"Grizzle Academy!" ucap Saex dan Cerland bersamaan sambil tetap menjaga volume suara mereka agar tidak terlalu nyaring.
"Hah!?" ucap Carla yang langsung melihat ke arah Saex dan Cerland. "Bercandanya nggak asik ah," lanjut Carla sebelum Saex dan Cerland menjawab ucapannya.
Carla kesal karena ia merasa diberikan harapan, tapi rasanya tidak mungkin Saex dan Cerland menyia-nyiakan privilege mereka untuk masuk akademi yang bagus.
"Ih, siapa yang bercanda. Seriusan nih! Aku kasihan sama Grizzle Academy kalau kamu masuk sana, meningkatkan kepercayaan diri, tapi semakin menurunkan kualitas," ucap Cerland sambil tertawa.
Carla menatap Cerland dengan wajah datar, ia kesal tapi tak bisa menyangkal ucapan Cerland juga. "Kalau kamu?" tanya Carla ke Saex sambil berusaha sekuat tenaga menahan emosinya.
"Hanya menemani dua manusia kekanak-kanakan. Kalau nggak ada aku, entah kapan kalian selesai bertengkar," jawab Saex dengan santai, seolah-olah kata-kata yang baru saja ia ucapkan tidak menyinggung siapa pun.
Kali ini Carla dan Cerland sama-sama kesal, tapi mereka juga tidak bisa menyangkal ucapan Saex.
"Yaudah yuk!" ucap Saex setelah hening selama beberapa saat.
"Daftar sekarang?" tanya Carla bingung dengan maksud ucapan Saex. Ia sebenarnya masih mencerna ucapan Saex dan Cerland, senang campur bingung mendengar keputusan mereka berdua.
"Yaiyalah, kalau mau masuk akademi buruk kayak gitu, kita harus punya rencana biar gak stuck di bawah. Kalau mau bikin rencana, harus lihat keadaan di sana dulu. Daripada buang-buang waktu guling-guling di atas kasur, mending pergi sekarang kan? Katanya mau bikin mereka ikut Pertandingan Akademi Tahunan," ucap Saex sambil beranjak dari tempat duduknya dan berjalan masuk ke stadion lagi.
Cerland dan Carla tidak mengatakan apa pun. Mereka hanya mengikuti Saex memasuki stadion.
Perasaan Carla campur aduk, tapi ia yakin bahwa ada alasan lain yang tidak disebutkan Saex dan Cerland.
Mereka bertiga sempat melihat stand Grizzle Academy saat berputar-putar tadi, letaknya di pojok, tempat di sekitarnya sepi dan agak gelap juga. Cerland dan Carla sudah lupa jalan ke arah stand Grizzle Academy karena ukuran stadion yang sangat besar, tapi Saex dengan mudahnya menunjukkan jalan menuju stand-nya.
"Ingatannya memang menakjubkan, pantas saja kamu nggak bisa membalap peringkatnya," gumam Carla sambil berjalan membuntuti Saex.
"Wahai peringkat terbawah, bisa-bisanya mengatakan hal seperti itu dengan santai. Padahal nilaiku dua sampai tiga kali lipat dari nilaimu," balas Cerland tanpa mengalihkan pandangannya dari Saex.
Carla hanya cengar-cengir mendengar balasan Cerland, karena memang nilainya jauh di bawah Cerland.
"Tuh, mereka bahkan hanya memakai sebuah lampu yang redup. Yang menjaga stand hanya duduk di belakang meja dan tidak pernah berdiri. Mereka berada di sini hanya untuk memenuhi persyaratan dari kerajaan, bukan untuk promosi," ucap Saex ketika mereka sudah berjarak beberapa meter dari stand Grizzle Academy serta Carla dan Cerland sudah berdiri di sebelahnya.
"Tapi aku malah tertarik jadinya. Kayak misterius-misterius gitu," bisik Carla sambil terus memandangi stand Grizzle Academy.
"Nggak niat sama misterius itu beda Car," celetuk Cerland, ia agak bingung dengan cara pikir Carla, tapi mau bagaimana lagi, itulah cara pikir unik Carla.
Tanpa mereka sadari, anak-anak akademi dari stand-stand yang letaknya berdekatan dengan stand Grizzle Academy melihat ke arah mereka dengan penuh pertanyaan.
Saat mereka bertiga berjalan ke stand Grizzle Academy, semua orang yang ada di sekitar sana langsung menghentikan kegiatan mereka. Anak-anak dari akademi dan anak-anak yang mengunjungi stand, semuanya terdiam dan melihat ke arah mereka.
Bagaikan melihat kejadian langka yang hanya terjadi sekali dalam ribuan tahun, semua orang mulai berbisik-bisik tidak jelas.
"Permisi," ucap Carla sambil mengetuk meja kayu yang ada di stand Grizzle Academy. Orang yang ada di balik meja tersentak kaget, tapi tidak mengecek ke depan stand.
Mereka menyimpulkan bahwa suara apa pun yang muncul, tidak mungkin ada yang berkunjung ke stand mereka. Kalaupun ada, mungkin hanya anak-anak iseng. Memunculkan wajah mereka hanya akan membuat mereka malu karena semua orang hanya akan menertawakan mereka, itulah yang mereka tahu.
"Permisi," ucap Carla sambil mengetuk meja kayu lagi. Lagi-lagi anak-anak Grizzle Academy mengacuhkan suara di dekat mereka.
Akhirnya Carla memasukkan kepalanya dari bawah taplak meja dan melihat beberapa orang yang sedang duduk dengan banyak tumpukan buku. Mereka sedang membaca buku dengan tenang, bahkan tanpa mengeluarkan sedikit pun suara.
"Permisi," ucap Carla sambil menyetuh salah satu pundak orang yang ada di sana.
"Waaa!" teriaknya ketika Carla menyentuh pundaknya. Anak-anak Grizzle Academy lainnya juga tersentak kaget ketika melihat Carla.
"Udah dipanggil daritadi juga," ucap Carla sambil keluar dari bawah meja dan berdiri lagi. Saex dan Cerland hanya berdiri diam melihat kelakuan Carla.
Saex dan Cerland saling pandang mengirimkan sinyal satu sama lain. Seakan-akan sedang mengatakan, apakah anak-anak Grizzle Academy duplikatnya Carla? Semoga saja tidak, tidak semua kutu buku seaneh itu kan ya? Tapi mereka terlihat cocok.
Anak-anak Grizzle Academy tidak langsung berdiri, sepertinya mereka setengah tidak percaya bahwa ada anak yang mengunjungi stand mereka. Bahkan ada salah satu anak yang mengintip sebelum mereka semua berdiri.
"I-iya, a-ada ya-yang mau di-ditanyakan?" tanya Ruby, ia merupakan anak tahun kedua di Grizzle Academy.
"Mau daftar," ucap Carla dengan santai. Semua orang di sana kaget mendengar ucapan Carla. Anak-anak Grizzle Academy bahkan terdiam di tempat karena tidak percaya akan apa yang mereka dengar barusan.
"Ba-baiklah, satu orang kan?" tanya Xaverio, anak tahun pertama di Grizzle Academy. Ia berusaha lebih tenang, karena jika tidak ada yang bergerak, maka stand akademinya akan terus menerus menjadi pusat perhatian.
"Jelas-jelas yang dateng tiga orang," celetuk Cerland dengan sebuah senyuman. Kali ini anak-anak Grizzle Academy benar-benar terdiam.
"Jadi, mana kertas pendaftarannya?" tanya Carla setelah hening beberapa saat.
"Oh iya, ini," ucap Xaveria, kembarannya Xaverio yang berada di tahun pertama juga. Ia menyerahkan tiga lembar formulir pendaftaran dan juga tiga bolpoin.
Carla, Cerland, dan Saex langsung bergerak mengisi formulir tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Setelah beberapa menit hening, akhirnya anak-anak Grizzle Academy mulai bisa berdamai dengan keadaan dan akal sehat mereka mulai jalan.
"Untuk kepentingan administrasi, tolong sebutkan nama, asal sekolah dan peringkat umum," ucap Lily sambil mengambil setumpuk kertas yang berisi peringkat umum dari berbagai sekolah.
"Cevy Carla dari Starlight School, aku nggak hafal peringkatku, pokoknya peringkat terbawah," jawab Carla sambil terus mengisi formulir pendaftaran.
Orang-orang di sekitar mengangguk-angguk mendengar ucapan Carla barusan. Kebanyakan dari mereka berpikir seperti ini, pantas saja masuk Grizzle Academy, ternyata hanya seorang pecundang.
"Starley Cerland dari Starlight School, peringkat kedua," ucap Cerland setelah Lily selesai menandai nama Carla di kertas yang dipegangnya.
Saat mendengar peringkat Cerland, orang-orang yang disana langsung tersedak. Mereka berpikir seperti ini, kenapa anak sepintar itu mau masuk Grizzle Academy? Dia masih sadar kan? Menyia-nyiakan bakatnya saja, dan berbagai pikiran lainnya.
"Zaverius Saex dari Starlight School, peringkat satu alias juara umum," ucap Saex sambil menekankan kata-kata 'juara umum'.
Bisa dibayangkan seberapa terkejutnya orang-orang yang mendengar pernyataan Saex. Kali ini pikiran mereka sama persis, apa pelet yang dipakai Grizzle Academy?
Carla tertawa terbahak-bahak melihat reaksi orang-orang yang memperhatikan mereka. Ia memang sedari tadi mengintip dan mendengarkan bisikan-bisikan nyaring cemoohan dari berbagai orang di sekitar.