Sebenarnya malam itu, Jerome memberi pesan pada Jeza jika ia hendak datang ke rumah gadis itu. Tapi tidak ada balasan dari Jeza hingga Jerome bertanya-tanya apa nomor yang diberi teman dari teman temannya ini benar atau palsu? Namanya juga sudah dari tangan ke tangan. Biasanya sudah berbeda, bukan? Entah pun angka delapan yang tertera di kertas itu harusnya angka nol.
Sudah jam sepuluh malam. Jerome berdiri di depan rumah Jeza, tepatnya berhadapan dengan jendela kamar gadis itu. Tapi, tidak ada apa-apa, tidak ada yang terjadi walau sudah belasan menit ia di sana. Tapi ia bisa tahu kalau Jeza belum tidur, lampu kamarnya masih terang hingga dua puluh menit kemudian lampu itu akhirnya padam.
Jerome tersenyum kecil. Menganggap jika Jeza mungkin sudah tidur dan ia tidak ingin mengganggu. Ya, Jeza jelas-jelas belum tidur saja ia tidak ingin mengganggu dan memilih mengirim pesan lebih dulu, apalagi jika Jeza sudah beristirahat, maka tak ada yang bisa ia lakukan selain pulang ke rumahnya.
Di perjalanan pulang. Kepalanya terasa penuh akan Jeza. Ia kembali memikirkan semua yang sudah terjadi antara ia dengan Jeza. Jika dipikir ulang, apa-apa yang dikatakan oleh Gina padanya tadi memang benar adanya. Jeza sepertinya tidak suka keramaian. Ya pastinya sebelum Silvia memberi tekanan pada Jeza. Hal itu pasti membuat Jeza semakin menjauhinya. Jerome hanya perlu meluruskan ini semua. Ia ingin lebih dekat lagi dengan Jeza.
Di sisi lain, Jeza menyadari kehadiran Jerome di bawah sana. Tapi masalahnya, ini sudah jam sepuluh malam, ia dilarang keluar rumah, ya walau Mamanya juga tidak tahu akan kehadiran Jerome di sana, kalau saja tahu pasti Jeza sudah dipaksa keluar. Selain itu, Jeza memang ingin menjauh dari Jerome, ia tidak mau terlibat dengan hubungan orang lain, mau hubungan itu memang ada atau sebenarnya belum ada, ia tidak peduli. Jeza hanya tidak ingin apa yang terjadi padanya dulu, terulang lagi sekarang.
Jeza juga tahu jika orang yang mengiriminya pesan adalah Jerome. Yang membuatnya heran adalah dari mana Jerome tahu nomornya? Karena sepertinya ia begitu privasi tentang apapun yang menurutnya termasuk hal pribadi, termasuk nomor telepon yang hanya beberapa orang saja yang tahu.
Tapi ia juga tidak bisa bertanya pada Jerome walau ia penasaran. Ketika Jeza hendak mematikan lampu kamarnya, ia agak bimbang, banyak yang ia pikirkan di dalam kepalanya. Tapi kemudian, ia memutuskan untuk tidak peduli dan mematikannya saja lalu naik ke atas tempat tidur.
Jerome hanya harus tahu kalau ada perempuan lain yang menyukainya dan setidaknya hargai sedikit saja, begitu pikiran Jeza.
“Tapi ….” Jeza masih terjaga di kegelapan malam. “Apa gue keliatan over, ya? Kan Jerome juga cuma mau temenan sama gue ….”
Dan lagi-lagi overthinking Jeza datang kembali. Begitu mudah moodnya berubah-ubah, walau hanya beberapa menit setelahnya. Hal ini membuat Jeza pusing sendiri sebenarnya. Tapi mau bagaimana lagi, mengatur otaknya untuk tidak begitu terus sangatlah susah. Satu-satunya cara untuk menghentikannya adalah dengan tidur. Tapi keesokan harinya, overthinking itu kembali datang bertamu ke dalam kepalanya. Sungguh sesuatu yang menyebalkan, tapi juga enggan hilang.
