Sampai di rumah. Ergan mewawancarai Jeza tentang mengapa Jeza bisa bersama Jerome tadi. Lalu kenapa pula Jeza terlihat marah-marah, apa masalahnya. Dan Jeza menjelaskan semuanya dengan cepat karena dirinya masih kesal.
"Lah kenapa marahnya ke Bang Jerome?" Ergan terkekeh. "Emang sih jatuhnya bakalan nggak ada beda antara dia sama si pembalap. Tapi kan yang hampir nyerempet lo bukan Bang Jerome."
Napas Jeza memburu, mulutnya tertutup rapat sembari memikirkan apa yang dibilang Ergan lebih jauh. Benar juga, sih, kalau dipikir-pikir.
"Lo bilang apa aja tadi ke dia?"
Jeza semakin berpikir kritis. Kenapa tiba-tiba ia lupa dengan apa yang ia ucapkan? Kalau sudah emosi, Jeza memang suka keluar kontrol dan kemudian lupa dengan apa yang ia katakan.
"Gue penasaran. Kayaknya lo juga suka dia, ya?"
"Apaan. Enggak." Jeza menyanggah. "Kenapa lo bilang 'juga'?"
Ergan mengangkat bahunya. "Gue nggak mau bilang karena nanti lo jadi kepedean," ujar Ergan tersenyum mengejek. "Tapi sih yang jelas. Dia tuh agak gimana gitu. Jadi jangan terlalu deket banget."
Jeza memicing menatap Ergan. "Inget. Kita nggak bisa nilai orang dari apa yang kita lihat."
"Iya tau. Tapi kan ini cuma sebagai bentuk kewaspadaan aja." Ergan tidak mau kalah. "Lo belum tau Jerome secara keseluruhan, belum kenal deket. Trus gimana cara nilai dia kalau nggak ambil perspektif diri sendiri?"
Jeza akui jika Ergan sudah berbicara dengan egonya, ia selalu menang dan lebih menyebalkannya adalah perkataan Ergan memang selalu benar menurutnya.
"Kalian bicarain apa?"
Misya tiba-tiba datang dan bergabung dengan mereka. Wajah menyebalkan Ergan tadi luntur berganti dengan wajah tanpa ekspresi. Ia masih kesal dengan Misya.
"Gue ke kamar dulu deh." Ergan bangkit tepat ketika Misya duduk di samping Jeza. Ia melangkah tanpa beban dan juga menghiraukan panggilan Jeza padanya yang menyuruhnya untuk tetap stay di sana.
"Dia mungkin masih marah ke gue."
Jeza menghela nafas. Memejamkan matanya sesaat dan mengangguk. "Dia kayaknya kesel sama lo."
"Gue tau." Misya terlihat sedih. "Tapi gue emang belum bisa jauh dari Keith, Jez."
Jeza mengangguk dengan bibir yang menipis. "Iya yauda. Cuma ya--"
"Cuma yaa kalo nanti disakitin lagi, nggak usah cerita-cerita," potong Ergan tajam sembari berlalu dari dapur menuju tangga.
"Ergan!" Jeza memperingati dan Ergan hanya mengangkat kedua bahunya tidak acuh.
Misya terdiam dan Jeza jadi tidak enak. Terkadang, Jeza memang bisa merasa seperti ini pada Misya.
"Gue ke atas dulu deh." Jeza tersenyum tipis sebelum bangkit berdiri dan meninggalkan Misya yang mengusap wajahnya.
Jeza masuk ke kamarnya dan menutup pintunya rapat-rapat. Ia melangkah perlahan ke tempat tidur dan membanting dirinya di sana. Cukup lama Jeza hanya menatap langit-langit dan mulai mengantuk.
"Ah ya tugas Eko." Jeza menggumam dan malas-malasan bangkit duduk.
Jeza mengambil buku Ekonomi yang tadi ia taruh di atas meja samping tempat tidur. Ia sudah menandai halaman berapa tugasnya dan mulai mengerjakannya di buku tugasnya.
Selama mengerjakan, tiba-tiba Jeza teringat Jerome. Ia teringat dengan ia yang marah-marah tadi. Tiba-tiba ia jadi malu sendiri sampai ingin menenggelamkan kepalanya dalam-dalam ke bantal Dacron raksasa miliknya. Apalagi Jeza tidak bisa mengingat kalimat apa yang ia lontarkan. Ia benar-benar lupa, dipaksa sekalipun juga tidak ingat.
Jeza meletakkan kepalanya diatas meja belajar dan berpikir. Tapi, memang Jerome salah juga, kan? Mengejar pembalap liar dengan tujuan menghentikan mereka juga berarti harus menjadi pembalap juga, membuat orang lain resah juga. Lalu, buat apa juga Jerome melakukan itu ketika ada para polisi yang bisa membubarkan mereka? Apa ada suatu alasan dibalik aksi Jerome?
Jeza mengangkat kepalanya dan bertopang dagu. Entahlah, ia tidak tahu, lagipula kenapa ia peduli?
Jeza bertanya-tanya apa Jerome sakit hati dengan ucapannya? Karena ia masih ingat jelas bagaimana kagetnya Jerome dengan ucapannya tadi. Kalau sakit hati, ya Jeza harus minta maaf kalau begitu.
Jeza mengerang pelan dan mengacak rambutnya kesal. Ia mudah sekali melontarkan kalimat pedas kalau sudah emosi.
Jeza ingin mengirim chat pada Jerome, ingin minta maaf terlepas cowok itu sakit hati atau tidak. Tapi masalahnya, ia tidak punya nomornya!
"Oh ... My ... Gosh." Jeza melirih dengan kedua tangan menutup wajahnya. Hatinya merasa tidak tenang. Lagian kenapa juga coba ini mulut enteng banget ngegas, batin Jeza menyalahkan dirinya sekarang.
Suara ketukan di pintu membuat Jeza menoleh dan berseru. "Iya masuk aja." Pasti Misya, tebaknya. Yang sopan mengetuk dulu begitu ya hanya Misya. Mamanya suka berteriak diluar kamar dan Ergan hobi nyelonong masuk begitu saja.
"Jez, ada temen lo di depan."
Itu Misya, tebakan Jeza benar. Tapi, ia mengernyit heran, temannya yang mana? Biasanya Jeriko mengabarinya dulu kalau mau datang. Tidak mungkin Gina, kan.
"Siapa?" tanya Jeza was-was.
"Nggak tau. Gue juga baru liat dia," jawab Misya yang hanya berdiri di ambang pintu. "Cowo sih. Gue baru tau lo punya temen cowo selain Jeriko."
Entah kenapa pikiran Jeza langsung berpikir itu Jerome. Namun, mau apa? Eh tapi kalau iya itu Jerome, kalau tidak bagaimana? Tapi siapa lagi kalau gitu?
"Udah jangan banyak mikir dulu. Turun gih, dia nunggu lama tuh."
Jeza mengerang pelan dan menghela napas panjang. "Oke," sahutnya dan bangkit berdiri. Ia deg-degan sekarang. Ia khawatir orang itu memang Jerome dan mungkin saja Jerome mau membalas dendam karena sudah dimarah-marah olehnya.
Sembari melangkah, pikiran Jeza sungguh berkeliaran kemana-mana, ia bahkan membayangkan Jerome yang mungkin akan melempar dirinya ke dinding hingga ia tidak bisa bergerak seperti cicak yang baru kejepit pintu. Jeza kemudian menggelengkan kepalanya mengusir pikiran gila itu. Tidak, Jerome tidak mungkin sekejam itu padanya.
Menarik nafas, Jeza membuka pintu dan napasnya tertahan ketika cowok yang dimaksud Misya memanglah Jerome, seperti dugaan awalnya.
Jeza rasanya ingin masuk kembali ke dalam rumah. Ia sama sekali tidak berani berhadapan dengan Jerome sekarang. Ia hanya belum sanggup.
"Em--"
"Jerome!" Jeza menyela cepat. "Gue minta maaf atas yang tadi, gue bener-bener nggak bisa ngontrol emosi gue. Jadi ... ya sori, lo pasti marah karena itu."
Jerome mengernyit dengan bibir yang tidak tertarik sma sekali. "Gue kesini mau minta ajarin Ekonomi."
"HAH?"
***
Beberapa saat sebelumnya.
Perkataan Jeza lumayan menyadarkan Jerome. Padahal hari dimana motornya diambil itu ia sudah bertekad untuk tidak melakukan hal ini lagi, begitupun Lukas dan Tama ketika Jerome menceritakan kejadian yang menimpanya.
Tapi, setelah keliling-keliling tak berguna dengan teman-temannya tadi, Jerome bingung mau melakukan apa sampai ia tak sengaja bertemu pembalap liar itu.
Dan sekarang, Jerome berada di rumahnya. Salah satu perawat adiknya melapor padanya kalau adiknya sudah tidur. Baguslah, karena biasanya adik Jerome itu sulit tidur.
Jerome kemudian masuk ke dalam kamarnya dan mengeluarkan buku ekonomi dari dalam tasnya. Ia menaruh buku-buku itu diatas meja belajarnya dan ia hanya berdiri menatapnya tanpa mau repot-repot duduk atau sekedar mengerjakan tugasnya.
Jerome terlalu malas untuk mempelajarinya karena ia khawatir ia bisa pintar kembali.
Alih-alih menarik kursi dibawah meja belajarnya, Jerome lebih tertarik membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur. Ia kembali memikirkan ucapan Jeza tadi. Kalau dibilang ia sakit hati, tidak juga. Tapi tersinggung, Jerome akui memang ia sedikit tersinggung. Namun, justru karena itulah Jerome sadar kalau apa yang ia lakukan sia-sia juga. Malah dengan aksinya itu, ia tetap disebut sampah masyarakat.
Jadi, hati Jerome menyimpulkan jika ucapan Jeza itu bukan bermaksud menyakitinya, melainkan perhatian dan peduli padanya.
Tiba-tiba terpikirkan di benak Jerome tentang bagaimana jika ia datang ke rumah Jeza dan minta diajarin tentang Ekonomi ini. Toh ia memang tidak mengerti apapun. Ide yang cukup bagus karena ia juga ingin lebih dekat dengan Jeza.
Tanpa menunggu lebih lama, Jerome bangkit, menyambar buku-bukunya dan membawa tas ranselnya. Ia sepertinya lupa jika ia sebenarnya punya mentornya sendiri.
***
Jeza terkekeh pelan. Apa yang ia bayangkan tadi sungguh jauh dengan kenyataannya. Jerome bahkan kelihatan baik-baik saja dengannya, malah meminta diajarin Jeza tentang tugas Ekonomi.
"Eh tapi bukannya lo harusnya ke Disa? Kan dia mentornya." Jeza baru teringat hal itu.
"Emang kalau ke lo nggak boleh? Satu-satunya orang yang paling deket sama gue ya lo."
Benar juga, pikir Jeza. Iya juga, ya. Dia dan Jerome bisa lumayan dekat padahal hanya beberapa hari setelah Jerome masuk ke kelasnya. Tapi ya mungkin karena sikap Jerome yang humble juga makanya Jeza bisa cukup dekat dengannya. Jika tidak pun ya boro-boro Jeza bisa dekat dengannya.
"Kok ngelamun? Boleh, kan?"
Jeza tersadar dan mengangguk. "Boleh kok." Tidak mungkin juga ia menolak, kan? Apalagi niat Jerome baik, ia mau menuntut ilmu.
Jerome masuk lebih dulu ke dalam rumah, diikuti Jeza dari belakang.
"Ke sini, Jer." Jeza menuntun Jerome ke arah ruang tamu yang juga dijadikan sebagai ruang keluarga.
"Siapa ini?" Mama keluar dari dapur dan menghampiri Jerome.
Jerome yang sadar jika wanita paruh baya ini adalah mamanya Jeza, langsung menyalaminya dan memperkenalkan dirinya sendiri. "Jerome, Tante. Temennya Jeza."
"Oh temen Jeza ...." Mama melirik Jeza menggoda sebelum kembali menatap Jerome. "Mau ngapain nih? Mau ngajak Jeza main, ya?"
"Mau minta ajarin, Tan. Ada pelajaran yang nggak paham soalnya."
Mama mengangguk-angguk. "Oke-oke. Yauda langsung ke kamar Jeza aja."
Mata Jeza membulat mendengarnya, menatap ke arah mama tidak percaya. Apa mama bercanda? Tapi mama hanya mengangguk kecil atas Jeza yang memprotes.
"Oh ya kamu udah makan malam belum?"
"Kebetulan belum, Tan. Tapi mungkin abis dari sini makan di luar."
Mata mama menyipit. "Nggak makan di rumah?"
Jerome tersenyum kecil dan menggeleng. "Nggak ada yang masak, Tan."
"Yauda bareng-bareng aja nanti. Sekarang, kalian belajar bareng dulu. Nanti Tante panggil kalau udah siap."
Jerome mengangguk saja. Ia hanya tidak sangka ia akan diperlakukan begini, terlampau jauh dari ekspetasinya.
Jeza sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Jerome. Reaksi mama tidak seperti yang ia kira. "Yauda deh langsung ke kamar gue." Tapi ada yang belum dikenalkan Jeza ke Jerome. "Ah ya, itu kakak gue, Misya namanya. Dan sebelahnya adik gue, Ergan."
"Hai, Jer!" Misya melambai dari jauh. Sedangkan Ergan, ia diam saja.
Jerome membalasnya dengan senyum sopan. "Kalau Ergan gue kenal."
Jeza ber-oh ria. Melihat ruang tamu yang sudah diisi Misya dan Ergan membuatnya berpikir kalau memang baiknya mereka belajar di kamarnya.
"Lo pemain voli, ya, Jer?" tanya Misya dengan dahi mengernyit pelan. "Soalnya dari tinggi sama proporsi, lo cocok sama pemain voli."
"Oh iya. Posisi setter."
Misya tersenyum. "Oke, deh. Semangat ya kalian belajarnya."
Sementara itu, Jeza dibuat terkejut dengan jawaban Jerome tadi. Ia sama sekali tidak tahu hal ini sebelumnya dan baru tahu sekarang. Kalau begitu apa yang dibilang Ergan tentang Jerome yang tidak punya prestasi salah besar!
"Jez?"
Jeza tersadar dan buru-buru melangkah. "Oh iya, ayo," ajaknya dan tersenyum kaku. Ia sungguh masih tidak percaya fakta ini.
***