ENAM - MIRIS

1018 Kata
"Maaf atas ketidaknyamanannya, kami benar-benar tidak mengira akan ada yang mendaftar, apalagi di hari pertama," ucap Ruby mewakili anak-anak Grizzle Academy. Setelah beberapa menit, sepertinya mereka sudah terbiasa dan menerima kenyataan sehingga sudah lebih lancar saat berbicara. Setelah selesai mendaftar, Carla, Cerland, dan Saex harus menunggu selama hampir tiga jam karena Grizzle Academy sama sekali tidak bersiap menyambut murid baru. Dengan sistem pendaftaran yang baru, Grizzle Academy merasa bahwa tidak ada harapan bagi mereka untuk mendapatkan murid lagi, karena anak-anak baru pasti akan sangat malu untuk mendekati stand Grizzle Academy. Carla, Cerland, dan Saex hanya mengangguk untuk merespons ucapan Ruby. Dari awal mereka memang tidak mengharapkan apa pun dari Grizzle Academy. Bahkan setelah menunggu berjam-jam, mereka bertiga menghadapi kenyataan bahwa Grizzle Academy tidak memiliki alat transportasi. Yang ada hanyalah beberapa orang yang menjemput Carla, Cerland, dan Saex dengan ramah. Walaupun harus berjalan cukup jauh, tapi Carla, Cerland, dan Saex tidak merasa bosan atau kesal karena mereka terus menerus diajak berbicara oleh anak-anak Grizzle Academy. Sebenarnya Carla, Cerland, dan Saex tidak begitu banyak berbicara. Mereka hanya melontarkan pertanyaan-pertanyaan singkat, tapi anak-anak Grizzle Academy menjawabnya dengan panjang lebar, bahkan kadang menjelaskan sampai detail-detailnya. Terlihat dengan jelas bahwa anak-anak Grizzle Academy sangat senang dengan kedatangan mereka bertiga dan berusaha menyambut dengan hangat, walaupun mereka tidak memiliki kemampuan secara fasilitas. "Ya begitulah. Oh iya, itu sudah terlihat bangunan Grizzle Academy," ucap Ruby sambil menunjuk ke suatu bangunan. Bangunan yang ditunjuk Ruby adalah sebuah bangunan yang berada di tengah-tengah hutan. Bangunannya lumayan besar dan dikelilingi dengan tanaman-tanaman langka. Bentuknya kuno, tapi cukup kokoh. "Lebih besar dari yang kukira," gumam Carla sambil memperhatikan bangunan Grizzle Academy sambil terus berjalan mendekatinya. "Hampir semua orang yang datang kesini mengatakan hal yang sama. Gedungnya memang besar, apalagi untuk akademi bawah," respon salah satu anak yang mendengar ucapan Carla. "Mulai dari sini, kalian akan dipandu Chloe untuk pergi ke bagian asrama. Saya pamit dulu karena harus kembali ke stadion lagi," ucap Ruby sambil sedikit membungkuk. Carla, Cerland, dan Saex mengangguk untuk merespon ucapan Ruby. Setelah itu Carla, Cerland, dan Saex langsung diantar ke asrama. Asrama di Grizzle Academy akademi tidak benar-benar dipisah karena jumlah anaknya terlalu sedikit. Hanya kamar-kamarnya saja yang dipisah antara laki-laki dan perempuan, tapi letaknya masih bersebelahan. Anak-anak baru biasanya memang tidak membawa barang sama sekali dari rumah. Karena perlengkapan yang dibutuhkan di akademi disediakan secara gratis dan diperbolehkan meminta lagi jika kekurangan. Di Grizzle Academy hal itu juga berlaku, hanya saja karena reputasinya yang kurang baik dan kurangnya jumlah murid, maka pendanaan di sekolah ini juga tidak lancar. Yang artinya fasilitas di sini tidak selengkap dan sebagus di akademi lainnya. Carla, Cerland, dan Saex hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala ketika melihat lemari mereka masing-masing. Tempat tidur yang disediakan juga tidak empuk, rasanya seperti berbaring pada sebuah papan kayu yang sangat keras dan lurus. "Aku nggak ada niatan tidur sama sekali, bahkan melihat tempat tidurnya saja bisa membuatku meneteskan air mata," ucap Saex sambil menatap ke depan dengan pandangan kosong, ia seperti melihat masa depan yang suram. Carla, Cerland, dan