Seperti yang sudah dikatakan Jeza, keesokan harinya, ia masih bepikir tentang hal yang sama. Apa tidak keterlaluan ia begini pada Jerome yang hanya ingin berteman? Tapi ini juga permintaan Silvia yang jelas-jelas memiliki rasa suka pada Jerome. Jadi pertanyaan sebenarnya adalah apa Silvia merasa kedekatannya dengan Jerome lebih dari teman?
Jeza mengernyit dalam memikirkannya. Rasanya tidak mungkin. Tapi kalau begitu kenapa Silvia bersikap begitu padanya? Seharusnya Silvia bisa biasa saja dengannya.
"Kenapa lo?" Ergan bertanya sambil lalu di hadapan Jeza. "Tumben pagi-pagi ngelamun. Mikirin apa?"
Jeza berdeham pelan dan membenarkan posisi rambutnya. "Kepo." Ia menjawab dengan kata dan gaya bicara yang ditiru dari kebiasaan Ergan ketika ditanya.
Misya yang baru datang dan sempat mendengar obrolan mereka, hampir saja tertawa karena secara tak langsung, Jeza sudah meledek adik mereka itu.
"Oke. Gue cuma basa-basi doang. Nggak kepo btw."
Jeza tersenyum angkuh. "Di depan iya lo bilang nggak kepo. Padahal didalam hati kepo banget."
"Enggak."
"Iya."
"Enggak."
"I--"
"Udah dimulai aja makannya. Jangan ribut terus!" Mama menyela cepat dan tajam. Ia lama-lama pusing melihat dua anaknya ini selalu saja bertengkar karena hal sepele.
"Iya, Ma." Jeza dan Ergan hampir menjawab berbarengan sedangkan Misya diam saja.
Baru mereka mulai sejak sepuluh menit yang lalu dan belum ada yang selesai sarapan diantara mereka, sebuah klakson mobil sudah terdengar didepan pintu rumah. Awalnya saling lirik karena tidak tahu siapa yang datang. Jeza hendak berdiri agar bisa mengintip orang itu, malah tertahan ketika Misya mengatakan kalau itu adalah Keith yang hendak menjemputnya.
"Boleh, kan, Ma?"
Jeza menghela napas pelan melanjutkan makannya. Ia bersikap seolah ia tuli hingga ia tidak mendengarkan apapun. Pasalnya, ia masih kesal dengan Keith yang tidak bertanggung jawab itu.
"Hm." Mama mengambil serbet. "Yauda," ujarnya tanpa menatap ke kedua mata Misya.
Jeza bisa tahu kalau mama pasti lumayan kesal juga. Namun, mau bagaimana lagi jika Misya terlalu cinta pada pria itu? Mau mereka semaksa apapun, ujung-ujungnya Misya tetap bersamanya, kecuali jika Misya sudah muak dan matanya terbuka akan kesalahan-kesalahan pria itu, mungkin situasi akan berubah.
"Kalian. Kalau udah selesai makannya, langsung ke luar aja." Mama bangkit lebih dulu dan keluar dari rumah.
Ergan menenggak minumannya dengan cepat. "Yang terakhir, kunci pintu," ujarnya tanpa menatap Jeza dan mengikuti langkah mama.
Jeza tidak menyahut apapun. Hanya menyelesaikan makanannya dan keluar dari rumah, tak lupa menguncinya lebih dulu.
Sampai di sekolah. Pikiran Jeza tentang Jerome sudah beralih seluruhnya pada Misya. Ia terus berpikir akan bagaimana hubungan Misya. Yang paling ia khawatirkan adalah Misya sendiri. Jangan sampai kakaknya itu disakiti kembali oleh Keith yang entah kenapa sekarang ini agak tidak disukanya.
“Jez.” Jerome tiba-tiba sudah berdiri didepannya, menghalangi jalannya. “Lo tadi malam kenapa nggak bales chat gue?”
Jeza mengernyit, pura-pura tidak tahu. “Ngechat apa?” Ia berbohong agar percakapannya dengan Jerome cepat selesai.
“Ujung nomor lo bukannya 99, ya?” Jerome tampak kaget, ia mengira jika nomor yang diberi kemaren itu memang bukan nomor Jeza yang asli.
Jeza sendiri meringis didalam hati. Tidak tahu haruskah ia mengakuinya saja atau tetap berbohong. Memang benar jika ujung nomor teleponnya adalah 99. Dari mana Jerome mendapatkannya juga masih membuatnya penasaran, ditambah dengan dilemanya harus jujur atau tidak membuatnya merasa jadi banyak pikiran.
Padahal ini perkara mudah. Jeza hanya harus mengakuinya dan selesai. Tapi entah kenapa Jeza merasa jika ia jujur, percakapan ini akan lebih panjang lagi nantinya sedangkan ia sudah mengiyakan permintaan Silvia tentang menjauhi Jerome.
Jerome menghela napas dan melirik arloji di tangannya. “Masih ada waktu lima belas menit sebelum bel. Lo bisa ikut gue bentar nggak?”
Jeza berpikir sejenak sebelum menggeleng. “Kayaknya nggak bisa. Sori, ya.”
Dari posisinya berdiri, Jeza bisa melihat kalau Silvia sedang berdiri di depan kelasnya dan menatap Jeza dengan wajah tanpa ekspresi.
Jerome mengernyit melihat itu. Ia dengan cepat berbalik dan melihat ternyata ada Silvia di sana. Tanpa harus berpikir dua kali, ia juga sudah tahu apa yang tengah terjadi di sini.
“Lo harus ikut gue. Ada yang mau gue bilang.”
Karena kebetulan tas Jeza hanya dipegang sebelah tangannya, Jerome jadi mudah merampas tas itu dari Jeza dan meletakkannya ke dalam kelas.
Jeza tentu agak panik, tapi ia tidak bisa berkomentar banyak sedangkan anak kelas memperhatikannya dengan bingung. Jerome sendiri tidak peduli. Cowok itu menarik paksa Jeza agar segera ikut dengannya dan Jeza tidak bisa menolak lagi.
Disa ada di sana waktu itu. Ia tidak bersuara, ia juga tampaknya tidak begitu kaget, tapi ekspresi tidak suka terpampang jelas di wajahnya. Ia tahu sepertinya ada sesuatu antara Jerome dan Jeza. Terutama Jerome, gestur dan mata cowok itu tidak bisa membohongi. Tetapi Disa juga tidak begitu peduli, ia sudah suka dengan Jerome bahkan sebelum Jerome masuk ke kelasnya. Lagipula, ia mentor Jerome, bukan? Jadi Disa percaya masih ada kesempatan agar ia dengan Jerome dekat nantinya.
Sementara itu. Jerome membawa Jeza ke taman dan duduk di bangku panjang.
Jeza sudah tidak bisa berbicara banyak lagi. Rasa malunya rasanya hampir mencapai ubun-ubunnya. Ia tidak mengelak tentang fakta jika semua orang mempehatikannya, membuat dirinya menjadi pusat perhatian. Dan ia tidak suka diperlakukan seperti itu.
"Lo mau ngomong apa?" tanya Jeza cuek. "Plis kalau nggak penting, gue bagus balik aja."
"Lo diancam sama Silvia, kan?" Jerome langsung ke intinya. "Iya, kan?"
Jeza mengernyit, dari mana Jerome tahu?
"Silvia langsung yang bilang ke gue." Jerome seolah menjawab pertanyaan didalam hati Jeza. "Mau kita temenan, mau kita pacaran juga bukan urusan dia, Jez. Kenapa harus dipikirin omongannya? Gue sama Silvia murni cuma temen. Gue nggak berhak urus hal-hal diluar batas, nggak ada hak buat ngatur sama siapa Silvia harusnya deket. Dan Silvia gitu juga ke gue. Lo nggak usah takut sama dia."
Jeza mengangguk. Jadi begitu. "Silvia nggak ngancem gue. Cuma bilang kalau gue harus jauhin lo karena deketnya lo sama gue buat dia cemburu. Dia suka sama lo. Lo udah tau itu?"
"Udah dan gue nolak. Gue sama sekali nggak ada perasaan ke dia." Jerome menjawab dengan gamblang. "Jadi intinya, dia nggak berhak ngatur gue, sama sekali!"
Jeza menyatukan ujung-ujung jarinya. Dari wajahnya, ia terlihat sedang berpikir, dan semua itu berantakan ketika kalimat terakhir Jerome terlontar.
"Gue nggak suka sama dia, karena gue sukanya sama lo."
***