22. Membeberkan Sendiri

1380 Kata
Jeza masuk ke dalam rumah dan langsung begitu melihat Mamanya sudah berdiri di sana dengan tangan berkacak pinggang. Awalnya Jeza mengernyit kesal, tapi seketika pikirannya mengarah ke CCTV dan sekejap setelahnya, kekesalannya hilang digantikan oleh rasa gugup yang sangat. "Tadi sama siapa?" tanya mama dengan nada bicara yang agak tidak enak. "Em Ma, Jeza bisa jelasin--" "Kenapa nggak disuruh masuk dulu?' Jeza terperangah. "Oh maksud Mama itu Jerome? Tadi, ya?" Jeza terkekeh menertawakan kekhawatirannya sendiri. "Nggak papa, Ma. Jeza mau istirahat, Jerome juga gitu pastinya. Jadi ya, Jeza nggak tawarin masuk." Mama mengangguk-angguk dan melihatnya, Jeza kembali berdegup kencang dan melipat bibirnya ke dalam mulutnya. "Mama kenapa pulangnya cepet? Biasanya sore." Untungnya Jeza punya stok pertanyaan untuk ditanyakan.. Kedua tangan mama yang terangkat pun turun. "Iya. Tadi mama ngerasa nggak enak badan. Tapi lima belas menit sampe rumah, udah ilang sakitnya." Jeza hanya tersenyum. Tidak tahu ia harus percaya atau tidak dengan ucapan mama yang terdengar seperti bukan yang sebenarnya alias mengada-ada. "Ditambah mama ngeliat sesuatu di CCTV." Hancur sudah. "Mama tadi cek CCTV. Terus Mama ngeliat ada yang dipeluk," ujar mama tak tahan untuk tidak tertawa melihat reaksi Jeza. "Jangan terlalu kaku, Sayang. Jerome suka sama kamu tuh. Masa gitu nggak paham sih." "Mama setuju Jeza pacaran?" tanyanya tidak percaya. "Kapan Mama ngelarang?" Mama balik bertanya dan terssenyum kecil. "Kalau sama Jerome, Mama setuju." Jeza mendengus pelan. "Jadi kalau nggak sama Jerome, nggak boleh ya, Ma?" Sudut bibirnya tertarik ke bawah. "Tapi emang Jeza juga nggak niat pacaran sih." Mama hendak menjawab, tapi pintu rumah yang diketuk membuatnya harus menahan ucapannya dan maju dua langkah lalu membuka pintu. "Eh Eri." Ternyata seorang ibu-ibu tetangga mereka yang lebih muda dari mama Jeza. "Apa ini?" Mama bertanya ketika Eri menyodorkan sebuah paper bag berwarna cokelat. "Oleh-oleh kemaren dari Medan, Mbak." Eri memindahkan paper bag di tangannya ke tangan mama. "Oh ya, tadi aku lihat Jeza sama cowok, ya? Pacar kamu, Jez?" Jeza hanya tersenyum canggung, ia melirik mama meminta pertolongan karena ia tidak tahu harus menjawab apa, tapi mama tidak membantunya sedikitpun. "Oh enggak kok, Tan. Cuma temen kelas aja." Eri mengangguk. "Soalnya nggak pernah lihat kamu sama cowok," ujar Eri dengan tawa, seolah ia baru melontarkan sebuah jokes. "Ganteng lho, Mbak, cowoknya. Mbak udah ketemu? Soalnya tadi dia cuma nganter Jeza sampai depan rumah aja." Senyum palsu Jeza memudar. Ia heran, kenapa orang-orang suka sekali mengurusi urusan orang lain? Padahal kan tidak perlu. Jeza saja tidak pernah mengurusi kehidupan mereka, tapi mereka suka sekali mengkritik Jeza. Inilah yang membuat Jeza begitu muak. "Cuma temen kata Jeza." Mama meliriknya dan memberi senyum. "Tapi kalo emang mau pacaran yaa yauda." Mama menyambung kalimatnya dan tertawa, menghangatkan suasana. "Hm Tante juga setuju, Jez. Ganteng banget tuh." Oke, Jeza tambah yakin jika penampilan adalah nomor satu untuk dinilai. Masalah hati? Penting juga. Tapi apa orang-orang akan melihatmu walau punya hati yang cantik, tapi tidak dengan penampilan? Kadang Jeza merasa orang-orang yang goodlooking itu selangkah lebih maju daripada orang-orang biasa seperti dirinya. "Yauda deh. Di makan, ya itu makanannya. Enak banget, wajib coba." Eri mengangkat kedua jempol tangannya. "Pulang dulu, Mbak." "Oke, Ri. Sekali lagi makasih lho ya." "Sama-sama, Mbak." Jeza memegang kepalanya dan menghembuskan nafas panjang. Ia berbalik dan melangkah ke arah kamarnya. Hal kecil seperti tadi mampu membuat segalanya berantakan di dalam kepalanya. Di sisi lain, Jerome berada di sebuah kafe bersama Silvia. Mereka berdua sedang berbicara dengan begitu asik hingga melupakan kehadiran orang-orang lain yang berkunjung di sana. Sesefrueksi itulah Silvia dengan Jerome. "Oh ya, Jer." Silvia berdeham meredakan tawanya yang tadi cukup meledak. "Lo tadi ada pengumuman apa?" tanyanya penasaran. "Oh itu. Tim butuh satu asisten lagi. Sebenernya asisten baru sih buat gantiin Mika. Sama cari setter buat gantiin gue." Jerome tersenyum kecil. Fakta kalau ia segera meninggalkan klub basket membuatnya agak sedih. Bagaimanapun ia sangat menyukai olahraga itu. Tangan Silvia naik ke atas meja dan meletakkannya diatas tangan Jerome. "Nggak papa lah. Toh nanti di kampus ada klub voli juga, kan?" Jerome diam tidak menjawab. Ia saja bingung haruskah ia kuliah atau tidak? Kalau kuliahpun, memangnya ada universitas yang mau menerima dirinya? Ia saja hampir selalu tinggal kelas sejak ia satu SMA. "Terus. Kalian udah ketemu orangnya?" Silvia mengaduk-aduk minumannya. "Udah. Gue ajak Jeza. Tapi dia nggak mau." Silvia terkelu. Ia melirik Jerome dan hatinya berdebar tidak enak. "Tapi gue bakal ajak lagi sih. Gue rasa dia cocok masuk klub. Walaupun ntar mereka bakal marah ke gue karena malah cari yang mau tamat juga. Tapi yaa, yaudalah, nanti pas mau beneran tamat pasti ketemu siapa penggantinya." Jerome menjelaskan dengan santai, seakan tidak tahu apa yang dirasakan Silvia. "Em sekarang ini, lo kok apa-apa dia terus sih, Jer?" Silvia mulai menunjukkan kemuakannya akan Jeza. "Lo suka ya sama dia?" Jerome menopang pipinya dengan sebelah tangannya dan hidungnya mengerut. "Em bisa dibilang gitu. Jujur aja, Sil. Gue emang tertarik sama dia." Sudut bibir Silvia berkedut dan dahinya mengernyit samar. "Seriusan? Lo suka sama orang kayak dia? Jer. Plis. Lo sama dia udah beda jauh banget." "Bedanya?" "Ya nggak akan pernah nyatu. Lo liat dia, diem-diem aja orangnya. Nggak kayak lo hyperaktif. Nggak akan bisa sejalan, Jer." Nada bicara Silvia agak tinggi, hingga beberapa orang melihat ke arah mereka. "Emang harus punya personality yang sama ya kalau mau jadi pasangan? Kan enggak juga, Sil." Jerome mengangkat kedua bahunya. "Itu sih setau gue. Hati gue juga milihnya tanpa pandang bulu." Silvia membuang pandangannya ke arah lain. Ia memang sudah memperingatkan Jeza, tapi kalau Jerome sendiri tidak peduli yaa tidak akan berhasil juga. Namun, bukan tidak mungkin Jerome akan bosan kalau Jeza terus menghindar, bukan? Tapi, setelahnya, apa Jerome akan mendekati Silvia? Apa Jerome akan memberi hatinya pada Silvia? Pertanyaan yang terlontar dari hatinya itu mau tidak mau membuat Silvia termenung. "Lo itu temen cewek satu-satunya yang gue sayang. Kita cocok, tapi sebagai temen, Sil. Lo pasti juga ngerasain itu, kan?" Jerome memberi senyum friendly-nya. Ya, pastinya Jerome tahu bagaimana perasaannya saat ini karena ia sudah pernah mengungkapkannya pada Jerome, walau balasannya tidak seperti yang ia bayangkan. "Tapi. Anehnya hari ini Jeza tuh kelihatan aneh. Padahal kemarennya udah deket. Tapi sekarang cuek lagi." Jerome bertanya pada dirinya dan Silvia. Ia mengusap dagunya dengan tangannya. "Kayaknya ada yang salah di sini." "Iya karena gue yang minta dia supaya nggak deket lagi sama lo." Tubuh Jerome menegak. Ia menatap Silvia dengan matanya yang membesar. "Lo ... bilang apa ke dia?" Jerome menatap tidak percaya. "Lo kenapa sih, Sil? Plis jangan halangin hubungan gue," ujarnya tanpa berteriak, lebih ke memohon. Jerome tahu dengan sangat seperti apa pengorbanan yang dilakukan Silvia untuknya. Begitu banyak, bahkan Silvia tidak mengapa mengorbankan dirinya sendiri. Jerome juga sudah mengatakan untuk tidak melakukan hal itu, tapi ketika Silvia tahu dan merasa ia mampu, maka ia lakukan. Dari sanalah. Jerome merasa tidak enak dengan Silvia, selain mereka yang sudah benar-benar dekat tentunya. Tapi, kelakuan Silvia ini agaknya melewati batas. Dulu, Jerome sudah pernah memperingati untuk tidak melakukannya lagi, mengancam atau segalanya. Tapi ternyata sifat buruk itu terbawa lagi, apalagi sekarang perempuan yang dia sukai cukup sulit didekati. Giliran sudah didekati, malah temannya sendiri mengacaukannya. "Karena gue kesel, Jer. Lo pernah nggak sih ada di posisi kayak gue? Sakit, Jer." Suasana diantara mereka yang tadi ceria, kini menjadi mendung. "Seenggaknya lo sesekali bisa hargai." "Lo nggak ngerasain, ya? Selama ini gue selalu hargai lo sebagai teman, Sil. Dari gestur gue harusnya lo tau kalau l nggak lebih dari temen terbaik gue. Tapi nyataya lo nggak peka sama itu" Jerome mencoba menjelaskan. "Gue makasih makasih banget sama apa-apa aja yang lo lakuin buat gue. Tapi sejujurnya gue nggak butuh itu. Lo yang maksa supaya tanggung jawab itu elo yang emban." "Tapi seenggaknya hargai, Jer!" Silvia agak membentak. "Gue harus lawan orang tua gue dan banyak lagi. Apa yang lo perbuat? Bilang makasih aja lo susah." Jerome bangkit berdiri. Dia menunduk menatap Silvia. "Lo temen gue, Sil. Gue nggak akan lupa itu. Kalau aja tadi lo nggak temen gue dan lo nggak bisa hargai perasaan gue. Mungkin gue udah marah banget ke lo." Jerome menarik nafas. "Lo maunya dihargai, dan sejujurnya gue udah ngehargai. Yang ada lo yang nggak mau ngehargai perasaan gue." Jerome keluar dari kursinya dan melangkah keluar dari kafe. Ia akan memilih ke tempat manapun yang menenangkan dirinya karen asaat ini ia sangat emosi. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN