Pagi di hari Senin,, suasana agak beda, entah karena apa. Ergan yang biasanya terus berbicara meroasting Jeza, sekarang diam saja, begitupun Misya. Jeza dan Jeriko saling lirik. Tidak ada yang memulai pembicaraan karena memang suasananya seolah menekan mereka untuk tidak mengucapkan apapun.
Mama bergabung ke meja makan beberapa detik kemudian. Jika belum lengkap, mereka memang tidak memulai.
"Jeriko. Gimana tidurnya tadi malam bareng Ergan? Dia nggak lasak, kan?" tanya mama terkekeh pelan, bermaksud membangun suasana. Tapi, yang menjawab hanya Jeriko, itupun tertawa canggung.
"Kenapa ini? Ada masalah?" Mama mengedarkan pandangannya, tapi tidak ada yang menjawab. "Oh ya gimana sama seragam kamu, Jer? Tadi siapa yang anter?"
"Orang rumah, Tan." Lebih tepatnya satpam yang bekerja dengan keluarganya. Jeriko tidak menyebutkan secara spesifik.
"Oke-oke. Kalian bicarain apa aja sih tadi malam sampai larut belum selesai juga?" Mama penasaran. "Mama tanya ke kalian aja deh. Ergan sama Misya kayaknya lagi bete pagi ini."
Jeza tersenyum kecil. "Banyak, Ma, yang diceritain. Jeriko nih banyak banget topik pembicaraannya," ujar Jeza menunjuk Jeriko yang duduk di sebelahnya.
"Bener, Jer?"
Jeriko tertawa. "Bisa dibilang gitu, sih, Tan. Tapi ya nggak semuanya juga. Apalagi Jeza kalau udah nyambung, panjang banget jelasinnya, Tan. Ya jadi nggak kelar-kelar."
Jeza tersenyum kecil. Ia tidak bisa mengelak karena apa yang dikatakan Jeriko memang benar adanya. Ia dan Jeriko senyambung itu kalau sudah berbicara. Mereka punya banyak kesamaan. Karena itulah, mereka bisa menjadi teman yang sangat dekat.
"Jeza emang gitu. Coba sama orang lain. Satu kata keluar aja Tante udah seneng banget."
"Udah, udah, Ma. Nggak jadi makan kalau bicara terus," potong Jeza langsung. Kalau dilanjutkan ujung-ujungnya ia yang akan diroasting. Ia sudah kebal memang, tapi kalau diungkit lagi ia tidak mau.
"Iya iya. Yauda mulai aja yuk. Jangan lupa berdoa."
Jeza menengadahkan tangannya. Namun matanya melirik ke arah Misya dan Ergan. Ia tahu ada yang disembunyikan dua orang itu. Dan sepertinya hal tidak baik, karena kalau hal baik pasti tidak begitu ekspresinya, dan pasti juga diberitahu pada mereka.
"Tunggu." Jeza berseru, menghentikan semua orang yang hendak mengambil lauk. "Kak Misya sama Ergan, kalian kenapa? Ada masalah? Kalau emang ada, jangan disembunyiin sendiri."
Mama meletakkan sendoknya, kemudian melipat tangan diatas meja. "Mama juga sebenernya mikir yang sama kayak Jeza. Apa yang kalian sembunyiin? Mama udah tau ada yang salah mulai tadi malam, tapi Mama diem karena pengen tau sejauh mana kalian berdua ngerahasiain hal itu. Kalau ada masalah, cerita, jangan diem aja."
Nada bicara mama terdengar serius, membuat Jeza tidak menimpali apapun lagi.
Lain lagi dengan Jeriko. Ia jadi merasa tidak enak. "Em Tante. Mungkin ini masalah pribadi. Jadi Jeriko keluar aja, ya," ujar Jeriko sadar diri.
"Oh enggak." Misya mencegahnya. "Nggak papa. Kamu di sini aja, Jer. Masalahnya nggak privat kok, kamu pasti juga udah tau," ujar Misya memberi senyum kecil.
"Jadi? Kenapa? Ada hubungannya sama Keith?"
"Kak Misya bakal putus sama Keith." Ergan menceletuk, pandangannya yang dari tadi menunduk kini mendongak menatap semua orang. "Keith udah keterlaluan. Bisa-bisanya dia mesraan sama Alyssa itu."
"Lo tau yang mana Alyssa?" tanya Jeza kaget.
"Gue stalking dia," jawab Ergan tegas. "Gue nggak bisa tahan ini lagi. Dia bodoh-bodohin Kak Misya. Cowok apaan kayak gitu? Dia pikir dia hebat ya mainin perasaan orang sembarangan."
"Gue nggak bodoh btw."
