungkin hanya butuh beberapa menit untuk Jeza menyelesaikannya.
Namun, lima menit kemudian, saat Jeza masih berada di nomor lima. Jerome sudah bangkit duduk dan berkata ia sudah selesai.
"Coba gue liat."
Jerome meletakkan bukunya diatas tangan Jeza yang menengadah. "Nih. Coba cek."
Jeza melirik Jerome lalu bukunya. Jerome tidak ada bertanya padanya selama mengerjakan, padahal tadi cowok itu berkata ia belum paham. Keterkejutan Jeza bertambah ketika semua jawaban Jerome benar. Di nomor tiga, jawaban Jeza dan Jerome berbeda. Untuk memastikan siapa yang benar, Jeza membuka buku pelajarannya dan ternyata Jerome yang benar, ia salah!
Jeza melirik Jerome yang mengecek ponselnya. Pandangan Jeza turun ke buku pelajaran milik Jerome yang tertutup. Jerome melakukannya di luar kepala? Jeza meragukan kata 'belum' yang Jerome ucapkan tadi.
"Gimana? Bener?" Jerome bertanya.
Jeza mengernyit. "Lo sama sekali nggak nyontek, kan?"
"Kenapa harus nyontek? Lo dari tadi liat gue nggak ada buka hp, kan?"
"Kayaknya yang dibilang Pak Eko bener, deh. Lo sebenernya pinter. Iya, kan?" Jeza mengembalikan buku Jerome. "Kenapa harus pura-pura nggak pinter, Jer?"
Jerome tersenyum simpul. Ia membuka mulutnya, hendak memberitahu Jeza tentang sesuatu yang ia sembunyikan. Tetapi, ia sadar kalau dirinya dengan Jeza belum sedekat itu. Ada baiknya ia menunda hal ini.
"Baru gitu udah lo bilang pinter. Enggaklah." Jerome tadinya sudah kepikiran ia akan membuka rahasianya pada Jeza. Namun, pikirannya berubah dan memutuskan untuk tidak membeberkan pada Jeza dulu.
"Tapi tadi lo bilang lo belum paham. Tapi pas ngerjain, lo cepet banget dan bener semua."
"Kebetulan aja." Jerome tersenyum manis dengan mata yang melirik penuh makna.
Jeza berdeham dan mengalihkan pandangannya ke bukunya. "Kalau gitu gue kerjain punya gue," ujarnya menopang dagunya dengan penanya. "Eh tapi lo kan udah selesai, udah paham. Nggak pulang?"
"Lo ngusir?"
Jeza terkekeh kikuk. "Yaa enggak. Cuma nanya aja. Kan lo dateng ke sini mau minta ajarin dan sekarang lo udah paham."
"Tujuan gue aslinya nggak cuma belajar aja sih."
Jeza mendongak. "Jadi selain itu?" tanyanya serius. Yang muncul didalam pikiran Jeza sekarang adalah tentang pembun*h berantai yang ia tonton film dokumenternya tadi malam, yang menyamar menjadi teman padahal niatnya jahat. Pikiran Jeza memang mudah nethink.
"Karena gue mau deket sama lo."
Dan boom! Sangat jauh sekali dari apa yang ia bayangkan. Mungkin Jeza harus membersihkan isi kepalanya dari segala yang berbau negatif. Tunggu, tadi apa yang dikatakan Jerome? Dekat dengannya?
"Jujur. Pertama kali kenal lo pas gue ngeprank itu. Gue udah tertarik sama lo. Pas gue pindah ke kelas lo, lo keliatan nggak acuh gitu sama sekitar lo, dan itu buat gue penasaran sama lo. Dan terlepas itu semua, ya gue pengen deket," jelasnya dengan mata berbinar.
Jeza mengangguk-angguk. "Okey. We're friends now," ujarnya tersenyum kecil. "Dan lo bakal jadi temen pertama gue yang punya kepribadian jauh beda dari gue."
"Tapi gue maunya lebih dari temen."
Mata Jeza mengerjap sekali. Ia tidak begitu polos sampai tidak tahu apa maksud dari kalimat itu.
Jeza sungguh tidak tahu harus bagaimana menyahutnya. Dan untungnya seseorang membuka pintu kamarnya tanpa mengetuk lebih dulu. Siapa lagi jika bukan Ergan.
