"Kak Ruby, kemarin saat perjalanan ke sini ada banyak hal yang kakak ceritakan, tapi ada beberapa hal lain yang ingin kami ketahui," ucap Saex membuka percakapan dengan suasana serius.
Anak-anak yang ada di ruangan itu semakin penasaran, apa pertanyaan yang akan keluar dari mulut Saex. Keadaan semakin mencekam karena Saex tidak langsung mengucapkan pertanyaannya, tapi membiarkan keadaan hening selama beberapa saat.
Carla memandang Saex dengan wajah bosan. Sedangkan Cerland hanya menunggu dan mengikuti alur yang dibuat Saex.
"Singkatnya, kalian ada keinginan ikut Pertandingan Akademi Tahunan nggak?" tanya Carla tanpa basa-basi. Cerland dan Saex langsung menatap Carla dengan tajam, tapi anak-anak lainnya malah tertawa. Suasana yang awalnya serius langsung berubah drastis.
Usaha Cerland dan Saex memasang wajah serius sambil berusaha menahan tawa melihat ekspresi takut, bingung dan penasaran anak-anak di sana langsung hancur ketika Carla membuka mulutnya.
“Seharusnya tadi kamu tutup mulutnya pakai kain, atau tahan langsung pakai tanganmu sendiri,” bisik Saex yang disambut dengan anggukan setuju dari Cerland.
"Kami sudah memikirkan banyak hal yang aneh-aneh, tapi ternyata kalian hanya menanyakan hal itu," celetuk Chloe sambil setengah tertawa.
Sekarang Carla, Cerland, dan Saex malah saling pandang karena kebingungan dan penasaran kenapa anak-anak Grizzle Academy tidak merasa tersinggung sama sekali. Awalnya mereka pikir topik mengenai Pertandingan Akademi Tahunan merupakan hal yang sensitif untuk dibicarakan dengan anak-anak Grizzle Academy secara blak-blakan.
"Memangnya kenapa?" tanya Cerland karena tidak ada satu pun yang berinisiatif untuk menjelaskan.
"Tentu saja kami mau ikut, hanya saja jumlah anak di akademi saat ini tidak cukup untuk mengikuti pertandingan. Selain itu, Grizzle Academy selalu dipersulit dan jarang diberikan informasi yang valid, sehingga untuk mendaftar lagi akan susah. Harus ada anak yang berani maju, entah itu untuk menentang, meminta keadilan atau hanya untuk menanyakan informasi," jawab Xaveria sekaligus memberikan penjelasan lengkapnya.
"Dua tahun lalu, kak Ruby sudah mencoba dan tetap kalah debat dengan pihak sana. Tahun lalu, Chloe mencoba dan gagal juga." Xaverio menambahkan penjelasan Xaveria.
Tanpa ragu, Cerland dan Saex langsung menunjuk Carla setelah Xaverio selesai berbicara.
"Walaupun sering lemot, tapi kita berdua nggak pernah lihat Carla kalah debat kalau udah serius," ucap Saex yang diikuti dengan sebuah anggukan dari Cerland.
Carla menatap tajam ke arah Saex yang menyebut dirinya lemot. Otaknya memang kadang tidak berfungsi dengan maksimal, tapi bukan berarti Saex bisa menyindirnya di depan semua orang.
"Oh iya, jumlah murid akademi sekarang ada berapa?" tanya Cerland tepat setelah Saex selesai berbicara.
"Anak tingkat dua ada enam anak, sedangkan anak tingkat satu ada empat anak, ditambah anak baru alias kalian, berarti totalnya tiga belas. Anak-anak yang masih kalian lihat di perpustakaan maupun laboratorium adalah anak-anak tingkat tiga yang akan lulus," jawab Ruby dengan yakin tanpa perlu mengingat-ingat terlebih dahulu.
"Berarti, anak tingkat tiga yang akan lulus, ada sekitar sepuluh anak?" tanya Saex setelah menghitung sebentar.
Dengan cepat, Ruby dan anak-anak lainnya mengangguk setelah Saex mengajukan pertanyaannya.
Carla, Cerland, dan Saex saling pandang lagi. Berarti masih butuh setidaknya tujuh anak lagi untuk mengikuti Pertandingan Akademi Tahunan.
"Kalau semisal kita bantu promosi di stand akademi, kira-kira boleh nggak?" tanya Saex setelah berpikir sebentar.
Semua anak spontan menoleh ke arah Ruby dan menunggu Ruby untuk menjawab.
"Hm ... nggak ada ketentuan pastinya sih, harusnya boleh-boleh aja. Walaupun belum resmi jadi anak Grizzle Academy, tetapi secara data kalian sudah terdaftar di sini," jawab Ruby setelah berpikir sebentar.
"Kapan kalian gantian waktu jaga?" Kali ini Cerland yang berinisatif untuk bertanya.
"Jam dua belas siang mulai jalan dari sini," jawab Ruby sambil melihat ke arah jam dinding.
***
"Apa yang kita lakukan nanti?" tanya Carla sambil berjalan mendekati sebuah bangku yang ada di dekat asrama.
Keadaan hening, Carla masih menunggu jawaban. Cerland juga masih bingung sehingga ia juga menunggu jawaban.
"Rencananya setelah ini aku mau minta beberapa ramuan dari laboratorium, juga beberapa buku dari perpustakaan untuk ditata di stand. Ada beberapa fasilitas yang bisa diminta dari panitia penyelanggara pendaftaran akademi, jadi nanti kita minta ke mereka untuk mengganti lampu dan melengkapi beberapa alat tulis," jawab Saex yang sudah mempunyai bayangan yang cukup detail untuk menghias stand akademi dan membuatnya lebih menarik.
Carla dan Cerland hanya mengangguk-angguk walaupun tidak bisa membayangkan penataan yang diinginkan Saex. Setidaknya mereka tahu sedikit apa yang harus dilakukan nanti.
"Yuk ke perpustakaan," ajak Saex yang langsung diiyakan oleh Carla dan Cerland. Setelah itu, mereka hanya membuntuti Saex dan melakukan apa yang disuruhnya.
***
"Kamu yakin bawa sebanyak ini?" tanya Carla sambil menaruh sekardus alat laboratorium lalu melihat barang-barang yang ada di sekitarnya.
"Ya yakinlah," jawab Saex tanpa ragu. Sedangkan Cerland hanya diam dan menuruti perkataan Saex tanpa berkomentar apa-apa.
"Udah lengkap semua kan?" tanya Saex memastikan barang-barang yang sudah dikumpulkan.
"Sudah, anak-anak tingkat akhir bahkan memberikan tambahan ramuan di luar permintaanmu. Katanya ada beberapa ramuan yang baru saja selesai uji coba dan tidak terpakai karena terlalu banyak dibuat," jawab Ruby setelah selesai mengecek semuanya. Ia berkali-kali mengecek list barang yang diminta Saex dan memastikan semuanya sudah ada serta disusun dengan rapi.
"Gerobaknya gimana?" tanya Saex lagi.
"Sudah siap! Bahkan aku menemukan gerobak yang lebih besar," jawab Chloe dengan senang. Ia senang karena bisa membantu walaupun tidak ikut ke stadion.
Beberapa saat setelah Chloe menjawab Saex, ada beberapa orang yang membawa sebuah gerobak dari belakang akademi.
Setelah itu mereka menyusun semua barang-barang dengan rapi di dalam gerobak lalu mulai berjalan ke stadion.
Mereka memang tepat waktu saat berangkat ke stadion, tapi karena membawa banyak barang akhirnya mereka sampai lebih lambat dari perkiraan.
"Semoga aja anak-anak yang nunggu di stadion nggak marah karena kita kelamaan," celetuk Carla sambil terus mendorong gerobak bersama yang lainnya.
"Enggak bakal marah kok, telat berjam-jam atau bahkan kelupaan untuk jaga, mereka nggak bakal marah. Soalnya semua hal terjadi karena sesuatu, seringnya kami saling memaklumi dan saling menggantikan kalau ada yang berhalangan. Memiliki akademi dengan posisi yang kurang membuat kami terbiasa sabar dan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak merugikan orang lain, karena kami sangat mengerti bagaimana rasanya dirugikan." Ruby menjawab dengan baik walaupun Carla hanya asal nyeletuk.
Carla, Cerland, dan Saex langsung melihat ke arah Ruby dengan mata berkaca-kaca.
"Kok bisa sih kalian positive vibes banget padahal kalian banyak dirugikan," ucap mereka serentak dengan mata berkaca-kaca karena terharu mendengar ucapan Ruby.
Ruby membalas tatapan mata mereka dengan tatapan heran. Sepertinya dua pria ini mulai dirasuki Carla, itulah yang ada di pikirannya.