Ergan tidak mood hari itu, ia biasanya ke lapangan bola kaki, antara turun menjadi pemain atau hanya menjadi penonton. Atau ia pergi ke kantin bersama teman-temannya. Tapi yang dilakukan Ergan hanyalah duduk di kelas dengan tangan terlipat diatas meja, kepalanya diatas tangannya dan menatap ke arah luar jendela.
Ergan bolak-balik melihat ponselnya. Bimbang antara ia menghubungi Misya atau tidak. Biarlah ia dikatakan terlalu ikut campur hubungan kakaknya, tapi memang hanya itu yang bisa ia lakukan sebagai adik.
Ergan terkejut ketika tiba-tiba ia merasa ada yang dingin dengan lengannya. Ia menegakkan punggungnya dan mengernyit heran akan kehadiran Ezi di sana.
"Aku liat kamu nggak ke kantin," ujar Ezi mendorong sebotol teh dingin agar lebih dekat dengan Ergan yang seperti tidak ada nyawanya. "Ada masalah?"
Ergan menggeleng. Ia mengambil botol minum yang diberikan Ezi, membuka tutupnya dan langsung menenggaknya. "Makasih, ya," ujar Ergan setelah tenggorokannya terasa segar.
Ezi tersenyum senang dan mengangguk. Jarang-jarang Ergan terlihat welcome dengannya. Biasanya cowok cuek dan tampak tidak ingin diganggu olehnya.
"Em yauda, deh. Kalau gitu aku keluar dulu." Ezi menunjuk ke arah belakang tubuhnya.
"Oke."
Ezi menipiskan bibirnya dan berbalik pergi. Berulang kali ia menolehkan kepalanya ke belakang, siapa tahu Ergan berubah pikiran dan memintanya untuk tetap tinggal.
Tapi, sepertinya itu hanya angan karena sampai Ezi keluar dari kelas pun, Ergan tidak pernah memanggilnya.
***
Jeza sudah duduk di bangkunya ketika Jerome masuk ke dalam kelas. Cowok itu tidak duduk ke bangkunya lebih dulu, ia menghampiri Jeza dan mengambil bangku kosong agar ia bisa duduk didekat gadis itu.
"Jez. Sori."
Dan sekarang mereka diperhatikan oleh semua orang didalam sana. Jujur, Jeza risih menjadi pusat perhatian. Satu-satunya cara agar tidak menjadi sorotan lagi yaa mengusir Jerome dari sana. Dan satu-satunya cara agar Jerome pergi yaa dengan memaafkannya.
Padahal Jeza juga bingung apa kesalahan Jerome padanya.
"Iya. Nggak papa. Udah, ya. Gue mau baca buku," ujarnya mengusir Jerome tanpa langsung. Kalimatnya itu mengisyaratkan kalau Jerome harus segera pergi dari sana.
"Gue sama sekali nggak maksud buat lo terlambat. Gue juga nggak tau kalo tuh guru udah masuk duluan."
Jeza mengangguk. "Iya. Nggak papa," sahutnya dan berdoa didalam hati agar guru mereka selanjutnya cepat-cepat masuk.
Jerome hendak protes karena kalau Jeza sudah memaafkan, harusnya Jeza bisa berkata lebih santai, tidak kaku seperti ini. Tapi, Jerome harus menahan kalimatnya di tenggorokan karena doa Jeza ternyata terkabul. Seorang guru berhijab masuk dan langsung menyuruh mereka semua duduk di tempatnya masing-masing.
"Buka halaman 45. Baca dengan serius, nanti saya tanya satu-satu."
"Baik, Bu."
Mata Jerome membesar mendengarnya. Apa ini kekuatan kelas pintar? Mudah sekali mereka berkata 'Baik' padahal yang diucapkan sang guru bagai pisau tak kasat mata.
Jika di kelas lamanya, jika seorang guru berkata hal yang sama, mereka pasti protes dan berakhir batal. Siapa yang tidak cemas akan ditanya satu-satu. Bagaiman kalau tidak tahu? Ini p********n bagi Jerome.
Tapi untungnya, Jerome tidak ada ditanya waktu itu. Baguslah, karena ditanya pun ia juga tidak tahu karena tidak ada baca.
Harapan Jerome di pelajaran terakhir adalah free class, tapi tidak beruntung karena sang guru tetap masuk hingga mau tidak mau ia mengikuti alur pembelajarannya.
"Jerome."
Lolos di pelajaran sebelumnya, tapi sepertinya tidak untuk pelajaran berikutnya.
"Iya, Pak?" Jerome menyahut.
"Coba sebutkan persamaan dasar akuntansi," perintah guru itu, menatap Jerome dengan kedua tangan di belakang punggungnya.
"Boleh lihat buku, Pak?"
Guru itu tersenyum dan menggeleng.
"Em passiva sama dengan aktiva?"
"Kebalik, Jer," bisik teman sebangkunya.
"Oh aktiva sama dengan passiva, Pak," ralatnya dengan wajah santai, ia merasa tidak masalah walau jawabannya salah.
"Apa yang aktiva, apa yang passiva?"
"Aktiva itu modal sama harta, terus passiva utang."
Sebagian dari mereka tertawa karena Jerome begitu percaya diri padahal jawabannya melenceng jauh dari jawaban sebenarnya.
Jeza dari posisinya, menoleh menatap Jerome. Ia tidak men-judge sama sekali. Mungkin Jerome lupa, pikirnya.
"Saya tau kamu ngarang jawaban kamu. Tapi bukan berarti kamu nggak tau apa jawaban yang bener," ujar pak guru yang membuat satu kelas terdiam. "Saya tau kalau kamu tau jawaban aslinya, tapi kamu sengaja mengarang jawaban yang salah supaya orang-orang nganggep kamu nggak pintar. Saya benar, kan?"
Jeza terkejut mendengarnya. Tapi bukan hanya ia saja, satu kelas bereaksi serupa. Mereka bertanya-tanya apa benar Jerome selama ini pintar? Tidak mungkin kan guru didepan mereka berbohong.
"Saya penasaran sama kamu, jujur saja ya. Saya cek riwayat sekolah kamu. Ketika kamu SD atau SMP. Beda jauh dengan kamu yang di SMA. Dan saya punya beberapa teman di SMP kamu itu, mereka akui kamu pintar. Mereka bahkan kaget tau kamu yang sekarang."
Jerome menatap pak guru dengan sudut bibir yang tertarik ke atas. "Tapi, kepintaran nggak berlaku selamanya, Pak. Jujur, saya malas. Makanya semua ilmu yang saya punya di SMP, ngilang di SMA."
Jawaban Jerome masuk akal. Kalau tidak diasah, bisa berkarat, bukan? Begitu pula halnya Jerome.
"Okey, okey. Saya anggap jawaban kamu itu jawaban sejujurnya, ya."
Jerome mengernyit. Entah kenapa ia agak tidak suka dengan guru satu ini. Terkesan terlalu mencampuri urusannya menurutnya. Apapun yang ada di dirinya berarti haknya dan orang lain ia larang untuk ikut campur ke dalamnya.
"Kita lanjut aja pelajaran kita."
Jerome membuka buku Ekonomi dengan kasar, ia benar-benar kesal sekarang. Dari ekor matanya, ia bisa tahu jika ada seseorang yang dari tadi menatap ke arahnya. Niatnya mau memberi tatapan peringatan. Tapi, ketika Jerome tahu orang itu ternyata Jeza. Niatnya batal dan malah memberi senyuman terbaiknya.
Sedangkan Jeza, ia menolehkan kepalanya kembali ke arah papan tulis. Di dalam hatinya, entah kenapa ia mulai penasaran dengan Jerome. Alasan Jerome tadi juga terdengar seperti karangan yang sudah ia persiapkan dari lama. Seolah Jerome sudah mewanti-wanti akan pertanyaan seperti tadi. Tapi, jika memang begitu, alasan apa yang paling tepat hingga Jerome bersedia bertransformasi dari si pintar menjadi si 'pura-pura bodoh'?
Di akhir kelas. Disa mendatangi Jerome dan mengajaknya untuk belajar bersama. Mungkin bisa membantu Jerome mengembalikan semua ilmu pengetahuan yang sempat ia punya dulu.
"Sori, Dis. Gue nggak bisa sekarang. Tapi, gue bakal belajar bareng sama lo. Nanti gue kabarin kapan tepatnya. Gimana?"
Terdengar aneh karena bukankah seharusnya Disa yang mengatur waktu untuk anak didiknya? Kenapa malah terbalik, anak didik yang mengatur mentor?
"Oke boleh!"
Dan Disa tampaknya tidak menyadari hal itu. Ia terlalu tergila-gila mungkin makanya tidak sadar kalau Jerome tengah mengatur dirinya.
Jerome menoleh ke samping. Mengecek Jeza. Tapi, gadis itu sudah tidak ada di sana. Ia pikir Jeza akan pulang yang paling akhir seperti waktu itu.
"Lha dia udah pulang?" Jerome menggumam seraya bangkit berdiri. Ia menghampiri meja Jeza ketika melihat ada yang ketinggalan di laci meja gadis itu.
"Oh buku." Jerome mengambil dua buku Ekonomi milik Jeza. Ternyata Jeza tidak seteliti yang ia kira. Tapi, dengan buku ini, mungkin bisa menjadi alasan Jerome agar bisa datang ke rumah Jeza. Benar-benar takdir yang menguntungkan bagi Jerome.
***
Jerome bersiul sembari berjalan keluar dari rumah. Ia memakai jaket hitamnya dan memasukkan dua buku milik Jeza ke dalamnya. Ia sudah dapat alamat rumah gadis itu dari seorang temannya, jadi sekarang tinggal membawa dirinya saja.
Jerome baru naik ke atas motornya ketika Lukas dan Tama datang dengan para gadis yang duduk dibelakang mereka.
"Haii, Jerr!" seru Yasmin dari jauh. Tak heran, ia yang paling aktif dari semuanya.
Sedangkan Kinan. Ia hanya melempar senyum kecil pada Jerome sebagai sapaannya.
"Mau ngapain?" tanya Jerome langsung. "Waktunya nggak pas, lo pada pulang aja. Gue mau pergi soalnya."
"Mau pergi kemana?" tanya Lukas. "Nggak biasanya lo sore-sore pergi."
"Mau ke rumah Jeza. Nganter buku dia yang ketinggalan di kelas," jawab Jerome dan Yasmin serta Kinan saling lirik karenanya.
"Buset. Gercep ya lo." Tama tertawa. "Lo emang suka sama dia, Jer?"
"Gue tertarik sih." Jerome menjawab singkat. "Tapi gue juga deg-degan pas deket dia. Yaa bisa dibilang gitu lah."
Tama semakin tidak tahan untuk tidak tertawa. Menurutnya, Jerome sedang melucu sekarang ini. Ia tidak tahu saja kalau Jerome sebenarnya sedang mengatakan hal yang benar-benar ia rasakan kali ini.
"Btw Silvi mana? Nggak kalian ajak?"
Yasmin menggeleng. "Diajak lah, nggak mungkin enggak."
"Iya, Jer. Diajak kok. Cuma dia lagi nggak bisa. Ada urusan sama nyokap bokapnya." Kinan menambahkan dan Yasmin memberi sebuah jempol ke atas pada temannya itu.
Di sisi lain. Ketegangan terjadi di rumah Jeza. Mereka berempat duduk di sofa ruang tamu dan sudah sepuluh menit berlalu, tidak ada yang mau memulai percakapan.
"Gue nyerah deh. Terserah aja maunya gimana." Ergan berseru dan melangkah pergi ke dapur.
Jeza hanya diam dan melirik kepergian Ergan. Ia bertaruh kalau sekarang Ergan pasti pergi ke kulkas dan mengambil minuman dingin di sana, tepatnya sebotol teh. Ergan biasanya kalau marah memang begitu.
"JEZA, JEZAA."
Jeza menoleh ke arah pintu ketika seseorang memanggil dirinya dengan kencang.
"Temen kamu, Jez?"
"Nggak tau, Ma." Jeza bangkit berdiri. "Jeza keluar dulu, deh."
Jeza melangkah ke arah pintu dan kemudian membukanya. Ia tertegun melihat ada banyak orang di sana, mungkin lima orang kalau ia tidak salah hitung.
"Hai, Jez!" Yasmin melambaikan tangannya. "Masih inget gue, kan?"
Jeza menutup pintu dan mengangguk kaku. "Yasmin, kan. Sama Kinan." Jeza menunjuk ke satu gadis disamping Yasmin.
"Yep bener!"
Jeza tersenyum. Untung ia tidak ditanyai oleh teman Jerome yang lelaki karena nyatanya sampai sekarang ia belum tahu siapa nama mereka.
Jerome sendiri mengeluarkan dua buku Jeza dari dalam jaketnya sebelum melepaskan jaket itu dari tubuhnya.
"Tadi buku lo ketinggalan di laci lo." Jerome mengulurkan dua buku di tangannya pada Jeza. "Dan ... sori buat yang tadi."
"What the ....?" Yasmin melirih. "Jer, gue nggak salah denger, kan?"
Kinan tertawa kecil. "Seriusan?" Ia kemudian menatap Jeza. "Ini cowok seumur-umur nggak pernah minta maaf, Jez. Meskipun dia yang salah tetep aja ngerasa paling bener."
Yasmin mengangguk kencang. "Dari gue berteman ama nih orang nggak pernah gue denger dia bilang 'sori'."
Lukas dan Tama disana tidak mendengar pembicaraan mereka, jadi tidak ikutan riuh. Kalau mereka dengar, mungkin reaksinya sebelas dua belas dengan reaksi Yasmin dan Kinan.
Jeza merasa kalau itu tidak mungkin. Iya, kan? Seseorang pasti ada mengucapkan sori atau terimakasih, seenggaknya sekali dalam sebulan. Tapi, dari respon Yasmin dan Kinan, sulit juga untuk tidak percaya.
"Thanks ya." Jeza segera menerima buku itu. "Pas banget, ada tugas Eko dan besok mapelnya ada lagi."
"Itu makanya gue ke rumah lo sekarang."
"Oke, oke. Makasih." Jeza melempar senyumnya.
"Oke. Sebagai rasa terima kasih lo, gimana kalau lo ikut kita, Jez?" Yasmin menawarkan. "Mumpung Jerome juga nggak ada boncengannya."
Jerome melipat bibirnya. Diam-diam ia memberi tepuk tangan pada Yasmin. Good job! Yasmin ternyata bisa sangat diandalkan walau tanpa perintah sekalipun. Apa yang diucapkan Yasmin benar-benar mewakilkan keinginannya saat ini.
"Tapi ini udah jam lima sore. Emang mau kemana?"
Jeza sedang suntuk, pikirannya ruwet akibat masalah Misya dan Keith yang tak kunjung selesai. Suasana rumah yang sedang bersitegang juga membuatnya agak tidak betah. Hal ini lah yang mendorongnya keluar dari batas dirinya. Nanti, ketika semuanya usai, barulah ia menyesali apa-apa saja yang ia sudah perbuat.
Begitulah diri Jeza. Ia lakukan berkali-kali, menyesal berulang kali tapi esok atau lusa atau kapanpun, ia akan mengulanginya kembali.
"Jalan-jalan sore doang." Yasmin menatap Jerome. "Ya, kan, Jer? Lo setuju, kan?"
Jerome jelas mengangguk. Ini kesempatan yang ia tunggu-tunggu. "Setuju."
"Gimana, Jez? Ayolah. Sesekali juga, kan?" Yasmin ternyata begitu periang. "Dan oh ya, mulai detik ini, lo jadi temen kita. Oke?"
Jeza agak awkward mendengarnya. Tapi ia tetap mengangguk sebagai respon. Baru dua kali bertemu, tapi Yasmin sudah secepat itu mempercayai seseorang.
"Jadi, lo mau nggak?"
Jeza berpikir beberapa detik sebelum memutuskan. "Boleh, deh."
***