Saex sedang berdiri di depan pintu kamar Carla. Tadi Cerland dan Saex mengetuk kamar Carla karena tidak tahu harus berbuat apa. "Luarnya kelihatan biasa saja, tapi di dalamnya terlalu miris," ucap Cerland dengan pandangan yang kosong juga. Carla mengangguk mendengar ucapan mereka berdua, tapi ia tidak putus asa sama sekali. Carla sedang berusaha mencari jalan keluar dengan otaknya yang kurang mampu itu. "Gimana kalau kita mulai aja rencananya. Sekarang kita kelilingi Grizzle Academy sambil catat hal-hal yang penting," usul Carla yang sebenarnya hanya mengulangi ucapan Saex sebelumnya. "Oke, kita ambil barang-barang buat mencatat dulu," ucap Saex sambil masuk ke dalam kamarnya diikuti oleh Cerland. Carla mengangguk sedikit lalu masuk ke kamarnya juga. Saat berdiri tepat di dekat meja, Carla, Cerland, dan Saex kembali terdiam. Setelah beberapa menit akhirnya mereka bertemu di depan kamar lagi. "Di kamar hanya ada dua lembar kertas," ucap Cerland sambil mengangkat satu kertas dan Saex mengangkat satu kertas juga. Mereka menemukan kedua kertas itu setelah mencarinya dengan susah payah, itu pun mereka temukan secara terpisah dan warna kertasnya sudah menguning. "Aku hanya menemukan sebuah pensil. Ya sudahlah, setidaknya kita bisa mencatat," ucap Carla sambil mengangkat hasil temuannya setelah mencari sampai ke pojokan kamar. Cerland dan Saex hanya mengangguk dengan pasrah. Setelah itu mereka mulai berkeliling akademi sambil mencatat sedikit demi sedikit dan membuat denah akademi sesuai dengan apa yang mereka lihat. Sebenarnya saat mereka baru keluar dari asrama, ada beberapa anak yang menawarkan diri untuk menemani mereka berkeliling, tapi mereka menolak. "Tidak ada tempat terlarang atau pesan khusus tentang daerah di sekitar sini kan?" tanya Saex setelah anak-anak itu menawarkan diri untuk menemani berkeliling. "Tidak ada, semuanya aman. Hanya saja ada beberapa tempat yang agak berbahaya karena jarang dilewati dan tidak dirawat, selebihnya tidak masalah," jawab salah satu anak dengan yakin. Anak lainnya yang bersamanya juga mengangguk dengan pasti untuk mengiyakan ucapan teman-temannya. Setelah percakapan itu, Carla, Cerland, dan Saex berkeliling tanpa ragu. Mereka mengecek semua bagian yang bisa mereka cek, bahkan ada beberapa tempat yang menjadi lebih bersih karena mereka. Lebih tepatnya mau tidak mau mereka membersihkan beberapa area agar dapat melewatinya. "Ingat! Banyak tempat yang jarang dilewati karena terlalu sedikit murid di sini, tapi bisa saja ada hal penting yang tersembunyi. Lihat yang benar," ucap Cerland hampir di setiap tempat yang mereka lewati. "Ingat juga jangan boros-boros kertas," ucap Saex sambil menatap tajam ke kertas yang dipegang Cerland. Selama mereka mengitari akademi, Carla dan Saex bertugas sebagai pengukur dan pengecek. Sedangkan Cerland bertugas untuk mencatat apa yang mereka sudah ukur dan cek. Entah mereka datang untuk menjadi murid akademi atau bekerja disana, tidak ada yang tahu. Karena kegiatan mereka hari itu lebih terlihat seperti pengurus akademi dibandingkan murid baru. Beberapa anak akademi yang berpapasan dengan mereka lumayan heran melihat kegiatan mereka. Baru sampai dari perjalanan jauh, baru mengenal lingkungan akademi, tapi sudah berkeliling sambil mengendap-ngendap. Terlihat seperti pencuri, tapi tidak ada pencuri yang terang-terangan seperti yang sedang mereka lakukan sekarang. "Sepertinya gerakan kita agak terlalu berlebihan," ucap Carla yang menyadari beberapa pasang mata yang menatap mereka dengan bingung. "Kita hanya terlalu mendalami peran," jawab Saex sambil terus mengukur dengan teliti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN