Di tengah keramaian, orang-orang berlalu lalang, tampak tertawa dan bahagia. Silvia hanya bisa melihat dengan ekspresinya yang tidak terbaca.
Silvia sedang duduk di taman. Sendirian di bangku yang panjang. Sudah bermenit-menit yang lalu dia disana dan tidak ada seorangpun yang menghampirinya.
Sebenarnya, ada beberapa cowok yang menyadari Silvia dan ingin mendekatinya. Tapi, karena Silvia terlihat begitu cuek, mereka jadi urung dan memilih pergi alih-alih mendatangi.
Silvia tidak peduli. Ia ke sini bukan untuk mencari pacar atau menebar pesona. Ia tidak perlu itu. Ia hanya ingin mencari angin segar dan meresapi kebahagiaan banyak orang agar setidaknya ia bisa mendapat secuil rasa senang karena ia sedang bad mood sekarang.
Silvia selalu punya masalah dengan kedua orang tuanya. Mereka terlalu ketat dan memberlakukan banyak aturan pada Silvia yang kebetulan anak semata wayang mereka.
Sayangnya, Silvia tidak suka dikekang. ia merasa ia pantas untuk bebas, melakukan apapun yang ia suka tanpa perlu adanya batasan. Perihal Jerome yang orang tuanya tidak di rumah itu Silvia tahu, bahkan yang lain juga tahu. Dan ketika mendengarnya pertama kali, Silvia langsung iri pada Jerome.
Ya, Jerome bisa melakukan apapun yang ia mau tanpa perlu usaha keras dahulu. Ia tinggal melakukannya dan selesai. Tidak sepertinya yang harus membujuk orang tuanya mati-matian atau jika terpaksa, ia harus berbohong. Sungguh hidup seperti itu sangat tidak menyenangkan.
Mengingat Jerome. Membuat Silvia teringat lagi akan kejadian tadi siang dimana Jerome mengajak Jeza datang ke rumahnya. Seperti tidak mungkin saja. Ia, yang sudah bersama Jerome dari lama, tidak pernah sekalipun ditawari ke rumahnya. Lalu, Jeza? Baru beberaa hari! Apa sebenarnya yang ada di pikiran Jerome?
Silvia padahal sudah melakukan banyak hal untuk Jerome. Silvia bertanya-tanya apakah itu semua tidak berharga baginya? Apa ia tidak bisa terpandang? Hanya sebagai teman? Mengingat penolakan Jerome waktu itu membuat sakit hati Silvia malah tambah parah.
"Silvia."
Silvia tersadar dari lamunannya begitu seseorang memanggilnya. Ia mendongak dan tersenyum.
"Hai, Jer."
Ya, Jeriko. Mereka sebenarnya sudah saling mengenal sejak satu SMA. Tidak terlalu akrab karena berbeda kelas.
Silvia tahu ini akan agak canggung mengingat Jeriko adalah cowok yang punya sikap agak cuek. Sangat bersyukur Jeriko mau diajak bertemu oleh Silvia. Karena biasanya, Jeriko hanya mengakrabkan diri dengan Jeza saja.
Bisa dibilang, Jeza itu sebenarnya gadis yang beruntung juga. Dia dekat sekali dengan Jeriko, dan sekarang dia juga dekat dengan Jerome. Rasa cemburu Silvia semakin membara rasanya.
"Udah nunggu lama?"
Silvia menggeleng dan merapikan rambutnya yang agak berantakan karena angin. "Enggak kok. Nggak sampai setengah jam."
Jeriko mengangguk dengan senyum kecil di wajahnya. "Itu cukup lama juga. Sori ya."
"It's ok." Silvia tertawa canggung. Nah, baru saja dibilang. "Gue ajak lo ke sini karena yaa lo tau sendiri, kan?"
"Apa?" Jeriko menatap Silvia penuh tanda tanya. "Gue akhir-akhir ini agak sibuk jadi nggak tau apa-apa."
"Oke. Gue langsung to the point aja ya." Silvia memicing menatap Jeriko karena silau cahaya. "Lo tau kan, Jerome sama Jeza sekarang lagi deket?"
Jeriko mematung sesaat, Silvia merasakannya. Cowok itu kemudian menghela napas dari mulutnya dan melipat tangannya di d**a.
"Ya gue tau." Jeriko tersenyum tipis. "Agak kaget awalnya. Tapi ya mungkin udah takdir."
"Kok lo ngomongnya gitu?" Silvia mengernyit heran. Respon seperti itu sama sekali tidak ada di pikirannya. "Lo nggak marah atau apa?"
"Gue nggak marah. Cuma cemburu. Gue suka sama Jeza. Dia bener-bener cewek yang langka banget. Dia--"
"Stop, Jer. Kita disini bukan untuk kagumi Jeza, okey?"
"Kok lo sensi?" Jeriko mengernyit, tampak tak suka. "Lo nggak suka sama Jeza? Ah ya, lo deket sama Jerome, kan? Dan sekarang dia deket sama Jeza, lo marah. Oke gue paham."
Silvia membuang wajahnya untuk sesaat. Bukan ini maksud mengajak Jeriko ke sini. Ia ingin merunding bagaimana cara tertepat memisahkan kedua orang yang mereka sama-sama suka. Tapi, nyatanya Jeriko tidak semarah dirinya. Ini jadi agak sulit.
"Gue emang nggak marah. Tapi gue nggak bilang gue nggak cemburu." Ucapan lanjutan dari Jeriko itu mengejutkan Silvia.
Kalau begitu mereka sama. Biarlah Jeriko tidak terlalu marah. Tapi intinya dia cemburu, sama halnya seperti yang dirasakan Silvia.
"Lo pasti pengen misahin mereka dua makanya lo ajak gue ke sini. Iya, kan?" Jeriko menebaknya dan melihat Silvi tertawa, ia pun ikut tertawa.
"Gue ketauan." Silvia menutup mulutnya yang tertawa. "Yak. Jadi intinya gitu, gue mau ajak lo kerja sama. Mudah aja sih sebenernya, lo tinggal lebih deket sama Jeza. Dan gue ke Jerome."
"Agak susah karena mereka sekelas."
"Itu masalahnya. Mereka juga deket karena sekelas." Silvia bertopang dagu dan tampak berpikir. "Tapi ya nggak ada salahnya, kan? Di coba dulu."
Jeriko mengusap tengkuknya dan berdeham. "Sejujurnya, gue abis tamat nanti, mau kuliah di luar negeri. Eh tapi jangan kasih tau siapa-siapa, karena cuma lo yang baru gue kasih tau."
Silvia membulatkan matanya. "Seriusan?!"
Jeriko mengangguk. "Iya. Dan karenanya, gue harus banyak belajar dan les ke sana sini. Itu yang buat gue agak sibuk dan nggak ada waktu main sama Jeza. Jadi, gue nggak tau gue bisa atau enggak kerja sama, sama lo."
Silvia merenung. "Lo cuma perlu keep Jeza pas di sekolah aja. Pas di luar lo nggak perlu. Jerome, gue yang tahan," ujarnya serius. "Emang lo nggak marah atau sakit hati pas mereka bareng gitu? Lo tau nggak sih kalau sekarang, Jeza ada di rumah Jerome?"
Mata Jeriko melebar, sepertinya ia terkejut. "Di rumah Jerome?!"
"Iya. Lo baru tau, kan?"
"Masa? Kok bisa?" Jeriko keheranan. "Maksud gue, Jeza itu biasanya nggak gitu. Apa yang dibuat Jerome ke dia?"
Silvia menjentikkan jarinya. "Ekspresi lo nggak beda dari gue pas pertama kali denger itu. Cuma gue pandai nyembunyiinnya. Tapi ya yang jelas gue shock. Apa alasan yang buat Jerome bisa ngelakuin itu? Padahal, nggak pernah sekalipun Jerome ngajak gue atau temen-temennya yang lain masuk ke dalam rumahnya. Dan ini? Baru beberapa hari ini kenal?"
Jeriko mengusap dagunya perlahan. Ia mulai memikirkan hal ini. Awalnya tadi ia pikir semua masih dibawah batas wajar. Tapi informasi yang diberitahu Silvia tadi agaknya membuatnya khawatir. Ia tahu sekali bagaimana Jeza. Gadis introvert itu rasanya tidak akan mau bersama cowok yang baru dikenalnya beberapa hari. Belum ada sebulan juga. Sedangkan dengannya dulu, butuh waktu lebih lama. Bukannya iri, tapi Jeriko malah merasa ada sesuatu yang dilakukan Jerome ke Jeza hingga Jeza mau pergi bersamanya.
"Gue nggak bisa gini lagi." Silvia menggelengkan kepalanya. "Lagian mereka berdua bener-bener nggak cocok. Nggak sama sekali. Ada baiknya kalau mereka pisah aja. Nggak perlu juga jadi temen, jadi orang asing kayak semula aja."
Jeriko melirik Silvia sesaat. "Nggak segampang itu, Sil."
"Gue tau. Makanya gue mau buat rencana sama lo."
Jeriko menghela napasnya dan mengusap-usap pahanya yang berbalut jeans hitam. "Rencana apa yang lo maksud?" tanyanya dengan mata memicing. "Gue tau lo nggak suka, gue juga. Tapi gue nggak mau main kotor. Kalau emang kita berdua harus misahin mereka berdua, maka dengan cara yang nggak ngerugiin siapapun. Lo paham maksud gue?"
"Gue paham, tentu." Silvia agak merasa tertampar sejujurnya. "Kalau main aman, ya lo keep Jeza dan gue keep Jerome."
Jeriko mengangguk kecil. "Gue setuju." Tapi masih ada yang mengganggu di pikirannya. "Pas gue pertama kali ngeliat Jerome ada di rumah Jeza juga buat gue terkejut sebenernya. Kayak itu tuh nggak pernah dilakuin Jeza sebelumnya. Kalaupun Jerome yang nekat dateng, tapi keluarga Jeza kayak welcome ke dia."
"Lo serius?" Silvia melirih dan menggeleng tidak percaya. "Jerome juga udah pernah ke rumah Jeza? Ketemu keluarganya? What the ... apa-apaan?"
Jeriko menegakkan tubuhnya. "Dari sana. Gue mikir mungkin Jerome lumayan cocok sama Jeza. Bisa sedeket itu dalam beberapa hari luar biasa menurut gue."
"Jadi maksud lo?" Silvia agak kesal dengan Jeriko karena ucapannya yang berbelit-belit. Entah ingin bekerja sama atau tidak.
"Gue bakal keep Jeza, kayak rencana ini. Tapi kalau dengan begitu, Jeza masih deket aja sama Jerome. Maka gue nggak bisa apa-apa. Ada dua hal yang buat gue kayak gini. Pertama karena Jeza nggak punya perasaan yang sama kayak gue, dia anggep gue sama dia cuma temen. Dan kedua, gue bakal ninggalin Jeza, karena gue bener-bener pengen banget kuliah di luar negeri."
Silvia menatap Jeriko cukup lama sebelum mengangkat bahunya. Sepertinya ia tidak puas dengan jawaban Jeriko. Tapi tidak apa, setidaknya ia akan mencoba, begitupun Jeriko. Namun, jika rencana itu juga tak mempan, lalu Jeriko mundur, bukan berarti Silvia juga melakukan hal yang sama. Sebaliknya, Silvia akan tetap maju dengan rencana yang hanya ia yang tahu.
***