29. Memilih Menyerah

1494 Kata
Hari ini, sebenarnya kelas Misya hanya ada di pagi hari, tepatnya sampai jam sepuluh pagi, setelahnya ia bisa pulang dan istirahat di rumah. Tapi, karena ada janji dengan Keith, maka ia berbohong ke mamanya kalau ia ada tugas kelompok yang membuatnya harus stay di kampus sampai siang atau sore. Dan sudah lebih dari dua jam Misya menunggu Keith di halaman kampus dan tidak ada tanda-tanda kedatangan pria itu. Misya mencoba menghubunginya, tetapi Keith tidak aktif. Tapi Misya selalu membuat kesempatan, seperti ia akan menunggu lima menit lagi, atau sepuluh menit lagi, dan nyatanya itu hanya sia-sia, Keith tidak pernah datang untuknya. Misya jadi berpikir, apa sebenarnya yang Keith inginkan? Ketidakseriusan itu terlihat jelas. Keith seolah tidak tertarik lagi dengannya, sedikitpun. Kalau ia tertarik atau ia peduli, harusnya ia datang tepat waktu, bukan? Misya sudah meluangkan waktunya, bahkan berbohong pada mamanya, tapi hasilnya tidak ada. Misya menyalakan ponsel di tangannya dan harapannya lagi-lagi pupus ketika tahu tidak ada notifikasi di sana. Keith benar-benar menghilang entah kemana. Misya tidak ingin mencari tahu karena ia belum siap menghadapi kenyataan. Ya, Misya ada pemikiran kalau Keith sedang bersama Alyssa. Entahlah, tapi itu terlintas didalam kepalanya. Karena Keith tidak kunjung datang dan tidak ada pesan darinya. Maka Misya memutuskan pergi dari sana dan pulang ke rumah. *** Jeza pulang dan tidak disambut apa-apa oleh Ergan. Ya, ia juga tidak mengharapkan apapun, termasuk ocehan Ergan. Adiknya yang terkenal super cool itu terkadang bisa sangat cerewet di rumah. Mungkin sesekali Jeza harus merekamnya dan menguploadnya ke website sekolah. Mungkin akan lucu dan mengejutkan tentunya. "Kenapa senyum-senyum?" Baru saja dipikirkan, ucapan nyelekitnya sudah keluar saja, membuat Jeza tertawa karena waktunya sangat pas sekali. "Nggak." Jeza menggelengkan kepalanya, tapi masih tertawa. "Enggak papa." Ergan menatapnya dengan kedua matanya yang memicing. "Kayaknya lo lagi seneng banget. Ngapain aja di rumah si Jerome itu?" "Eh nggak sopan manggil nama doang." Jeza mengingatkan, tapi tak ada sahutan dari Ergan, sepertinya ia tidak peduli. "Oke oke. Gue kenalan sama ad--" Tiba-tiba Jeza teringat kalau Jerome mengatakan padanya kalau ia tidak boleh memberitahu siapapun tentang Kiella. Karena hal ini benar-benar sangat rahasia. Tapi, karena Jeza yang berhenti tiba-tiba itu, kecurigaan Ergan malah tambah besar saja. "Ad apa?" "Enggak. Nggak ada. Gue salah ngomong." Jeza menggeleng dengan wajah yang ia buat setenang mungkin. "Sumpah pikiran gue keganggu dari tadi. Apa yang gue bilang selalu nggak sinkron sama apa yang ada di otak gue." Ergan semakin menatap Jeza tajam dan Jeza harus mati-matian kukuh dengan dirinya yang sekarang atau ia akan tertawa karena keposesifan Ergan. "Beneran, Ergan. Gue cuma diajak keliling di rumahnya yang besar itu. Nggak ada apapun lagi." "Terus kok bisa diajak dia? Kalian cuma temen, kan? Tapi kenapa sampai segitunya seolah lo bakalan jadi calon istrinya." Jeza menutup mulutnya yang hendak menyemburkan tawanya. Ergan benar-benar payah membuat lelucon. "Gue serius." Justru jika Ergan semakin serius, semakin lucu ia di mata Jeza. Jeza bahkan harus menghela napas berulang kali meredakan tawanya yang sudah menyangkut di tenggorokannya. "Oke." Jeza berdecak pelan. "Gue beneran cuma temen sama dia. Apa ya ... mungkin kayak dibilang perayaan temen baru, jadi dia ngajak gue ke rumahnya. Di rumahnya dia nggak sendiri kok, ada per-- maksud gue pembantu juga." Jeza mengangkat kedua bahunya. "Mama udah tau ini? Gue lupa soal ini tadi. Gimana pun lo deket sama cowok, rasanya aneh lo diajak ke rumah mereka. Sementara Jeriko yang udah kenal dari lama aja nggak pernah ngajak lo ke rumah dia." Bukan tidak pernah menawari sejujurnya, tapi Jeza saja yang selalu menolak dengan alasan ia tidak dekat dan akan canggung nantinya, jadi ia menghindari itu semua. "Udah," jawab Jeza singkat. "Puas, kan lo." Ergan mendesah keras, ia memutar tubuhnya kembali menghadap tv. "Sumpah heran banget. Kenapa lo bisa deket sama cowok kayak dia." Ergan bergumam dengan kesal, tapi Jeza masih bisa mendengarnya. Kadang, pandangan pertama Ergan itu cukup sulit untuk dirubah padahal sudah dijelaskan berkali-kali. Biasanya pemikirannya itu akan berganti ketika ia sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri. Barulah ia bisa memperbaharui pikirannya. Memutuskan untuk tidak begitu peduli. Jeza naik ke atas, masuk ke kamarnya. Ketika Jeza sedang menyisir rambutnya, entah kenapa ia tiba-tiba teringat akan Kiella. Gadis yang kesannya tidak begitu suka dengannya itu nyatanya agak menarik perhatian Jeza. Seperti Jeza bisa melihat ada potensi di dalam diri Kiella. Jeza tahu Kiella punya beberapa kekurangan, namun memang semua manusia tidak sempurna, bukan? Jika Kiella memiliki kekurangan di sisi yang satu, maka sisi satunya ia unggul. Jeza mengingat-ingat gambar-gambar yang dihasilkan tangan Kiella. Benar-benar luar biasa! Gambar itu bahkan digambar diatas kertas HVS dan dengan pensil hitam. Entah akan sebagus apa jika digambar diatas kanvas dengan kuas. Mungkin akan benar-benar menjadi karya yang luar biasa. Jeza juga bertanya-tanya didalam hatinya apakah Jerome mengetahui potensi Kiella ini atau tidak? Karena kalau tidak, Jeza dengan senang hati akan memberitahunya dan memintanya mengarahkan Kiella ke arah yang lebih baik. Jeza selesai menyisir rambutnya dan menguncirnya. Ia kini membaringkan tubuhnya di atas kasur. Fakta lainnya tentang Jerome yang membuatnya kaget adalah tentang kedua orang tua Jerome. Ia tidak percaya jika masih ada orang tua seperti itu. Jeza tumbuh besar di keluarga yang bahagia. Jadi, ia pikir kebanyakan orang akan merasakan hal yang sama dengannya. Tapi siapa sangka salah satu orang yang cukup dekat dengannya mengalami pengalaman yang berbanding terbalik dengannya. Tapi, setidaknya, dalam aspek ekonomi, Jerome benar-benar terdukung. Karena mau menolak atau tidak, keuangan sungguh-sungguh amat penting untuk menjalani hari demi hari dalam hidup. Tak lama kemudian, Jeza mendengar suara mobil masuk ke dalam garasi rumahnya dan ia langsung tahu kalau itu mamanya. Karenanya, ia segera bangkit dan keluar dari kamarnya, turun ke bawah dan dengan semangat menunggu mamanya di depan pintu. Sedangkan Ergan terlihat tidak peduli dan hanya fokus pada acara didepannya. "Hei!!" Mama berseru menghampiri Jeza dan Jeza menyalami juga mengecup punggung tangannya. "Misya udah pulang belum, Jez?" Jeza menggeleng. "Belum, Ma. Mungkin tugasnya belum selesai." Mama mengangguk-angguk. "Tumben juga, ya. Biasanya kalau ada tugas nggak gini," gumam mama. "Oh ya terus gimana tadi kamu