"Lo emang bodoh, Kak!" Ergan sepertinya kelewat batas, ucapannya itu mengejutkan Misya. "Lo dari awal udah tau dia kayak gitu, tapi masih aja lo maafin. Lo harus buka mata lo. Dia nggak tepat buat lo."
Nyatanya bukan hanya Misya yang terkejut. Tiga orang lainnya pun sama terkejutnya. Mama dan Jeza tidak percaya Ergan bisa berkata sekasar itu. Jeriko sendiri merasa biasa dengan u*****n, tetapi ia kaget Ergan berani berkata begitu pada kakaknya sendiri.
"Ergan, jaga mulut kamu!" Mama berseru. Marah tentunya.
Jeza agak panik. Situasinya malah memanas. "Ergan, udah diem. Jangan disahut," ujarnya cepat dengan bibir sedikit bergetar pada Ergan yang tadinya hendak menyahut seruan mama.
"Ma, udah. Ergan mungkin marah banget sampe nggak kekontrol gitu." Jeza menenangkan mamanya yang terlihat marah pada Ergan. "Dan lo juga, Kak. Ergan kan emang begitu kalau marah." Kini ia menatap Misya yang meresponnya dengan anggukan.
"Iya nggak papa. Gue baru sadar gue bodoh."
"Bagus kalau gitu."
"Ergan." Jeza kembali memperingatkan. Matanya menatap tajam adiknya itu.
"Udah jelas-jelas gue punya screenshootannya, bukti kalau apa yang gue bilang nggak cuma karangan doang. Tapi, tau apa yang dibilang Kak Misya?"
"Ergan, udah!" Kini Misya yang berseru.
"Kak Misya mau minta penjelasan dia dulu, baru buat keputusan. Apa-apaan? Udah jelas ada buktinya. Mau penjelasan apa lagi?" Urat tampak menegang di leher Ergan, menandakan semarah apa ia sekarang. "Plis, Kak. Masih banyak cowok di luar sana, kenapa harus dia?!" tanyanya yang hampir berteriak.
Mama menarik nafasnya dalam, tangannya terangkat memijit dahinya. "Ergan. Kapan kamu tau foto itu?"
"Jum'at sore. Makanya Ergan keliatan nggak mood, kan? Ya karena foto itu."
"Tolong jangan ada yang pergi," ujar mama ketika mama sadar Misya hendak pergi dari meja makan. "Kita selesaiin masalahnya di sini, sekarang juga."
Mama melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Masih jam tujuh kurang lima menit. Tiga puluh lima menit lagi sebelum Jeza, Jeriko dan Ergan masuk ke dalam kelas mereka. Mungkin ini cukup untuk membahas semuanya.
"Coba mana fotonya? Mama mau liat."
Ergan mengeluarkan ponselnya, mencari foto itu di galerinya dan setelah ketemu, ia langsung memberinya pada mama. Ergan berusaha mengendalikan amarahnya agar kembali terkontrol. Ia juga merasa bersalah sekarang karena sudah mengatakan Misya bodoh.
"Sori. Gue cuma pengen lo sadar," gumam Ergan yang masih didengar semuanya. "Dia nggak pantes buat lo," sambungnya dengan tampang sangat kusut.
Jeza membasahi bibirnya. Kedua sikunya bertumpu pada meja dan tangannya ia satukan, menempel pada dagunya. Ia agak paham posisi Misya karena Misya juga sudah menceritakan bagaimana perasaannya jika ia sedang ada masalah dengan Keith.
Mama melihat foto itu cukup lama, seolah mengartikan ekspresi Keith dan Alyssa. Dan ketika ia sudah puas, ia mengembalikan ponsel itu pada Ergan.
"Misya. Gimana perasaan kamu?" tanya mama menatap Misya. "Apa yang buat kamu masih mau dengerin penjelasan Keith padahal udah jelas ada buktinya di sini."
Rahang Ergan mengeras. Ia agak tidak mau mendengar jawaban Misya karena nantinya ia yang akan kesal sendiri. Ia merasa Misya terlalu baik untuk lelaki brengs*k seperti Keith.
"Misya tau harusnya ambil langkah tegas. Tapi ini nggak segampang itu, Ma. Misya akui Misya bodoh, kayak yang dibilang Ergan, tapi memang perasaan itu masih ada. Nggak semudah itu buat diilangin. Misya juga udah coba berpikir logis, tapi tetep aja kayak Misya nggak rela hubungan ini berakhir." Misya mencoba menjelaskan semampunya.
"Mama paham perasaan kamu. Kamu nggak mau kehilangan Keith, kan? Tapi coba kamu pikirin lagi. Keith selalu kayak gini, dan kamu selalu maafin, walaupun sebenernya kamu yang sakit. Dan Keith juga terus ngulang, kan? Nggak ada berhentinya. Kalau gitu siapa yang terus-terusan sakit? Kamu, kan? Kamu rela diri kamu disakiti dia?"
Jeriko di ujung diam saja tidak mengomentari apapun. Ia juga sebenarnya canggung dan ingin pergi. Tapi rasanya tidak etis juga. Serba salah jadinya.
"Misya tau."
"Kalau udah tau, dilakuin dong, kak," ujar Ergan dengan nada pelan, tidak seperti tadi. "Lo mungkin bakal kesusahan awalnya. Lo bakal sakit pas tau dia udah jalan sama cewek lain. Tapi dari sana, lo jadi tau sebrengs*k apa dia, kan? Lo nggak pantes sama dia makanya lo dihadapin sama keburukan Keith. Lama-kelamaan juga pasti biasa. Lo pasti bisa move on. Nggak peduli perlu berapa tahun lamanya, pasti bakal lupa, nggak mungkin dia terus-terusan nempel di kepala lo, kan?"
Jeza mengangguk setuju. "Gue setuju," ujarnya menatap Misya. "Gue paham betul gimana perasaan lo, Kak. Tapi, minta penjelasan ketika dia udah ketangkap basah itu bener-bener nggak perlu lagi. Udah jelas kok, nggak ada yang abu-abu. Apalagi kita malam itu juga liat kan gimana dia sama Alyssa. Dia bohongin lo juga."
"Kenapa sama malam itu?" Ergan bertanya, ia menatap Jeza penasaran.
Mata Jeza lurus, menjadi datar ketika memandang Ergan. "Kamu nggak perlu tau."
Ergan mendengus. "Yauda." Ia lalu memutar kepalanya menatap Misya. "Ah gimana kalau lo pindah kampus aja, Kak? Otomatis kan lo nggak jumpa dia."
"Nggak." Mama menolak cepat. "Nggak ada pindah-pindah kalau cuma karena dia. Misya harus ngebuktiin dia kuat, dia nggak kalah dari Keith. Apa cuma gara-gara Keith, Misya sampai harus pindah? Dia nggak ada apa-apanya. Perasaan Misya penting, tapi Keith ... sama sekali nggak penting."
Jeza menatap mama lekat. Oke, dia paham sekarang. Dari raut wajah mama, ia tahu kalau Keith tidak akan bisa lagi mendapat perhatian mama. Orang tua mana yang rela anaknya disakiti oleh orang lain. Apalagi berkali-kali.
"Misya. Kamu emang harus putus dari dia. Kamu pasti bisa. Dicoba aja dulu, ya. Pelan-pelan kamu pasti bisa. Di sini ada Mama, ada adik-adik kamu yang selalu dukung kamu."
Misya terdiam cukup lama sebelum akhirnya ia mengangguk. "Iya, Ma. Misya usahain."
"Jangan cuma usahain, Kak. Tapi emang harus."
"Ergan!" Jeza berseru. "Lo nggak tau pasti gimana perasaan Kak Misya. Jadi lo nggak bisa maksa sesuai kehendak lo."
"Apa yang gue bilang bener, kan?!"
"Ergan. Yang dibilang kakak kamu bener. Ini nggak semudah itu. Soal perasaan nggak ada yang mudah. Kamu tau? Bahkan ada orang yang dibuat sakit-sakitan karena kecelakaan bareng pacarnya aja masih nggak mau pisah. Jadi, kita nggak bisa ngejudge sesuai apa yang kita pikirin," ujar Mama memperingati Ergan. "Kamu paham kan sekarang?"
"Paham, Ma."
"Yauda bagus." Mama menghela nafas. "Masih ada waktu lima belas menit. Kayaknya lebih bagus sarapan kali ini dibuat dalam bekal aja. Takutnya kalian telat. Jeza, tolong buatin, ya."
Jeza bangkit berdiri. "Iya, Ma." Dan melangkah ke arah dapur.
Mama kemudian berdiri dan menghampiri Misya. Misya yang tahu mamanya menghampirinya pun ikut berdiri dan memeluknya mamanya. Matanya berair, hendak menangis, tapi Misya menahannya, ia tidak ingin kelihatan rapuh didepan mamanya. Mamanya begitu kuat menghadapi semuanya sendirian tanpa ayahnya, itu kenapa Misya merasa ia juga harus sekuat mamanya.
"Kamu bakalan baik-baik aja. Yang kayak dia, dilupain aja, ya."
Misya memejamkan matanya, setitik air lolos dari matanya. "Iya, Misya bakal coba. Makasih, ya, Ma."
"Sama-sama, Sayang."
***