Jeza merasa ia seolah melihat sisi lain dari Jerome. Yang tidak pernah ditunjukkan Jerome pada siapapun. Sejujurnya, Jeza senang ia menjadi yang pertama tahu tentang apa yang disembunyikan Jerome dari orang-orang. Tapi di sisi lain, ia juga merasa canggung, entah kenapa. Rasanya, Jerome yang begitu terbuka ini berlebihan untuk ia yang tidak ingin terbuka sama sekali.
Jeza memang tidak punya rahasia. Hanya saja ada satu hal yang hanya dirinya lah yang tahu, yaitu kepribadiannya. Mungkin banyak orang berpikir Jeza adalah introvert. Tapi sebenarnya, jauh dari satu kata, Jeza mengalami banyak rasa dan sukaduka. Dan itu semua, hanya ia yang mengerti..
"Terus." Jerome memulai pembicaraan karena sejak tadi mereka diam saja. "Lo jadi ikut ke tim voli? Sebagai asistennya?"
Tadinya Jeza sudah bertekad kalau ia akan ikut. Tapi sekarang, keinginannya kembali pupus. Mood yang gampang sekali berubah ini benar-benar membuat Jeza merasa pusing. Ia ingin tapi hatinya sudah tidak ingin kan susah, tidak bisa juga dipaksa.
"Gue nggak tau." Dan hanya itulah yang bisa dijawab oleh Jeza.
"Oke. Gue sama yang lain sama sekali nggak maksa lo. Tapi, kalau bisa lo udah bisa mutusin besok. Karena, kalau lo nggak mau, gue harus segera cari penggantinya."
Jeza terkesiap. Apa ia akan melalui kesempatan ini? Kesempatan agar ia bisa bergaul dengan orang lain. kesempatan agar ia tidak begitu kaku lagi ketika berbicara dengan orang-orang.
"Gue kabarin besok, deh, ya."
Jerome mengangguk. "Btw, lo nggak kaget tentang adek gue tadi? Karena kan cuma lo yang tau selain gue sama dua mbak tadi."
"Enggak. Adek lo keren malah." Jeza benar-benar memuji, matanya berbinar. "Eh tapi kenapa lo bilang cuma lo sama dua mbak tadi yang tau? Keluarga lo gimana?"
Jerome terkekeh. "Mereka tau. Tapi nggak peduli. Gue sama Kiella kayak udah bener-bener diasingkan dari sana. Jadi ya ... yauda kan mau gimana lagi. Itu kenapa gue capek sama semua ini. Lo bayangin aja nanggung semua beban di pundak lo, pasti capek, Jez."
"Justru itu lo harus kuat demi Kiella. Mungkin memang ini yang terbaik buat lo," ujar Jeza menyemangatinya.
"Kalau lo ada di posisi gue. Lo bakal gimana?" Mungkin Jerome terdengar sedang meminta saran. Yang artinya kalimat Jeza nanti bisa ia terima atau tolak. Namun nyatanya Jerome akan mengambil seluruh kalimat Jeza dan akan ia praktekan. Sudah ia katakan bukan jika ia hanya sendirian dengan Kiella. Jerome tidak tahu apa yang harus ia lakukan atau apa rencana yang harus ia siapkan untuk ke depannya.
"Gue bakal mandiri." Jeza menjawab pasti. "Kan lo tetep dikasih duit. Gue tabung semua itu dan gue buat usaha pas tamat SMA. Gue ngejalanin usaha itu sambil kuliah. Dan ketika gue sukses nanti, gue lupain semua yang nggak gue butuhin dan mulai hidup baru."
Karena menurut Jeza, apapun dan siapapun yang menyakiti, tak pantas untuk tidak dilupakan. Jeza juga baru teringat ucapan mamanya, dan benar saja, dari apa-apa yang diceritakan Jerome, Jeza mungkin bisa menyimpulkan jika Jerome tidak pernah memakan masakan mamanya. Dan membayangkannya, menakutkan bagi Jeza. Karena Jeza sudah biasa memakan masakan mamanya, bahkan ia sampai mual karena begitu banyaknya yang mama masak dan mereka sebisa mungkin untuk menghabiskannya.