Kali ini, kebiasaan Ergan itu sama sekali tidak membuat Jeza kesal. Malah ia berterimakasih karena sudah diselamatkan dari situasi awkward ini.
"Sori ganggu. Tapi ada Bang Jeriko di luar," ujar Ergan singkat dan padat sebelum mundur dan menarik pintu kamar hingga tertutup kembali.
"Jeriko?" Jerome menatap Jeza.
Jeza bangkit berdiri. "Iya dia memang kadang main ke sini," jawab Jeza agak kaku. "Lo nggak mau sekalian keluar?"
Jerome menghela napas berat. Padahal ia mau lebih lama di sana. Tapi urusannya sudah selesai, apalagi ada Jeriko di luar yang mengharuskan Jeza keluar sekarang juga. Tidak mungkin kan dia berdiam diri di kamar Jeza.
Karena itu. Jerome membereskan buku-bukunya dan memasukkannya ke dalam tasnya.
Setelahnya. Jeza dan Jerome berjalan bersisian keluar dari kamar dan menuruni anak tangga. Jeza bisa melihat dengan jelas jika Jeriko menatap mereka dengan pandangan heran.
"Nah pas banget!" Mama berseru, sebelum Jeriko bisa melontarkan pertanyaannya. "Makanan udah siap. Jadi kita makan malam dulu. Sekarang, semuanya ke meja makan ya."
Jeza menatap Jeriko dan Jerome bergantian, memberi isyarat kalau mereka harus ikut ke meja makan sekarang juga.
Jeza mengambil tempat duduk di samping Misya dan berhadapan dengan Jerome yang duduknya di samping Ergan. Sedangkan mama dan Jeriko berada duduk di sisi kepala meja.
"Berdoa dulu terus dimulai makannya. Dan nggak ada yang boleh bicara. Oke?"
"Iya, Ma." Ergan menyahut dan mereka memulai makan malam itu dengan tenang, hanya ada suara sendok yang beradu dengan piring.
Jerome makan dengan lambat. Ia tidak pernah merasakan masakan seorang ibu selama ia hidup. Jadi, ia merasa aneh saja. Ia senang, tapi ia juga sedih.
Mama meyadari itu hingga kemudian mama melirik Jeza. Tapi Jeza hanya mengangkat bahunya pertanda ia juga tidak tahu apa-apa.
Sepuluh menit kemudian ketika satu persatu dari mereka sudah menyelesaikan makannya. Misya dan Jeza mulai mengambil piring-piring kotor dan membawanya ke wastafel.
Jerome berdeham dan bangkit berdiri, ia menatap mama kemudian. "Tante. Makasih banget makananya. Aku bisa bilang, ini makanan terenak yang pernah aku makan."
Mama terkekeh pelan. "Kamu bercandanya keterlaluan nih."
"Seriusan, Tan." Jerome memang serius dengan ucapannya, makanan ini spesial menurutnya. "Eh karena tugas sekolah udah selesai. Aku pamit pulang, ya, Tan."
"Udah selesai belajar barengnya?"
Jerome mengangguk. "Udah, Tan."
"Yauda kalau gitu." Mama menoleh pada Jeza. "Jez kamu anterin ke depan."
"Iya, Ma." Jeza mencuci tangannya dan mengeringkannya sebelum berbalik dan mengikuti langkah Jerome keluar rumah.
Jeza berhenti di teras rumah dan Jerome ikut berhenti di sebelahnya, membuat Jeza mengernyit heran.
Tiba-tiba Jerome memeluknya, membuat Jeza terkelu dan membatu seketika. Untungnya pelukan Jerome itu singkat, tidak lama-lama.
"Thanks ya," ujarnya tersenyum dan mulai melangkah menuju motornya. "Oh ya gue setuju kita temenan. Tapi cuma sementara," sambungnya sembari naik ke atas motornya.
Jeza masih terdiam, bahkan sampai Jerome memberinya klakson tanda pamitan pun ia masih diam di tempatnya. Jerome benar-benar pergi barulah bahu Jeza melemas. Masalahnya adalah, ini pertama kalinya ia dipeluk oleh seorang cowok yang sama sekali bukan keluarganya.
***