Ergan, Jeza dan Jeriko berada dalam satu mobil karena memang mobil Jeriko masih terparkir semalaman di rumah Jeza. Cowok itu memang menginap di sana tadi malam. Sedangkan Misya, ia bersama mama, dan diantar lebih dulu ke kampusnya, seperi biasanya.
"Itu Keith." Mama menceletuk ketika mereka sampai tepat di halaman fakultas kedokteran. "Dia jalan ke sini," sambung mama dengan wajah tak berekspresi.
Keith yang berjalan mendekat, memberi senyuman pada mama ketika posisi pria itu berada di depan mobil. Ia lalu melanjutkan langkahnya sampai ia berdiri di sisi mobil bagian penumpang dan mengetuk kacanya.
"Mama percaya kamu." Mama mengangguk seolah meyakinkan dirinya sendiri. "Yauda, kamu boleh turun."
Misya mengulurkan tangannya menyalami mama. "Misya bisa, Ma," ujarnya yang membuat mama tersenyum haru.
Mama tahu bagaimana sulitnya suatu masalah yang melibatkan perasaan. Ingin berpihak pada logika, tapi perasaan mampu membuatmu mati rasa. Satu-satunya cara adalah memaksa, tapi itu juga tidak mudah.
Mama hanya berharap, Misya tidak mengalah lagi pada perasaannya. Sudah waktunya ia bisa membuat keputusan yang baik untuk dirinya sendiri, dan mungkin juga untuk orang lain, Keith misalnya.
***
"Gue duluan," ujar Ergan pada Jeza. "Makasih, Kak, tumpangannya," sambungnya menatap Jeriko.
"Santai."
Jeza melirik kepergian Ergan dengan diam. Adiknya itu masih marah. Ergan memang begitu. Di satu waktu ia bisa sangat tenang, dan di lain waktu, bisa sangat marah seperti sekarang ini, Buruknya ialah kemarahan Ergan itu susah hilang.
"Ayo, Jez. Udah mau bel nih."
Jeza mengangguk menyetujui. Ia berjalan bersisian dengan Jeriko mulai berjalan di lorong yang ramai siswa. Mereka sedang menunggu bel berbunyi. Dan tepat beberapa detik kemudian, suara bel yang sudah sangat familiar di telinga seluruh siswa pun terdengar.
Jeriko menatap Jeza. "Pas banget. Untung aja ya, Jez," ujarnya dengan sebelah tangan yang menjinjing tasnya. "Oh ya, nanti bekal ini mau dimakan dimana?"
"Taman aja gimana?"
"Gue juga kepikiran gitu."
Mereka tertawa bersama sembari berbelok ke arah tangga. Tapi, mereka berdua dibuat kaget oleh Jerome yang sedang duduk di anak tangga ketiga dari bawah, sehingga langkah mereka berhenti untuk sesaat.
Jeriko mengernyit. Ia tahu siapa orang didepannya ini. Walaupun ia sama tidak pedulinya dengan Jeza, tapi Jeriko masih satu langkah di depan Jeza jika sesuatu itu berhubungan dengan sekolah mereka.
"Bisa minggir nggak? Udah bel dan lo masih di sini?"
Jeza menatap Jeriko heran. Sebelah alisnya naik dengan kepala menghadap ke arah cowok itu.
Jerome melirik ke atas, tepatnya ke arah Jeriko. Ia kemudian membasahi bibirnya dan mulai bangkit berdiri. Karena Jerome berpijak pada anak tangga pertama, ia jadi kelihatan lebih tinggi, padahal dasarnya ia juga sudah tinggi. Jeza sampai mendongak menatapnya.
"Kalo lo mau naik, silakan." Jerome bergeser ke kanan, berdiri tepat di depan Jeza. "Gue nungguin Jeza kok, bukan lo." Jerome tersenyum, tapi senyumnya itu bukan senyum tulus, melainkan dipaksa.
Jeriko melirik Jeza dan Jerome bergantian. "Lo kenal dia, Jez?" Karena Jeriko sangat ingat sekali kalau Jeza tidak mengenal siapa Jerome. Ia pernah memancing Jeza akan hal ini dan benar saja, Jeza memang tidak tahu.
"Gue sama dia sekelas, Jer."