"Pikiran lo hampir sama kayak gue. Dan gue bakal lakuin itu."
Jeza mengerjap. "Hah? Lo serius? Gue cuma saran, lo bisa kritik atau tolak atau apapun, Jer. Jangan--"
"Maaf ganggu waktunya, Mbak, Jer." Seorang perawat menginterupsi pembicaraan mereka. "Tapi Non Kiella sudah bangun."
Jerome bangkit berdiri. "Udah bangun?" tanyanya ulang dan si perawat mengangguk. Jerome kemudian menatap Jeza dan mengangguk, menyuruh Jeza agar kembali naik ke kamar Kiella.
Sampai di sana. Kiella sedang duduk diatas kursi rodanya. Dilihat begini, Kiella tampak seperti gadis kecil umumnya, hanya saja tidak bisa berjalan. Namun, jauh didalam sana, Kiella juga tidak bisa berpikir seperti orang kebanyakan, ia sulit mencerna dan juga kesulitan bicara.
"Kiella. Hai." Jerome menghampirinya, bersamaan dengan satu perawat lagi yang memutuskan mundur dan keluar dari kamar.
"Hhaii." Jawaban Kiella terdengar kurang jelas. Tapi Jerome bisa menebaknya, telinganya sudah sensitif dengan cara bicara Kiella, begitupun kedua perawatnya.
"Ella. Kenalin. Ini Jeza. Yang pernah kakak ceritain." Jerome berlutut di sebelah Kiella, tanganya terangkat menunjuk ke arah Jeza yang berdiri tepat didepan Kiella.
Jeza memberi senyum lebar dan menanyakan kabar Kiella. Kiella memang menjawabnya, hanya saja Jeza tidak bisa mengerti satu katapun yang diucapkan Kiella. Ketika Kiella mengulanginya pun, Jeza tetap sangat kesulitan untuk bisa mendengarnya.
"Dia bilang; udah lama di sini?" Jerome mentranslatekan apa yang diucapkan Kiella ke Jeza.
"Oh belum kok, Ella. Belum lama."
Kiella menghela napas dan tersenyum. Sungguh, ia tampak begitu cantik sekarang, begitu pandangan Jeza. Namun pandangan Jerome berbeda lagi karena ia tahu apa arti helaan napas dan senyuman itu. Jerome sudah bisa menebak jika Kiella tidak akan membuka suaranya lagi pada Jeza.
Kiella memang begitu. Dulu ketika dengan orang tuanya yang mampir ke rumah mereka setahun sekali, Kiella juga bersikap hal yang sama. Kiella memang mudah sekali tersentuh hatinya, padahal orang itu juga tidak bermaksud jelek. Mau bagaimanapun Jerome menasehati, tetap saja Kiella akan begini.
"Jez. Lo bisa tunggu di luar?" Jerome melirik Jeza. "Kiella mau tidur kayaknya," ujarnya yang mendapat anggukan dari Kiella.
Jeza terkekeh canggung sebelum mengangguk. "Oh oke. Gue bakal keluar," ucapnya menunjuk pintu kamar. "Btw Kiella. Gambar-gambar kamu bagus-bagus. Kamu punya potensi, dan kamu harus kembangin itu. Jangan peduli sama apa yang orang katakan. Ini diri kamu, yang punya kamu, ekspresikan dengan bebas. Oke?" Jeza mengacungkan dua ibu jarinya sebelum berbalik dan pergi dari sana.
Kiella yang tadi diam, kini senyumnya perlahan merekah. Benar, Jeza memang benar. Ia terlalu takut untuk keluar rumah, berbicara dengan orang-orang, padahal ini adalah dunianya. Jika ia menolak, maka tinggal tolak saja orang-orang tak perlu yang mendekatinya.
Jerome sendiri tersenyum melihat itu. Ia memang benar-benar tidak salah memilih orang untuk berbagi cerita.
Jeza turun ke lantai bawah dan melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul tiga. Dia harus pulang sekarang atau mamanya akan marah-marah padanya. Tapi karena Jerome masih ada diatas dan tampaknya tidak bisa diganggu. Maka Jeza hanya memberi pesan jika ia pamit pergi.
Jerome menerima pesan itu dan kepalanya menoleh ke belakang, seolah ia bisa melihat jika Jeza sudah angkat kaki dari rumahnya. Tapi memang ia pun sore ini sudah berjanji ke rumah Disa. Jadi, mau tidak mau ia harus ke sana. Mungkin cuma sebentar, setelahnya ia akan pulang, hanya menepati janjinya saja.
Ketika Kiella sudah kembali tidur. Jerome bersiap berangkat dan hanya membawa satu buku. Entah kenapa ia jadi tidak niat belajar, tidak seperti tadi di sekolah ia begitu tertarik dengan ajakan Disa.
"Halo. Aktifin WA lo terus shareloc sekarang ya, Dis."
Jerome menelepon Disa dan hanya mengucapkan satu kalimat sebelum ia memutuskan sambungan telepon. Pulsanya tinggal sedikit jadi ia tidak bisa berbicara banyak.
Dan ketika location sudah terkirim pada Jerome, cowok itu segera memacu gas membelah jalanan yang tidak begitu padat sore itu.
Beberapa menit kemudian, Jerome sampai di rumah Disa dan langsung disambut dengan ceria oleh gadis itu.
"Cepet banget!" serunya sembari menghampiri Jerome. "Lo pasti ngebut."
"Enggak kok." Jerome menggeleng.
"Yauda deh. Ayo masuk. Kita ke kamar gue aja soalnya temen-temen kakak gue pada dateng," ujarnya dengan ekspresi pura-pura kesal.
Jerome tak berkomentar banyak dan hanya mengikuti langkah Disa. Tapi sepertinya Disa sedang tidak mengada-ada karena ruang tamu rumah gadis itu dipenuhi oleh beberapa orang dan mereka asik bercengkrama hingga tidak sadar kedatangan Jerome.
Mereka naik ke lantai atas kemudian. Dan ketika Disa hendak membuka pintu kamarnya. Pintu kamar di sebelah kamar Disa terbuka. Seorang perempuan dan pria keluar dari sana, membuat Jerome mengernyit heran.
"Kak!" Disa memanggilnya. "Kenalin. Ini Jerome. Lo tadi katanya mau kenalan."
Jerome diam tak berekspresi sampai perempuan yang tak lain adalah Alyssa itu menghampirinya dan memperkenalkan dirinya.
"Halo Jerome. Gue Alyssa. Kakaknya dia." Alyssa menunjuk Disa tepat didepan wajahnya hingga Disa mengerang kesal. "Dan ini Keith," lanjutnya memperkenalkan pria yang bersamanya yang ternyata adalah Keith.
Sesaat, Disa baru tersadar. Ia membulatkan matanya. Ia bertanya-tanya didalam hati apakah Jerome sudah kenal Keith? Jerome kan pernah dekat dengan Jeza. Hal ini membuat perasaan Disa jadi tidak karuan.
"Yauda deh. Belajar yang bener ya." Alyssa kemudian membawa Keith pergi, meninggalkan mereka berdua di sana.
Disa menelan salivanya susah payah. Menoleh pada Jerome saja lehernya kaku susah digerakkan.
"Kenapa?" tanya Jerome heran. Ia merasa seperti ada yang ingin Disa sampaikan padanya.
"Em lo kenal Kak Keith sebelumnya?" tanyanya dengan lambat, dan rasanya Disa tidak sanggup mendengar jawaban selanjutnya.
Akan tetapi, sepertinya Disa tidak perlu sebegitu khawatirnya karena nyatanya jawaban Jerome sungguh membuatnya ingin meloncat saking leganya.
"Belum. Gue belum kenal."
***