Ketegangan di rumah Jeza tercipta karena Misya nemberitahu jika dirinya dan Keith tetap melanjutkan hubungan. Hal itu tentunya membuat semua terdiam. Mama diam, begitupun Jeza. Sedangkan Ergan, ia berbeda, ia marah.
Menurut Ergan. Dengan bukti foto yang begitu jelas harusnya sudah bisa meyakinkan Misya jika Keith bukan lelaki tepat untuknya. Ergan juga sudah berharap besar jika Misya akan berpisah dengan pria itu karena dengan Keith, Misya hanya sedih terus. Bahagianya cuma di awal pacaran doang.
Mama diam karena tidak tahu apalagi yang harus dikatakan. Susah jika perasaan lebih maju selangkah dibanding akal pikiran. Memang benar ini hidup Misya, tapi jika ia melenceng atau tampak membutuhkan arahan, tentu sang mama tidak akan diam saja.
Namun, jika diarahkan pun Misya tidak bisa mengikuti, maka lebih baik ia mundur. Kalau Misya masih mau mempermainkan hatinya sendiri, suka membuat dirinya sendiri luka, maka silakan saja. Mama hanya bisa memantau. Nanti kalau Misya sudah sepenuhnya sadar, mama hanya perlu merentangkan tangan menyambut Misya pulang.
Berbeda lagi dengan Jeza. Ia tidak sanggup berkata-kata karena ia marah. Ia tidak sangka jika Misya terlalu tunduk akan perasaannya. Terlalu patuh dengan cintanya. Harusnya Misya sadar sejauh apa hubungan toxic mereka, menjauh dan melupakan Keith setelahnya.
Jeza mengernyit mendengar namanya dipanggil berkali-kali dari luar rumah. Ternyata Jerome dkk. Mereka juga mengajak Jeza dan Jeza menyetujuinya. Terlalu mudah untuk Jeza menyahut 'boleh' padahal ia belum seratus persen yakin dengan apa yang ia katakan.
"Bentar, ya." Jeza mundur dan masuk ke dalam rumah. Ia meletakkan bukunya di kamarnya lalu ia terdiam berpikir sesaat. "Kenapa gue setuju?" gumamnya heran dengan dirinya sendiri.
Jeza meringis dan mengetuk-ketuk kepalanya pelan. Kalau sedang high emotion, dia suka asal dan tidak memikirkan sesuatu lebih panjang.
Tidak, Jeza harus menarik ucapannya tadi. Ia saja bahkan tidak akrab dengan orang-orang itu. Kalaupun ada yang paling akrab, ya Jerome orangnya. Tapi, Jeza juga tidak begitu kenal. Mau apa yang ia obrolkan dengan mereka nanti? Jeza tidak yakin akan nyambung.
Sementara itu di sisi lain. Yasmin sibuk menggoda Jerome. Yasmin tahu benar jika Jerome pasti suka dengan Jeza. Dari matanya saja sudah kelihatan. Jerome sama sekali tidak bisa membohongi perasaannya sendiri.
"Lo suka dia, ya? Langka banget liat lo gini."
Kinan mengernyit samar. "Gue kira kita ajak dia main biar temenennya makin erat. Ternyata karena Jerome suka dia? Dan lo ... bener-bener suka sama Jeza, Jer? Bukannya lo deketnya sama Silvi, ya?"
Yasmin terdiam mendengarnya. Hal ini cukup rumit juga karena Yasmin tahu kalau hanya Silvi yang menyukai Jerome, tapi Jeromenya tidak. Ingin berada di sisi Silvi, Jerome punya hak untuk tidak menaruh perasaan ke sembarang orang. Sedangkan jika di posisi Jerome, Silvi punya hak untuk menyukai siapa saja. Serba salah jadinya.
"Gue sama Silvi cuma sahabatan," ujar Jerome mengklarifikasi. "Deket bukan berarti bisa diartikan suka, kan?"
"Ya emang bener sih." Kinan melipat bibirnya. "Tapi lo masa nggak peka, Jer? Sama gerak-geriknya Silvi? Lo pasti pahamlah gimana dia ke lo."