sama Jerome?! Ceritain ke mama semuanya." Mendengar itu, membuat Jeza sudah meminta maaf pada mamanya didalam hati karena ia berpegang teguh pada janjinya untuk tidak memberitahu siapapun tentang apa saja yang terjadi pada keluarga Jerome. "Jeza?" "Oh nggak ada yang spesial sebenernya, Ma. Rumah Jerome bagus, besar banget. Udah gitu aja. Lagian Jeza di sana cuma sebentar, abisnya nggak tau mau ngapain lagi." "Jadi, dia nggak punya alasan ngajak kamu ke sana?" tanya mama. "Mama pikir ada alasan khusus." Jeza tertawa dan menggeleng. "Enggak, Ma. Sama sekali nggak ada. Mungkin karena Jeza sama dia temenan jadi dia yaa dia mau ngenalin rumahnya ke Jeza," jawab Jeza yang dia sendiri tidak tahu apa yang ia katakan. Mama hendak menimpali, tapi memilih mengurungkan ketika pintu depan rumah mereka terbuka dan Misya masuk dengan wajah kusut. Tanpa diberitahupun, mama dan kedua adiknya sudah tahu pasti ada sesuatu yang buruk yang terjadi pada Misya. "Kenapa ini muka anak mama? Kok kusut banget. Kenapa? Kamu ada masalah? Tugasnya belum selesai? Terlalu susah, ya?" tanya mama berturut-turut dan membuat Misya tertawa. "Malah ketawa. Mama nanya serius ini. Kamu kenapa?" Misya menghela napasnya. Ia menoleh pada Ergan yang sudah tidak peduli dengan acara di tv, karena sekarang ia memutar tubuhnya menghadap Misya, menunggu penjelasan Misya. Mama dan Jeza juga berdiri didepannya. Ketiganya sama-sama meannti penjelasan mengapa mukanya kusut seperti ini. "Oke. Pertama, buat mama. Maaf sebenernya Misya nggak ada tugas apa-apa hari ini. Misya udah bohong. Maaf banget. Buat Jeza sama Ergan, juga maaf." Misya mulai menjelaskan dan tidak ada yang menyela. "Sebenernya siang ini, Misya ada janjian sama Keith. Tapi, dia nggak dateng. Misya udah nunggu empat jam lebih tapi dia nggak dateng-dateng. Dihubungi juga nggak bisa." Ergan mengerang pelan dan bangkit dari duduknya. Ia berlari kecil dan naik ke lantai atas. Ergan memang sudah semuak itu mendengar tentang Keith. Jadi, ia tidak ingin peduli lagi. Jeza juga sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Ergan. Ia tidak mau mengucapkan apapun, tapi ia tetap di sana. Ia juga lelah memberitahu Misya kalau Keith tidak baik, tidak pantas untuknya. Tapi Misya selalu membela dan akhirnya kembali tersakiti seperti ini. Seolah ini seperti rantai makanan, tidak akan ada habisnya jika salah satu aspek memutuskan rantainya. "Kan Mama udah bilang, kan?" Jeza menatap mamanya dan tersenyum kecil, sepertinya mama juga sama perasaannya seperti ia dan Ergan. Misya yang mau hubungannya dengan Keith berjalan kembali, maka segala resiko harusnya ia siap tanggung. "Misya tau, Ma." Mama mengangguk. "Yauda bagus kalau gitu." Bahkan Mama tidak memberi saran atau apapun pada Misya. Agak mengejutkan karena biasanya mama selalu ingin menjadi bagian dari cerita anak-anaknya. Dan juga tidak terkejut karena kalau sudah lelah, maka apapun ya biarkan saja. "Tapi sekarang, Misya sadar, Ma." Misya berujar. "Misya kayak dibodoh-bodohin sama dia." Mama dan Jeza terkejut mendengarnya. Jadi akhirnya Misya sadar juga?! "Misya bakal putus dari Keith." Misya menyerukannya dengan tegas, ada senyum kecil juga di wajahnya. "Misya juga udah capek, Ma. Jadi, Misya nyerah." Mama tersenyum lebar, begitupun Jeza yang tertawa. "Akhirnya mata lo kebuka juga, Kak!" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN