25. Mencoba Membuka Diri

1465 Kata
Pelajaran kelas sedang berlangsung. Jeza tidak bisa menggerakkan lehernya barang sedikitpun ke arah lain. Ia terus menghadap ke satu arah, yaitu papan tulis didepan dengan seorang guru sedang menjelaskan. Tadi itu sungguh membuatnya merasa berdebar. Jerome menyatakan perasaannya padanya dan ia terus menyanggah mengatakan tidak dan tidak. Namun, Jerome juga terus meyakinkan Jeza kalau cowok itu sungguh menyukainya. Hingga akhirnya Jeza terdiam, terkelu tidak tahu harus apa dan hanya mendengarkan dengan cermat apa yang Jerome katakan selanjutnya. Ini hal baru bagi Jeza. Tidak pernah sekalipun seorang cowok menyatakan langsung perasaannya didepannya. Paling-paling hanya dari chat dan itupun tidak dijawab Jeza karena ia memang tidak mau memberi harapan sedangkan ia tidak ingin pacaran. Tapi Jerome ... sungguh berbeda. Untungnya, ada Jeriko tadi yang tiba-tiba datang menginterupsi mereka dan meminta Jeza untuk mengikutinya. Jeza tahu ekspresi Jerome yang tampak tidak suka. Tapi, ia juga tidak bisa bersamanya lebih lama, ka khawatir dengan jantungnya sendiri. Jadi, Jeriko menyelamatkannya dari kejadian itu. Namun sepertinya Jerome belum selesai dengan ucapannya. Seperti ada yang ia ingin sampaikan lagi, cuma saja tertahan karena kedatangan Jeriko tadi. Jeza sungguh tidak tahu harus bagaimana bersikap karena sebentar lagi jam istirahat tiba. Ia tidak tahu harus menatap Jerome atau tidak karena sekarang, entah kenapa ia malah merasa malu dengan dirinya sendiri. Dan akhirnya jam itu tiba. Jeza menarik napasnya dalam dan mencoba bersikap biasa saja. Dari ekor matanya, ia bisa melihat jika Jerome bangkit keluar dari mejanya. Tampaknya memang hendak ke arahnya, tetapi untungnya Disa memanggil Jerome hingga Jerome mengalihkan perhatiannya dari Jeza ke Disa. "Jer. Lo ntar siang atau sore ada acara nggak?" tanya Disa dan melangkah mendekatinya. "Kita nggak pernah belajar bareng. Gimana kalau ntar sore aja? Gue liat tadi pelajaran Geo, lo kayak nggak paham gitu sama rumus-rumusnya. Kita bisa belajar bareng kalau lo mau." Senyum Disa begitu tulus. Berbeda sekali dengan dirinya yang biasa. Membuat Jerome yang tadi hendak menolak jadi mempertimbangkan lagi keputusannya. Kalau ia yang bingung dengan rumus-rumus itu, memang benar ia tidak paham. Niat mempelajarinya saja tidak ada. "Boleh," ujar Jerome akhirnya, membuat senyum Disa semakin lebar. "Tapi sore. Mungkin jam lima, gimana?" Disa mengangguk dengan senyumnya yang tidak luntur. "Oke gue setuju. Tapi, dimana nih belajarnya?" "Menurut lo dimana?" "Terserah aja." Disa tertawa kecil. "Em gimana kalau rumah gue?" "Oke. Bisa." Jerome menjawabnya santai. "Janji, ya?" Jerome berpikir sesaat, memang tidak ada yang ia hendak lakukan lagi nanti. Bahkan siangnya ia juga tidak tahu harus apa. "Oke. Tenang aja gue bakal dateng. Lo tinggal kasih alamatnya." Disa mengangguk senang. Ia tidak percaya akan semudah ini mengajak Jerome belajar bersama. Memang agak lucu karena ia yang mengajak, padahal harusnya Jerome. Tapi tidak apa. Disa fine-fine aja dengan itu semua. "Gue boleh ikut nggak?" "Nggak." Disa menjawab cepat, bahkan tanpa melihat siapa yang bertanya. Membuat beberapa dari mereka tertawa dan mulai mengejek bercanda orang tadi. Jeza mendengar semuanya, tentu saja. Ada yang aneh di hatinya mendengar itu. Tapi, ya tidak apa juga. Memangnya Jerome siapanya? Tidak ada, bukan. Jadi ya terserah Jerome mau dengan siapa saja itu bukan urusannya. Jeza kali ini tetap stay di kelas karena ia hendak mempelajari lebih lanjut tentang rumus geografi tadi yang agak sulit. Jeza merasa harus memperdalaminya lagi agar ia tidak merasa kesulitan jika ada soal-soal kedepannya. Jerome juga tidak keluar kali itu, bahkan ketika Lukas dan Tama sudah mengajaknya. Jerome lebih memilih berbaur dengan para cowok didalam kelas, yang membuat Jeza agak iri karena Jerome bisa dengan begitu mudah berteman. Terkadang Jeza bertanya-tanya ke dirinya sendiri. Apa kira-kira tips bisa menjadi orang yang seperti itu? Mudah bergaul dan mudah diterima oleh orang lain. Entah kenapa ketika Jeza yang melakukannya, respon mereka cukup berbeda. Padahal Jeza sudah melakukan semua yang terbaik dalam versi dirinya. Meneggakkan tubuh dan menghela napas panjang, Jeza mencoba melupakan semua hal yang mengusik pikirannya dan mulai belajar. Ia mulai masuk ke dalam keseriusan itu ketika Jerome datang dan berdiri di sisi kiri mejanya. "Lagi belajar?" Jeza hanya melirik sedikit. Jujur saja, Jeza merasa salah tingkah. Ia tidak tahu kenapa, susah menjelaskannya. "Hm." Jadi hanya itu yang bisa dijawab Jeza atas pertanyaan Jerome itu. "Kalau lo kayak gini karena Silvia. Lo nggak perlu dengerin apa kata dia. Emang lo mau hidup lo diatur orang lain? Hidup lo kan punya lo, terserah lo mau ngelakuin apa. Gue bener, kan?" Perkataan Jerome rasanya menghentaknya. Itu benar. Kenapa ia harus mengikuti ucapan Silvia? Itu berarti ia takut, bukan? "Oh enggak." Jeza mendapatkan jawaban yang tepat. "Gue kayak gitu karena ngehargain perasaan Silvia ke lo," ujarnya mantap. "Emang kita apa? Temen, kan? Seharusnya Silvia juga biasa aja." Jerome agak kesal. "Silvia udah pernah nunjukin perasaannya ke gue. Tapi masalahnya gue sama sekali nggak ada rasa ke dia. Sekarang gue suka sama perempuan lain dan dia nyuruh perempuan itu jangan deketin gue. Konyol nggak, sih? Lo mau diatur kayak gitu?" Jeza berdeham pelan. Tiba-tiba kepalanya pusing memikirkan itu. "Udahlah." Jeza memutuskan untuk menyudahi percakapan itu. Semakin Jerome berbicara, semakin ia merasa dibodoh-bodohi oleh Silvia. Di satu sisi, Jeza merasa apa yang dikatakan Jerome ada benarnya. Dan di sisi lain, ia juga menghargai perasaan Silvia. Pasti tidak enak rasanya jika cowok yang disuka dekat dengan cewek lain. Tapi, memang itu kan hak si cowok. Jadi, Silvia tidak berhak mengatur ini itu karena nyatanya Jerome menolak perasaaan Silvia. Semakin dipikirkan, semakin pusing kepala Jeza. "Lo bisa ikut gue nanti siang?" tanya Jerome duduk di kursi kosong didepan meja Jeza. "Ada yang mau gue kenalin ke lo. Dan ini pertama kalinya gue ngelakuin ini ke seseorang. Sebelumnya, nggak pernah sekalipun." Jerome bertanya, tapi ia sudah bisa menebak kalau Jeza pasti menolak. Dan mungkin tebakannya benar karena Jeza sama sekali tidak menjawabnya. "Gue tau kepribadian lo. Dan gue respect itu. Tapi, Jez, ada baiknya ketika lo ditanya orang, lo jawab, jangan diam aja. Seenggaknya hargai dia dikit aja." Jeza menegang mendengar kalimat itu. Jerome sungguh menyindirnya. Kalimat yang dilontarkan dengan nada tenang itu nyatanya semakin memalu dirinya "Gue tau lo nggak nyaman sama keramaian. Tapi, mau nggak mau lo harus dobrak batas diri lo. Walaupun terpaksa, lo harus coba sosialisasi ke orang-orang. Karena mau nggak mau, lo bakal ngehadapin yang namanya masyarakat di masa depan." Jerome melanjutkan ucapannya. "Dan lo bisa asah itu ketika lo siap naruh diri lo ke sesuatu yang melibatkan banyak orang. Contohnya aja ajakan gue tentang asisten tim voli. Gue tau lo terpaksa, tapi lo pikir lagi, hal itu mau nggak mau buat lo interkasi ke orang-orang dan itu satu langkah bagus buat lo lebih aktif ke depannya." Jerome benar-benar memukul diri Jeza hingga ke dasar kali ini. Jeza bahkan tidak bisa berkata-kata. Bukannya tidak ingin menjawab, tapi memang ia kehilangan kalimatnya. "Jadi coba lo pikirin lagi semuanya. Ini buat kebaikan lo juga." Jerome memberi senyum walau Jeza tentu tidak melihatnya karena cewek itu dari tadi terus menunduk menatap bukunya. Jerome kemudian bangkit berdiri dan melangkah keluar kelas, entah pergi kemana. Jeza sendiri sudah tidak minat lagi dengan buku-buku dihadapannya. Ucapan Jerome tadi menyentaknya terlalu kuat hingga ia tidak mood untuk melakukan apapun. Tapi, kalimat itu memang benar adanya. Itu yang membuat Jeza jadi uring-uringan. Sesuatu yang memang fakta namun ia tidak bisa melakukannya membuat Jeza merasa pusing walau hanya harus mendorong batas dirinya. "Jez. Lo sama Jerome pacaran, ya?" Dan pertanyaan apalagi itu? Jeza malas sekali mendengarnya, ditambah keadaannya yang sedang bad mood membuatnya semakin malas saja. "Atau ... Jerome suka sama lo? Soalnya baru kali ini rasanya Jerome kayak gitu ke cewek." "Masa. Lo tau dari mana? Lo kan baru kali ini sekelas sama dia. Lo mana tau dia kayak mana aslinya." Jeza menopang pipinya dengan sebelah tangannya. Dua cowok tadi terus mendebatkan hal yang sama dan entah sampai kapan habisnya. Jeza sampai tidak bisa menyela untuk menjawab pertanyaannya tadi karena mereka terus berbicara dengan sahut-sahutan. Ketika bel masuk kembali berbunyi. Semua memasuki kelas. Pandangan Jeza mengikuti Jerome yang melangkah ke arah tempat duduknya. Dan setelahnya, ia kembali menunduk dan memikirkan semuanya dengan lebih luas. Tentang ajakan Jerome yang ingin mengenalkannya dengan seseorang dan juga ajakannya sebagai asisten tim voli. Benar juga, dengan ia ikut, ia bisa lebih terbuka dengan orang-orang. Mungkin awalnya akan tidak baik, atau kaku, tapi lama kelamaan pasti terbiasa. Lama-lama, Jeza mulai mendapatkan jawaban yang tepat untuk semua tanda tanya didalam kepalanya. Ia sudah tahu apa yang harus ia lakukan dan ia akan memberitahu Jerome ketika pulang sekolah nanti. Ketika jam pulang tiba. Jeza sengaja memperlambat gerakannya membereskan semua buku agar ia bisa berdua nanti dengan Jerome. Tapi berbeda dari biasanya, Jerome malah lebih cepat dan keluar kelas lebih dulu. Membuat Jeza kaget dan buru-buru menyusun buku-bukunya lalu mengejar langkah Jerome. "Jerome!" Untungnya hanya satu atau dua orang di lorong itu. Kalau tidak, sudah entah harus ditaruh dimana wajah Jeza. "Kenapa?" Jerome berbalik dan menatapnya dengan kening berkerut samar. Jeza menarik napas dan tersenyum kecil. "Gue ikut lo." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN