DUA - KEJUTAN

1000 Kata
SURPRISE! Terdengar suara nyaring yang muncul entah darimana. Semua anak kebingungan, tapi tidak ada yang bergerak ataupun mengeluarkan suara, mereka hanya melihat sekeliling dalam keheningan sambil menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Lagi-lagi keheningan menyelimuti ruangan, suara nyaring tadi seperti angin lalu yang tiba-tiba menghilang. Tiba-tiba mata semua anak ditutup dengan gumpalan awan. Gumpalan halus yang terasa menyentuh wajah, membuat wajah mereka lebih hangat. Carla yang sudah setengah tertidur tidak menyadari apa yang terjadi, ia bahkan menganggap suara surprise tadi sebagai bagian dari mimpinya. Mata Carla tidak ditutup dengan awan dan badannya diangkat dengan sihir, tapi Carla masih menganggap hal yang dirasakannya adalah bagian dari mimpinya. Ia juga tidak ada niatan bangun sama sekali. Rasanya melayang, seakan-akan tidak ada beban sama sekali. Carla merasa mimpinya kali ini sangat menyenangkan dan nyaman. Carla terus diangkat melewati teman-temannya sampai berada di bagian depan aula, alias di depan semua teman-teman seangkatannya. Bruk! "Aw!" rintih Carla ketika ia dijatuhkan. Semua anak kaget mendengar suara Carla, sedangkan Carla kaget akan banyak hal. Carla segera menyadarkan dirinya dan berdiri walaupun punggungnya sangat sakit. Ia bisa melihat awan-awan yang menutupi mata teman-temannya, ia juga bisa melihat banyak anak akademi yang beterbangan di aula. Carla menepuk-nepuk pipinya beberapa kali untuk memastikan apakah ia masih bermimpi atau tidak, tapi rasanya sakit. Punggungnya juga semakin nyeri akibat jatuh tadi. Seorang kakak kelas yang berada tepat di sebelah Carla menaruh satu jarinya di depan bibir untuk mengisyaratkan Carla agar tetap diam. Carla mengangguk paham walaupun otaknya belum selesai memproses apa yang sedang terjadi, ia hanya berdiri di tempatnya sambil melihat sekeliling. Semua teman seangkatan Carla menunjukkan ekspresi wajah ketakutan setelah mendengar teriakan Carla tadi. Mereka semua memikirkan berbagai hal yang telah terjadi pada Carla sehingga Carla berteriak seperti itu. Mereka juga sedang memperkirakan apa yang akan terjadi pada mereka setelah ini. 'Ikuti apa yang aku lakukan,' ucap Xinea, salah satu anak dari akademi. Ia berkomunikasi dengan Carla melalui telepati. Awalnya Carla tersentak kaget karena tiba-tiba ada suara yang muncul di kepalanya, tapi ia segera mengerti apa yang sedang terjadi. Carla melihat ke sekeliling untuk mencari siapa yang mengajaknya berbicara barusan. 'Aku tepat di sebelahmu. Hm ... orang yang tadi menyuruhmu untuk diam,' ucap Xinea memperjelas ucapannya agar Carla tidak bingung dan lebih paham. Carla langsung melihat ke arah Xinea, lalu mengangguk sebagai tanda bahwa ia sudah paham perkataan Xinea. Carla tidak tahu bagaimana cara melakukan telepati, tapi ia tahu sedikit mengenai telepati. Carla bisa menerima telepati dari Xinea karena pada dasarnya semua orang bisa menerima telepati, hanya saja untuk mengirim telepati ke orang lain harus dipelajari perlahan karena ada beberapa teknik khususnya. Xinea tiba-tiba mengangguk ke arah anak-anak akademi lainnya. Dengan polosnya Carla juga mengikuti gerakan Xinea, padahal Xinea hanya memberikan kode ke anak-anak akademi lain. Setelah anggukan dari Xinea tadi, semua awan yang menutupi mata anak-anak seangkatan Carla langsung dihilangkan. Sebelum anak-anak itu menyesuaikan cahaya yang terkena mata mereka, Xinea melompat cukup tinggi. Carla juga mengikuti gerakan Xinea, tapi lompatannya tidak terlalu tinggi. 'Lakukan yang benar, lebih tinggi lagi,' ucap Xinea dengan telepati sambil melihat ke arah Carla dengan ekspresi datar. Ia sedikit kesal melihat Carla yang seperti tidak serius mengikuti gerakannya, padahal ia sudah mencontohkannya dengan baik. Carla cengar-cengir lalu segera melompat dengan lebih tinggi. Tiba-tiba saja muncul sebuah awan yang membuat Carla terbang beberapa puluh senti dari tanah. Awalnya Carla hampir hilang keseimbangan, untungnya Xinea langsung memegang tangan Carla dan membantu Carla menyeimbangkan tubuhnya. "Carla!" ucap Saex dan Cerland bersamaan setelah penglihatan mereka sudah kembali normal. Setelah melihat Carla yang mengantuk, lalu mendengar teriakan Carla tadi, sekarang mereka melihat Carla berdiri di atas awan, tentu saja mereka kaget. Carla hanya mengangkat bahu dan tangannya untuk mengisyaratkan bahwa ia juga tidak tahu pasti apa yang telah terjadi, semuanya terjadi dengan cepat dan ia sendiri hanya mengikuti apa yang diperintahkan. "Selamat pagi semuanya! Salam kenal, kami dari Vizer Academy!" ucap orang-orang dari akademi yang tiba-tiba saja memakai seragam akademi. Sebuah sambutan meriah dengan sedikit confetti yang entah muncul darimana. Semua anak tersentak kaget, begitu juga dengan Carla yang daritadi hanya melihat orang-orang dengan baju polos. "Tahun ini sistem pembagian sekolah untuk dikunjungi berbeda dari tahun lalu, itulah kenapa kami ada di sini," jelas Xinea dengan sihir pengeras suara. Ia berbicara sambil bergerak dengan bebas di udara. Semua murid yang ada di aula mengangguk-angguk. Perasaan mereka campur aduk antara kaget, senang dan juga takut. "Baiklah, sebelum kita mengawali penampilan hari ini, mari kita berbincang dengan salah satu anak angkatan kalian yang sudah kami pilih secara acak. Bisa perkenalan diri terlebih dahulu," ucap Xinea yang sekarang berdiri tepat di sebelah Carla. Carla terdiam selama beberapa detik, ia sedang memikirkan kata-kata apa yang harus ia ucapkan dan juga sedikit takut terjatuh dari awan kecil yang diinjaknya sekarang karena Xinea sudah tidak memeganginya. "Vrestaizyev," bisik Xinea, suaranya tidak terlalu nyaring, tapi juga tidak terlalu kecil. Sebatas terdengar oleh Carla. Beberapa saat kemudian Carla tiba-tiba menjadi lebih fokus dan tidak kebingungan. "Saya Cevy Carla, biasa dipanggil Carla." Walaupun sudah dikasih sihir, tetap saja perkenalannya singkat, padat dan tidak jelas, batin Xinea setelah Carla selesai berbicara. Sebenarnya Xinea hanya membatin saja, tapi Carla bisa membacanya dari raut wajah Xinea. Walaupun agak kesal dengan ekspresi wajah Xinea, Carla tidak bisa apa-apa. "Baiklah Carla, berarti kamu ...." Tiba-tiba muncul beberapa lembar kertas di tangan Xinea. Ia berusaha mencari sesuatu di kertas itu, tapi tak kunjung menemukannya sampai ucapannya terhenti. "Kertas terakhir," bisik Carla setelah menyadari bahwa kertas yang dipegang Xinea adalah daftar ranking anak angkatannya. Xinea segera membuka kertas paling terakhir setelah mendengar ucapan Carla, "Kamu peringkat terakhir dari seluruh anak seangkatan!?" Dari nada bicara Xinea, awalnya ia hendak membuat pernyataan, tapi malah menjadi sebuah kalimat pertanyaan. Setelah ucapan Xinea tadi, semua anak-anak akademi yang ada di aula melihat Carla dengan wajah bingung dan juga kaget. Sedangkan teman-teman seangkatan Carla tidak bergeming sama sekali karena mereka sudah tahu bahwa Carla peringkat terakhir. "Baiklah, memang cukup mengejutkan, tapi setidaknya kamu memiliki aura yang kuat," ucap Xinea yang segera menyadari bahwa tiba-tiba keadaan aula menjadi aneh setelah ucapannya tadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN