Jeza memutuskan untuk tidak peduli lagi dengan Silvia. Toh ia dan Jerome hanya teman, walaupun mungkin Jerome menyukainya, faktanya ia tidak punya perasaan apa-apa.
Jerome sendiri tidak begitu memikirkannya karena ia berpikir ini haknya mendekati siapapun. Ia sudah pernah menjelaskan pada Silvia kalau ia tidak punya perasaan apapun dan tampaknya Silvia mengerti serta menghargainya.
Jerome menahan senyumnya ketika Jeza memanggilnya dan mengatakan kalau ia ikut dengannya. Ia tidak bisa membuka mulutnya, atau ia akan tertawa. Jadi, ia hanya mengedikkan kepalanya ke kanan mengisyaratkan jika Jeza harus mengikuti langkahnya.
Jeza mengangguk keci dan mengikuti Jerome. Namun, ia agak menjaga jarak sekitar satu meter dibelakang Jerome agar orang-orang tidak asal berspekulasi tentang mereka. Jeza juga sudah memberi pesan pada Ergan agar tidak mencarinya dan langsung pulang saja. Jeza tidak berbohong tentang pada siapa ia pergi, ya walaupun Ergan membalas pesannya dengan satu emot setan yang artinya ia tidak setuju.
Tapi, siapa peduli? Jeza sudah memberitahu mamanya dan diberi lampu hijau. Jeza sangat merasa lemah mendengar seluruh ucapan Jerome tadi, jadi ia ingin membuktikan-setidaknya pada dirinya sendiri kalau ia juga bisa keluar dari zona nyamannya.
Jerome berhenti berjalan ketika ia bertemu dengan kelima temannya yang lain. Membuat Jeza juga berhenti di belakangnya.
"Eh tumben?" Lukas melirik Jerome dan Jeza bergantian. "Ada apa ini?"
"Dia ikut gue." Jerome menunjuk Jeza dengan ibu jarinya dan memberi senyum kecil pada gadis itu.
"Kalian jadian, ya?!" Yasmin berseru dan tertawa.
Jeza menggeleng kuat. "Enggak!" Ia spontan menyerukannya. Jerome jadi merasa sedih mendengarnya.
Sementara itu, Silvia menatap Jeza dengan dingin. Dan Jeza menatapnya dengan biasa. Seolah berkata kalau ia dan Jerome hanya teman yang artinya Silvia tidak harus merasa sakit hati.
"Emangnya mau kemana lo?" Tama bertanya, ia bersandar pada tembok.
"Ke rumah gue."
"Seriusan?!" Lukas dan Yasmin berseru bersamaan. Raut wajah mereka tampak tidak percaya. Membuat Jeza heran memangnya ada apa dengan rumah Jerome? Bukankah sudah biasa bagi mereka?
"Hm serius."
Lukas dan Yasmin sama-sama menoleh ke arah Jeza, begitupun Tama. Sedangkan Silvia memilih pergi dari sana dan yang lainnya tidak berkomentar apa-apa.
"Kenapa?" Jeza merasa canggung tiba-tiba.
"Seumur-umur kita-kita nggak pernah diajak Jerome ke rumahnya, Jez." Yasmin yang mengambil alih untuk merespon pertanyaan Jeza. "Kalau kita ke sana, itu bukan karena diundang, tapi kitanya aja yang maksa. Itupun Jerome nggak pernah nyuruh kita-kita masuk ke rumahnya."
Tama terkekeh dan mengangguk. "Bener. Emang parah sih dia," ujarnya mengedikkan dagunya ke arah Jerome.
Jeza sama sekali tidak tahu hal ini. Kalau begitu, pantas saja Silvia menatapnya tidak suka tadi. Ternyata sangat beruntung bisa diajak Jerome ke rumahnya. Tapi sayangnya Jeza sebenarnya juga tidak berharap itu terjadi.
"Kalau gitu. Kita boleh ikut nggak, Jer?" Yasmin menatap Jerome dengan pandangan memohon.
"Nggak." Jerome dengan santai menjawab. "Gue cuma ajak Jeza."
"Parah lo."
"Kalian kapan-kapan aja." Jerome menoleh pada Jeza. "Ayoklah."
Yasmin berdecak kesal pada Jerome. Tapi ia memberikan senyum ceria pada Jeza dan mengangguk mengisyaratkan kalau mereka tentu tidak apa Jerome hanya mengajak Jeza saja.
"Kayaknya Jerome beneran suka sama dia." Tama menceletuk ketika Jerome juga Jeza sudah agak jauh dari mereka.
"Lo bener." Lukas menyahut. "Tapi gue masih bisa rasain kalau Jeza nggak punya perasaan yang sama."
Yasmin mengusap dagunya dan berpikir. "Gue rasa kita nggak bisa nebak pikiran Jeza, apa yang dia pikirin nggak bisa juga. Jeza tuh menurut gue orangnya tertutup. Kita nggak bisa asal nebak dia kayak gimana. Jadi yaa, ada enggaknya rasa tertarik dari dia ke Jerome kita nggak pernah tau."
Lukas tampak memikirkan ucapan Yasmin dan memang merasa kalimat itu ada benarnya juga.
"Eh tapi. Kenapa ya kita nggak dibolehin Jerome masuk ke rumahnya? Kalian nggak penasaran apa yang ada didalamnya? Maksud gue, alasannya apa? Kalau gue sama yang lain sih oke oke aja. Tapi lo berdua kan temen deket dia." Yasmin menunjukkan keheranannya selama ini.
"Sebenernya ini udah lama sih. Dari dulu juga Jerome ngelarang orang nggak berkepentingan ke rumahnya." Tama mengangkat kedua bahunya. "Satu yang gue denger dan gue nggak bisa pastikan ini bener atau enggak. Tapi, katanya ada satu orang didalam rumah yang Jerome nggak mau orang tau."
"Hah gimana maksudnya?" Yasmin bertanya pelan. Ia cukup tidak mengerti maksud dari ucapan Tama.
"Kalau nggak salah. Adik dia namanya Kiella itu disabilitas." Tama benar-benar menggunakan nada pelan. "Jadi intinya gitu. Tapi tetep, itu cuma rumor, yang tau kebenarannya cuma Jerome sendiri. Kalau kita kepo tapi Jerome nggak mau kasih tau kan sama aja. Mending nunggu dia siap. Kalau nggak mau bagi-bagi juga nggak papa sih."
Lukas dan Yasmin saling lirik. Memang benar, kalau Jerome tidak ingin memberitahu yaa mereka bisa apa?
Di sisi lain. Jerome seolah sudah bisa menebak jika ia pulang membawa Jeza hingga hari itu ia membawa mobil ke sekolah, tidak motor seperti biasanya.
Saat itu orang-orang sudah pada pulang, jadi tidak ada yang melihat Jeza dan Jerome. Ada pun hanya satu orang, yaitu Ergan. Ia sepertinya sangat muak sekarang karena kedua kakaknya dekat dengan seorang cowok yang sama sekali tidak ada bagusnya menurutnya.
"Em jadi lo mau ngenalin gue ke siapa?" tanya Jeza penasaran.
"Pertama. Gue mau lo janji jangan kasih tau siapa-siapa tentang ini karena gue nggak biarin siapapun tau sampai lo yang bakal pertama tau."
Jeza mengernyit. "Ini tentang sesuatu yang terlarang?" Ekspresinya menunjukkan keterkejutan yang kentara.
Jerome terkekeh dan menggeleng. "Enggak. Bukan. Sama sekali bukan hal buruk. Cuma emang gue mau lo diem aja, ini rahasia. Bisa?"
Jeza mulai agak khawatir. Apa yang direncanakan Jerome? Pikirnya. Jeza juga tidak bisa menjawab apapun karena ia mulai berpikiran banyak hal sekarang.
"Gue anggap lo bisa. Lo mungkin ketakutan sekarang, tapi gue cuma pengen kasih tau ke lo alasan kenapa gue kayak gini selama ini." Jerome tersenyum kecil dan memfokuskan dirinya ke jalan didepannya.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di rumah besar yang Jeza tak bisa berhenti untuk tidak mengaguminya. Namun, rumah sebesar itu tampak sepi, itu yang membuat Jeza agak heran. Apa tidak ada orang? Setidaknya harusnya ada mobil atau motor yang terparkir, bukan? Dan ini sama sekali tidak ada. Bahkan jendela rumahnya semua tertutup seolah orang yang tinggal didalam sana tidak memerlukan udara.
"Ayo, Jez."
"Ini mau ketemu siapa?" Jeza tiba-tiba khawatir kembali.
"Ketemu adek gue."
Jeza mengernyit, tidak bertanya apapun lagi dan hanya turun mengikuti langkah Jerome masuk ke dalam rumah.
Pemikiran Jeza tentang betapa sepinya rumah ini ternyata memang benar. Tidak ada orang di sana. Ruangannya juga terlalu besar untuk barang-barang yang tidak banyak. Jeza bahkan bisa mendengar jika suara langkah kakinya menggema terlalu keras.
Dari atas. Jeza melihat seorang perempuan dengan baju seperti perawat, turun menuruni anak tangga dan melempar senyum ramah ke dirinya dan Jerome.
"Kiella tidur?" tanya Jerome perawat begitu ia sampai di lantai bawah.
"Belum. Dia nunggu kamu, Jer."
"Oke." Jerome mengangguk dan menoleh pada Jeza. "Ayo naik."
Jeza tidak bisa menolak, ia hanya melangkah dan mengikuti apa perintah Jerome. Walaupun dalam hati ia bertanya-tanya siapa Kiella? Adik Jerome? Lalu yang tadi itu perawat, kan? Apa Kiella sakit?
Jeza mengetuk kepalanya pelan karena saking banyaknya pertanyaan yang silih berganti didalam sana.
"Pertama." Jerome tiba-tiba berhenti melangkah. "Gue mau bilang, kalau lo jangan kaget ya ketemu adek gue nanti."
"Memangnya kenapa?" Jeza heran. Ada apa dengan Kiella?
"Mungkin gue harus jelasin di sini." Jerome berbalik dan menatap Jeza. "Adek gue kena Cerebral palsy dari lahir. Dia nggak bisa jalan dan nggak bisa juga sekolah. Dia udah lewati banyak hal untuk kesembuhannya, tapi ini terlalu susah."
Jeza mengerjap. Ia tahu penyakit itu. Melihat Jerome yang begini, rasanya tidak mungkin punya adik yang begitu. Tapi siapa yang tahu? Semua kemungkinan bisa terjadi pada siapa saja.
"Mungkin lo harus liat dia dulu. Gue harus kenalin lo ke dia."
Jerome tersenyum dan membuka pintu kamar. Jeza melihat ada seorang perawat lagi didalam sana, ia sedang menyelimuti seorang gadis yang mungkin usianya masih dibawah sepuluh tahun.
"Katanya tadi Kiella belum tidur, Mbak?"
Si perawat menoleh pada Jerome. "Tadinya belum, Jer. Tapi kayaknya udah ngantuk, jadi ketiduran." Jawabnya dan menoleh menatap Jeza, penuh tanda tanya.
"Dia temen aku. Namanya Jeza."
Jeza tersenyum ramah dan begitupun si perawat. Kalau bertemu orang baru yang belum tahu dirinya, Jeza suka, karena ia bisa membangun dirinya yang baru.
Sejenak. Jeza memandangi isi kamar yang hampir keseluruhan dindingnya penuh dengan gambar diatas kertas putih. Dan diatas ranjang, ada tulisan Jerima Kiella yang Jeza tebak adalah nama lengkap adiknya Jerome.
"Gue rasa kita keluar aja." Jerome mengajak Jeza untuk keluar dan Jeza menurut.
"Itu tadi adik lo?" Jeza bertanya begitu mereka sudah berada di luar kamar.
"Iya." Jerome mengangguk, ia menatap Jeza. "Sori ya. Dia rupanya tidur. Gue nggak mau bangunin karena dia emang susah tidur."
Jeza menggeleng dan tersenyum canggung. "Nggak papa lah."
Jerome menghela napas. "Mungkin kita bisa bicarain ini di ruang tamu."
Jeza mengangguk setuju dan mereka turun ke lantai bawah dengan diam. Sampai duduk pun, Jeza tidak berani memulai duluan karena merasa situasinya benar-benar tak enak sekarang.
"Mungkin lo mikir, kemana orang tua gue." Jerome memulai. "Orang tua gue pergi ketika Kiella lahir. Mereka nggak terima punya anak kayak Kiella. Dan waktu itu gue diajak ikut sama mereka, cuma gue nggak mau dan berakhir kita yang dititipin ke nenek. Tapi nenek udah meninggal empat tahun yang lalu. Dan ketika itu pun, ortu gue cuma dateng sehari setelah pemakaman. Nggak ada niatan buat liat Kiella dan pergi gitu aja."
Jeza tidak percaya. Jerome mengalami hal itu? Benar-benar tidak terduga. Jadi, apa ini yang membuat Jerome tidak membiarkan siapapun masuk ke rumahnya? Lalu dirinya kenapa boleh?
"Tiap bulan mereka kasih gue uang, banyak. Tapi yang gue butuhin bukan itu aja."
"Perhatian mereka juga, kan?" Jeza merespon dengan pelan. "Sori, Jer. Gue nggak tau lo ngalamin hal ini."
Jerome tersenyum kecil. "Gue udah biasa sakit." Ia mengedikkan bahunya. "Dengan Kiella yang kayak gitu, dia selalu ngepush dirinya agar sama kayak gue, tapi dia nggak pernah bisa. Itu yang buat gue bener-bener sedih, sampai akhirnya gue mutusin buat nggak punya prestasi apapun."
Jeza mengernyit. "Maksudnya?"
Jerome menunjuk ke arah lemari kaca di sudut ruangan dan Jeza berbalik agar bisa melihat apa yang ditunjuk Jerome. Dan ia terperangan melihat begitu banyaknya piala, dari kecil sampai ada yang begitu besar.
"Dulu pas SMP, gue dapet piala itu. Sebenernya, gue nggak sebodoh itu, gue paham apa yang dijelasin. Cuma karena Kiella, gue pilih jawaban salah padahal gue tau mana jawaban bener."
Jeza menoleh pada Jerome dengan mata membulat. Ia sungguh tidak percaya fakta ini.
"Gue ngelakuin banyak hal sia-sia karena gue mau ngebunuh rasa bosen yang gue rasain selama bertahun-tahun. Tapi rupanya itu nggak cukup. Gue tetep aja ngerasa nggak berguna."
Jeza mengerjap. Semua informasi ini rasanya begitu tiba-tiba. Ia sama sekali tidak tahu bagaimana meresponnya karena ini terlalu menyedihkan bagi Jerome.
"Gue sharing ke lo karena gue percaya sama lo. Gue nggak tau kenapa, gue cuma ngikutin apa yang hati gue bilang aja." Jerome tersenyum. "Sekarang lo udah tau semua. Tapi tetep rahasiain ya."
Sebenarnya ada rasa ingin memeluk Jerome dan mengatakan semua baik-baik saja. Tapi, ia begitu takut dan berakhir membatalkan niatnya.
"Boleh gue tinggal sebentar supaya gue bisa bicara sama Kiella?"
Senyum Jerome benar-benar merekah mendengarnya. Pertanyaan sederhana itu berarti banyak baginya. Ia benar-benar tidak salah pilih akan orang yang akan ia beritahu seluruh rahasianya.
"Boleh, pasti!"
***