Jeriko ternganga mendengarnya. Sementara itu Jerome tersenyum datar. Ia kenal Jeriko. Dulu, dia tidak mempermasalahkan nama mereka yang sama secara 'panggilan'. Tapi, sekarang ia keberatan. Bagaimana tidak jika Jeza memanggil mereka dengan panggilan yang sama yaitu 'Jer'.
"Kok bisa? Bukannya dia di kelas akhir?"
"Nggak usah gamblang banget kali." Jerome menceletuk.
"Nggak tau. Intinya dia dipindahin sementara ke kelas gue." Jeza berusaha menjelasakan. "Udah deh kita ke kelas aja. Udah bel, kan."
"Iya udah bel." Jerome menyahut. Tangannya terulur cepat, menarik tangan Jeza agar gadis itu bersamanya.
Jeriko yang melihat itu terkejut karena Jerome sudah seberani itu. Ia tidak diam saja tentunya, ia bergerak maju dan melepaskan tangan Jerome yang menggenggam tangan Jeza. Tindakannya lebih cepat dari Jeza yang memang hendak melepaskan tangan Jerome dari tangannya.
"Lo sama dia nggak ada hubungan apapun. Nggak usah berlaku seolah lo pacarnya." Jeriko menantang Jerome terang-terangan.
Jeza menatap keduanya dengan emosi yang naik di level satu. "Guys udahlah. Gitu aja ribut lho." Ia menatap Jeriko dan Jerome bergantian sebelum akhirnya melangkah lebih dulu meninggalkan mereka berdua yang masih saling menatap satu sama lain selama beberapa detik.
Jeza melangkah ke arah kelas dengan tangan terangkat memijat dahinya. Memang menjadi sikapnya dari dulu kalau sudah kesal, tepatnya terlanjur kesal, ia akan sulit mengontrol emosinya. Kadang Jeza merasa, emosinya punya tahapan level. Jika semakin tinggi apalagi mencapai level maksimal, ia bisa berteriak marah-marah, dan kemudian lupa dengan apa saja yang ia lontarkan. Benar-benar lupa. Masalahnya adalah kerika ia berteriak, itu sama sekali bukan dirinya yang biasa hingga orang-orang akan kaget melihat pribadinya yang satu itu.
"Jeza."
Jerome memanggilnya dan Jeza tidak berbalik, ia tetap meneruskan langkahnya dan berbelok, membuka pintu lalu masuk ke dalam kelasnya.
Tapi, ternyata sudah ada seorang guru duduk dibalik mejanya, dan semua teman kelasnya menatap ke arahnya. Tidak, bukan ke arahnya saja, tapi ke arah Jerome juga, yang baru datang bersamaan dengannya. Bedanya, tas Jerome sudah ada di mejanya, sedangkan tasnya masih berada di punggungnya.
"Terlambat. Jeza?"
Sepertinya pagi ini Jeza kurang beruntung karena guru mereka saat ini guru mata pelajaran Sejarah yang sama sekali tidak bisa toleransi akan keterlambatan.
"Kamu juga? Jerome?"
"Jerome tadi ke toilet, Pak!" Disa berseru, ia mengangkat tangannya lalu menurunkannya ketika selesai berbicara. "Udah permisi ke saya, kok." Akhirnya Disa bisa memanfaatkan jabatannya di kelas ini, karena selama ini ia tidak tahu apa bagusnya menjadi bendahara kelas.
"Bener, Jerome?"
Jeza pikir Jerome menggeleng. Ternyata tidak. Cowok itu mengangguk dan tersenyum, ia melewati Jeza dan berdiri didepannya. "Iya, Pak."
"Yauda masuk."
Jeza merasa ada yang tidak enak di hatinya. Memang bukan salah Jerome juga karena ia memang sudah datang sebelum bel berbunyi. Tapi, Jeza hanya berpikir kalau Jerome akan diluar bersamanya, dan ternyata tidak.
"Dan Jeza. Silakan kamu di luar. Keterlambatan tidak tertolerir sama saya," ujar guru tersebut. "Sekali lagi jangan begitu. Telat itu kebiasaan buruk. Oh ya, tutup pintunya."
Jeza diam tidak menyahut apapun. Ia menarik pintu dan menutupnya pelan.
Padahal ini pertama kalinya ia begini, bukan sering, kenapa dikatakan kebiasaan? Lalu, jika dipikir-pikir, ia terlambat karena Jerome menghalangi langkah mereka tadi. Kalau Jerome tidak begitu, pasti ia masih bisa mengejar waktu.
Apalagi jam pelajaran kali ini panjang sampai istirahat. Kalau begini lebih baik Jeza pergi ke taman dan sarapan. Perutnya sama sekali belum diisi, dan ia tidak bisa membiarkannya lebih lama lagi.
Selesai makan. Jeza tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Maunya ke perpustakaan, tapi ia tidak mood. Tadi pagi moodnya memang berantakan, tapi setelahnya tidak, dan sekarang berantakan lagi.
Ada waktu dua jam lagi sebelum istirahat. Ia bisa mati bosan jika hanya diam saja. Memang tidak mood, tapi sepertinya Jeza harus memaksa dirinya ke perpustakaan. Karena selain disana, mau kemana lagi.
"Jeza?"
Jeza mendongak dan terkejut ketika ada Jeriko didepannya.
"Eh lo ngapain di sini?" Jeriko mengernyit heran. "Kok nggak masuk?"
"Lha lo sendiri kenapa di sini?" Jeza bertanya balik.
"Kelas gue free. Nggak ada guru. Sebenernya nggak bisa keliaran sih, tapi gue permisi keluar soalnya bosen didalam kelas," jawab Jeriko cepat. "Dan lo? Masih bawain tas lagi."
Jeza tersenyum kecut. "Gue nggak dikasih masuk kelas."
Jeriko duduk di samping Jeza. "Kenapa? Jangan bilang gurunya udah sampe kelas duluan."
Jeza menghela nafas lelah. "Ya emang bener gitu."
"Dan Jerome?"
"Dia bisa masuk karena bendara tadi bilang dia ijin ke toilet."
Jeriko tertawa dan melipat tangannya di depan tubuhnya. "Apa-apaan. Orang dia nungguin lo gitu di tangga."
Jeza diam saja tidak mau menjawab. Mau kesal, tapi tidak bisa juga. Apa salah Jerome padanya? Kan tidak ada. Tapi mungkin ada, sedikit, menahannya ketika ia hendak melangkah mungkin bisa dijadikan kesalahan.
"Bekal lo udah dimakan?"
Jeza mengangguk. "Udah."
"Gue juga udah."
Jeza mengernyit sesaat sebelum ia berdecak pelan. "Iyalah gimana enggak, lo kan makannya dikit. Empat sendok doang selesai."
Jeriko berbaring dengan tangannya terlipat di belakang kepalanya sebagai bantalannya. "Gue di sini aja nemenin lo. Lagian bener-bener nggak ada guru."
Jeza menunduk menatap Jeriko yang juga menatapnya. "Seriusan nggak papa? Kalau lo mau masuk juga nggak papa. Gue ke perpus."
Jeriko menggeleng. "Dari pada nggak ngapa-ngapain. Gimana kalau main catur?"
"Gue kira lo mau ngajak ke perpus."
Jeriko bangkit berdiri. Ia sedikit menunduk menatap Jeza yang duduk. "Main catur aja, bentar gue pinjem dulu." Dan ia pergi bahkan sebelum Jeza sempat membalas perkataannya.
Jeriko sengaja memilih catur dan Jeza juga sedang malas menolak. Karena dalam permainan yang ini, Jeza selalu kalah dari Jeriko. Sebenarnya hasilnya selalu mutlak, tapi Jeriko seolah tidak ada bosannya walau ia selalu menang.
Dan kali ini pun begitu, bahkan sampai beronde-ronde pun, Jeriko masih saja menang.
"Udahlah. Game over." Jeza memutuskan berhenti. "Gue dari tadi nggak menang sekalipun. Lo juga nggak mau ngalah."
"Yang fair dong." Jeriko tersenyum jahat. "Tapi yauda. Sampai sini aja dulu."
Jeza mengangguk dan mereka berdua membereskan semua bidak catur.
"Bentar lagi bel istirahat. Kantin pasti bakalan rame." Jeriko melirik jam tangannya. "Lo nggak mau ke kantin?"
Jeza menggeleng. "Gue udah kenyang. Tapi snack boleh deh."
"Oke gue kesana bentar. Lo di sini aja," ujar Jeriko mewanti-wanti.
"Tenang aja."
Jeza tersenyum, matanya terus mengikuti kemana langkah Jeriko. Ia bersyukur sekali memiliki Jeriko di disisinya. Karena, selain keluarganya, yang paling tahu Jeza luar dalam yaa Jeriko.
Karena kedekatan mereka yang sangat itulah mengapa Jeza tidak mau ia sampai jatuh hati pada Jeriko. Karena kalau itu terjadi dan mereka berhubungan lebih dari teman, bisa saja suatu saat nanti putus dan pertemanan mereka tidak bisa kembali seperti semula. Itu adalah hal yang paling ia takutkan.
Bel istirahat kemudian berbunyi dan Jeza tidak akan masuk kelas sampai bel berikutnya berbunyi.
"Sori."
Jeza menoleh dan mendongak. Ternyata Jerome. Oh mereka sudah keluar ternyata.
"Gue nggak tau lo marah atau enggak tapi gue minta maaf."
Andai Jeza tau sesulit apa bagi Jerome untuk mengucapkan dua kata itu. Kalau Tama dan Lukas tahu hal ini, mereka pasti sudah meroasting Jerome habis-habisan.
"Mungkin kedengeran childish, tapi gue nggak suka aja liat lo sama dia."
Jeza terdiam agak lama sebelum menyahut. "Iya nggak papa."
Jerome duduk di depan Jeza. Ia agak bingung memulai percakapan dari mana, sampai tiba-tiba teman-temannya pada datang dan membuat tempat yang semula tenang itu menjadi kacau.
"Kita cariin lo ke kelas lo dan ternyata lo di sini?! Berduaan aja lagi." Lukas berseru sembari memberi high five pada Jerome, diikuti oleh Tama.
Jeza mendongak. Ada lima teman Jerome yang datang. Dua laki-laki dan tiga perempuan. Jeza mengenal wajah yang dua laki-laki, walau tidak tahu nama. Tapi ia sama sekali tidak tahu tiga perempuan lainnya.
Sesaat Jeza berpikir apa ia sekuper itu sampai tidak banyak mengenal siswa-siswa lain seperjuangannya?
"Siapa lo, Jer?" Dan kini salah satu dari perempuan itu bertanya.
"Temen kelas gue. Jeza." Jerome memperkenalkan.
"Oh hai, gue Yasmin."
Perempuan dengan rambut lurus itu menyalami Jeza.
"Ini Kinan, dan ini Silvia." Yasmin memperkenalkan dua perempuan lainnya. Kinan melambaikan tangannya antusias, sedangkan Silvia menatapnya dengan tatapan menyelidik.
"Dari gerak-gerik, kayaknya lo duluan yang deketin Jeza ya, Jer?" tebak Kinan. "Tumben. Biasanya lo nggak gini. Hayo, ada apa?"
Yasmin tersenyum canggung dan menyikut lengan Kinan. Matanya melirik Silvia yang terdiam di ujung. Memberi isyarat pada Kinan agar segera mengunci mulutnya.
"Sorii," lirih Kinan pelan, hingga hanya Yasmin yang mendengar.
Silvia yang berada di ujung berdeham. Ia melangkah mendekati Jerome, menarik tangannya memaksa cowok itu berdiri.
"Kita ke kantin. Gue yang traktir semuanya," serunya dan membawa Jerome pergi dari sana, diikuti oleh yang lainnya.
"Jez, lo nggak ikut? Boleh kok gabung." Tama menawarkan. Aksinya itu mendapat pelototan dari Yasmin dan Kinan.
Jeza bisa memahami suatu situasi dan mendeskripsikannya di dalam kepalanya. Dan sekarang ini, ia tahu apa yang tengah terjadi hingga ia memutuskan untuk menjawab. "Enggak, makasih. Kalian duluan aja."
Jawaban tertepat hingga membuat Yasmin dan Kinan mengembuskan nafas lega. Bukan apa-apa, tapi Silvia bisa semakin kacau kalau Jeza memutuskan ikut.
Jeza memperhatikan kepergian mereka. Astaga, berhadapan dengan mereka nyatanya juga membuat Jeza berdebar. Ia khawatir ia salah-salah kata.
"Mereka tadi ngapain di sini?" tanya Jeriko yang baru kembali, ia memberi satu kantong plastik berisi snack pada Jeza.
"Nggak ngapa-ngapain." Jeza menerimanya dan tersenyum senang "Makasih, ya. Lo emang the best!"
Jeriko tersenyum kecut. Memang mungkin sudah menjadi penyakit semua orang kalau memuji pasti ada maunya atau ketika maunya sudah dituruti. Coba belum, bermimpi saja.
***