Jerome menghela nafas pelan. Hendak menjawab ucapan Kinan. Tapi pintu yang terbuka di depannya membuatnya mengurungkan kalimatnya.
"Gimana, Jez? Berangkat sekarang?"
Jeza tersenyum tak enak. Jerome hanya melihat itu saja sudah tahu kalau Jeza pasti akan menolak ajakan mereka.
"Sori tapi gue pikir gue nggak bisa." Jeza tersenyum minta maaf. "Mungkin lain kali, ya. Tapi! Makasih udah ajak gue."
Yasmin menatap Jeza sesaat dengan wajah tak berekspresi, sebelum senyum kecil terbit di wajahnya. "Oke nggak papa." Ia kemudian berbalik dan terus melangkah ke arah Lukas, langsung naik ke boncengan cowok itu.
Jeza tidak tahu Yasmin marah atau tidak. Tapi memang ia tidak bisa. Tidak mungkin dipaksa juga, kan?
Pandangan Jeza kemudian beralih ke Jerome. "Thanks udah bawain buku gue."
Jerome mengangguk. "Hm oke."
Kinan melirik Jerome. Agak bersimpati karena tadinya Jerome sudah sangat senang. Tapi, bukankah watak Jerome dan Jeza benar-benar bertentangan? Kenapa Jerome bisa suka pada Jeza?
"Nggak papa, Jez. Gue paham posisi lo."
Kinan agak terkejut sebetulnya ketika Jeza mengiyakan ajakan mereka. Karena menurut Kinan, dengan Jeza yang calm, sepertinya Jeza malas berbaur dengan orang-orang baru kecuali orang-orang itu sefrekuensi dengannya. Dan sekarang, perkiraannya benar karena Jeza menolaknya. Terus, kenapa Jeza awalnya bisa setuju? Kinan heran, tapi ia memutuskan untuk tidak begitu memikirkan.
"Yauda ayo lah. Keburu gelap." Kinan mengajak Jerome untuk mundur kembali ke motornya, dan Jerome menurut.
Jeza menipiskan bibirnya. Ini pilihan terbaik atau ia akan menyesal di akhir nantinya. Jeza juga hanya memberi senyum kecil dan membalas lambaian tangan Kinan ketika mereka pergi.
"Kayaknya ada yang lagi deketin lo, ya."
Jeza kaget dan berbalik, melihat Ergan sudah berdiri di ambang pintu dengan bahu bersandar pada kusennya. "Sejak kapan lo di situ?"
"Sejak tadi."
"Sejak kapan?"
"Sejak lo nolak pergi bareng mereka."
Mata Jeza membesar. "Jadi lo dari tadi di situ?!"
"Kenapa, sih, memangnya?" Ergan melirik Jeza sinis. "Gue nguping di balik pintu. Pas mereka pergi, gue baru keluar. Masa lo nggak denger suara pintu kebuka."
"Cerewet banget sih," gerutu Jeza. "Mereka cuma mau ajak gue main bareng aja."
"Jangan mau."
Sebelah alis Jeza menaik tinggi, dahinya juga mengernyit. "Memangnya kenapa?" tanyanya. "Kadang seseorang itu nggak bisa lo nilai dari tampang, penampilan, atau kelakuan yang lo tau dari sudut pandang lo doang."
Sudut bibir Ergan tertarik ke bawah. "Masa?" Walaupun dalam hati, Ergan setuju seratus persen dengan apa yang diucapkan kakaknya.
"Udah deh capek ngomong sama lo nggak ada ujungnya." Jeza menyampingkan tubuhnya melewati Ergan dan masuk ke dalam rumah.
Di dalam. Hanya ada Misya di ruang tamu. Mama sudah tidak ada di sana. Jeza baru saja mau pergi ketika Misya memanggilnya dan menyuruhnya mendekat.
"Kenapa?" tanya Jeza tetap berdiri, ia juga menjaga jarak pada Misya.
"Maaf, ya."
"Maaf ke diri lo sendiri, Kak. Yang bakal kesakiti diri lo juga soalnya." Jeza tersenyum tipis. "Gue ke atas dulu."
Jujur saja Jeza kasihan dengan Misya, karena kasihannya itulah dia ingin marah. Memarahi Misya kenapa masih percaya dan memaafkan lelaki seperti Keith?
Entah apa yang dibilang Keith hingga Misya kembali luluh walau ada banyak bukti. Jeza sudah malas mengurusi percintaan Misya. Mungkin suatu saat, Misya baru akan benar-benar tersadar kalau ia telah membuang-buang waktunya untuk seseorang yang sama sekali tidak menghargainya.
Kalau Keith menghargai Misya harusnya menjaga perasaannya, bukan?
Jeza masuk ke dalam kamarnya dan melihat laptopnya yang terbengkalai. Akhir-akhir ini Jeza selalu menggunakan komputer. Laptopnya ia gunakan untuk menulis saja. Tapi ia juga sudah jarang menulis, lebih ke malas sebenarnya.
"Jeza!"
Jeza baru hendak memasang kacamata dengan pita chibi ke wajahnya ketika sang mama meneriaki namanya dari luar.
"Iya, Ma. Bentar."
Jeza keluar kamar dan mendapati mamanya melambaikan tangannya menyuruhnya turun.
"Kamu sama Ergan tolong ke supermarket ya. Ini list belanja yang harus dibeli." Mama menyerahkan kertas kecil namun panjang itu pada Jeza.
"Mama mau buat apa lagi?" Jeza mengerang pelan. "Cake yang semalem aja nggak abis, Ma."
"Bukan buat cake atau apa. Memang sayur lagi abis. Di kulkas kosong tuh. Besok makan pake apa coba?" Mama mendongakkan dagunya. "Udah sana, kan bareng Ergan. Naik motor."
"Lo yang bonceng lho ya." Jeza menunjuk Ergan.
"Santai." Ergan mengambil kunci motor dan ke garasi dari pintu samping.
Jeza menghela nafasnya. Melirik ke arah ruang tamu, sudah tidak ada Misya di sana.
"Kak Misya ke kamar, Ma?"
Mama mengangguk. "Iya."
"Mama marah sama Kak Misya?" tanya Jeza penasaran.
"Bukan marah, Jez." Mama menatapnya. "Mama cuma kasian aja. Mama takut Keith nyakitin dia lagi. Mama kasian sama dia sendiri."
Ternyata apa yang mama rasakan dan pikirkan juga sama sepertinya.
"Mungkin harusnya kita nggak ikut campur, ya, Ma? Kan Kak Misya udah gede. Siapa tau dia nggak mau diatur-atur?"
"Kita kan cuma nunjukin kalau kita peduli, Jez. Kalau Misya memang nggak mau diatur, yauda nggak papa. Tapi, ya jangan melenceng terlalu jauh juga," ujar mama dan diangguki Jeza. "Kamu juga nih. Jangan cari cowok yang nggak bener."
Jeza tersenyum kecil. "Keith awalnya keliatan baik banget lagi, Ma. Sekarang? Menurut Jeza, kita nggak bakal tau satu cowok bagus enggaknya sebelum kita bener-bener masuk ke dalam dunia dia."
Mama tercengang sebelum tersenyum lebar dan mengusap lembut rambut Jeza. "Anak Mama udah pinter ngomong, ya."
Jeza terkikik geli. Ia membuka mulutnya, dan disaat yang sama, suara klakson motor terus-terusan berbunyi. Siapa lagi kalau bukan Ergan.
"Yauda sana, Ergan udah nungguin tuh."
Jeza mengecup pipi mama dan mengangguk. Ia kemudian melangkah keluar rumah dan naik ke atas motor dengan tidak pelan-pelan, membuat Ergan hampir kehilangan keseimbangannya.
"Lo naik motor biasa aja dong." Ergan menggerutu, tapi Jeza tidak menyahut, ia tidak peduli.
"Udah buruan. Keburu sore banget."
"Sabar." Ergan melajukan motornya di kecepatan rata-rata.
Walaupun Ergan dan Jeza kakak adik, sikap mereka tidak sepenuhnya sama. Ergan memang orang yang calm, sama seperti Jeza. Tapi di sisi lain, ia juga humble, berkebalikan dengan Jeza. Ergan menyapa setiap orang yang ia kenal setiap ia menemuinya di jalan, sedangkan Jeza hanya tersenyum.
Ada rasa di dalam diri Jeza jika ia ingin seperti Ergan. Tapi, tidak bisa. Tidak senatural Ergan. Bukannya jadi hangat, malah orang-orang semakin kaku dengannya.
"Lo lama nggak?" tanya Ergan begitu mereka sampai di depan supermarket. "Kalau ada dua puluh menitan, gue ke rumah temen dulu bentar."
Jeza berpikir sesaat. "Ada sih kayaknya. Pesenan mama lumayan banyak. Tapi, ntar lo lewat lagi, maksudnya lebih dari dua puluh menit."
"Lo bawa hp?" Jeza mengangguk. "Yauda telepon aja. Gue juga bawa hp."
Mata Jeza menyipit. "Yauda sana lo pergi."
Ergan mengacungkan jempolnya. "Tanpa lo suruh gue juga bakal pergi ninggalin lo."
"Dasar." Jeza memutar bola matanya dan mulai berjalan ke arah supermarket.
Seperti kebanyakan perempuan yang suka belanja, nyatanya Jeza juga begitu. Dalam waktu dua puluh menit, ia baru selesai membeli sebagian dari daftar barang yang diberi mamanya. Ergan bahkan sudah menghubunginya tapi ternyata Jeza belum selesai.
Jeza selesai ketika waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Ia menelepon Ergan dan Ergan bilang sebentar lagi ia ke sana. Tapi, sudah lebih dari lima menit Jeza menunggu, Ergan tidak kunjung datang. Memangnya sejauh apa rumah temannya itu sampai lima menit tidak cukup?
Karena bosan dan juga Ergan tidak bisa dihubungi lagi. Jeza memutuskan untuk naik becak saja, ongkosnya lebih murah dibandingkan ojol. Namun sayangnya, tidak ada becak yang lewat dari tadi, padahal Jeza sudah di pinggir jalan dengan satu kantong plastik besar di tangannya.
Semua masih baik-baik saja sampai tiba-tiba sebuah motor dengan kecepatan tinggi melaju tepat didepan tubuh Jeza, hampir menyentuh tubuhnya. Jeza sangat terkejut, tubuhnya refleks mundur, bahkan ia hampir saja terjatuh ke bawah.
Emosi Jeza langsung naik ke level maksimal, hingga tak sadar ia berteriak marah ke pengendara yang sebenarnya sudah sangat jauh darinya.
Sebuah motor yang sepertinya Jeza pernah lihat menghampirinya. Ia tidak tahu siapa itu sampai orang itu membuka helmnya dan ternyata Jerome.
"Lo nggak papa, Jez?"
Jeza mengernyit. "Itu tadi temen lo? Lo juga balapan liar?"
Mulut Jerome tertutup rapat, dan ia menggeleng. "Bukan. Justru gue ngejer dia biar dia berhenti buat balapan. Itu kan ngebahayain orang lain."
"Lo ngejer dia, dengan kecepatan yang sama, lo pikir lo beda dari dia? Sama aja, Jerome!" seru Jeza emosi. "Buat apa sih kayak gitu? Nggak ada untungnya tau nggak. Lo mending berhenti deh kayak gitu. Masih banyak tugas lain lebih penting. Seenggaknya lo ngurang-ngurangin angka pembalap di kota ini."
Jeza masih tampak ingin mengeluarkan kekesalannya, tapi kemudian Ergan datang dan menatap mereka berdua heran.
"Kenapa ini?"
Jeza berjalan dan sekali lagi, naik ke boncengan dengan keras, untungnya Ergan menguatkan pijakannya, jika tidak mereka bisa oleng.
"Udah jalan!"
Ergan mengernyit, dalam hati menggerutu kenapa kakaknya ini. Tapi ia tidak menyuarakannya dan langsung menjalankan motornya. Langit sudah mulai gelap, mereka bisa kena marah kalau belum pulang juga.
***