23. Bertemu Gina

1473 Kata
Setelah percekcokannya dengan Silvia, Jerome pergi dan meninggalkan Silvia seorang diri di sana. Namun, Jerome tidak pulang ke rumahnya karena ia tidak memiliki alasan kesana, hanya akan ada kesunyian. Jadi, lebih baik ia berkeliaran di luar sana meskipun tidak ada yang ia tuju. Jerome kadang merasa lucu dengan dirinya sendiri. Banyak orang yang bilang ia orang yang asik, ramai dan sebagainya. Padahal nyatanya ia orang kesepian. Tampaknya ia bahagia, padahal itu hanya tipuan belaka. Tampak tidak punya masalah, padahal dari dulu ia punya satu masalah besar yang sampai sekarang tidak menemukan jalannya. Hal itulah yang kadang membuat Jerome merasa ingin mengakhiri hidupnya saja. Ia hanya bingung dan tidak punya tujuan. Jika Jerome bisa mengibaratkan dirinya ke sesuatu. Maka ia akan mengibaratkan dirinya pada pohon yang tak berakar. Mau hidup, tapi harus dengan banyak topangan. Mau mati juga tidak bisa langsung mati. Jerome tidak tahu sampai kapan, tapi yang jelas jika begini terus, ia bisa pastikan ia tidak akan bertahan lebih lama lagi. Sampai didepan tempat yang ia ingin kunjungi. Jerome keluar dari mobil dan masuk ke dalam mini market. Jerome butuh makanan yang bisa menemaninya melintasi beberapa jam ke depan. "Jerome?" Seseorang memanggilnya ketika ia masih asik memilah mana snack yang akan ia beli. Ia pun menoleh dan mengernyit melihat satu perempuan yang tidak ia kenal. Namun sepertinya seumuran dengannya. "Gue Gina. Gue juga di Dharmawangsa btw. Gue di 12 IPS 3." Jerome mengangguk. "Iya, kenapa?" tanyanya langsung tanpa menyebutkan namanya lagi karena berpikir Gina sudah mengenalnya. "Em gue mau tanya." Gina tampak antara ingin melontarkan pertanyaannya itu atau tidak. "Hubungan lo sama Jeza itu apa?" tanyanya yang terdengar seperti orang yang begitu ingin tahu urusan orang lain. Jerome mengernyit sebelum terkekeh pelan. "Maksudnya?" Jerome heran, ia dan Jeza memang sedang dekat, tapi sepertinya tidak ada yang lihat, lalu kenapa semua orang jadi bertanya hal yang sama? Gina juga tampak bingung, tapi ia ingin tahu. "Em maksud gue ... kalian pacaran?" Gina tersenyum canggung. "Rumor tentang kalian dua tuh udah nyebar di sekolah. Siapa yang nggak kenal lo dan karena lo deketnya sama Jeza. Semua orang jadi bertanya-tanya." "Ya, termasuk lo." Gina terdiam sesaat. "Em ya. Karena dulu gue pernah jadi temen deketnya Jeza, gue jadi penasaran gimana dia sekarang karena dia ... dia udah nggak sedeket itu lagi sama gue karena satu masalah." Jerome mengernyit. "Jadi, lo pernah jadi temen dia?" tanyanya dan Gina mengangguk. "Jujur. Gue suka sama Jeza. Tapi hubungan gue sama dia masih cuma temen." Gina tertegun sesaat sebelum senyumnya terbit. "Jeza emang pantes disukai banyak orang," ujarnya dengan ekspresi yang terlihat bangga. Membuat Jerome jadi bertanya-tanya masalah apa yang membuat Jeza dan Gina tidak berteman lagi, padahal tampaknya Gina teman yang begitu baik. "Lo pernah berteman sama dia. Jadi lo pasti tau gimana dia, kan? Maksud gue. Jeza tuh kadang sulit ditebak. Kadang dia akrab, kadang dia jadi pendiam." Bisa dibilang Jerome sedang mengungkapkan perasaan gundahnya sekarang. "Ya ... lo bener. Jeza emang gitu. Mood dia cepet banget berubah. Dalam sepulun menit, dia bisa berubah mood dua atau tiga kali bahkan," jelas Gina terkekeh. "Tapi gue bisa bilang, dan gue amat sangat yakin Jeza itu baik orangnya. Kalau lo bingung sama dia, itu wajar. Lo tau kepribadian introvert, kan? Nah itulah Jeza." "Introvert?" Gina mengangguk mantap. "Iyap. Dan gue mau kasih tau satu hal lagi tentang Jeza yang paling iconic ke lo," ujarnya dan menarik nafas pelan. "Dia benci keramaian. Kayak kepribadian dia, introvert." Jerome seperti baru menyadari hal itu. Memang benar, bukan? Setiap dia berinteraksi dengan Jeza didepan banyak orang, Jeza akan kelihatan kaku dan seolah menghindarinya. "Makanya. Kalau lo ngajak bicara dia didepan banyak orang, yaa jangan kaget sama responnya. Kecuali kalau lo bawa dia ke tempat sepi, mungkin bakal beda ceritanya." Gina benar-benar membuka kartu Jeza. "Jujur juga. Gue udah cukup kenal lo walau lo nggak kenal gue. Dan gue cuma mau bilang, kalau lo emang beneran serius ke Jeza, ya bagus. Tapi, jangan sampai lo mau mainin dia. Kalau niat lo begitu, mending lo mundur." Jerome tertawa mendengar lontaran kalimat itu, tapi kemudian tawanya berhenti hanya menyisakan senyum kecil di wajahnya. "Enggak. Gue emang beneran tertarik sama dia." Gina mengangguk-angguk senang. "Bagus kalau gitu." "Kalau gitu ... kayaknya gue harus pergi sekarang." Jerome kehilangan minat membeli snack. "Btw nice to meet you. And thanks fot the information." Gina mengacungkan kedua ibu jarinya. "Sama-sama. Kalau lo abis ini mau ke rumah Jeza. Gue titip salam, ya." "Gue emang nggak tau apa masalah kalian dulu. Tapi, gue bakal bilang ke dia," jawab Jerome. "Kalau nggak lupa." "Eh jangan lah." Gina menatap Jerome pura-pura kesal. "Oh ya. Satu lagi. Gue cuma mau bilang, lo jangan over ya ke dia. Soalnya yaa Jeza itu ... gimana ya ... uniklah. Ada banyak hal lagi tentang dia, tapi kayaknya gue nggak berhak bicarain semuanya ke lo. Kalau lo penasaran, lo mending tanya aja ke dia." Jerome menghela nafas. "Oke, pasti," ucap Jerome terakhir kalinya sebelum benar-benar pergi dari sana, dan menuju rumah Jeza. Di tempat lain, di waktu yang sama. Disa dan kakaknya Alyssa sedang duduk berdua di kamar Disa dengan televisi yang menyala didepan mereka. Keduanya saling diam dan sibuk memperhatikan film yang tengah berlangsung didalam layar lebar di kamar Disa itu. Alyssa memang tampak benar-benar serius. Namun berbeda dengan Disa yang dari tadi terus melirik Disa. Sepertinya ada yang ia ingin tanyakan, tapi ragu hingga akhirnya bingung harus ia lontarkan atau tidak. "Ada yang lo mau tanya?" Alyssa menceletuk tanpa perlu menoleh pada Disa dan itu cukup mengejutkan Disa karena ternyata dari tadi Alyssa memperhatikannya. "Tanyain aja yang mau lo tanya. Jangan natap gue gitu terus." Disa berdeham keras dan mengambil bantal di belakang tubuhnya, ia menaruh bantal itu diatas kakinya yang terlipat. "Iya sebenernya ada yang mau gue tanya." Alyssa meletakkan setoples snack di tangannya ke bawah ranjang. Ia juga menjeda film yang tengah berlangsung itu sebelum memutar tubuhnya menghadap Disa. "Apa yang mau lo tanya? Kayaknya serius karena lo nggak pernah kayak gini sebelumnya." Alyssa memandang Disa dengan mata menyipit. "Tunggu. Sebelum lo nanya. Coba lo kasih tau gue. Yang mau lo tanya ini tentang apa?" Disa menatap Alyssa dengan serius. "Hubungan lo sama kak Keith. Dan juga kakaknya Jeza, Misya." Bibir Alyssa tertarik ke sebelah sisi dan terkekeh pelan. Ia tampak malas membahasnya hingga lebih memilih berbaring diatas tempat tidur. "Okey. Yauda tanya aja apa yang lo mau tanya." Alyssa mempersilahkannya, tapi dengan matanya yang tertutup rapat, seperti benar-benar menganggap hal ini tidak penting baginya. "Lo pacaran nggak sih sama kak Keith?" "Gue belum bisa jawab pertanyaan itu," jawab Alyssa jujur. "Masih ada Misya di samping Keith. Keith juga nggak tau harus pilih siapa. Dia kasihan ke Misya." "Lo serius?" Disa tampak tidak percaya. "Lo tau kan kalau gue sama Jeza itu sekelas? Dan lo tau, gue sama dia sempet cekcok tadi. Dia bilang kalau lo yang ngerebut Keith dari kakaknya. Itu bener? Gue nggak nyangka kalau memang bener karena lo waktu itu pernah bilang kalau Kak Misya yang hadir di hubungan lo. Ya, kan? Mana satu yang bener ini?" Alyssa menggaruk keningnya dan membuka sebelah matanya menatap Disa. "Lo ngomong cepet banget kayak jet," keluhnya. "Intinya apa yang gue bilang itu bener. Mungkin si Misya nggak sadar aja kalau Keith sama gue udah deket duluan dari pada dia. Jadi ya menurut sudut pandang gue, emang si Misyanya aja yang nggak sadar dan ngerebut Keith dari gue." "Dan Kak Keith mau?" Disa menyahut. "Jujur. Kalau sudut pandang netral. Kayaknya yang salah kak Keith deh. Harusnya, kalau dia suka sama lo, yaa nggak pacaran sama Kak Misya. Iya, kan? Ini malah pacaran dan ujung-ujungnya masih suka sama lo. Gimana sih jadi cowok?!" Alyssa menghela napas cukup panjang dan bangkit berdiri. "Ya gitulah. Tapi yang jelas gue nggak akan biarin Misya seneng gitu aja sama Keith. Toh buktinya Keith masih suka sama gue, yaa gue bakal kejer. Kecuali tadi Keith udah naruh semua perasaan dia ke Misya, maka gue mundur. Lagian Misya lucu sih, udah berkali-kali ketahuan Keith bareng gue masih aja kukuh sama hubungan mereka. Lemah banget." Disa tersenyum mendengar kalimat penuh keberanian dari kakaknya itu. "Hm mungkin lo emang bener." Dia mengibaskan rambutnya. "Gue jadi kasian sama Jeza yang pede banget bilang kalau lo PHOnya, Kak. Padahal kan kakak dia aja yang nggak nyadar dan nggak mau nyadar," ujarnya tertawa kencang di akhir, tawa yang dimaksud untuk mengejek sikap Misya yang terlalu lemah menurut mereka. "Nah bener banget. Nggak tau apa-apa juga sok banget ngomong ini itu." Alyssa kembali melanjutkan film mereka yang tertunda. "Ya intinya itulah. Lo sekarang percaya gue, kan?" Disa mengangguk dan tersenyum lebar, ia memeluk Alyssa singkat walau Alyssa terang-terangan menolak untuk dipeluk. Alyssa merasa aneh jika dipeluk oleh sesama perempuan, apalagi adik sendiri yang tiap hari biasanya mereka berantam terus. "Pastilah. Gue bakal ndukung dan berdiri di pihak lo." Alyssa menepuk pelan punggung Disa. "Bagus. Itu baru adik gue." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN